
Koki juga para asisten di pantry berdiri berderet menatap Sheena yang kini sedang menyantap hidangan di depannya. Mereka terperangah, memandang takjub, merasa ajaib karna Sheena begitu lahap memakan masakan mereka. Dan tak main-main porsi makan gadis itu sangat besar, dan itu semakin membuat mereka takjub.
"Waah, saya tak pernah menemukan gadis dengan porsi makan sebesar ini, anda benar-benar luar biasa nona." Celetuk pak koki, dengan aksen bahasa Indonesia yang terdengar seperti bahasa orang luar, karena Koki ini asli orang luar yang menetap di sini.
"Tentu saja, masakanmu sangat enak tuan, saya pasti akan menghabiskannya," ucap Sheena sambil tersenyum, mengacungkan jempolnya. Mulut gadis itu terlihat sedikit belepotan karna kuah gulai yang di makannya. jujur saja Sheena merasa sangat lapar saat ini.
"Saya terharu, akhirnya ada yang memuji masakan saya." Pak koki menyeka matanya dengan ujung celemek.
"Waaah, memangnya tak pernah ada yang memuji? keterlaluan sekali bagi mereka yang tak pernah memuji masakan seenak ini."
"Semenjak saya di pindah tugaskan dan menjadi koki pribadi tuan Jayden di sini, beliau tak pernah memuji masakan saya, dan itu membuat saya sedikit sedih."
Sheena manggut-manggut, paham. "Aku mengerti sih, dia memang pria yang kaku. Tapi tidak apa-apa, nanti setiap paman menghidangkan makanan aku pasti akan selalu memuji."
"Terimakasih non, panggil saya pak koki saja,itu lebih baik."
Sheena nyengir, memang tak ada anggun-anggunnya, namun masih terlihat sangat cantik. Dia berbeda dari wanita-wanita lain diluar sana, yang selalu menjaga image. Gadis ini tampil apa adanya sederhana dan tentu itulah yang menjadi daya tariknya.
Pak koki tersenyum, merasa kedatangan Sheena adalah anugerah, lalu angan-angannya terbang lebih jauh. Firasatnya mengatakan hal yang lebih besar.
"Pasti Tuhan telah mengirim Nona ini sebagai cahaya yang akan menerangkan kegelapan di hidup tuan Jayden." batin pak koki dengan senyum.
***
Seorang gadis kecil dengan wajah seperti boneka dan tubuh kecilnya,memakai pakaian rumah sakit keluar mengendap-ngendap dari ruangan yang telah merawatnya. Gadis dengan pita merah di rambut panjangnya itu merasa bosan berada di dalam ruang rawat inap, tanpa adanya permainan yang ingin dia mainkan.
Akhirnya setelah lebih dari seminggu ia terkurung ia memutuskan keluar,lalu dengan langkah kecilnya berjalan di sekitar lorong rumah sakit.
"Tidak mau! aku ingin bertemu ayah dan bunda!" terdengar suara teriakan, yang membuat langkah gadis kecil itu terhenti, ia lalu mengintip di sela jendela salah satu ruangan pasien. tinggi badannya yang tak sampai membuat ia harus bersusah payah, berjinjit kaki.
"Iya, tapi saya mohon minum obatnya dulu,ya, nanti baru bisa ketemu ayah, bunda!" seorang dokter dan beberapa suster terlihat menenangkan seorang bocah lelaki di dalam sana. yang terlihat memakai pakaian yang sama dengan dirinya.
Gadis kecil itu merunduk, menyembunyikan wajahnya saat pandangan matanya bertemu dengan bocah lelaki itu.
Setelah beberapa saat keributan terjadi, dokter dan para suster keluar, gadis kecil itu menekuk lutut, menepikan tubuh agar tidak ketahuan.
"Hah, mengesalkan masa setiap minum obat harus ngamuk dulu!" keluh salah satu di antara mereka.
Gadis kecil berusaha menutup tubuhnya agar dia tidak ketahuan, hingga dokter dan para suster itu pergi.
"Hei, kau sedang apa?"
__ADS_1
Astaga! gadis kecil itu terkejut hingga kaki lemahnya hampir terjungkal.
"Kau yang tadi mengintip kan?" bocah lelaki itu sangat tinggi hingga si gadis kecil harus mendongak untuk mengobrol dengannya.
"Maafkan aku, aku hanya melasa bosan belada di dalam, jadi aku kelual untuk jalan-jalan," ucapnya masih terdengar cadel. ia belum bisa mengucapkan huruf R.
"Pfffft!" bocah lelaki itu tertawa, lalu menarik tangan sang gadis kecil. "Ayo, aku tunjukkan sesuatu padamu."
Gadis kecil hanya mengangguk lalu mengikuti bocah lelaki itu masuk ke dalam, sang gadis kecil memandang takjub ruangan tempat bocah lelaki itu di rawat.
"Waaah, ini kamal inap kakak? mewah banget, gak kaya kamal ku yang biasa aja."
"Itu karena aku di rawat di ruang VVIP, aku bisa mendapat perawatan yang lebih intensif di sini."
Sang gadis kecil tampak tak mengerti dengan ucapannya, gadis kecil memandang polos membuat sang bocah lelaki terkekeh. "Intinya ruangan inap ini lebih mewah dari pada kamar inap mu."
"Waaah begitukah." mata gadis kecil itu berbinar, lalu matanya tak menangkap sesuatu di belakang tubuh bocah lelaki. itu apel yang berada di atas nakas.
"Kau mau?" kata bocah lelaki memperhatikan.
Sang gadis kecil mengangguk, lalu bocah itu menyerahkan satu apel merah itu padanya, sang gadis kecil langsung melahapnya, Membuat sang bocah lelaki tersenyum. Merasa senang karena ia tak sendiri di sini.
"Namamu siapa?" kata bocah lelaki, karna melihat gadis kecil itu masih sibuk mengunyah, sang bocah lelaki memperkenalkan dirinya duluan.
Sang gadis kecil akhirnya tersenyum lebar menampilkan giginya yang belum tumbuh dan sedikit berlubang.
"Namaku ....., salam kenal kak Daniel."
Daniel!
Daniel!
Daniel!
Deg!Sheena terbangun dengan nafas terengah-engah, dadanya naik turun tak beraturan, keringat dingin bercucuran di sekitar pelipisnya.
"Mimpi itu lagi." Sheena menangkup wajahnya, kepalanya terasa berat bila mimpi itu datang dalam bawah alam sadarnya.
Sheena terdiam sejenak menetralkan degup jantung.
"Kenapa mimpi itu semakin hari semakin jelas sekali." Sheena bermonolog, bukan sekali dua kali, mimpi itu terkadang sampai menerornya beberapa kali. dan itu membuat ia sedikit frustasi, bila mengingat potongan adegan yang tak ingat di kepalanya.
__ADS_1
"Sebenarnya siapa gadis kecil itu? dan .... siapa Daniel itu? yang wajahnya hampir tak terlihat karena buram." Dan benar saja, lagi-lagi dia frustasi sendiri karena ingin mengingatnya.
Sheena tersadar, ini bukanlah kamarnya,ia meraba, kasurnya tidak seperti ini. Sheena ingat, ia menginap di rumah tuan Jayden, karena tak bisa pulang karena hujan deras. Haissh! kenapa dia tak ingat, bagian makanan enaknya saja yang dia ingat.
Dan astaga! jam berapa ini? Sheena melihat jam di atas nakas.
"ASTAGA JAM 12 SIANG! AKU KESIANGAN, AAAAA!"
***
Sheena sudah rapi dengan pakaiannya semula, para maid menuntunnya ke meja makan di mana sudah ada Jayden di sana.
"Eh, tuan sudah balik rupanya, hehehe." perlahan Sheena mendudukkan bokongnya bersebrangan dengan pria itu.
Jayden menatap tajam dengan bersilang dada. "Kau lihat ini jam berapa?!"
Sheena menunduk takut-takut. "Liat kok tuan."
"Apa selalu jam segini kau bangun? kau tak pernah bangun pagi kah?" Jayden mendadak menjadi seperti dosen killer yang memarahi siswinya yang terlambat.
"Maaf pak-- eh, tuan, saya kebablasan."
Jayden di buat geleng-geleng kepala. "jika belum kerja saja kau begini, bagaimana saat bekerja dengan ku?"
"Ck, aku tak suka orang yang terlambat." gumam Jayden.
Mendengarnya Sheena buru-buru menggeleng dengan mengayunkan tangan cepat. "Gak kok tuan, baru kali ini saya telat, suer dah, jangan pecat saya sebelum bekerja dong."
Akan gawat jika pria itu marah dan membatalkan perjanjiannya, karna hanya dengan jalan ini Sheena bisa mencari tahu tentang asal-usulnya, tentang orang tua aslinya.
Jayden mendesah pelan, pria itu tak mengucapkan apa-apa lagi hanya menyandarkan tubuh pada bagian kursi. tentu saja dengan wajah pongahnya yang membuat Sheena mencebik dalam hati.
'Bisa gak sih mukanya biasa aja? gak usah kaya gitu'
Pak koki yang menjadi juru masak dan beberapa maid lalu menghampiri dengan beberapa nampan di tangan mereka.
"Silahkan di nikmati sarapannya," ucap pak koki pada Sheena.
"Terimakasih pak koki, masakan anda selalu enak." Sheena mengacuhkan dua jempolnya, sedikit berbisik.
Jayden memperhatikannya. Menakjubkan! bahkan baru semalam saja dia sudah akrab dengan orang-orang yang ada di sini.
__ADS_1
Sementara Sheena sedang berfikir panjang. tiba-tiba saja dia menjadi serius.
'Mungkin mimpi aneh yang selalu hadir itu ada hubungannya dengan masa lalu ku, benar! kenapa aku baru terpikirkan sekarang, aku harus mencari tahu segera.'