Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Rasa yang perlahan semakin timbul


__ADS_3

Sheena mencebik, sudah mengira pria ini tidak akan mungkin memujinya, namun bisakah lelaki di depannya sedikit saja mengeluarkan kata-kata baik untuknya? menyebalkan!


Melihat wajah mendung Sheena, Jayden tanpa perkiraan malah menarik tangan gadis itu.


"Tidak kah kau tahu kau terlihat cantik," bisiknya tepat di wajah Sheena.


Sheena terkesiap, terkejut sekaligus malu. "Terimakasih." pipinya merona seketika, lalu ia buru-buru menarik diri ketika Jayden semakin mendekatinya.


"Kenapa? kau malu?" Jayden mendengus ketika melihat gadis itu mengangguk pelan. Merasa gemas.


"Eh, tuan sendiri gak pakai kimono juga?" tanya Sheena menyadari pakaian pria itu tetap sama.


Jayden menggeleng. "Aku tidak perlu."


"Eh?" Sheena terbelalak. "Gak seru kalau begitu,masa aku doang yang pakai?"


Jayden bergeming, melipat tangan di depan. "Karna memang hanya kau yang ingin pakai."


"Ish, tapi kan ... tuan harus pakai juga pokoknya!"desaknya meminta.


"Tidak." Jayden tetap menggeleng. Sheena memberengut, "Baiklah kalau begitu lebih baik kita pulang."


Ia hendak berbalik, namun sebuah tangan mencekal nya, ia berbalik menatap. "Baiklah," hanya itu yang di katakan Jayden namun sukses membuat senyum terbit di bibirnya.


Sumpah, seumur-umur baru kali ini ia mematuhi keinginan seseorang terhadapnya, dan itu terjadi karena wanita bertubuh mungil di depannya ini. Sungguh baru kali ini.


...----------------...


Jayden akhirnya menuruti keinginan gadis itu, ia juga memakai kimono untuk pria bernama kuromontsuki, yaitu kimono polos tanpa motif, namun walaupun polos tak memengaruhi kadar ketampanan juga wibawanya, malah kini naik berkali-kali lipat.


Para staf wanita di sana saling melirik ke arahnya, tersenyum-senyum lalu berbisik-bisik. mengomentari betapa tampannya pria tinggi di hadapan mereka ini.


Sheena sudah bisa menebak itu, pantaslah Jayden pernah menjadi model terkenal, Jayden memang memiliki bakat itu.


Sheena tersenyum. "tuan terlihat tampan," pujinya, "Aku senang, maaf jika aku sedikit memaksa tuan, tapi aku malu kalau cuma aku yang pakai kimono sendiri."


"Tidak masalah," jawab Jayden ala kadarnya.


"Oh ya, lalu kita mau kemana lagi tuan?" tanya Sheena.


Jayden tampak berfikir. "Kau ingin jalan-jalan?"


Sheena mengangguk antusias.


...----------------...

__ADS_1


Dan di sinilah mereka berdua, berjalan-jalan di sekitar area Asakusa, sambil melihat pemandangan matahari yang berwarna jingga yang akan tenggelam beberapa saat lagi.


Tak sadar mereka sampai kembali di kuil sensoji, kali ini keramaian langsung menyerbu mereka, banyak wisatawan dan turis yang melancong, Sheena menatap takjub ke sekitarnya, banyak anak kecil yang membawa gula kapas melewatinya.


Melihat wajah tersenyum Sheena, membuat Jayden ikut menarik sudut bibir, mereka lalu masuk ke dalam area dalam kuil yang terdapat jajaran toko-toko di sisi kanannya, area ini disebut "nakamise' di sini kita bisa melihat dan memilih berbagai pernak-pernik\akhsesoris juga makanan yang cuma bisa di dapat di tempat ini.


Sheena berjalan mendekat saat atensi nya terpaku pada aksesoris cantik di depan mata.


"Tuan, boleh kah aku membeli ini?" tanya Sheena menunjukkan apa yang dia ingin, sebuah gelang dengan desain yang menawan.


Jayden mengangguk tanpa mengucapkan apapun, Sheena tersenyum senang lalu mereka membelinya. keduanya lalu kembali berjalan-jalan.


Mereka mulai bersenang-senang, lebih tepatnya Sheena yang hyper aktif, Jayden hanya mengikuti kemana gadis itu pergi.


Melihat bagaimana Sheena berlari kecil dengan riang, sekelebat bayangan seseorang malah muncul di ingatan jayden.


"Kayla?" pria itu mengerjap-ngerjap, bibirnya terbuka setengah dengan wajah tersentak.


Jayden menggelengkan kepalanya. "Tidak aku pasti salah lihat," yakinnya pada diri sendiri.


Namun melihat senyum gadis yang kini sedang memakan kue di tangannya malah kembali mengingatkan Jayden pada Kayla.


"Tidak!" Jayden kembali menggeleng, berusaha menangkis semua pikiran yang ada di otaknya.


Keduanya tak bisa di samakan, itu benar. Ada yang salah dengan matanya. Mungkin kah Kayla kembali datang ke dalam ingatannya karna dia yang tiba-tiba merindukannya kembali.


"Kayla ... andai aku bisa menemukan mu, pastilah yang kini sedang bersama ku adalah dirimu." Jayden menatap gamang.


...----------------...


Kini setelah puas melihat-lihat dan membeli semua keinginan Sheena, keduanya berjalan bersisian di pinggir jalan dekat berderet nya toko-toko.


Sheena tersenyum, membawa sebuah gula-gula kapas di tangannya, juga aksesoris yang ia beli tadi.


Sheena menatap Jayden. "terimakasih tuan," ucapnya tulus. dengan senyum yang tak pernah luntur.


Jayden menoleh ke arahnya, tak ada senyum namun tatapan matanya lagi-lagi sudah menjelaskan semuanya.


Karna tak melihat jalan kaki Sheena tiba-tiba tersandung, gadis itu meringis memejam. Aww!"


Karna Sheena tertinggal satu langkah di belakangnya, Jayden menoleh. "Ada apa?"


"Kakiku ... " Sheena terpejam merasakan sakit di kakinya.


Jayden tiba-tiba berjongkok, hal itu membuat Sheena terkejut. "Eh, tuan ngapain?"

__ADS_1


"Biar ku lihat." Jayden menarik pelan kaki Sheena, melepas zouri (semacam sepatu khas) Sheena, yang membuat gadis itu tersandung.


Lalu mengecek keadaan kaki gadis itu. "Hanya memar kecil." Jayden lalu mendongak. "Kau bisa jalan?"


Sheena mengangguk pelan, pipinya merona merah hingga ke telinga, jantungnya berdentum keras, karena perlakuan Jayden yang satu ini.


Cara perhatian pria ini memang beda.Tak terlalu menunjukkan namun ada tulus di dalamnya.


Jayden kembali berdiri. "Jangan di paksakan jika tidak bisa berjalan."


Sheena mengangguk, menunduk malu-malu. Mereka berjalan lagi kali ini beriringan. Beberapa wanita melewati menatap ke arah mereka dengan berbisik-bisik, tersenyum.


"Lihatlah pasangan serasi itu, mereka berkencan dengan kimono, lucunya," celetuk salah satu wanita itu lalu di angguki oleh yang lainnya, mereka tertawa-tawa.


Sheena menyadari tatapan mereka. "Aku dengar para gadis itu mengatakan sesuatu, mereka bicara apa?" tanyanya menghampiri Jayden.


Jayden menatap Sheena sekilas,lalu menatap gerombolan siswi itu. "Mereka mengira kita adalah pasangan, mereka bilang lucu karena mengira kita sedang berkencan menggunakan kimono," kata Jayden membantu menerjemahkan apa yang dia dengar tadi.


"Eh?" pipi Sheena tiba-tiba memanas dengan jantung yang berdegup kencang, namun semua itu sirna, ketika dia mengingat tentang Viona, calon tunangan Jayden.


Sheena tersenyum getir menatap ke bawah. "Hahaha, mereka mengada-ada, bagaimana bisa mereka berfikiran begitu?" Sheena tertawa gamang.


Lalu tiba-tiba Jayden berhenti membuat Sheena juga ikut berhenti.


"Kalau begitu ... ayo kita wujudkan perkataan mereka," ucap Jayden.


"Eh?" Sheena terperanjat tak kalah Jayden yang sedang memunggunginya, mengulurkan tangan ke arahnya.


"Tuan?"


"Jika kau tak ingin tak apa-apa," kata Jayden hendak menarik tangannya kembali.


Namun seakan terhipnotis Sheena mengangguk, mengulurkan tangannya untuk di genggam oleh pria itu, saat itu jayden menoleh ke arahnya, Sheena menunduk, malu.


Lalu genggaman Jayden pada tangannya semakin mengerat, tangan kekar Jayden terasa hangat, diam-diam Sheena tersenyum.


Mereka melanjutkan perjalanan dengan saling bergandengan.



Di bawah indahnya matahari yang perlahan terbenam, membawa bias berwarna jingga kemerahan yang cantik seakan mengiringi langkah kedua insani itu. Bersamaan dengan gugurnya beberapa helai bunga sakura di senja paling cantik yang pernah Sheena lihat.


Bolehkah Sheena berharap pada waktu untuk bergerak melambat?


"Tuan, jika seperti ini terus ... bolehkah aku menaruh perasaan padamu?" gumam Sheena menatap punggung tegap pria itu.

__ADS_1


__ADS_2