Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Info


__ADS_3

Mobil bergerak lambat menuju tempat reservasi hotel yang kata Jayden akan di jadikan fitting baju pengantin mereka nanti. Sheena melirik lelaki yang kini fokus menatap ke depan, wangi maskulin pria itu sangat jelas tercium harum dari cuping hidungnya, membuat Sheena sedikit terlena.


Akhirnya Jayden menoleh ke arah Sheena, ketika di dapatinnya gadis itu yang menatapnya dengan lekat. "Ada apa? ada yang ingin kau bicarakan dengan ku?"


Sheena berdeham demi menghilangkan kegugupannya, gadis itu menenggakkan punggung dan terduduk tegak. "Anu ... eum, tidak jadi deh." gadis itu menggeleng kuat-kuat, Jayden menarik sudut bibirnya.


"Sepertinya ada yang ingin kau ceritakan padaku, ceritakan saja." Bak cenayang, yang di katakan Jayden sangat tepat sasaran, Sebenarnya sejak tadi Sheena ingin bercerita tentang apa yang terjadi di cafe tadi, juga rasa penasarannya tentang apa yang terjadi pada Raina dan Andre.


"Begini tuan, tadi di cafe aku bertemu dengan Andre dan Raina." suara Sheena bertutur pelan, memulai cerita, bagaimana pun ini adalah topik sensitif untuk mereka berdua, mengingat tentang betapa besarnya amarah jayden saat bertemu kedua orang yang Sheena sebutkan itu tempo lalu.


"Benar-benar gak sengaja sungguh," kata Sheena meyakinkan, agar pria itu tak marah.


"Lalu?" Jayden menatapnya biasa, seolah-olah hal itu bukanlah perkara besar, Sheena mengerjap-ngerjap, entah kenapa riuh jantungnya tidak bisa di kondisi kan saat ini, tatapan jayden sungguh mengintimidasinya.


"Keadaan mereka berdua sangat mengenaskan tuan, dan juga Andre," wajah Sheena mengkeruh mengingat kembali keadaan mengerikan kedua orang itu. "Dia pincang, sebelah kakinya buntung." Membayangkannya saja membuat Sheena meringis, memprihatinkan.


"Lalu?" tanggapan Jayden sungguh membuat Sheena syok, lelaki itu seperti biasa-biasa saja atau seakan-akan sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Hal ini makin mencurigakan untuk Sheena.


"Lalu ... mereka bersimpuh di kaki ku dan memohon maaf, yang tak aku mengerti mereka seperti di bawah ancaman, apalagi saat Raina mengatakan perkataan aneh."


"Memangnya apa yang dia katakan?" tanya jayden menyimak dengan baik cerita dari wanitanya.


"Jangan biarkan kami di ganggu oleh iblis itu lagi. begitu katanya," ujar Sheena seakan meniru perkataan Raina saat itu.


"Lalu? kau mengampuni mereka?"


Sheena mengangguk dengan mata yang juga fokus ke depan. "Tentu, aku tak tega melihat mereka yang begitu malang di bawah tekanan besar, jadi aku memaafkan mereka."


"Meskipun, apa yang mereka lakukan padamu sudah sangat keterlaluan?" tanya Jayden menimbulkan tanda tanya besar bagi Sheena.


"Maksud tuan? aku harus menghukum mereka, begitu?"

__ADS_1


Jayden mendengkus di iringi dengan senyuman yang penuh banyak arti. "Aku tak bilang untuk seperti itu, tapi adakalanya kau harus bersikap tegas, jangan biarkan nuranimu membuat mu lemah. Sekali-kali dengar kan lah apa yang dikatakan otak mu daripada suara hati mu."


"Karena dunia ini terlalu besar, untuk dirimu yang naif."


Sheena masih tak mengerti, ia hanya bisa terpekur dengan begitu banyak pikiran yang memenuhi kepalanya, gadis itu lalu kembali melirik Jayden, lelaki di sampingnya ini sungguh begitu misterius, Sheena seperti tidak mengenali Jayden yang ini.


"Tuan ... sebenarnya, kau itu siapa?" batinnya dengan segala pertanyaan yang tersimpan di benak dada. Ia benar-benar tak mengenal baik jayden selama ini.


...----------------...


Setelah berpuluh-puluh menit mobil bergerak kini Mitsubishi Pajero sport dakar ultimate AT 4×4 keluaran terbaru itu berhenti sempurna di sebuah resort mewah nan berkelas.


Setelah keluar dari mobil Sheena di buat terkejut dengan banyaknya jejeran para pelayan yang membentuk formasi berdiri rapi di sisi kanan dan di kiri.


"Selamat datang di hotel kami, tuan jayden Alexander."


Seorang pria datang dengan langkah gemulai menghampiri mereka. Jayden hanya menanggapi dengan sorot matanya, pria nyentrik dengan pakaian serupa seorang wanita dengan high heels tinggi itu hanya bisa tersenyum canggung sambil mengelus dada, merasa di cueki oleh lelaki tampan di sampingnya ini.


"Perkenalkan saya Catherine, desainer yang terpilih untuk merancang busana pengantin anda," katanya dengan senyum jumawa dan dada membusung.


"Tapi kamu pria, kenapa namanya? ... "


Seseorang berdeham keras membuatnya menoleh, Kevin ada di sana, dia datang dengan mobil yang berbeda.


"Maklum nona, dia itu lelaki bertulang lunak, kau tahu semacam itu lah," kata Kevin dengan deheman keras pria itu baru membuka suara setelah sejak tadi diam menyimak, penuturan Kevin di tanggapi cepat oleh Sheena, gadis itu mengerti pada akhirnya.


"Hai, Catherine, mohon bantuannya." Sheena tersenyum manis, pria dengan banyaknya aksesoris wanita yang melekat itu tersenyum.


"Ah, anda memang serupa Dewi, bak bidadari," puji pria Itu.


Sheena tertawa pelan, lalu mereka masuk, sementara jayden sudah masuk duluan untuk berbicara dengan manager hotel.

__ADS_1


...----------------...


"Aduh, tuan Kevin, oh my God, oh my God aku sangat merindukanmu!" Catherine, pria setengah wanita itu terlampau girang, dia bergelayut manja di lengan lelaki bertubuh tinggi itu.


Kevin nampaknya sangat tersiksa berusaha melepaskan tangan gemulai pria itu.


"Hahaha, Catherine, kau semakin cantik saja," katanya memaksakan senyum, berharap dengan pujian dia mau melepaskannya.


"Benarkah? aku semakin cantik? hahaha, kamu bisa saja chyin," kata Cath dengan suara mendayu-dayu, wajah Kevin seakan menunjukkan raut ingin muntah sementara Sheena yang melihat itu cekikikan sedari tadi.


Para staf hotel akhirnya datang bersama Jayden tentunya.


"Nona Sheena, ayo ikut kami ke ruangan," ajak kepala staf itu, semua staf di sini adalah wanita.


"Ah ya, sekarang waktunya untuk menyulap nona Sheena," kata Catherine ikut bersemangat, akhirnya melepaskan tangannya dari kevin.


Sheena mengangguk, matanya menatap jayden meminta jawaban, lelaki itu mengangguk pelan membuatnya tenang, akhirnya Sheena mengikuti para staf itu, Catherine menoleh sekilas pada Jayden.


"Buat kamu tampan, duduklah di sini dulu selama menunggu calon pengantin mu ya," ujar Cath menunjuk sofa hijau dan menggeser minuman yang di sediakan.


Jayden tak menanggapi, ia duduk begitu saja dengan menumpu kaki dan bersidekap dada, merasa di abaikan Catherine mencebik.


"Dasar pria dingin!" kesal juga, Catherine akhirnya menyusul Sheena dan para staf, karena hari ini Jayden sendiri yang memilihnya untuk merancang busana baju pengantin mereka, sebelumnya jayden juga sudah sering menggunakan jasa Catherine karena hasil tangan lelaki itu memang terkenal bagus bahkan ia pernah mengikuti lomba fashion show di new York dan memenangkannya itu sebabnya jayden memilih dia.


Kevin baru muncul setelah tadi sempat ijin menjauh untuk mengangkat telepon, wajah tampan pria itu tampak di penuhi kabut terkejut namun dengan cepat ia menguasai keadaan, Kevin lalu mendekat untuk memberitahukan info yang ia dapat barusan pada Jayden.


"Tuan, saya baru dapat info oleh bawahan kita tadi?" bisiknya di telinga Jayden.


"Info apa?" lelaki dengan gaya bossy itu menoleh, menatapnya.


"Andre dan Raina, mereka di temukan meninggal karena bunuh diri." bisik Kevin lagi.

__ADS_1


Jayden menyeringai seketika, sudah menebak hal itu.


__ADS_2