Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Jayden yang sudah mulai gombal


__ADS_3

"Bagaimana, kita langsung pulang?" tanya Sheena memecah keheningan setelah sesi momen haru ini berakhir. Sekali lagi ia menyeka ujung mata yang berair, ayah mengusap pipinya dengan sayang, hal itu memberi Sheena kekuatan untuk menghadapi ini semua. Ia akan mengupas tuntas semuanya dan setidaknya ia bisa menemukan di mana orang tua aslinya di makamkan.


"Tunggu dulu!" teriak seseorang membuat ketiganya menoleh.


Dimas dan ibu muncul dari balik tembok, hal yang mengejutkan adalah penampilan bocah itu yang kini terlihat rapi dan nyentrik.


"Om tinggi,gak lupa kan sama janji om?!" tanya Dimas lantang seraya berkacak pinggang.


Jayden tertawa samar dengan menutup mulutnya. "Tentu saja.


"Eh,janji apa yang kalian buat?" tanya Sheena bingung, merasa heran juga karena adiknya dan juga Jayden sudah terlihat sangat akrab.


"Kak ... " Dimas menghampiri Sheena, bocah lelaki itu terlihat tampan dengan topi yang di pakai terbalik di kepalanya. Bocah yang sebentar lagi akan lulus sekolah dasar itu lalu berdiri ke tembok, bergaya dengan kaki yang di silang sebelah.


"Ka, bagaimana penampilan ku, keren tidak?"



"Haaah!" Sheena melongo panjang, "Kau kenapa, sakit ya?" lalu berbalik ke arah sang ibu. "Ada apa sih mah? kenapa dengan bocah ini?"


Ibu tersenyum lembut seraya pandangannya yang mengarah pada jayden. "Kata adik mu, nak Jay sudah berjanji akan membawanya berjalan-jalan malam ini,jadi ya ibu biarkan saja dia berdandan rapi."


"Eh?" Sheena berbalik menatap Jayden, matanya memicing pertanda mempertanyakan.


"Tidak apa-apa, aku memang sudah berjanji padanya," ujarnya singkat.

__ADS_1


Mendengar penuturan Jayden, Dimas berjingkrak senang. "Asyik, aku mau ke supermarket beli banyak makanan, juga ke tokoh mainan, juga ke wahana permainan, dan menaklukkan semua wahana nya, khehehehe!" anak itu tertawa senang.


Mendengarnya semua menggeleng pelan, Sheena hanya bisa menghela nafas panjang saat melihat Jayden dan adiknya bertos ria layaknya orang yang sudah dekat lama, mau tak mau mereka menuruti apa keinginan Dimas, meksipun Sheena masih setengah hati, karna tahu gelagat adiknya itu bagaimana, kalau sudah di manja seperti ini, dia pasti akan ngelunjak nanti, ck,ck!


Melihat wajah tertekuk Sheena, Jayden menghampiri. "Tidak apa-apa, sekali-kali memanjakan adikmu." bisiknya, Sheena menoleh.


"Kita juga bisa memanfaatkan kesempatan ini, untuk berkencan." bisiknya lagi membuat Sheena merona, apalagi saat tangan mereka saling bertautan erat.


"Yasudah, kalian pergilah, bersenang-senang, tapi ingat, jangan terlalu malam." pesan ayah.


"Kalian hati-hati ya," timpal ibu, melambai senang, mengantar hingga ke teras.


Melihat bagaimana Dimas yang menggandeng tangan Jayden dan Sheena bersisian, membuat ibu memandang terharu.


Ayah ikut mengangguk, menatap lurus ke depan. "Ibu benar, ayah berharap Nana tak akan pernah melupakannya kita ya bu."


Bagaimana pun putri yang sudah di besarkannya dengan penuh kasih sayang itu sudah beranjak dewasa, namun bagi lelaki bersahaja itu, Sheena tetaplah putri kecilnya.


"Ayah akan selalu mendoakan kebahagiaan mu, Na."


...----------------...


Di sinilah mereka berada sekarang, di keinginan pertama sang bocah tampan, Jayden membawa keduanya ke supermarket, membeli jajanan juga makanan kesukaan Dimas, anak lelaki itu tampak sangat riang, Sheena mendorong troli berisi semua makanan, sementara jayden mengikut langkah mereka dengan kedua tangan di saku celana, dengan tatapan dalam dan sesekali tersenyum.


"Hei, jangan banyak-banyak, kau memang bisa menghabisi ini semua?" seru Sheena, geram.

__ADS_1


"Ish, kakak cerewet, om tinggi kok yang bakal bayar ini semua, lagian aku mau kaya kakak, jadi Hulk yang doyan makan."


Sheena mencebik. "Awas ya kalau tidak di habiskan!"


"Siaaap, ibu peri!"


Sheena mendengkus, soal begini saja adiknya itu mau memujinya, dasar!


Setelah puas berbelanja, mereka lalu ke kasir untuk membayar, "Biar aku saja," ucap Jayden menawarkan untuk mengambil alih troli belanjaan yang semakin berat.


Sheena tersenyum. "terimakasih."


Jayden menoleh menatapnya, tanpa perhitungan lagi, Jayden mengambil tas selempang yang Sheena bawa, lalu mencantolkannya di leher, Sheena terkejut, ada rasa gelenyar aneh yang kini merambat di peredaran darahnya.


"Tuan, kamu tidak perlu membawa tasku juga." cicit Sheena dengan pipi memerah, walaupun terlihat cuek dan tak peduli, perhatian kecil seperti inilah yang membuat ia semakin mencintai lelaki ini.


"Tidak apa-apa, aku tidak ingin calon istri ku kelelahan." bisik Jayden di telinganya dengan suara berat nan lugas.


Sheena menunduk, mati-matian menahan senyum,lalu matanya membulat sempurna ketika Jayden melayangkan sebuah kecupan di pipi kirinya.


"Tuan, ini tempat umum!" sentak Sheena dengan senyum yang tak bisa lagi ia tahan.


"Tidak apa-apa, kau terlihat menggemaskan saat sedang salting."


Sheena semakin melotot, dengan pipi memerah padam, salah tingkah brutal.

__ADS_1


__ADS_2