
"Ini tuan, data yang anda minta." Kevin mengulurkan sebuah map berwarna coklat pada Jayden dengan menunduk hormat.
Pria yang duduk di kursi putar nya dengan menopang dagu itu menerimanya, mata elangnya yang tajam menatap dengan teliti isi map yang telah ia buka.
Sebelumnya Jayden sudah memerintahkan Kevin untuk mencari tahu tentang Andre dan juga wanita menyebalkan itu, Raina. Tak butuh waktu lama Kevin sudah menjalankan dengan baik perintah tuannya, bahkan sampai ke seluk beluk yang paling kecil tentang kedua orang itu.
Kevin sudah tahu tentang Praha yang terjadi di pasar malam kemarin, celaka lah bagi kedua orang itu karena telah mencari gara-gara dengan orang seperti Jayden, apalagi jika itu menyangkut orang yang penting untuknya, wanitanya.
"Andre, jadi ayah pria itu masih berhutang banyak pada kita?"
Kevin mengangguk. "Ya tuan, ruko di sekitar pusat kota yang ia sewakan telah lebih dari enam bulan tak di bayarkan kontraknya, dia menunggak banyak."
Ruko berderet di sekitar pusat kota itu adalah milik Jayden bahkan tanah-tanahnya, ia sengaja berinvestasi bagi siapa saja yang mau menyewa nya di sana, tak di sangka salah satu penyewa nya adalah ayah Andre yang memang cukup ia kenal.
"Bahkan gedung tempat mereka merayakan resepsi besar-besaran pernikahan kedua orang itu, tak mereka bayar setengahnya dan itu adalah gedung milik kita."
Jayden melongos, sudah menebak akan seperti itu alurnya. "Aku tak mau tahu. Kevin, bagaimana pun caranya, buat keluarga mereka hancur, aku tak ingin kematian, karna itu terlalu mudah untuk mereka."
"Mereka telah memperlakukan wanita ku, maka mereka harus menerima akibatnya berkali-kali lipat lebih besar."
Meski tak di nyatakan secara gamblang tapi Kevin mengerti apa yang harus di lakukannnya.
"Saya mengerti tuan, akan saya laksanakan secepatnya!"
...----------------...
Di mal sepasang wanita dan pria bergandengan tangan dengan mesra, si wanita memakai pakaian yang begitu Bagus dan pastinya mahal dengan semua barang yang melekat di tubuhnya bermerek dan branded.
Si lelaki tampak begitu bahagia tersenyum pada wanita itu sambil tertawa-tawa, meski kemarin hubungan mereka sempat retak karna sesuatu permasalahan namun akhirnya kini kembali akur.
Raina tersenyum ketika mengingat tentang perkelahian nya dengan Sheena lusa kemarin, wanita itu tampak sangat congkak karna merasa menang dari Sheena yang lebih memilih pergi dari pada meladeni ucapannya saat itu.
Kini dua hari sudah berlalu sejak perdebatan besar itu, kini semuanya seakan kembali normal, Raina ingat tentang ancaman Jayden padanya.
__ADS_1
"Hahaha, apanya yang akan hancur? lelaki sinting itu lucu sekali." gumamnya bila mengingat ancaman mengerikan Jayden yang kini menurutnya malah menggelikan. Terbukti, sekarang dia baik-baik saja tak terjadi apa-apa padanya, lelaki itu hanya pandai menggertak.
"Ganteng sih iya, pinter si jal*ng itu nyari mangsa, tapi tetap saja tidak akan bisa menggantikan Andre di hatiku." gumamnya lagi melihat pria yang kini berlari sambil membawakan minuman kaleng padanya.
"Ini minumannya, yang." Andre memberikan minuman kaleng yang ia beli dengan senyum mengembang.
"Makasih ya beb, tau aja aku lagi haus." Raina menerima nya dengan senyum terpatri manis, maklum, mereka baru jadi pengantin seminggu yang lalu, sedang lagi bucin-bucinnya, itulah makanya waktu libur mereka habiskan untuk berfoya-foya dan bersenang-senang.
"Iya dong, apasih yang gak buat kamu," kata Andre dengan kerlingan mata menggoda.
Raina mendengkus pendek. "Sekarang kamu sadar kan, siapa yang lebih baik, aku atau Sheena? tentu jelas,aku." membanggakan diri.
"Iya sayang, itu tentu saja, sejak dulu aku hanya mencintai mu, kamu sudah tahu kan, aku terpaksa menjalani hubungan dengan Sheena hanya untuk memanfaatkannya, dia itu pintar, aku memanfaatkan nya hanya untuk membuat skripsi ku dan lulus kuliah dengan cepat."
"Bodohnya dia mau saja di manfaatkan hanya dengan di iming-iming kata-kata gombal, hahaha." Andre tertawa, Raina tersenyum sinis.
"Emang dia tuh bodoh dari awal, sok baik bikin aku eneg, apalagi keluarga nya, akupun hanya memanfaatkan nya untuk menguras harta keluarganya saja, mereka entah emang terlalu baik atau emang bodoh."
"Mau membantu biaya kuliah ku hanya bermodalkan wajah memelas saja, hahaha." kini giliran Raina yang tertawa. Menertawakan semua kebaikan Sheena kepada mereka seakan itu adalah hal yang lucu.
"Eh, males nih ngomongin dia terus gak penting banget," celetuk Raina, Andre mengangguk.
"Ya udah kamu mau kemana lagi? atau mau beli apa lagi?"
"Hmm, emang uang kamu masih ada?" setahu Raina uang yang mereka terima dari tamu undangan resepsi saja sudah habis untuk membayar WO, dan setengahnya sudah habis mereka pakai untuk jalan-jalan tadi.
"Kamu tenang aja, yang. Soal itu gampang,"Andre tersenyum penuh arti padanya.
"Taraa!" pria itu menunjukkan sebuah kartu debit padanya.
"Itu punya siapa beb?" setahu Raina ia belum pernah melihat kartu debit itu sebelumnya.
"Ya punya aku dong. Di dalam sini sebenarnya tersimpan tabungan aku dan Sheena, kita menabung untuk masa depan rencananya."
__ADS_1
"Tapi yang sebenarnya terjadi, di dalam sini hanya ada yang Sheena saja, tak ada uang ku."
Raina menatap berbinar. "Kok bisa ATM nya ada di kamu?"
"Tentu saja, karna sejak awal aku yang memegang nya," kata Andre congkak.
"Wah keren, aku gak menyangka kamu selicik itu." kelakar Raina.
"Eits, bukan aku yang licik tapi dia yang terlalu bodoh."
"Hahaha kau benar." Raina tertawa menimpali perkataan Andre.
"Ya sudah ayo kita berfoya-foya lagi."
"Oke, let's go!"
...----------------...
"Maaf pak, tapi kartu ini tidak berfungsi!"
"Apa?!" Andre terpekik kaget, padahal di kedua tangan mereka sudah penuh dengan tas belanjaan bermacam-macam pakaian dan sepatu branded, namun saat hendak membayar alangkah malunya mereka, karna kartu debit itu tidak berfungsi.
"Coba sekali lagi mbak, mungkin ada yang salah dengan mesinnya," kata Andre masih tetap berkilah, mereka mulai menjadi tontonan saat ini, apalagi orang-orang yang mengantri di belakang mereka.
Sang kasir mencoba sekali lagi namun hasilnya tetap sama. "Tidak bisa pak, memang kartunya yang bermasalah, mesin kami bahkan baik-baik saja."
"Mungkin bapak punya uang tunai cash? agar pembayaran bisa cepat di lakukan, dan tidak membuat kemacetan di belakang."
Andre menggeram. "Sialan."
Raina sudah kepalang malu di sampingnya. "Gimana beb, bisa gak?"
Andre menggeleng, belum sempat keterkejutan mereka tentang kartu, sang ayah menelpon Andre, berbicara dengan suara kerasnya.
__ADS_1
"Ada apa sih yah?" Andre ikut kesal karenanya.
"Pulang cepat sekarang! rumah dan harta benda kita semua di sita bank!"