
"Kecelakaan lima belas tahun lalu yang menimpa orang tuamu, bukanlah kecelakaan biasa tapi sebuah pembunuhan terencana."
Akhirnya kata-kata itu keluar setelah obrolan lumayan panjang mereka kini beralih ke topik yang lebih serius.
Sheena syok hingga tidak bisa berkata-kata, ia melirik Jayden lelaki itu hanya diam tanpa ekspresi, dia pasti sudah tahu semuanya lebih dulu.
"Aku tidak terlalu tahu siapa saja dalang di balik semua ini, namun tuan Daniel pasti sudah menangkap seseorang yang memang lebih tahu semuanya dengan rinci." nyonya Lavenya menatap Jayden seakan meminta penjelasan.
"Hal itu akan terungkap nanti, setelah pria itu membuka mulut." Yang di maksud Jayden di sini adalah Adinata, ia belum mengintrogasi nya sekarang. Nyonya Lavenya mengangguk paham, lalu beralih menatap Sheena.
"Yang intinya nak, kamu awalnya di titipkan di panti asuhan ku, sebelum kau akhirnya menghilang, dan setelah aku mencari tahu kau berada di panti asuhan lain, awalnya aku berniat ingin membawa mu kembali, tapi aku terlambat karena saat itu kau lebih dulu sudah di adopsi oleh satu keluarga yang saat ini pasti sangat menyayangi mu."
Perkataan nyonya Lavenya benar seratus persen, pasti ja sangat tahu keluarga yang mengadopsi Sheena sangat menyayangi Sheena seperti anak kandung mereka sendiri.
"Lima belas tahun lalu, kau datang bersama seorang suster dengan pria berbadan besar yang aku masih ingat berpakaian serba hitam dengan banyak tato di tubuhnya, lelaki itu memakai kacamata hitam hingga aku tak bisa mengenali wajahnya."
Sementara itu di situasi yang lain, tuan Adinata telah terbebas dari pasungan, kondisinya jauh lebih baik setelah Wendy membantu ayahnya itu bersiap, penampilan nya jauh berbeda di bandingkan saat ia masih di tahan dalam pasungan.
Sekarang ia duduk menghadap ke depan yang di sekat oleh sebuah meja besar, di hadapannya telah duduk Georgio dan Kevin, sebagai saksi atas apa yang nanti tuan Adinata ucapkan, suasana di sekitar remang-remang hanya mengandalkan sebuah lampu bundar berwarna oranye yang menerangi di tengah-tengah.
Di sisi kanan dan kiri mereka terdapat banyak kamera, sebagai bukti yang akan di tunjukkan untuk Jayden nanti, juga Kevin yang siap membawa alat perekam di tangannya, yang akan merekam semua perkataan tuan Adinata nanti, juga menjadi bukti yang kuat.
"Lima belas tahun lalu, aku masih berstatus sebagai seorang supir kepercayaan tuan Cakrajaya," ucap tuan Adinata memulai cerita.
"Aku tak akan melupakan bagaimana mobil yang ku kendarai tuan Cakrajaya saat itu terjatuh dan meledak di dalam dasar jurang, tepat di depan mata ku."
"Entah itu mukjizat atau sebuah keberuntungan, hanya aku yang selamat dalam keadaan mobil yang rem nya blong tak bisa di hentikan."
__ADS_1
Lalu tuan Adinata memulai ceritanya.
"Kalian tahu bukan, siapa dalang di balik semua ini?"
Georgio dan Kevin saling memandang, lalu Georgio membetulkan posisi tangannya di depan dada.
"Tuan Yudistira Alexander?" rumornya memang sudah senter terdengar di kalangan anggota mafia nya, bahwa tuan Yudistira lah yang menyabotase kendaraan tuan Cakrajaya saat itu.
Tuan Adinata mendengkus. " bukan hanya dia," katanya seraya menggeleng.
"Ada nyonya Kanaya juga, pencetus konspirasi gila itu."
"Nyonya Kanaya?" Kevin seperti pernah mendengar nama itu, di kalangan para investor yang pernah bekerja sama dengannya.
"Nyonya Kanaya pradipta, ibu dari nyonya Adelia, istri tuan Cakrajaya."
Sheena menutup mulut terkejut luar biasa, matanya tiba-tiba memburam. "N-nyonya Kanaya, nenekku?"
Sungguh ini tidak bisa di terima oleh otaknya, seorang wanita paruh baya yang pernah ia selamatkan tasnya dari pencopetan saat itu, adalah neneknya, keluarganya?
"Ya Sheena, nyonya Kanaya adalah nenek mu, apa kau mengenalnya?" tanya nyonya Lavenya.
Sheena menoleh pada Jayden, air matanya jatuh begitu saja tanpa persetujuannya, ia yakin pria itu pasti sudah mengetahui fakta ini sejak lama.
"Sebelum aku tahu jika kau adalah cucu nyonya Kanaya, aku dan dia sudah sejak lama berteman dulu, namun kami terpisah setelah Kanaya menikah dan ikut bersama suaminya."
Hening sejenak, mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing, terlebih Sheena yang masih syok dengan fakta yang terpampang ini.
__ADS_1
"Yang kutahu sebelumnya, Kanaya tidak setujui dengan hubungan putrinya, dengan Cakrajaya yang saat itu hanyalah seorang anak tukang kebun, saat itu beritanya menjadi trending topik di kalangan wanita sosialita saat itu, hingga aku juga mengetahuinya."
"Kanaya jelas malu aku tahu itu, dia adalah wanita yang sangat menyunjung status tinggi, mengetahui putri satu-satunya mencintai pria yang menurutnya salah membuat ia gelap mata dan mengusir Adelia, yang saat itu tengah mengandung dirimu, meninggalkan rumah tanpa apapun kecuali pakaian yang melekat."
"Meskipun kami tak pernah bertemu tapi aku tahu Cakrajaya adalah pria yang bertanggung jawab, atas nama cinta mereka, keduanya lalu pergi, Adelia meninggalkan semua kemewahan yang selalu melekat pada dirinya demi pria yang sangat di cintainya, ayahmu."
Sheena tak bisa membendung air matanya saat mendengar kisah tragis orang tuanya, rasanya begitu sakit menimbulkan nyeri yang seakan menyayat hatinya.
"Mereka lalu hidup meluntang lantung, mereka berdua menikah bahkan tanpa restu dari Kanaya, lalu dalam kesederhanaan kau lahir, buah hati mereka, Membuat Ayahmu bekerja lebih keras demi ibumu dan dirimu, Kayla."
"Kayla,nama itu yang ibumu cerita kan langsung pada ku, adalah kembaran nama dari nenek mu, meskipun nenek mu telah berbuat jahat kepada mereka, namun mereka tetap menginginkan nama nenek mu bisa ada di dirimu, lalu tercetus lah nama Kayla yang awalannya mirip dengan nama nenek mu, dan yang membuat ku salut adalah ayahmu sendiri lah yang memberikannya, orang yang telah di hina-hina oleh Kanaya, pria yang katanya tak pantas bersanding dengan putrinya malah menjadi orang yang sangat menghormatinya."
"Apakah nyonya Lavenya dulu sangat dekat dengan ibuku?" satu pertanyaan itu membuat nyonya Lavenya menghentikan perkataan, berdiam sebentar lalu tersenyum.
"Bagaimana pun aku dan Kanaya dulu pernah menjadi teman dekat, sudah pasti putrinya dekat dengan ku, hari di mana kau lahir akulah yang membantu ibumu melewati proses persalinannya."
Sheena ikut tersenyum, senyuman yang lebih tulus dari sebelumnya.
"Lalu bagaimana kelanjutannya?"
"Perlahan-lahan, bisnis kecil-kecilan yang awalnya di tawarkan dari teman pada ayah mu saat itu menjadi bisnis yang besar dan menjanjikan, seperti kata pepatah roda kehidupan akan terus berputar, nama ayahmu semakin naik dan berhasil menjadi pengusaha sukses dan bisa membahagiakan ibumu juga dirimu."
"Akupun turut bahagia meski tak bisa melihat langsung kebahagiaan itu, lalu semakin sibuk aku tak pernah lagi melihat ibumu, sampai aku pindah dari kota saat itu dan tak pernah lagi melihat mereka."
"Namun ibumu tak pernah melupakan ku, sekali dua kali ia akan menghubungi ku memperkenalkan tumbuh kembang mu, walaupun tak sesering dulu, karena kami sama-sama sibuk."
"Hingga bertahun-tahun kemudian saat kau berumur lima tahun, kabar duka itu datang, keduanya meninggal dalam sebuah kecelakaan."
__ADS_1