
"Wendy!" teriak Georgio dengan sigap menarik tubuh gadis itu, saat sebuah sepeda motor hampir saja menabraknya.
Wajah Georgio memerah dengan nafas terengah, tubuhnya bergetar, rasanya seperti jiwanya di tarik paksa dari tubuhnya, kenangan buruk itu kembali terlintas di kepalanya.
"Maaf, tadi aku tidak fokus melihat."
"Apa kau sudah gila hah?!" teriak Georgio tiba-tiba membuat Wendy tersentak, kaget.
"Bagaimana kau tidak bisa melihat kendaraan sebesar di depan matamu? bagaimana jika aku tidak menarik mu tadi?!" Georgio meluapkan amarahnya.
Wendy terdiam, "Gio ... "
Georgio tersadar, wajahnya yang tegang kini kembali seperti semula saat Wendy memanggil namanya dengan suara lembutnya.
"Apa yang ku lakukan?" gumam Georgio mengusap wajahnya kasar.Frustasi.
"Gio, maaf aku menyusahkan mu lagi." Cicit Wendy, merasa takut melihat Georgio yang marah untuk pertama kalinya.
"Lupakan, ayo." Georgio mengenggam tangan Wendy, lebih erat seakan takut jika gadis itu pergi dari hadapannya.
Mereka lalu menyebrang jalan, ke tempat Georgio memakirkan mobil nya, mereka sudah selesai berbelanja, sudah ada tiga paper bag berisi pakaian yang Georgio pilihkan sendiri untuk Wendy, sepatu juga aksesoris nya, menurutnya Wendy terlalu lelet, hingga dia yang harus menangani semuanya, benar-benar merepotkan.
"Kita mau kemana lagi?" Wendy bertanya di dalam mobil yang hendak melaju.
"Tidak usah banyak bertanya, duduk dan diam saja."
Wendy menatap sendu lelaki dengan alis tebal itu, ia akhirnya tak bersuara lagi, menurut lebih memilih diam.
Ia menatap kedua tangannya yang terasa mendingin, bagi Wendy hal yang ia sesali adalah masa mudanya yang di renggut paksa darinya, usianya masih enam belas tahun saat ia ia pertama kali menginjakkan kaki di mansion tuan Yudistira yang ayahnya perkenalkan adalah teman bisnisnya. Waktu itu Wendy melihat bagaimana sang ayah yang berdebat dengan lelaki tua yang di sebut ayahnya bos besar, terjadi percekcokan di antara mereka hingga ayahnya di tahan oleh beberapa orang berbadan besar, Wendy kecil yang di titipkan oleh para maid saat itu meraung menangis karena ayahnya yang di pukuli, hingga akhirnya ayahnya di usir keluar dari sana, namun tidak dengan dirinya.
Mereka menahannya di sana, tak peduli ia berusaha untuk lepas para lelaki berbadan besar itu malah membawanya dan mengurungnya di sebuah ruangan, yang saat itu ia tahu menjadi kamar tahanan untuknya.
"Bos besar mengatakan gadis kecil itu akan menjadi tahanan di sini, agar Adinata tidak membuka mulutnya."
__ADS_1
"Sampai kapan?"
"Tidak tahu, mungkin sampai Adinata tiada."
"Serahkan saja urusan ini pada kepala maid, kita terlalu membuang waktu jika harus menjaganya."
"Baiklah."
Bisik-bisikan orang-orang itu seakan mendengung seperti sekumpulan lalat di telinga nya, ia di tinggal sendirian di tempat dingin dan gelap itu. Benar-benar sendiri.
Sampai akhirnya ia harus di kurung di sisi paling belakang Mension mewah itu, menghabiskan lima tahun masa mudanya dengan sia-sia, para maid di sana memang baik padanya, namun tetap ia tak bisa melihat bagaimana teriknya matahari pagi, atau indahnya bintang di langit malam, seperti burung dalam sangkar, itulah yang ia rasakan.
Pernah suatu ketika para orang suruhan bos besar mereka, mengatakan jika ia akan menjadi wanita penghibur di salah satu club milik mereka.".
"Sekarang kau sudah berada di usia matang, tubuh mu bagus dan wajah mu cantik, sangat di sayangkan jika kau hanya di kurung saja di sini." orang-orang menyeramkan itu tertawa sambil menarik tangannya.
Bisa ia ingat, peristiwa itu masih menjadi trauma untuk nya, mereka bilang orang-orang itu datang tanpa persetujuan bos besar sendiri, Untung saja kepala maid berpihak padanya, bisa ia ingat kepala maid dan para maid di sana mati-matian menahan Wendy hingga akhirnya orang-orang itu pergi, setelah kepala maid mengancam dengan menelpon bos besar, yang Wendy tahu kini adalah tuan Yudistira.
Mobil Fortuner silver itu berhenti, Wendy bahkan sampai tak sadar jika mereka sudah sampai tujuan.
Wendy menahan tangannya. "Kamu mau kemana?"
"Aku hanya sebentar, jangan bersikap berlebihan," ujar Georgio menusuk.
Wendy menunduk sedih, tidak kah Georgio tahu jika Wendy benci sendirian.
"Baiklah. tapi ku mohon segera lah kembali." pinta Wendy dengan mata bulatnya yang memohon.
Deg! ada apa ini, kenapa rasanya ia jadi tak rela meninggalkan gadis ini. Tidak, Wendy harus terbiasa untuk hal ini, ia ingin Wendy belajar bertahan hidup, bagaimana ia akan bisa menghadapi kerasnya dunia, jika di tinggal sendiri saja dia sudah seperti ini.
Georgio melakukan ini karena tahu Wendy sudah terkurung sejak lama di tempat sialan itu, tak bersosialisasi dan terpenjara,ia ingin Wendy bisa hidup selaknya orang biasa, ia ingin Wendy bisa mengandalkan dirinya sendiri dan tidak bergantung pada orang lain nanti.
Kenapa dia sampai melakukan hal sejauh ini? entahlah, Georgio sendiri tak mengerti.
__ADS_1
Tanpa mau menjawab nya, Georgio beranjak pergi dengan membiarkan mobil yang tidak terkunci, meninggalkan Wendy sendiri di dalam.
Baru beberapa menit setelah kepergian Georgio, sudah ada ketakutan dalam diri Wendy yang tak bisa ia tolak, ia terlalu bergantung pada Georgio selama ini, jadi saat lelaki itu tak ada di sampingnya, ia merasa gelisah, seakan dunia sangat menyeramkan tanpa lelaki itu.
Tok!tok! ada mengetuk kaca mobil, Wendy menoleh, di lihatnya wajah-wajah tak di kenal terpampang di kaca mobil seperti sedang melototinya. Wendy terkejut, dadanya bergemuruh dalam ketakutan.
"Sepertinya tidak ada orang di dalam."
Suara mereka terdengar jelas di telinga nya.
"Tapi mobilnya tidak di kunci." salah satu dari mereka memeriksa gagang pintu mobil. Wendy menutup mulut merasa sangat ketakutan, ketiga pria dengan tampang seram berpakaian serba hitam itu tampak berdiskusi, sepertinya mereka sudah lama mengintai mobil itu.
Wendy ingin keluar lewat pintu satunya namun sayangnya itu tidak terbuka, salah satu pria itu akhirnya membuka mobil, Wendy menahan nafas tak tahu lagi harus berbuat apa.
Mereka tertegun setelah melihatnya, hanya sebentar lalu di gantikan dengan seringai memuakkan. "Ketemu."
"Bos besar sudah menunggu mu, kenapa kau malah kabur?"
Mereka adalah suruhan tuan Yudistira, yang hendak membawanya kembali ke mansion terkutuk itu.
Wendy menggeleng lemah dengan air mata yang mengucur deras.
Sementara Georgio sedang memeriksa kantung belanjaan di tangannya, ia pamit hendak membelikan ponsel untuk Wendy, ia yakin gadis itu tidak memilikinya, jadi Georgio memutuskan untuk ke konter HP terdekat dan membelikannya sebuah ponsel keluaran terbaru, saat hendak pulang ia melihat toserba di samping, karena tak memiliki banyak waktu lagi akhirnya Georgio memutuskan menyambangi toserba itu membeli bahan makanan juga makanan instan dan camilan untuk persediaan Wendy di apartemennya nanti.
Saat hendak menuju mobil, sekilas ia melihat keributan yang sedang terjadi, menyadari situasi Georgio langsung berlari tanpa memperdulikan tas belanjaan di tangannya.
"Wendy!"
Ketiga pria itu menarik tangan Wendy sangat kasar memaksanya untuk keluar dari mobil, dengan emosi yang meluap-luap Georgio datang menghadang, memberikan pukulan telak pada ketiga pria itu.
"Breng sek!" makinya tajam, ketiga pria yang sudah terpojokkan itu akhirnya mau tak mau pergi setelah banyak mendapat tontonan orang-orang.
Dengan nafas yang hampir habis Georgio berbalik, menatap Wendy yang sudah menangis sesenggukan.
__ADS_1
Georgio langsung membawanya ke dalam pelukan. Salahnya telah meninggalkan Wendy sendiri, ini salahnya.
"Tidak apa-apa, kau aman bersama ku."