
Sheena menutup mulut dengan telapak tangannya demi mendengar info dari Rasti. "K-kamu gak asal ngomong kan? A-andre dan R-raina sudah tiada? meninggal maksud mu?" dunia seolah berputar-putar di sisinya, padahal rasanya baru kemarin kedua orang itu meminta maaf padanya sambil bersimpuh.
Rasti mengangguk cepat. "Aku udah tebak kamu pasti belum tahu soal ini."
"Lihat deh di group sosmed alumni kita, udah banyak ucapan bela sungkawa, mereka meninggal baru tiga hari yang lalu," kata Rasti menggebu-gebu menginfokan apa yang dia dengar, seraya menunjukkan ponsel miliknya.
"Ah, itu ... sekarang ponsel ku ganti yang baru, jadi semua akun sosmed ku yang dulu terhapus," ucap Sheena.
"Apa jangan-jangan nomor ku juga ke apus? pantes ku chat ku telpon gak di balas, bahkan kamu pulang ke rumah minggu kemarin aja aku gak tau, kalau bukan Tante Nafisah yang bilang."
Sheena tersenyum meringis merasa tak enak, padahal Rasti adalah teman terdekatnya, lalu demi mengalihkan topik ia berkata lagi. "Terus apa penyebab mereka meninggal? kecelakaan kah? atau penyakit?"
Sungguh ia pun merasa penasaran, meski sudah di larang jayden untuk tidak mencari tahu apapun yang berkaitan dengan mereka.
"Nah, itu info pentingnya, mungkin kamu agak gak percaya ini, mereka bunuh diri, bersama-sama. rumornya sih karena meminum racun tikus, ada juga yang bilang gantung diri."
Hal itu membuat Sheena kembali syok, ia bahkan menutup mulutnya lebih lama kali ini, entahlah ada rasa sedikit sedih dan kehilangan di sudut hatinya, mungkin efek karena dulunya mereka telah bersama-sama sejak kecil dan cukup lama.
"Gak usah kaya gitu kagetnya, aku malah senang mereka tiada, populasi orang jahat di dunia ini jadi berkurang," kata Rasti dengan entengnya.
"Heh, mulutnya kalo ngomong," tegur Sheena menoyor lengan Rasti.
"Lah bener kan? selama ini mereka udah jahat banget sama kamu, yang bikin kamu hancur siapa? mereka kan, jadi mereka pantas dapetin ini semua."
Rasti sungguh paham, penyebab Sheena hingga pergi jauh dari rumahnya bekerja di sini, pasti juga karena ingin menyembuhkan sakit hatinya akibat ulah Andre dan Raina, ia tahu apa yang di rasakan Sheena meskipun temannya itu tidak memberitahu kannya.
__ADS_1
"Tapi tetap aja mereka ... "
"Mereka apa? sahabat kamu? gitu!" sungut Rasti sudah menebak apa yang akan di katakan Sheena.
"Gak Na,gak. kita emang harus jadi baik, tapi terlalu baik juga gak baik, kaya kamu ini udah di sakitin masih aja peduli." protes Rasti.
"Kalau aku jadi kamu, aku bakal ketawa kencang di pemakaman mereka," ujar Rasti lagi.
Sheena mengernyit. "Kok jadi kamu sih yang semangat banget."
"Abisnya aku gedeg sama sikap acuh kamu selama ini, harusnya kamu lawan dong mereka saat masih hidup dulu, apalagi tuh si Raina yang gak tau diri, untung sekarang dah koit."
Sheena menghela nafas pelan. "Aku gak mau kaya gitu karena gak mau ada dendam ke depannya Ras, bisa aja aku ngelakuin hal yang kamu bilang ke mereka, tapi kalau kaya gitu sama aja dong aku kaya mereka, apa bedanya kalau begitu?"
"Lagian hal kaya gitu bikin capek hati Rasti sahabat ku yang cantik dan kiyowo, gak bisa bikin kita bahagia," kata Sheena.
Perkataan Rasti mengingatkan nya dengan perkataan Jayden tempo lalu, ah, apa benar dia senaif itu? lagipula ia hanya tidak ingin terlibat masalah jika membalas dendam seperti yang di katakan Rasti.
"Lebih dari itu, aku ingin protes dengan mu," kesal Rasti padanya.
"Apaan?" tanya Sheena, alis Rasti menukik tajam seolah-olah ia sedang melakukan kejahatan besar.
"Kamu ... akan menikah kan? dengan tuan jayden?"
"Apa? kamu tau dari mana?" tuding Sheena.
__ADS_1
"Tuh kan bener, jahat kamu cuma aku yang gak di kasih tau soal ini," sungut Rasti seolah merasa terkhianati.
"Padahal kita udah temenan lama, tapi berita sepenting ini aku gak tau, kamu gak pernah nganggep aku sebagai sahabat ya?" tudingnya.
"Bukan begitu astaga Ras, maaf."
Namun Rasti malah membelakanginya, entah kenapa matanya tiba-tiba memanas, bukan lebay, jika ada orang yang memiliki hati seperti Rasti mungkin akan paham apa yang dia rasakan.
"Padahal kita temenan udah lama banget, kita bahkan pernah makan sepiring berdua saat aku benar-benar di posisi terpuruk, aku pikir aku kita keluarga tapi nyatanya? kalau aja Tante Nafisah gak cerita panjang lebar ke aku, selamanya aku gak akan tahu soal kamu yang udah di lamar bos mu yang kece itu." Dasar Rasti, di saat sedih pun ia pandai menciptakan suasana lawak.
"Maaf Ras, aku bukannya ngelupain kamu, tapi situasi nya gak memungkinkan buat aku bilang langsung ke kamu."
Rasti mengusap matanya yang sempat basah, ia kembali menghadap Sheena, "Demi oppa Soong Joong Ki si duda kaya raya, aku rela maafin kamu kali ini," katanya dengan acuh tak acuh, permintaan maaf Sheena tadi begitu tulus, lagipula bagaimana ia bisa bertahan marahan berlama-lama dengan sahabatnya ini?
"Apa hubungannya coba sama Soong Joong Ki oppa?" kata Sheena seraya tersenyum, suasana kembali berubah harmonis.
"Ya kan, dia suami aku."
Sheena kali tertawa kencang, "Halu kamu."
Rasti, sahabatnya tetap seperti dulu, tak pernah berubah, mereka lalu tertawa bersama.
"Oh ya Na, ceritain gimana caranya kamu bisa ngegaet pria superstar seperti tuan Jayden? lihat rumahnya yang lebih mirip seperti istana ini? Kamu pelet apa Na sampe dapetin cowok sempurna kaya dia?!"
"Atau di kehidupan sebelumnya kamu pernah jadi pahlawan apa sampai dapat door prize spek tuan Jayden yang katanya kolongmerat yang hartanya tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh tikungan gak akan habis-habis!"
__ADS_1
"Aaaaa, Sheena aku juga mau!"
Sheena memutar bola matanya malas melihat kehebohan Rasti ini, satu lagi tentang Rasti yang tak pernah berubah, kehebohan dan suara cempreng nya.