Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Mengunjungi butik nyonya Kananya


__ADS_3

"Sudah lama ... Jayden, aku sangat merindukanmu."


Jayden diam tak menanggapi, di sesapnya teh chamomile di cangkir keramik yang masih mengepulkan sedikit asapnya. Dia bukan tak mendengar, namun Jayden sengaja menulikkan telinga, karna tahu ada gelagat aneh pada putri pertama David de chullen ini.


Vania merasa di abaikan,gadis itu tersenyum canggung karna Jayden tak kunjung bicara apa-apa, bahkan ungkapan kerinduannya pun tak kunjung dia tanggapi pria yang duduk di seberangnya ini.


Mengalihkan perhatian, Vania menatap cangkir berisi teh yang tinggal setengah. "Kamu masih sama ya seperti dulu, sangat suka dengan teh chamomile."


Jayden mengangguk mulutnya melengkung membentuk huruf O, melihat reaksi Jayden yang hanya seperti itu, membuat Vania meringis.


"Selain minuman kesukaan mu, kamu masih sama seperti dulu, dingin, dan irit bicara. aku seperti bicara dengan patung saja hahaha."Vania tertawa berusaha mencairkan suasana, namun pria di depannya ini masih saja bergeming membuat tawa Vania seketika luntur.


Jayden menopang paha dengan kedua tangan terlipat ke depan. "Katakan, apa tujuan mu datang kesini?" sungguh ia paling malas menghabiskan waktu yang begitu berharga hanya untuk pertemuan tak penting seperti ini.


"Perkataan mu terlalu kasar Jayden, apa kamu tak ingin menanyakan keadaan ku?"


"Bagaimana kabar mu?" tanya Jayden, responnya sangat cepat, tapi Vania merasa ini adalah reaksi Jayden yang ingin buru-buru menyudahi obrolan mereka. Hati wanita itu mencelos seketika.


Bahkan saat Vania secara terang-terangan menggoda dengan membusung dada, hingga kedua gunung kembarnya menyembul, Jayden sama sekali tak bergeming, raut wajah pria itu bahkan biasa-biasa saja.


Vania tersenyum. berusaha mengusir pikiran berkecamuk di dalam benaknya. Bagaimana pun dia harus mendapatkan simpatik pria ini.


"Kabar ku sangat baik, kau tahu? tiga tahun berada di Paris, membuat ku merindukan kota ini, juga dirimu." Vania masih tetap berusaha mengetuk hati pria dingin ini.


Jayden menghembuskan nafas, "Jika kau hanya ingin berbasa-basi saja, maaf, aku harus pergi."


"Tunggu Jayden!" Vania menahan tangan kekar pria itu.


"Baiklah, aku serius kali ini." Jayden kembali duduk pada akhirnya, memberikan kesempatan terakhir gadis ini.


"Jayden aku ingin ... kamu membatalkan perjodohan mu dengan Viona."


...****************...


Di tepi jalan Sheena menengadah menatap silau matahari yang hari ini cukup menyengat. Tepat di depan ia berpijak, berdiri kokoh bangunan menjulang tinggi dengan dinding kaca transparan yang hampir memenuhi sisi bangunan.


"Kayanya ini deh tempatnya." gumam Sheena menatap kembali kartu nama di genggamannya, mengambil nafas panjang guna menghalau gugup, Sheena akhirnya melangkahkan kaki memasuki gedung itu.


Saat memasuki gedung megah itu, Sheena langsung di sambut dengan hawa sejuk yang berasal dari AC yang terpasang, Sheena menatap takjub deretan baju cantik yang menggantung di tembok ataupun di rak-rak elegan dengan tampilan kaca menawan.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" seruan dari bagian reception membuat Sheena menoleh.

__ADS_1


Sheena mendekati tempat reception. "Selamat siang, saya ingin bertemu nyonya Kanaya pradipta, apa benar ini butik miliknya?"


"Benar sekali, nyonya Kanaya berada di ruangannya, mari saya antar."


Sheena mengangguk, tersenyum lalu mengekori langkah sang reception dengan memandang takjub deretan gaun dan baju yang hampir memenuhi ruangan.


"Nyonya Kanaya, ada yang mencari anda." lapor wanita itu saat pintu ruangan terbuka, Sheena di belakang sedikit mengintip.


Wanita paruh baya yang sedang fokus di tempat duduknya itu, mengalihkan pandangannya. Melirik ke belakang sang reception, reaksi nyonya Kanaya langsung berubah.


"Oh, Afsheena!" serunya saat melihat bayangan Sheena di belakang sang reception.


"Silahkan nona." Sheena mengangguk, maju melangkah.


"Kalau begitu saya permisi." nyonya Kanaya mengangguk setelah sang reception membungkuk hormat dan menutup pintu.


"Silahkan Afsheena, kebetulan aku mempunyai firasat akan bertemu dengan mu, ternyata firasat ku benar." nyonya Kanaya melengkungkan senyum hangatnya, mempersilahkan Sheena untuk duduk di sofa panjang di samping tempat duduknya.


"Terimakasih nyonya, maaf jika menganggu waktu mu."


Nona Kanaya menggeleng. "Tentu saja tidak, aku sangat senang kau datang."


"Air putih saja nyonya." mata Sheena menyipit seiring garis bibir yang ia angkat tinggi.


Nona Kanaya menatapnya. "Tak usah sungkan Sheena, katakan apa yang kau inginkan?"


"Baiklah kalau begitu jus buah naga, kalau ada, Nyonya hehehe."


"Tentu saja, kau tunggu di sini ya." Sheena mengangguk mendengar perkataan nyonya Kananya, sebenarnya dia merasa tak enak, tapi akan semakin sungkan jika dia tak menjawab.


Sepeninggalan nyonya Kananya, mata Sheena berkeliaran, menatap takjub ruangan yang di dominasi warna pastel dengan banyak sketsa baju yang menempel di setiap dinding.


Dulu jika di tanya tentang cita-citanya, Sheena sering menjawab sebagai Dokter, namun setelah melihat nyonya Kanaya dengan butiknya, Sheena jadi berfikir ... mungkinkah dia bisa menjadi seorang desainer juga? karna menurutnya ini keren.


Nyonya Kanaya kembali lagi dengan nampan coklat di tangannya, Sheena meringis tak enak, dia kira nyonya Kanaya akan menyuruh pelayan untuk mengambilnya, nyonya Kanaya sendiri yang membuat jus nya.


Hal itu di ketahuinya ketika ia memuji jus nya sangat enak dan segar, nyonya Kanaya langsung berseru. "Oh, ya? itu aku yang membuatnya."


Sheena terbelalak. "Benarkah? saya jadi tak enak nyonya."


Nyonya Kanaya tersenyum ramah. "Tak apa, untuk orang spesial, semuanya pun harus spesial."

__ADS_1


Sheena tersenyum malu, di sesapnya sedikit lagi jus itu lalu ia letakkan di atas meja. Sementara nyonya Kanaya membereskan beberapa kertas dan juga alat pewarna yang berserakan di atas mejanya.


"Nyonya, sudah lama ya menjadi desainer, sketsa yang anda buat cantik-cantik sekali." puji Sheena yang menatap banyaknya sketsa yang perempuan itu buat.


Nona Kanaya mengambil tempat di sebrang Sheena setelah merapikan meja kerjanya.


"Begitulah, aku menyukai bidang seni bahkan sejak aku masih muda, tapi saat masa SMA aku berhenti untuk memimpikan sebagai seorang desainer, karena saat itu ekonomi yang tak terlalu baik membuat ku harus mengubur mimpi itu dalam-dalam," tuturnya bercerita tanpa di minta.


"Namun saat aku bertemu dengan laki-laki yang sangat baik, aku menikah dengannya, dia tahu aku sangat menyukai menggambar sketsa-sketsa gambar yang cantik, tanpa memberitahu apa yang menjadi cita-cita ku, dia mendirikan sebuah butik untuk ku."


Sheena mendengarkan dengan hikmat, tanpa sadar ikut terhanyut dalam cerita perempuan paruh baya ini.


"Kini suami ku sudah berpulang pada peristirahatan terakhirnya, lalu karna ingin terus memeluk kenangannya, aku masih bertahan di butik yang bahkan sudah rapuh ini, aku sangat mencintainya, butik ini adalah segala bentuk cintanya padaku."


Nyonya Kanaya menatapnya dengan berkaca-kaca Sheena tersenyum sendu, tangannya terjulur untuk mengusap lembut punggung tangan nyonya Kanaya.


"Ah, maaf aku terlalu banyak bercerita." nyonya Kanaya menyeka ujung matanya, kentara sekali wanita sepuh itu sedang mengingat memory indahnya bersama mending suaminya.


"Tidak apa-apa nyonya, saya senang nyonya bisa berbagi kisah indah ini dengan saya, mendiang suami anda pasti sangat beruntung memiliki anda wanita tangguh yang begitu setia padanya."


Sheena rasa wanita paruh baya ini kesepian hingga menumpahkan seluruh ceritanya pada Sheena yang notebene masih orang baru. S


"Tidak, akulah yang beruntung Sheena," ucap nyonya Kanaya.


Sheena mengangguk,itu benar. "Kalian sama-sama beruntung, bahkan maut pun tidak bisa memisahkan kalian berdua."


Sheena begitu tersentuh dengan cerita nyonya Kanaya. ternyata pepatah lama itu benar, wanita akan bertemu dengan pria yang baik pada saat yang tepat. Seperti nyonya Kanaya dengan suaminya.


"Oh ya, ngomong-ngomong, akhirnya kamu bisa menyempatkan waktu untuk datang ke butik ini juga, aku senang."


Sheena tersenyum. "Aku yang senang karena bisa mengunjungi butik anda ini nyonya."


"Oh ya," Sheena jadi teringat, ia merogoh tas selempang nya, nyonya Kanaya memperhatikan.


Sheena mengambil sebuah foto dari sana. "Nyoya sebenarnya saya ragu untuk bertanya ini, tapi saya merasa putus asa untuk mencari orang yang dapat saya tanyai."


"Ada apa Sheena? apakah ada hal yang penting?"


Sheena memperlihatkan foto itu pada nyonya Kanaya, wanita bersanggul itu menatapnya dengan seksama.


"Nyonya, apa anda tahu tentang panti asuhan ini?"

__ADS_1


__ADS_2