Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Membeli ponsel baru untuk Sheena


__ADS_3

Sheena yang mendengar itu, tawanya seketika pecah. "Tuan sedang bercanda ya?"


"Saya serius."


Ucapan Jayden kembali formal, dengan sorot mata berubah tajam, membuat Sheena menelan ludah seketika.


Sheena mengerjap beberapa kali demi membuktikan apa yang di depannya ini benar tuan Jayden Alexander? pria yang kemarin-kemarin masih bersikap dingin dan arogan padanya.


Ekhem! Jayden berdehem keras. "Mungkin perkataan ku terlalu membuat mu tidak nyaman, maaf."


Jayden mengusap tengkuknya memalingkan wajah ke samping, Sheena menangkap semburat merah yang terdapat pada pipi hingga menjalar ke telinga pria Itu.


Apa dia sedang malu? lucu sekali.


"Tidak apa-apa tuan, saya senang, tuan sangat baik kepada saya, padahal kita hanya orang asing."


"Orang asing?" Jayden seketika menatapnya, merasa tak terima dengan pernyataan itu.


"Benar, bukankah seperti itu? tuan adalah orang asing untuk saya, dan saya adalah orang asing untuk tuan."


"Kau terlibat kesepakatan dengan ku, bukankah keterlaluan jika hanya di sebut orang asing?"


Jayden berdiri, berkacak pinggang seperti tak terima. kenapa? apa perkataan Sheena ada yang salah?


"Tuan kenapa? saya salah ya?"


"Tidak." Jayden menjawab dingin.


"Terus kenapa kaya marah gitu?"


Jayden tak menjawab, dia terus memunggungi Sheena. "Tuan?" Sheena memiringkan tubuh ingin melihat wajah Jayden, namun Jayden menghindar.


Baiklah! Sheena seperti sedang membujuk anak kecil yang merajuk karna tak di beri permen. Sebenarnya ada apa dengan pria ini?


"Tuan, anda ingin mengatakan sesuatu kan, kenapa memanggil saya ke sini?"


Oh ya, Jayden mau tak mau membalikkan tubuh, dan betapa terkejutnya Sheena, karna wajah pria itu terlihat sangat memerah.


"Tuan sakit?" Sheena hendak menggapai Jayden, namun pria mundur, menghindar.


"Berhenti di situ!"


Baiklah, Sheena menurut. "Maaf."


Jayden merutuk dalam hati. "Ada apa dengan jantungku? juga wajah ku yang tiba-tiba memanas? si al"


"Berikan ponsel mu." Jayden menjulurkan tangan tanpa mau menatap gadis itu.


Sheena dengan ragu memberikan ponselnya yang sedikit retak akibat jatuh saat mengejar copet tadi, Sheena pun baru menyadarinya ketika dia mengambilnya dari saku baju.


"Ada apa dengan ponsel mu?" tanya Jayden saat memperhatikan retakan itu.


"Oh itu, tadi kayanya sempet jatuh," jawab Sheena sekenanya.


"Kenapa bisa jatuh?"

__ADS_1


"O-oh itu ... " Sheena sedikit gelagapan. "Oh ya, karena saya main hp sambil jalan, jadi tak melihat, jatuh deh, hehehe."


Jayden menatap tak percaya, hendak melayangkan pertanyaan lagi namun Jayden memilih diam. Tak ingin Sheena menjadi tak nyaman.


"Merepotkan!"


"Repot Kenapa tuan?" tiba-tiba lengannya di tarik oleh pria itu, Sheena terkejut. " e-eh, tuan mau bawa saya kemana?"


Jayden berhenti sejenak, menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. "Menurut."


Sheena menengguk ludah, lalu membiarkan Jayden membawanya pergi, hingga mereka mendapat begitu banyak perhatian dari karyawan yang berlalu lalang, Sheena malu menutup wajahnya, sedangkan Jayden tak perduli sama sekali.


"Masuk." sampai di parkiran, Jayden memerintah Sheena masuk ke mobil.


"Tapi kita mau kemana?" Sheena segera masuk ke dalam mobil ketika mendapat tatapan tajam intimidasi dari pria itu.


"Kenapa sih dia menyeramkan sekali?" Rutuk Sheena.


Jayden lalu berjalan memutar, mengacingkan tuxedo hitam yang di pakainya lalu masuk ke dalam kursi kemudi. mobil Fortuner hitam itu pun melaju memecah jalanan ibu kota.


...----------------...


Mereka turun di sebuah gedung besar yang menjulang tinggi, Jayden lalu menggandeng lengan Sheena, walaupun tanpa ekspresi, entah kenapa tangan besarnya terasa begitu hangat di kulitnya, Sheena hanya bisa mengekori kemana tuan Presdir ini pergi.


Sebuah tokoh ponsel terkemuka. Sheena sangat tahu, Karna melihat merek ponsel itu yang tertera besar-besar di plat, dan tentu Sheena ponsel di sini harganya sangat lah fantastis, karna memang merek yang berkelas.


Meskipun ingin, Sheena tak mau membelinya jika itu dirinya yang harus membeli, karna menurutnya ponsel asalkan bisa untuk menelpon sudah sangat cukup, karena Sheena tipikal orang yang lebih senang menggunakan laptop dari pada ponsel, apalagi untuk menonton drama Korea kegemarannya.


Tapi ... kenapa tuan dingin ini mengajaknya ke sini?"


Sheena mencebik. "Tentu saja dia sangat tampan, meskipun kehadirannya tak ingin mencolok tapi dia tetap menjadi pusat perhatian."


"Lihat lah ponsel yang kau inginkan."


"Eh, saya?"


"Iya, siapa lagi memangnya?"


Seorang pramuniaga hendak melayani mereka, namun manajer bos mereka tiba-tiba datang.


"Biar aku saja, dia adalah pelanggan ekslusif."


Pria berjas hitam itu mendekati Jayden dan tersenyum ramah padanya.


"Tuan Jayden Alexander, suatu kehormatan anda berkunjung di tokoh kami."


"Hmm, berikan apapun yang dia inginkan."


pria dengan papan nama 'Haidar' di dada kirinya itu mengikuti arah pandang Jayden yang tengah menatap Sheena.


"Oh, apakah dia wanita anda?"


Jayden diam sejenak. "Bisa di bilang begitu."


"Layani dia dengan baik."

__ADS_1


Manager itu tersenyum ramah. "baiklah tuan." lalu menghampiri Sheena.


Jayden masih menatap Sheena yang kini terlihat antusias melihat berderet merek ponsel di etalase, Jayden yang berdiri tak jauh darinya sambil melipat tangan bisa melihat dengan jelas wajah Sheena yang merekah dengan senyum yang mengembang indah.


Deg! deg! Jayden berdecih, lagi-lagi jantung sia lan berdetak dengan sangat kencang.


Sheena menghampiri dengan wajah sumringah.


"Kau sudah selesai?"


Sheena mengangguk, entah kenapa tingkahnya sangat menggemaskan di mata Jayden. Namun pria itu hanya beraut datar, tak ingin terlalu menunjukkan reaksinya.


"Pilihan nona sangat tepat sekali, kebetulan ponsel ini adalah keluaran terbaru dari merek kami, yang tentunya sudah sangat di kembangkan kecanggihannya."


"Eh, keluaran terbaru? berarti mahal dong?" Sheena terkejut, kalau begitu dia tak ingin jadi menerimanya.


"Tidak apa-apa." Jayden memberikan kartu pada manager.


" Baik, anda tunggu di sini sebentar, pembayaran akan di lakukan dengan cepat."


Lalu setelah kepergian manager itu Sheena maju menatap Jayden.


"Tuan, bisa di tukar aja gak? ini kemahalan."


"Sudah di bilang tidak masalah, ingin membuat ku marah dengan mengulang kata kedua kalinya?"


Sheena menggeleng. "Gak." lalu mengangguk patuh.


Manager itu kembali datang memberikan kartu Jayden kembali dan sebuah cek dengan sopan, Jayden menerimanya.


"Terimakasih sudah berbelanja di tempat kami, saya harap pelayanan kami memuaskan."


Sheena tersenyum. "Terimakasih kasih kembali, kamu orang ter-ramah yang pernah ku temui."


Manager itu tersenyum, sementara Jayden hanya mengangguk pelan.


"Terimakasih nona, baiklah kalau begitu saya undur pamit."


Keduanya mengangguk. setelah kepergian manager itu, Jayden lalu mengambil ponsel di tangan Sheena, menyalakannya dan mengetikkan sesuatu di sana dan juga ke ponselnya.


Pria Itu menaruh nomornya di ponsel Sheena juga menghubungkan lokasi ponselnya dengan ponsel Sheena, hingga jika terjadi sesuatu Jayden bisa melacaknya dengan cepat. Jayden lalu kembali menyerahkan ponsel itu pada si pemilik.


"Itu adalah nomor ponsel ku, simpan jangan pernah di hapus, dan aku ingin kau menyalahkan ponsel mu 24 jam juga setiap aku menelpon kau harus segera mengangkatnya."


"Mengerti?"


Sheena mengangguk. "Tapi kenapa tuan sampai melakukan ini semua?"


Kenapa?


Jayden pun tak tahu, kenapa sampai melakukan hal ini."


"Karna aku menghawatirkan mu."


Namun Jayden hanya mengatakannya di dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa? karna kita terlibat kesepakatan, hanya itu."


__ADS_2