Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Info dari Rasti


__ADS_3

Kembali pulang ke mansion Jayden dan Sheena di kejutkan dengan keluhan yang di sampaikan pak satpam pada mereka, lelaki paruh baya itu tergopoh-gopoh setelah membukukan pintu mobil untuk tuannya keluar.


"Tuan, ada masalah besar!"


Kedua orang itu saling memandang lalu Jayden membuka suara. "Ada apa?"


"Ada penyusup tuan!" teriak pak satpam.


"D-dia ada di dalam, bersama pak Kevin!"


Pak satpam berusaha mengatur nafasnya, setahu Jayden jika ada penyusup datang para anggotanya akan langsung datang kesini, karena mansion ini mempunyai sistem keamanan yang sangat ketat dan buas, tak mungkin bisa lolos begitu saja.


Sheena memekik, jayden berjalan cepat ke dalam di susul dengan Sheena, pak satpam memegang dadanya. "Aduh, abis ini habis pak Kevin udah biarin penyusup masuk." kelakarnya.


Saat masuk ruang tamu mansion sudah dalam keadaan seperti kapal pecah, barang-barang berhamburan foto lukisan juga hiasan dinding kepala rusa jayden yang bernilai tinggi juga ikut menjadi imbasnya, ada apa ini? pikir keduanya.


"Hei wanita! berhenti di sana atau aku akan membolongi kepala mu." teriak seseorang, itu Kevin.


"Dasar lelaki mesum, kau mengurung ku di sini karena ingin melec*ehkan ku kan!"


Mata Sheena membulat seketika, suara itu, Sheena kenal, Rasti sahabatnya!


Lalu dari arah seberang keluarlah dua orang yang saling berkejar-kejaran, keduanya spontan berhenti ketika tertangkap basah di perhatikan oleh Jayden dan Sheena.


"Rasti, kenapa kamu ada di sini?!" Sheena yang kaget langsung menghampiri gadis itu, Rasti pun tak kalah terkejut dirinya langsung menghambur memeluk Sheena.


"Aaaa, Sheena aku merindukan mu!" pekik cempreng gadis itu, Sheena yang mendapat serangan tiba-tiba hanya diam tak membalas, apalagi i sedang berfikir bagaimana Rasti tahu lokasi letak mansion ini?


"Lihat Sheena, lelaki itu berusaha memperkaos ku? dia pria cabul,"adu Rasti pada Sheena, dengan menunjuk Kevin dengan tatapan ngenesnya.


Kevin dengan kacamata yang sudah tak beraturan letaknya menggeleng cepat. "Tidak nona, Miss ini salah sangka!" hei bukankah harusnya Kevin yang mengadu jika Rasti adalah seorang penyusup, kenapa kesannya dia yang penjahat nya di sini?


Sementara jayden hanya memandang malas dengan wajah kaku, ia melipat tangan. "Kevin, bereskan apa yang telah kau lakukan."

__ADS_1


"Baik tuan." Kevin membungkuk sekilas, bajunya semrawutan, entah apa saja yang terjadi padanya.


"Aku akan ke kamar untuk beristirahat," kata jayden pada Sheena.


Saat jayden hendak berbalik, Rasti berbisik pada Sheena. "Na, itu ya bos mu? siapa sih namanya ... ah ya tuan Jayden."


"Ternyata lebih cakep daripada fotonya ya hihihi," Rasti cekikikan sendiri, yang awalnya memasang wajah waspada dan ngeri kini berbalik memasang raut kecentilan membuat Kevin melihatnya memutar bola mata malas.


"Nona, memang benar rubah kecil ini adalah teman anda?" selidik Kevin.


"Hei, jaga ucapan mu ya," cebik Rasti, Sheena menghela nafas gusar melihat perdebatan keduanya.


"Ras, kok bisa mendadak ada di sini sih? tanpa bilang ke aku dulu lagi."


"Heh, aku udah bilang tahu, kamunya aja yang susah di hubungin," kata Rasti.


Ah ya Sheena hampir lupa ponsel yang sekarang di gunakan nya adalah pemberian dari Jayden dan ada hanya ada nomor kontak pria itu di dalamnya, sedang kan ponsel lamanya sendiri mati karena ia kelupaan ia isi daya.


"Nona, dari tadi gadis rubah ini membuat onar, saya sudah tidak sanggup menghadapi nya," ujar Kevin dengan nafas ngos-ngosan.


"Bener Ras, kamu yang buat ulah?" Sheena langsung menghunuskan tatapan tajam pada sahabatnya ini.


"Gak. pria ini saja yang terus menahan ku di sini, dia bahkan mengikat kedua tangan ku dengan dasinya, itu adalah bentuk dari tindakan pencabu*LAN tahu tidak." matanya melirik sinis pada Kevin.


Pria itu tidak terima, mulutnya mangap-mangap hendak mengeluarkan sumpah serapah. "Hei, jaga ucapan mu ya!"


"Apa-apa, kau mau marah?" tantang Rasti balik. keduanya bersitatap penuh emosi.


"SUDAH CUKUP!" teriak Sheena lantang, dia yang sudah jengah mengeluarkan uneg-uneg nya.


Keduanya terdiam seketika, Sheena menarik tangan temannya.


"Kevin kamu kembali saja. Rasti, ayo ikut aku."

__ADS_1


Kevin mengurut dahi menatap kepergian punggung kedua wanita itu, ia membetulkan letak kacamatanya, menghela nafas panjang.


"Dia cukup menarik," semriknya seraya membetulkan kerah baju.


...----------------...


"Aduh Na, jangan tarik-tarik dong! kamu mau bawa aku kemana?"


Mereka berada di sebuah ruangan, kamar Sheena, yang letaknya kini berada di samping kamar jayden. Baru-baru ini Jayden memang mengubah letak kamar Sheena, awalnya ia mereka berdua di satu yang sama, namun ia mengerti itu akan membuat gadisnya tak nyaman, apalagi Sheena di besarkan di keluarga yang menyunjung tinggi adat dan norma, jadilah ia memutuskan kamar Sheena berada di sampingnya letaknya di tengah-tengah kamarnya juga ruang kerjanya.


Sheena gegas menutup pintu lalu mengintrogasi Rasti. "Dari mana kamu tahu tempat ini Ras?"


"Kamu lupa ya? kan kamu sendiri yang ngasih tahu lokasi nya, pas awal kamu nyari alamat panti asuhan waktu itu."


Ah ya, Sheena ingat. "Terus kamu sama siapa kesini nya? terus gimana sama tokoh kue kamu? kamu udah ijin sama Tante Dinar juga adik mu?" Sheena memberondong berbagai pertanyaan ini, maklum saja Rasti adalah anak tertua di keluarganya, juga tulang punggung keluarga setelah kematian ayahnya lima tahun lalu karena stroke, Sheena jelas khawatir karena Rasti nekat menyusul nya sampai kesini.


"Aduh kamu ini, aku jauh-jauh kesini bukannya di suguhin minuman malah di kasih pertanyaan gak jelas," ujarnya yang sebenarnya adalah untuk mengalihkan topik.


Sewot, Sheena menjitak pelipis temannya itu. "Aku begini karena aku khawatir tahu!"


Rasti meringis, lalu ia sempat tertawa samar sebelum akhirnya memeluk Sheena dengan erat.


"Kamu emang selalu perhatian, sayang deh," bisik Rasti, mereka berteman sudah sejak lama, kedua orang tua mereka pun saling mengenal dan jika di hitung hanya Sheena lah teman yang sudah seperti keluarga untuk nya entah tak terhitung berapa kebaikan yang pernah keluarga Sheena berikan pada keluarganya saat masa-masa terpuruk.


"Jangan coba-coba merayuku ya, aku sedang marah ini," kata Sheena, namun Rasti menggeleng di pelukannya, rasanya seperti sudah lama mereka terpisah.


"Aku kesini bareng adik ku kok, juga sama teman-teman nya, tapi mereka udah pulang setelah nemenin aku, kamu gak usah khawatir,* ujar Rasti.


"Lebih dari itu, aku ingin memberitahu kan hal penting padamu?"


"Apa emang nya?" tanya Sheena setelah pelukan mereka terlepas.


"Kau tahu? Andre dan Raina?"

__ADS_1


"Mereka sudah berada di alam baka."


__ADS_2