
Suasana temaram, malam gelap tanpa rembulan, setelah berbicara beberapa kata, mengoles lidah dengan beralasan menginap di teman, Sheena mendapatkan ijin dari orang tuanya.
Dan sekarang di sinilah dia berada, mobil yang di kendarai pengawal Jayden terhenti di depan pagar besi yang ukirannya sangatlah mewah.
Kevin turun lebih dulu membuka jalan untuk tuannya, lalu Sheena tanpa di minta pun sudah keluar lebih dulu.
Waaah! Sheena menatap takjub, matanya berpendar menatap ke sekeliling bangunan luas yang lebih mirip dengan istana.
Inikah mansion orang kaya yang sering di bicarakan di novel romantis yang selalu dia baca itu? sangat besar dan megah.
"Sudah kuduga, seperti inilah penampilan kediaman orang kaya." Sheena tak henti-hentinya berdecak kagum.
Sementara Jayden hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya, pria itu masuk lebih dulu.
"Ayo nona, silahkan masuk." Ajak Kevin, Sheena mengangguk semangat.
"Kalau rumah gede gini, biasanya makanannya enak-enak." Gumam Sheena.
***
Saat baru satu langkah mereka memasuki mansion, para maid sudah berkerumun, berjejer rapi menyambut tuannya pulang.
Sheena terlalu sibuk menatap interior mansion hingga tak melihat sampai tak sengaja kakinya terhantuk undakan tangga, Sheena mengaduh, sebuah tangan menahan tubuhnya agar tak jatuh.
"Dasar ceroboh." Jayden menatap tajam, pria itu menahan tangan dan pinggang Sheena.
Sheena terhenyak, segera membungkuk. "Maaf, tuan."
"Perhatikan jalan mu." Setelah mengatakan itu Jayden meninggalkannya begitu saja, Sheena masih menyembunyikan wajah karena malu, pipi gadis itu bersemu tanpa sebab.
"Eum anu, Kevin, ini kita mau kemana ya? Perasaan gak nyampe-nyampe?" Bisik Sheena, pada Kevin di sampingnya.
"Kita bakal ke ruangan tuan, bentar lagi sampai kok, sabar ya non." Bisik Kevin kembali, pada dasarnya Kevin memang tipikal pria yang soft boy, juga humble, jadi ia ingin membuat Sheena senyaman mungkin.
"Oh, tapi nanti kita bakal di sediakan makanan kan, kasian cacing-cacing di perutku sudah meronta minta di kasih jatah." Bisik Sheena lagi.
"Tenang non kalau soal itu, kami mempunyai koki pribadi yang di kirimkan langsung dari luar negeri, yang sekarang sedang menyiapkan makanan untuk anda." Bisik Kevin, karna tubuh Sheena yang begitu mungil membuat Kevin sedikit membungkuk, lebih mendekat.
"Waah bagus-bagus kalau gitu, hehehe." Bisik Sheena.
Jayden melirik dengan ekor matanya, seketika ada panas dalam tubuhnya saat melihat kedekatan mereka berdua. "Ekhem!" Jayden sengaja berdeham keras agar kedua orang itu sadar.
Namun Kevin dan Sheena yang memang sepertinya sefrekuensi terus mengobrol sambil cekikikan, Alhasil hal itu membuat amarah Jayden terpancing.
"Kevin, sepuluh langkah mundur dari sekarang!"
Kevin cengo. "Eh, apa tuan?"
"Mundur darinya sepuluh langkah dari sekarang!"
Kevin pun akhirnya sadar lalu segera menjauhkan diri dari Sheena. "Baik tuan." Menunduk takut-takut.
Sementara Sheena yang tak mengerti, hanya menatap kedua pria itu secara bergantian.
"Kau, berdiri samping ku." Titah Jayden.
Sheena tak langsung melangkah, ia malah menunjuk dirinya sendiri dengan wajah polos. "Saya?"
__ADS_1
"Iya, memangnya siapa lagi?"
"Oh hehehe, kirain tuan manggil siapa." Sheena akhirnya menghampiri, menurut dengan berdiri di samping Jayden.
"Kau tetap sepuluh langkah di belakang, jangan pernah mendekat," kata Jayden pada Kevin.
Kevin hanya mengangguk.
"Salah saya apa tuan? hiks, hiks!"
Lalu mereka melanjutkan langkah yang sempat tertunda, dengan Jayden dan Sheena yang beriringan serta Kevin yang berjalan tak jauh dari mereka.
"Kevin itu Cassanova, jangan terlalu akrab dengannya." celetuk Jayden tiba-tiba saja.
"Maksud tuan, playboy gitu?" tanya Sheena. Jayden mengangguk.
"Eh, gak kok, tuan Kevin baik, perhatian lagi."
Rahang Jayden mengeras. "Jangan terlalu menilai orang secepat itu, kau tidak tahu isi hati seseorang bagaimana? berhati-hati dengannya."
"Oh, kalau begitu saya juga harus hati-hati dong sama tuan?" Sheena dengan polosnya.
Jayden melongos, wajahnya memerah padam, tanpa berkata apa-apa lagi,ia lalu mengambil langkah lebih lebar.
Sheena mengerut dahi. "ada apa sih dengan tuan itu? kenapa tingkahnya seperti orang marah?" gumam Sheena tak mengerti, tapi akhirnya ia tetap mengejar Jayden yang sudah jauh.
"Eh, tuan Eden, tunggu saya!" teriak Sheena.
"Jayden!" koreksi Jayden dengan melengking.
"Iya, maksud saya tuan Jayden."
****
Mereka akhirnya sampai di ruangan Jayden, bahkan di kamar pribadi tuan itu saja di jaga ketat oleh para bodyguard berbadan besar, Sheena jadi berfikir apa pekerjaan pria ini sebenarnya? mungkinkah seorang presiden suatu perusahaan besar, seperti CEO gitu?
Aaah, Sheena terlalu banyak berkhayal, mana ada CEO kaya raya nan tampan begini mau mengajak rakyat jelata seperti dirinya masuk ke dalam kediamannya?
"Nona, silahkan duduk disini," ucap Kevin dengan penuh keramahtamahan.
"Ekhem! Kevin tadi kubilang apa? berdiri sepuluh langkah darinya."
Wajah Kevin seketika mendung, Sheena memperhatikannya, lalu memberi isyarat lewat tatapan mata. "gak apa-apa, saya duduk kok, makasih ya."
Wajah Kevin menjadi sumringah, sedangkan Jayden hanya berdecih panjang. sebenarnya dia juga tidak tahu ada apa dengan dirinya, namun saat melihat kedekatan mereka berdua selalu berhasil membuat sesuatu di dalam menjadi panas, Seperti gunung merapi yang siap memuntahkan laharnya.
Jayden duduk dengan menopang dagu, jarak mereka tersekat oleh meja tua dengan aksen seperti jaman kerajaan Eropa dulu. Sheena menelisik ke sekeliling, ruangan ini lebih mirip ruang penyiksaan, suasana kelam dan nuansa hitamnya sangat kental terasa.
Seketika Sheena bergidik.Apa yang akan pria ini lakukan padanya?
"Ini. kau amati dan bacalah." Jayden menyerahkan sebuah kertas putih ke hadapan Sheena.
Sheena menerimanya, membaca dengan pelan rentetan kata-kata yang tertuang di dalam kertas putih itu.
"Perjanjian atau kesepakatan dalam rangka balas Budi nona Sheena kepada tuan Jayden Alexander yang terhormat.
__ADS_1
menjadi pelayan pribadinya selama kurun waktu 90 hari atau 12 Minggu atau lebih tepatnya 3 bulan.
tidak boleh membantah perkara tuan Jayden yang terhormat.
Harus patuh dan tidak banyak tanya.
Selama menjadi asisten pribadi, nona Sheena akan di tempat kan di mansion belakang, jadi irit ongkos deh hehehe.
Tidak boleh ada cinta lokasi atau istilahnya di sebut cinlok, di antara nona Sheena atau tuan Jayden.
Demikianlah surat perjanjian ini di buat, wassalam." Sheena membacanya dengan penuh penghayatan dan ekspresi.
Raut gadis itu seketika mengkeruh, menatap Jayden yang seketika menutup wajahnya.
"Beneran nih perjanjiannya kaya gini?" Sheena menatap tak percaya. "Siapa yang bikin?"
Jayden tak sanggup lagi untuk menatap ke arahnya, lalu terdengar lah suara kekehan dari belakang.
"Hehehe, itu saya yang buat, nona," ucap Kevin tersenyum tampak tak berdosa.
"Kevin!" jadi berkata dingin. "Karna kau telah mempermalukanku, gajimu bulan depan di bekukan."
"Eh,apa? di bekukan? maksudnya tidak cair tuan?"
Jayden mengangguk. mukanya memerah karena menahan malu, bahkan saat Sheena melayangkan senyum mengejek padanya.
Kevin menunduk lesu, "nasib."
"Jadi nona Sheena, jangan mempersalahkan penyampaiannya, tapi intinya saja, dalam waktu tiga bulan itu kau harus menjadi asisten ku, menyiapkan seluruh keperluanku, stand by saat aku membutuhkan mu."
"Sesuai dengan ganti rugi 30 juta, 3 bulan." celetuk Kevin mengagungkan tiga jarinya
"Siapa yang mengajak mu berdiskusi?" Jayden menatap horor. Kevin langsung menunduk patuh. ciut seketika.
"Jadi, jika kau setuju tanda tangani di bawah sini." menaruh pulpen ke hadapan Sheena.
__ADS_1
Sheena diam dengan raut resah, ia tampak berfikir keras.
Jayden menarik sekilas sudut bibirnya. "Lagipula kau tidak punya pilihan lain."