Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Ke pesta


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul satu malam, seluruh keluarga Andre masih berada di rumah sakit, Raina masih syok, wanita itu masih menangis di pelukan Andre. Bukan menangis karena keadaan ayah mertuanya, lebih dari itu, Raina menangis karena tak ingin hidup susah. Miris.


Hidupnya hancur dan ini semua gara-gara Sheena, gara-gara ancaman lelaki itu, ingin rasanya Raina berteriak memaki pada keduanya.


Dokter keluar setelah melihat kondisi pak Nuri, Andre buru-buru berdiri menghampiri.


"Bagaimana keadaan ayah saya dok."


Dokter memandangnya sejenak, lalu menghela nafas berat. "Tidak lebih dari sebelumnya, penyakit komplikasi dan darah tinggi nya sangat parah, pasien di nyatakan dalam keadaan kritis."


Ibu kembali menangis histeris mendengarnya, kakak dan adiknya membantu memapah, setelah kepergian dokter, Andre menjadi frustasi, semua di luar kendalinya, pria itu mencengkeram kasar rambutnya.


"Argh! kenapa semuanya jadi seperti ini!" batinnya menjerit.


...----------------...


Sementara di tempat, di markas besar Jayden Alexander.


"Rencana berjalan lancar tuan, semuanya sesuai dengan keinginan anda."


Kevin melapor pada sang tuan, dengan menyeringai puas. Seorang pria yang duduk di kursi putar nya berbalik, menopang dagu dengan siku tertekuk nampak bossy dan berkharisma, menyungging kan seringai tipis yang sama.


"Bagus Kevin, kau memang selalu bisa di andalkan." sesekali memuji kinerja asistennya, tak apa, pikir Jayden.


"Secepatnya bawa kedua orang itu untuk bertekuk lutut di hadapan ku, mereka harus meminta maaf kepada wanita ku!" tandasnya dengan dingin dan menyeramkan.


Kevin menerima perintah. "Baik tuan!"


Diam-diam Kevin mengulas senyum tipis, melihat tuan Jayden yang sungguh sangat mencintai seorang wanita bernama Afsheena, entah kenapa membuatnya ikut bahagia.

__ADS_1


Jarang melihat jayden yang seperti ini, pria dingin yang irit bicara dan selalu suram itu, kini menjelma menjadi pria sedikit ramah namun tetap tegas dan tentu saja bucin.


Dulu, bahkan tidak perduli dengan orang lain kini apapun tentang wanitanya, Jayden selalu menjadi garda terdepan, bucin akut!


Kevin kadang berfikir juga, apa dia bisa seperti tuannya itu, yang mendapat kan cinta sejatinya.


Ah, cinta, terkadang Kevin ingin percaya namun hatinya berkata lain.


Tak ada yang namanya cinta, pikirnya, lebih baik di ke bar malam ini, memesan anggur merah dan tubuh sintal seorang wanita, Ah, dunia sang Cassanova memang selalu seperti itu.


...----------------...


"Tuan, sebenarnya kita mau kemana? kenapa aku di dandanin kaya gini?"


Malam ini Sheena tampil sangat memukau, di bantu sang perias terkemuka dengan gaun pesta yang begitu mewah di datangkan langsung dari Paris, Perancis, yang di rancang oleh sang desainer yang sudah melanglang buana namanya, membuat Sheena bak Putri yang keluar dari Disney.



"Tuan ... apa gak bagus ya?" Sheena mengusap tangannya yang meremang, gugup, itu tentu saja, apalagi tatapan semua orang yang meriasnya malam ini.


"Anda cantik sekali nona, pinggang Anda sangat kecil, sangat pas dengan gaun itu," puji sang perancang busana.


"Benarkan tuan Jayden?" mata sang desainer mengerling puas menatap Jayden dengan senyum lebar.


Cukup lama jayden diam, hingga akhirnya ia mengangguk. Sheena menunduk dengan tersipu.


"Tuan Jayden, wanita anda sudah siap untuk malam ini."


...----------------...

__ADS_1


Mereka akan pergi untuk menghadiri pesta ulang tahun perusahaan, begitu kata Jayden, terlalu mendadak memang, bahkan Jayden tak memberitahu nya dari awal, namun apa bisa di kata dia akhirnya hanya bisa menurut untuk ikut.


"Tuan, apakah nanti ... Kakek tuan ada di sana."


Jayden mengangguk. "Tentu saja."


"Nona Viona?" kali ini suara Sheena mengecil di iringi deru nafas yang semakin tersendat.


"Kenapa?" Jayden malah berbalik nanya, menoleh sekilas padanya.


"Aku tak enak." cicit Sheena menunduk.


"Tuan, apa aku seperti pelakor, yang merebut mu dari wanita lain."


Kali ini Jayden menoleh kembali dengan tatapan tak suka. "Kenapa bicara seperti itu?"


Sheena menggeleng, tak ingin melihat ke arah jayden. Ia hanya berfikir apa yang di katakan Raina waktu itu tentang nya, tak sepenuhnya salah.


Tentang Raina yang men cap nya sebagai pelakor, toh memang sepertinya iya, karena dia merasa telah merebut Jayden dari Viona, yang dari awal sudah di jodohkan.


Jayden berbalik badan, menatapnya dengan penuh perhatian, memegang lembut kedua bahu Sheena.


"Bisakah kau hilangkan pikiran seperti itu? tak ada yang bilang kau merebut aku dari orang lain."


"Dari awal, aku adalah aku. Pria yang telah lama mencintai mu. Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa kita adalah jodoh dari kecil."


Sheena mendongak, menatap kedua mata Jayden yang teduh, perlahan ia mengangguk, berusaha untuk mempercayai perkataan lelaki itu.


"Kau adalah milik ku, dan aku adalah milik mu, tak ada yang lebih dari itu," ucap Jayden penuh penekanan.

__ADS_1


Pria itu memegang erat tangan Sheena yang mungil, mengusap jemari dimana sebuah cincin berlian tersemat.


"Malam ini kita akan mengumumkan pertunangan kita, mengumumkan pada dunia bahwa kau adalah milik ku," kata jayden dengan menatap dalam.


__ADS_2