
Jayden dan Sheena yang mendengar seruan itu refleks menarik diri masing-masing, terlebih Sheena yang sempat tersentak hingga akan terjungkal.
"Kakek ... " Jayden menatap pria paruh baya yang berdiri tak jauh dari mereka.
Sheena pun sangat terkejut, lalu berdiri berpura-pura merapikan penampilan,gadis itu tampak canggung luar biasa, di sana tepat di depannya berdiri seorang Pria setengah baya yang di panggil --kakek-- oleh tuan Jayden, menatapnya dengan sorot menakutkan, memicing mata dengan aura mengintimidasi yang begitu kuat, sama seperti Jayden.
Sheena lalu menatap Jayden, pria itu membeku seperti prasasti hidup, lalu dia menatap kembali pria tua di sampingnya ini, dan Waw! aura mencengkam apa ini? bisa Sheena lihat tatapan mata mereka seperti mengisyaratkan permusuhan yang paling mendalam, Sheena seperti anak kucing yang di apit oleh dua naga bersisian, seketika nyalinya semakin ciut.
"Kenapa kakek ada di sini." Jayden menatap dengan mata nyalang dan dingin.
Kakek menggeleng dengan menghela nafas. "Begitu caramu berbicara dengan orang yang lebih tua?"
Jayden tak menjawab, pria itu masih bergeming. Benar-benar pria yang irit bicara!
Tuk! tuk! tuk! suara ketukan tongkat kayu yang menopang tubuh tuan pria tua dengan tatapan mengintimidasi, menggema di lantai pualam itu. Membuat Sheena semakin menahan nafas. tercekat.
Sheena yang berdiri di tengah mereka sudah panas dingin di tempat. "E-ehehe anu, sepertinya akan ada pembicaraan serius, kalo gitu saya permisi,hehe." Sheena cengar-cengir tak jelas, di pikir ini bukan pertunjukan badut yang mana dia harus tertawa bukan? Oh ayolah, nyawanya sudah di ujung tanduk, mereka sepertinya orang-orang berkuasa, Sheena yang hanya rakyat jelata ini mana mungkin berada di ruang lingkup mereka.
"Tunggu!" satu kata penekan membuat langkah Sheena berhenti. lalu gadis itu berbalik lagi dengan tubuh gemetar.
"Kau siapa? kenapa bisa ada di apartemen cucuku?" nada yang begitu tajam, dengan intonasi tenang namun mengintimidasi membuat bulu roma Sheena bergidik seketika.
"Eh, saya?" ia berpura-pura kaget dengan menunjuk ke diri sendiri, Sebenarnya sudah takut luar biasa. "Saya ... " Sheena berfikir. "Oh ya, saya cuma gelandangan pak, yang kebetulan di selamatkan oleh cucu bapak yang dermawan ini." Sheena nyengir kuda, namun kedua pria itu hanya menatapnya datar. Kenapa sih? apa anggota keluarga mereka seperti ini semua? dingin, anyep seperti tidak ada kehidupan.
"Nona Sheena, lebih baik anda keluar dulu, saya akan menyusul nanti." perkataan Jayden berubah formal, Sheena hanya mengangguk, tak ingin membuat masalah.
Setelah kepergian Sheena, kakek memajukan langkahnya dengan tatapan sulit di artikan.
Namanya Yudistira Alexander, kakek Jayden, pria yang paling berjasa untuk hidup Jayden, karna selama ini beliau telah merawat dan membesarkan Jayden seperti anaknya sendiri. Pemilik perusahaan Ananta group, yang bergerak di bidang konstruksi membuat namanya tak asing di dengar oleh para raja bisnis dunia.
Kakek Yudis jugalah yang memperkenalkan Jayden pada dunia gelap, menjadikan salah satu bos mafia yang paling di takuti, Kontribusi nya dalam kehidupan Jayden sangatlah luar biasa.
"Sudah berapa kali kakek bilang, jangan pernah membawa orang asing ke markas ini, contohnya wanita itu, bisa jadi dia adalah mata-mata yang dikirim oleh kubu musuh mu, untuk menghancurkan mu." Kakek lalu duduk di salah satu sofa, meskipun tubuhnya sudah renta namun kekuatannya masih lah tetap sama seperti ia tak pernah tua.
__ADS_1
Jayden hanya bergeming tanpa mau beradu argument, sifatnya yang irit bicara dan dingin ini memang sudah mengakar sejak ia kecil, peristiwa kelam yang terjadi belasan tahun lalu telah merenggut sifat cerianya dulu.
***
"Fyuuuh! selamat-selamat, bisa keluar juga dari sana." Sheena mengelus dada dengan hembusan nafas kasar yang keluar.
Tak sadar melangkahkan kaki hingga ke ruang tengah, Mata Sheena menatap takjub dengan interior bangunan ini, tak bisa di bilang mirip apartemen, tempat yang sangat tepat jika di katakan sebagai istana.
Banyak barang-barang antik dan lukisan orang zaman eropa dulu yang berderet memenuhi ruangan, lantai pualam yang sejuk seperti memanjangkan telapak kakinya, pun dengan tiang kokoh yang menjulang di sisi bangunan. Apa Iyah ini bisa di sebut apartemen? Sheena tak percaya.
"Nona Sheen." seseorang menepuk bahunya dari belakang. Sheena berbalik dengan wajah waspada.
"E,eh tenang nona, saya gak berniat jahat kok." orang itu merentangkan telapak tangannya, dengan raut sama terkejutnya.
"Oh, rupanya kamu." Sheena menghela nafas lega. "Kirain siapa."
Sheena tentu pernah melihat pria ini, dia adalah orang yang Sheena lihat sering berada di belakang tuan Jayden, pria maskulin dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya itu, di pikir-pikir tampan juga. Walaupun tidak bisa di katakan dapat menyaingi ketampanan tuan Jayden, tapi pria tetap ganteng dengan kacamata yang mana membuatnya terlihat semakin se* ksi.
Oh my God! Sheena bisa gila, kenapa pria-pria di sini sangatlah tampan? mungkin jika ada Rasti-- sahabatnya di sini, yang menggilai oppa Korea, sudah pastilah dia bakal teriak-teriak kegirangan mungkin sampai mimisan. Melihat visual bak dewa yunani ini.
"Oh, salam kenal, kepin." Sheena menerima uluran tangan pria itu dengan senyum nya yang sehangat mentari.
"Kevin nona, pake V bukan p, K-eke, V-ivi-N, KEVIN," jelasnya dengan penuh penekanan di akhir.
"Ck,apa bedanya coba? sama aja, toh si V sama si P itu anak kembar, gak ada bedanya lah."
Kevin menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Iya juga sih."
Gadis ini unik!
"Ya udah Non, saya di sini di utus oleh tuan Jayden untuk mengantar nona pulang."
"Waaah, saya gak di apa-apa in nih, udah boleh pulang?"
__ADS_1
"Boleh dong. emang mau di apain? mau saya sayang?" Kevin yang memang terkenal playboy cap reptil tersenyum dengan menaik-turunkan alisnya.
Sheena mencebik. "Saya gak mempan sama gombalan kaya gitu."
"Ahahaha, baiklah." menggaruk tengkuk yang tak gatal. Kena skakmat dua kali, asem!
"Ya sudah atuh, mari saya antarkan ke mobil."
Sheena mengangguk, akhirnya tanpa memperpanjang masalah lagi, dia bisa pergi dari tempat ini, berterima kasihlah atas kehadiran kakek tuan Jayden yang tiba-tiba, entah siapa namanya, tapi sheeena mengucapkan beribu-ribu terima kasih.
"Nona tunggu ... nona cantik!" seseorang berteriak membuat Sheena begitupula Kevin berbalik tubuh, menengok.
"Oh bi Haru? ada apa bi?" tanya Kevin, Sheena pun menatap bi Haru, wanita sepu yang telah merawatnya.
"Ini gaun pengantin nona Sheena ketinggalan, sudah saya cuci jadi bersih, udah di kasih parfum juga," ucap Ni Haru dengan berseri, Sheena menerima gaun pengantin putih itu.
"Terima kasih bi, tapi saya harap bibi buang aja."
"Eh, kenapa gitu non?" Bi Haru dan Kevin menatap bingung.
Sheena tersenyum getir. "Banyak kenangan buruknya." merasa di tatap dengan prihatin, Sheeena lalu tersenyum lebar. "Tapi gak apa-apa, saya terima lagi deh, makasih ya bi."
Bi Haru hanya mengangguk, mata tuanya mengerjap dengan canggung. "Kalo gitu, hati-hati ya nona Sheen, semoga kita bertemu lagi." tersenyum dengan tulus.
Sheena hanya tersenyum tipis. "Bertemu lagi? aku berharap tidak akan pernah." batinnya.
"Ayo, nona." Ajak Kevin, Sheena mengangguk.
Meski ini bilang adalah pengalaman singkatnya tapi mungkin ingatannya tidak akan pernah melupakan kebaikan mereka, kebaikan tuan Jayden juga orang-orangnya.
Mungkin pertemuan singkat mereka ini adalah takdir yang tak akan pernah Sheena lupakan.
Apakah hanya takdir sesaat? Atau Sheena akan bertemu mereka lagi.
__ADS_1
Termasuk dengan tuan muda mereka, Jayden Alexander.
Pria dingin dengan sejuta pesona dan rahasianya.