
"Bocah lelaki ini ... siapa?" tanya Sheena kembali menunjukkan layar gawainya pada Kevin.
"Oh itu, dia tuan Jayden pas masih SMP, Na." jawab Kevin mengambil alih ponsel Sheena, mengscroll akun fanbase itu.
"Waah foto-foto tuan pas masih kecil juga ada, keren," tutur Kevin takjub sendiri.
"Ini tuan Jayden pas kecil? kok wajahnya serasa gak asing ya?"
Kevin menoleh menatap Sheena. "Benarkah? mungkin Nana pernah melihat sebelumnya, gitu?"
Sheena manggut-manggut. "mungkin." dahinya mengkerut mencoba mengingat-ingat, tapi tetap saja dia tak ingat, hanya sepintas bayangan sebuah wajah yang buram yang tiba-tiba muncul. Lalu hilang, ia tak bisa ingat lagi.
Merasa awkward, Kevin akhirnya menunjukkan satu foto lagi pada Sheena.
"Nah ini Na, foto tuan Jayden saat pertama kali masuk SMA luar negeri." Kevin menyodorkan layar itu kembali pada Sheena, merasa heran juga bagaimana admin akun fanbase ini sampai bisa menemukan foto lawas tuannya.
Sheena mengamati foto itu. "Emang udah tampan dari kecil ya." gumamnya tanpa sadar.
Kevin mengangguk, mengiyakan. "Kayanya kalau saja tuan tetap melanjutkan kontrak modelnya dulu, dia mungkin sudah menjadi aktor besar saat ini."
Sheena hampir tersedak ludah sendiri mendengar ucapan Kevin. "tuan Jayden? jadi aktor? hahaha." gadis itu tiba-tiba tertawa kencang.
Kevin cengo, matanya menyipit. *Memangnya kenapa Na? ada yang aneh?"
"Tentu saja, raut wajahnya saja selalu datar, gimana dia jadi aktor? mending jadi ketua-ketua mafia saja yang terkenal bringas." Sheena kembali tertawa.
Kevin tertawa sumbang. "Andai kamu tau Na, kalau tuan Jayden memang ketua mafia." suara hati Kevin.
Di tempat lain Jayden yang sedang duduk santai di dekat perapian, sambil mengecek email di laptop tiba-tiba saja bersin tanpa sebab.
"Hasyhiim!" Jayden kembali bersin, ia menyapu hidungnya, merasa heran.
Orang bilang kalau bersin itu berarti lagi ada yang ngomongin. Jayden menggeleng, tak Percaya akan takhayul itu.
...----------------...
Pagi hangat menyapa, terik mentari muncul dengan masih malu-malunya, di lobby hotel mereka sudah bersiap-siap, rombongan dari perusahaan datang, menjemput sang tuan, mengawal sampai tiba aman di bandara.
Saat itu lobby hotel tiba-tiba ramai karna mereka, sepuluh orang berbadan besar dan berpakaian parlente mengawal Jayden di sisi kanan-kiri, pun Sheena meski merasa sesak dan kaget karena aturan para kolongmerat ini, Sheena tetap berjalan santai hingga masuk ke mobil.
Setelah beberapa saat mereka sampai ke bandara, karna Jayden memilih untuk menggunakan pesawat pribadi mereka tidak harus boarding dulu, mobil langsung melaju ke run away dan naik pesawat langung dari termac (landasan pesawat) tentu dengan pelayanan VVIP yang mewah.
__ADS_1
Sheena yang memang sebelumnya pernah naik pesawat meski hanya bisa sampai ke Bali jadi tak terlalu kaget, namun ia tetap saja canggung bertemu orang-orang baru dan pelayan VVIP ini ia baru pertama kali merasakan.
Namun meski begitu selalu ada jayden dan Kevin yang memperhatikannya, dua pria itu begitu protektif menjaganya, meski cara perhatian Jayden sedikit berbeda, karna dia memang tipe pria yang cuek bebek, anyep.
Perjalanan hampir delapan jam di lalui Sheena dengan riang, ia juga tak lupa dengan tugasnya, menyiapkan segala kebutuhan Jayden. Hampir satu bulan tinggal bersama, Sheena sudah hafal apa yang di sukai dan tidak di sukai pria Itu, meski tidak semua, tapi dia sungguh-sungguh menjalankan perannya sebagai asisten pribadi.
Tempat duduk Sheena tepat di berada jendela pesawat, Sheena menatap takjub awan-awan putih yang berarakkan di angkasa.
"Cantiknya ... " Sheena tersenyum, tanpa sadar dia menjadi pusat perhatian seorang Pria yang diam-diam menatapnya saat ini, Jayden mendengkus geli dengan tangan menutup mulut, entah kenapa merasa gemas dengan tingkah polos gadis itu.
...----------------...
Pesawat akhirnya tiba di bandara internasional Narita,Tokyo. di sini rombongan Jayden sudah di sambut kedatangan orang-orang suruhan tuan Asahi benjiro, client sekaligus rekan kerjanya.
Rombongan Jayden berjalan hingga berpapasan dengan utusan dari tuan Asahi benjiro. Mereka langsung di tuntun untuk singgah di hotel berbintang lima yang ada di sana.
Sheena yang memang tak bisa berbahasa Jepang hanya bisa mengikuti pergerakan Kevin dan Jayden, sesekali dia akan manggut-manggut, ia ingat ucapan Jayden beberapa saat lalu.
"Kau dengar mereka berbicara apa?" Jayden menuntun Sheena menatap dua orang di depan mereka.
"Irrashaimase, artinya selamat datang," kata Jayden.
"Seperti bahasa kita, frasa bahasa Jepang pun memiliki arti yang berbeda-beda, kau lihat aku atau Kevin berbicara pada mereka, agar kau juga mengerti sedikit-sedikit."
Kini melihat bagaimana Jayden yang begitu lancar berbicara dalam bahasa Jepang, membuat Sheena memandang takjub, merasa keren.
...****************...
Menjelang gelap mereka sampai di hotel berbintang, untuk beberapa hari ke depan mereka akan menginap di sini.
Di kamarnya Sheena membereskan barang-barang yang di bawanya, setelah selesai dia langsung membaringkan tubuh ke atas spring bed empuk ini.
Perlahan Sheena mengambil nafas dalam-dalam. "Wah, udara Jepang emang beda," serunya lalu tertawa.
"Apa ya bahasanya tadi?" Sheena mencoba mengingat kosa kata yang dia hafal kan tadi.
"Benar." matanya langsung berbinar ketika mengingatnya. "Sugoi!" ( yang artinya hebat,dalam bahasa Jepang)
Tok! tok! pintu kamarnya di ketuk, Sheena berjalan,membuka perlahan. seorang pelayan wanita datang, tersenyum ramah membungkuk seratus delapan puluh derajat.
Dia mulai berbicara dalam bahasanya, Sheena tak mengerti, ia mumet sendiri, hendak menghubungi Kevin meminta bantuan tapi akhirnya ia urungkan ketika menemukan ide di kepala.
"can you speak english?"(bisakah kau berbicara dalam bahasa Inggris?) tanyanya pada pelayan itu, senyum ramah tak pernah luntur darinya malah semakin berkembang.
__ADS_1
"of course, miss." (tentu saja, nona), jawabannya membuat Sheena lega.
"So what were you talking about earlier?" (jadi apa yang kamu bicarakan tadi?) tanya Sheena.
"Mr. Jayden is waiting for you, he asked you to come down and have dinner together."
Sheena manggut-manggut, mengerti. "okay thank you." mereka sama-sama melempar senyum teramah.
Benar, keramah tamahan Jepang memang tidak usah diragukan lagi.
...----------------...
Seperti yang di katakan pelayan wanita tadi, Jayden memintanya untuk turun ke lantai dasar dan mereka akan malam bersama.
Malam pertama Sheena berada di Tokyo, ini benar-benar keajaiban. Bukan ke Seoul, Tokyo pun jadi, Sheena tersenyum-senyum sendiri.
Jayden menunggunya di meja makan, di sana terlihat seorang koki tengah menyiapkan mereka makan malam mewah.
Jayden melihatnya pertama kali, pria itu memangilnya lewat tatapan mata, Sheena mengangguk, berjalan pelan ke arahnya.
Makan malam terhidang cantik di hadapan mereka, serasa asing Sheena melihatnya, karna mengusung tema tradisional, makanan yang mereka sajikan pun adalah makanan tradisional negara ini.
Sheena duduk di samping Jayden, pria itu terlihat menyesap minuman di cangkir tangannya, sake, minuman beralkohol khas Jepang.
"Makanlah," kata Jayden melihat Sheena yang hanya diam saja.
Pelan Sheena mengangguk, ia mengambil perlengkapan makan di atas tisu di sampingnya, Karena lapar dia mulai menyipi apa yang ada di depannya.
Matanya melebar dalam kesenangan. "Ini enak." katanya pada Jayden.
Jayden mendengkus geli.
"Itu namanya Unagi, nona. makanan yang hanya bisa anda temui di sini, semacam sidat atau belut Jepang, rasanya memang sangat enak juga mengenyangkan." tutur Kevin menjelaskan.
Sheena mengangguk-angguk. "Ini enak," ucapnya lagi.
"Oishii, artinya 'enak' dalam bahasa Jepang," ujar Jayden.
Sheena mengangguk. "Oishii," katanya berseru pada koki yang sedang menyiapkan makanan penutup untuk mereka. Koki itu tersenyum.
Sheena tersenyum menatap Jayden. "Aku dengar kita harus menggunakan kata itu untuk memuji koki yang bekerja."
Lagi-lagi Jayden mendengus geli, diam-diam. Merasa selalu ada keajaiban yang datang ketika gadis ini bersamanya.
__ADS_1
TBC