Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Bertemu sahabat gila kembali


__ADS_3

Satu minggu setelah kembalinya Sheena, semua sudah tampak baik-baik saja. Awalnya untuk beberapa hari Sheena mengurung diri di kamar, tak ingin melakukan apapun, otaknya perlu di jernihkan. Bukan berarti dia menangisi lelaki bajingan itu lagi, tidak akan pernah.


Tidak ada dalam kamus hidupnya terus merana dan galau hanya karna pria breng*sek seperti Andre yang secara terang-terangan mempermalukan juga menyakitinya. Meskipun awalnya juga ia menangis, Sheena mulai menyesali air matanya yang jatuh sia-sia untuk pria itu.


Bagaimana pun pria itu pernah membuatnya bahagia, meski hanya dalam kepura-puraan, namun rasa sakit yang di torehkan sudah mengoyak hatinya dari yang terdalam.


Sekarang Sheena ingin pensiun dari yang namanya cinta, kesalahan dalam menaruh hati tidak akan ia ulangi untuk yang kedua kalinya.


Kini dia hanya ingin bebas, menikmati waktu lebih banyak untuk orang-orang tersayangnya, juga menyembuhkan luka yang semoga segera pulih.


"Astaga dragon ball! Sheena, kamu ternyata beneran udah pulang!" Rasti yang mendengar kabar kembalinya Sheena segera saja menghampiri dan memeluk sahabatnya itu.


Sheena memasang wajah begitu dramatis, memeluk dahan dengan begitu erat hingga gadis itu kehilangan nafas.


"Woy astaga! uhuk, khuuk, l-lepasin Sheena!" jerit kesakitan Rasti air mukanya seketika berubah menjadi berwarna ungu.


"Gila! aku hampir modyar gegara kamu." Rasti mengelus dada dengan nafas tersengal.


"Maaf, hehe aku meluknya kekencangan ya?" cengengesan tak jelas.


"Gak! udah tau, nanya lagi!" melotot dengan garang.


"Ya udah sih, aku akan udah minta maaf." Sheena cemberut. Bukan bestie kalau gak pernah mengalami pertengkaran kecil seperti ini.


"Bi, ini pasti gara-gara Sheena sering makan banyak, porsinya aja udah kaya kuli Jawa, ampun, apa gara-gara itu bi kekuatannya lebih dari orang biasa?"


"Bisa jadi." Bu Nafisah tersenyum tergelak.


"Isssh, ibu kenapa malah ikut-ikutan sama Rasti sih?" Sheena semakin menekuk bibir.


"Karna aku juga anak ibu Nafisah." Rasti memeluk ibu Sheena dengan erat, menyandarkan kepalanya di bahu.


"Ya, ya akumah cuma anak tiri emang." Semuanya terbahak dengan gerutunya Sheena. pemandangan sehari-hari yang Bu Nafisah rindukan, akhirnya kembali.

__ADS_1


"Sudah, sudah, semuanya juga anak ibu." Bu Nafisah sudah selesai menjemur pakaian terakhir.


"Heh, itu kan penganten yang gak jadi, liat masih berani dia nampakin diri." tiga ibu-ibu lewat sambil menenteng barang belanjaan di tangan mereka. Mereka berbisik-bisik menatap Sheena dengan sinis ada juga yang menatapnya jijk.


"Duh, gak tau malu banget ya, seluruh keluarganya malu gara-gara dia, pantas sih anak haram!"


"Hussst, si ibu kalau ngomong suka bener hahaha!" mereka tertawa mencemooh kekurangan orang lain tanpa beban.


"Heh ibu-ibu rempong kalau ngomong tuh di filter dulu, gak malu tah sama umur." Sentak Rasti yang tersulut emosi.


"Heh, kamu Rasti, anak kecil tahu apa? mending jangan pernah bergaul lagi deh sama dia, nanti ketularan jadi perawan tua. buktinya anak kolongmerat kaya Andre aja ninggalin dia, terbukti emang dia tuh gak pantes buat siapa-siapa." Cerocos satu ibu-ibu yang memang di kenal memiliki iri dengki dengan keluarga Sheena. Karna di wilayah ini keluarga Afsheena terkenal paling royal, dengan kekayaan melimpah namun tak pernah pamer dan selalu hidup sederhana membuat mereka di sanjung dan hormati di sini.


"Heh, mikir atuh, gak takut dosa apa ngomongin orang lain kaya gitu?"


"Ras, udah." Sheena menggeleng, menarik tangan Rasti. Bukan sekali dua kali Sheena mendapatkan perlakuan seperti ini, meskipun kedua orang tuanya fi hormati, tidak dengan dirinya yang justru selalu mendapat cacian dan hinaan.


Biasanya Sheena akan membalas setiap untaian kata pedas yang terlontar dari mulut mereka, tapi untuk kali ini Sheena malas, untuk meladeni mulut-mulut yang tak akan pernah diam untuk mencibirnya. Apalagi kepada Bu Watila, istri juragan jengkol di tempat ini yang selalu menaruh benci padanya. Yang kini tengah berkacak pinggang menunggu apa yang akan di katakan Sheena karna ucapannya tadi.


"Ayo masuk Ras, kita ngobrol-ngobrol di dalam." Ibu akhirnya bersuara setelah lama diam. bukannya dia tak bisa untuk membela sang putri, tapi sifat ibu yang lembut dan penuh keramahtamahan membuat wanita berusia hampir seperempat abad itu memilih untuk diam. Kecuali ketika hinaan itu parah dan Sheena menangis karenanya. Namun sampai sekarang Sheena tak pernah menangis atas cibiran yang selalu di layangkan padanya, membuat ibu yakin bahwa putrinya adalah gadis yang kuat dan tangguh.


Mendengar itu ibu-ibu lain meradang begitupun dengan Bu Watila yang sudah sangat geram, namun saat hendak membuka mulut lagi, Bu Nafisah menatapnya dengan tajam.


"Lebih baik kamu pergi, atau saya akan bilang ke suami saya buat nagih uang sewa ruko kamu yang nunggak tiga bulan ini." ibu berkata serius, pak Hamid selain seorang juragan sukses juga punya berpuluh-puluh kontrakan dan ruko yang semuanya sudah di sewakan, termasuk kepada suami Bu Watila untuk keperluan dagangnya.


Melihat dengan mata melotot, Bu Watila merasa terhina lalu pergi dengan mencak-mencak. Begitupun dengan ibu-ibu yang lain.


"Buset, bumi bisa gonjang-ganjing kalo dia jalan, sebesar apa tuh lemak, udah kaya dosanya aja."


"Husst! kalau ngomong cyiin, suka bener." balas Sheena dengan nyeleneh atas ucapan Rasti tadi, ketiganya tertawa lalu melanjutkan obrolan di dalam.


***


Jayden menata ulang pedang-pedang yang dia gunakan untuk berlatih tadi. biasanya jika dia tak terlalu sibuk dia bisa latihan pedang atau memanah lebih dari dua kali sisanya olahraga ringan agar tubuhnya selalu fit.

__ADS_1


Sebagai seorang pemimpin dalam organisasi mafia terbesar, waktunya memang selalu tersita banyak, Tidak. bahkan sebelum ini pun, sedari kecil dia selalu tak punya waktu untuk sendiri.


Jayden meminum vitamin yang sudah di siapkan, ia lalu mengelap lehernya yang berkeringat, lalu datang Kevin menghadap dengan menunduk.


"Dari mana saja kau?" aura mengintimidasi itu langsung menyerang Kevin, membuat pria itu semakin membungkuk.


"Lapor tuan, saya habis menyelesaikan masalah di wilayah selatan, ada sedikit serangga kecil yang menganggu di sana."


"Hmmm, baiklah. lalu bagaimana dengan mata-mata yang ku suruh untuk kau selidiki itu?"


"Lapor tuan, kemungkinan mata-mata itu di kirim oleh tuan Aksha, Presdir Jang gi group, saya mendapat informasi jika dia ingin mengajak kerjasama dengan tuan, hingga mengirim seorang mata-mata karena ingin mengetahui bagaimana tuan dalam bekerja."


"Tch, berani sekali dia meragukan kekuatan dan juga kekuasaan ku."


"Jika ada tawaran apapun yang datang langsung dari pria itu langsung tolak, aku masih berbaik hati tidak menghancurkan perusahaannya karena dia telah berani masuk dalam wilayah ku."


"Baik tuan." Kevin membungkuk, sesekali tangannya akan bergerak untuk membetulkan posisi kacamatanya.


"Kau boleh pergi." titah Jayden.


Kevin langsung membungkuk hormat. "Baik tuan, saya permisi."


Tapi ia ingat sesuatu. "Tunggu!"


Kevin memejam, tuannya pasti sudah ingat apa yang ingin di katakanya. "Bagaimana dengan gadis itu? sudah dapat alamatnya?"


Kevin menggeleng pasrah. "gadis itu tak ingin di antar sampai rumah, tapi saya tahu di mana letak daerahnya tuan."


"Hmm, baiklah kalau begitu, kau pergi."


Huffft! Kevin selamat. "Baik tuan,saya permisi."


Tuannya ini mana mungkin akan sungguh-sungguh dengan gadis jauh di atas standar bernama Sheena itu. Kevin geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Setelah kepergian bawahannya, Jayden duduk di salah satu kursi, menatap sebuah anting yang masih di dalam genggamannya. milik Sheena.


"Gadis itu ... kenapa setiap kali aku mengingatnya, dia terlihat mirip dengan gadis yang ku temui lima belas tahun lalu?"


__ADS_2