Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Kisah kelam masa lalu


__ADS_3

Seluruh tubuh Jayden bergemetar dengan hebat, wajahnya pucat pasi seperti tak ada aliran darah yang mengalir di sana, matanya terus menjurus pada adegan kecelakaan yang terjadi di depan matanya.


Saat Sheena mencoba untuk menyentuh kulitnya, tangannya sangat dingin sedingin es. Sheena menatap cemas, ia tak mengerti namun ia ingin membantu.


Grep! Sheena menangkup wajah Jayden hingga perhatian pria itu teralihkan. Wajah tampan itu menyiratkan ketakutan juga trauma yang mendalam, peluh membasahi keningnya, Sheena mengusap dengan ujung jarinya. Mata mereka bertemu, selang beberapa saat tatapan dalam Jayden memenuhi rongga penglihatan Sheena.


"Tuan ... tidak apa-apa, aku ada di sini, tidak akan ada yang terjadi, aku selalu di sampingmu."


Deg! Jayden melebarkan mata. Kata-kata itu mengingatkan Jayden pada seseorang.


"Kakak, tidak apa-apa, aku akan selalu belada di samping kakak."


Kenapa? kenapa perkataan mereka selalu mirip?


Tak lama kemudian situasi sudah mulai kondusif, tim SAR juga yang berwajib sudah menangani tempat kejadian perkara, palang polisi mengitari tempat adanya kecelakaan, keramaian yang semula menyeruak kini mulai mengendur.


Tak ingin berlama-lama,sang sopir langsung menancap gas, Kevin sudah memberitahu tempat di mana helikopter landing.


Beberapa saat mobil terhenti dan benar saja sebuah helikopter lengkap dengan awak sudah menunggu kedatangan mereka.


Jayden turun dari mobil, awalnya Sheena ingin membantu memapah namun pria itu menepisnya, Sheena meringis namun dia berusaha untuk menyembunyikannya dan tersenyum lega tak kalah Kevin membantu memapah Jayden sampai masuk ke dalam helikopter itu.


"Nona, kamu juga harus naik." seru Kevin mengangetkan Sheena.


"Eh, aku?" Sheena menunjuk diri sendiri.


Kevin mengangguk cepat. "Iya nona, tentu saja anda, ayo cepat nona tuan harus cepat di istirahatkan di tempat kondusif."


Sheena mengangguk cepat-cepat, rambut coklat panjangnya yang tergerai melambai-lambai tertiup angin yang di ciptakan dari baling-baling helikopter.


Sheena duduk setelah di beri perlengkapan pengaman, dia duduk di samping Jayden, sementara Kevin di samping sang pilot.


Sheena sesekali melirik ke arah Jayden, pria itu sedang mengurut keningnya, melihat gesturnya Sheena tahu Jayden tak ingin melihatnya.


Baru kali ini Sheena melihat sisi Jayden yang lemah, apakah ini baik? Sebenarnya Kenapa tuan Jayden sampai punya trauma seperti itu?


Hal itu menjadi pertanyaan di benaknya.


...****************...


Jayden sampai di dalam ruangannya, Sheena menatap dengan harap-harap cemas, semoga laki-laki itu baik-baik saja.


"Kevin, aku ingin sendiri."

__ADS_1


Kevin mengangguk. "Baik tuan."


Sheena mengikuti hingga ke dalam ruangan, di depan matanya Jayden berusaha untuk terlihat baik-baik saja, kenapa begitu?


Sementara Kevin memencet tombol yang berada tersembunyi di samping rak buku besar, dan dreeet! bunyi seperti mesin di nyalakan membuat Sheena memandang takjub, kini rak buku itu terbuka sendiri menampilkan sebuah ruangan rahasia yang lumayan luas.


Jayden berdiri dari duduknya, masuk ke dalam ruangan itu, sesaat setelah Jayden masuk, rak buku besar itu kembali memutar hingga ruangan tertutup sempurna. seperti tak terjadi apa-apa, tempat itu kembali seperti rak buku biasa.


Sebenarnya ruangan-ruangan rahasia para CEO seperti ini Sheena sudah pernah melihat beberapa kali dalam drakor yang ia tonton tapi tetap saja saat ia melihat langsung Sheena tak bisa untuk tak berdecak kagum.


"Nona, tuan saat ini hanya ingin sendiri, sebaiknya kita jangan menganggu dulu."


Sheena mengangguk, mengerti. Ia menatap sendu ruangan rahasia milik Jayden itu, tepukan lembut di bahunya membuat Sheena menoleh.


Kini Sheena dan Kevin berjalan di sekitar koridor kantor, semua terjadi begitu cepat membuat Sheena tak bisa berfikir jernih, Kevin melihatnya pria itu tersenyum.


"Nona Nana tidak usah khawatir, tuan Jayden tidak apa-apa, hanya butuh waktu sendiri saja."


Sheena terhenyak, lalu ia balas tersenyum sambil mengangguk.


"Nona mau makan?" yang Kevin tahu hanya makanan yang membuat mood gadis itu bisa kembali.


Maka di sinilah mereka di sebuah cafe yang disediakan Perusahaan untuk para eksekutif, Kevin sengaja membawanya kesini, mereka memesan makanan juga minuman.


Di tempatnya Sheena duduk dengan tak nyaman. "Anu Kevin, kenapa mereka ngeliatin aku begitu banget ya?" bisik Sheena menutup wajahnya menggunakan daftar menu yang ada di tangan.


Sheena tak menyahut lagi meski agak risih ia tetap memesan, sementara mereka para eksekutif yang menghabiskan waktu istirahatnya di cafe ini merasa heran saat melihat tuan Kevin sekertaris sang Presdir sekaligus tangan kanan pimpinan mereka, membawa seorang gadis biasa yang tak jelas asal-usulnya ke sini, menurut mereka itu sedikit ajaib, mengingat Kevin yang tak pernah serius dengan satu wanita saja. Alias playboy.


Sambil menunggu pesanan datang, Sheena sesekali melirik Kevin, ia ingin bertanya tapi sedikit ragu, dan Kevin menyadari itu.


"Kenapa nona?"


Sheena mengigit bibir bawah, "Anu, Kevin, bolehkah aku bertanya?" akhirnya kata itu keluar juga.


"Apa itu?" tanya Kevin yang sedikit antusias, sesekali ia akan membenarkan letak kacamatanya.


"Ada apa dengan tuan Jayden ... kenapa dia sampai punya trauma akan kecelakaan?"


"Sssst!" Kevin meletakkan telunjuk di bibir. "Ini topik rahasia nona, jangan tanyakan di tempat ramai."


Baiklah. Gerak-gerik Kevin sungguh mencurigakan untuk Sheena.


Pesanan mereka pun datang, Kevin tersenyum pada Sheena dan mempersilahkannya untuk menikmati makanan yang terhidang, meskipun banyak beban pertanyaan di benak Sheena. Tapi akhirnya hidangan berupa menu makan siang itu tandas tak tersisa.

__ADS_1


...****************...


"Jadi Kevin .... bisakah kau menjawab pertanyaan ku?"


Mereka kini tengah berada di ruang kerja Kevin, pria itu menatap Sheena sampai tak berkedip selama beberapa detik, sebelum akhirnya dia melengkungkan senyum.


"Nona anda ingin tahu sekali ya? bukankah itu terdengar lancang? meminta menceritakan rahasia seseorang?"


Oke, Sheena ke geep, gadis itu merasa canggung sekarang.


"Baiklah, aku tahu ini lancang, maafkan aku."


Tak beberapa lama terdengar suara tawa yang kencang, Sheena melongo. Kenapa pria ini tiba-tiba tertawa? aneh!


"Santai saja nona, aku hanya bercanda," ucap Kevin.


Sheena menghembuskan nafas lega, gadis itu ikut tertawa guna menaikkan suasana. Kevin dengan cepat menghindar saat Sheena hendak menggeplak lengannya.


"Eitss tidak kena." pria itu tersenyum jahil.


"Nona kenapa anda suka memukul orang saat sedang tertawa? bukankah itu menyakitkan?"


Sheena meringis tak enak. "Maaf refleks."


"Abisnya sikap mu tadi mendadak misterius sekali, aku jadi takut."


"Benarkah? perasaan saya biasa-biasa aja."


Sheena menggeleng. "Kamu udah kaya tuan Jayden tadi, mengintimidasi, menyeramkan." sungutnya.


Kevin tertawa. "Baiklah, mau saya ceritakan apa yang menjadi penasaran nona?"


Kini Sheena mengangguk antusias. "Iya, aku ingin tahu."


"Baiklah." Kevin menjeda ucapannya sejenak. "Sebenarnya nona, hal ini sudah menjadi rahasia umum."


"Tentang apa?"


"Orang tua tuan Jayden meninggal dalam sebuah kecelakaan."


"Dan itu tepat di hari ulang tahunnya."


******

__ADS_1


Hai, apakabar hari ini? semoga semuanya di beri kesehatan selalu ya🤗


Jangan lupa like,komen, beri gift, vote, dan bintang lima, terimakasih ✨


__ADS_2