Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
mulai menyelidiki


__ADS_3

Mereka menikmati makan malam dengan suka cita dan bahagia, Jayden tampak menikmati ini semua, waktu seakan berjalan merambat, suasana terasa hangat dan menyenangkan, Sheena melirik Jayden, yang kini lebih banyak tersenyum, diam-diam Sheena tersenyum juga seraya menatapnya dengan lekat.


Dia tahu Jayden pasti tak pernah merasakan suasana kehangatan ini sebelumnya, ia senang keluarganya berhasil membangkitkan sisi hangat pria dingin itu, Sheena berharap ingin seperti ini selamanya.


"Eh, Jayden, mau nambah nak?" tanya Bu Nafisah pada jayden.


Pria itu mengangkat kedua sudut bibir, mengangguk. "terimakasih mah."


Ibu Nafisah tersenyum. "Tidak usah sungkan-sungkan, kamu udah mamah anggap sebagai putra mamah sendiri mulai saat ini, putra kesayangan mamah."


Dimas yang mendengarnya, melongo, protes. "Kalau aku mah? bukan putra kesayangan mamah ya?"


"Bukan," ucap Bu Nafisah dengan teganya walau sebenarnya wanita berwajah sedikit garang itu hanya bercanda.


"Ish, mama pilih kasih, ck,ck barang siapa ibu yang pilih kasih terhadap anaknya, maka--"


"Maka? maka apa? uang jajan kamu mamah potong mau?" delik Bun Nafisah, sementara ayah dan Sheena sudah terkikik-kikik di tempat.


"Rasain kami dek!" ledek Sheena.


"Hehehe, gak kok mah, gak jadi." Wajah Dimas berubah pias,lalu ia menatap Jayden dengan memelas. "Om Jay, gak ya om?"


Jayden tersenyum tipis. "Dimas masih kecil wajar jika ada rasa iri di dalam hatinya."


"Aku juga dulu seperti itu, melihat teman sebaya yang akrab bersama orang tuanya, aku bisa merasakan apa yang di rasakan Dimas dulu."


Semua orang terdiam,ayah yang hendak menyuap nasi kembali menaruh sendoknya. Tak menyangka Jayden akan menceritakan perasaannya secara gamblang seperti ini, membuat Sheena menjadi terenyuh. Ada rasa sakit dalam setiap untaian kata yang di ucapkan Jayden.


Ibu tersenyum lembut, menepuk punggung tangan Jayden. "Mulai sekarang kamu adalah bagian dari keluarga ini, sering lah berkunjung nanti ya."


Jayden balas tersenyum, lalu mengangguk, suasana kembali hangat, celetukan dan juga ledekan dari Dimas mencairkan suasana kembali.


Sheena menoleh ke arah sang pria yang kini sedang menanggapi obrolan bersama ayahnya, di bawah meja tangan Sheena terjulur mendekati Jayden, lalu ia mengambil tangan Jayden dan menautkan jari-jari mereka dengan erat.


Jayden terperanjat, di liriknya sang kekasih yang kini menunjukkan senyum terhangat nya, Jayden lalu lebih mengeratkan genggaman tangan mereka, dengan tatapan dalam penuh puja.

__ADS_1


Di dunia ini, jika bersamamu hal sulit pun bisa jadi mudah. Begitulah kira-kira perkataan yang tersirat dari tatapan Jayden.


...----------------...


"Hari sudah mulai gelap, kalian apa langsung mau pulang?"tanya ayah saat mereka duduk santai di sofa.


Jayden menggeleng,lalu matanya tertuju pada Sheena. Apa ini saatnya mereka bertanya?


Jayden berdeham keras. "Sebenarnya belum menuntaskan tujuan awal kami kesini?" obrolan jadi lebih serius sekarang.


Dahi ayah mengernyit. "Apa itu?"


"Selain kami ingin memberitahu kan soal hubungan kami, ada yang ingin kami tanyakan."


Jayden lalu mengambil selembaran foto yang ia simpan.


"Sebenarnya Sheena sudah lama ingin bertanya padamu, tapi dia terlalu sungkan, jadi biar aku yang mewakilinya."


"Ayah mertua, apa kau tahu di mana alamat panti asuhan Terima kasih bunda?"


Perkataan yang keluar dari mulut ayah sukses membuat Sheena dan jayden cukup syok hingga beradu pandang.


"Tapi ayah, bukankah foto ini ada di kotak yang ayah kasih? aku kira di panti asuhan itu tempat ayah mengadopsi ku."


Ayah menggeleng dengan raut wajah yang sama bingungnya. "Panti asuhan tempat kamu di rawat itu namanya panti asuhan ibu Pertiwi, bukan yang itu."


"Lalu bagaimana foto panti asuhan itu ada di kotak yang ayah kasih?"


Sungguh ini semua ternyata lebih rumit dari yang mereka duga.


Dahi ayah mengkerut semakin yang dalam mencoba mengingat, Sheena tahu di umur ayah yang sudah semakin senja seperti ini membuat memori ingatannya semakin renta, namun Sheena harap ayahnya bisa mengingatnya kali ini.


"Ah ya, ayah ingat," ujar ayah membuat keduanya tertegun, siap mendengarkan.


"Sebenarnya nak, foto itu memang sudah ada sejak lama di dalam kotak hitam itu, dan sebenarnya fakta yang ayah ingat, kotak itu adalah pemberian dari pengurus panti pada ayah saat kamu di adopsi."

__ADS_1


"Jadilah ayah menyimpan semua kenangan mu juga barang-barang yang melekat padamu saat ayah mengadopsi mu dulu, jadi soal di mana letak panti asuhan ini, mungkin pengurus panti yang merawat mu lah yang bisa memberikan jawabannya." lugasnya.


"Sebentar, ayah masih menyimpan alamat panti asuhan itu." ayah berdiri, Sheena dan jayden memperhatikan. Benang kusut ini sepertinya akan lama untuk di benarkan kembali.


"Tuan, jadi kita tidak lah di ambil dari panti asuhan yang sama," kata Sheena menatap Jayden.


"Kupikir ini akan mudah, ternyata lebih sulit dari dugaan ku." Sheena menunduk sedih.


"Hei, jangan menyerah." Jayden mengenggam erat tangannya. "Kita akan mencari tahu bersama-sama, aku selalu berada di samping mu.".


Sheena tersenyum, mengangguk. Lalu ayah kembali membawa secarik kertas setelah menuliskan sebuah alamat di sana.


"Ini, ayah sudah menuliskannya, syukur lah ayah masih ingat di mana tempatnya."


Sheena menerima kertas itu, terdapat alamat lengkap panti asuhan yang tertera di dengan nama ibu Pertiwi.


Sheena menatap sang ayah dengan lembut. "Terima kasih ayah."


'Ck, dasar kenapa berterima kasih, bagaimana pun juga kamu tetap lah putri ayah, iyakan."


Sheena mengangguk cepat, matanya berkaca-kaca. "eumm, apapun yang terjadi aku tetap Putri kesayangan ayah."


Mata tua ayah menatap nanar lalu melirik Jayden, menatap penuh harap."Pak Jayden, aku meminta sebagai seorang ayah, tolong jaga putri ku, aku percaya selama bersama mu dia akan selalu aman."


"Jika memang masalah ini lebih rumit dari yang kalian duga, kupaslah hingga tuntas, buatlah Sheena menemukan jati dirinya."


"Mungkin putriku agak sedikit cengeng, dan akan banyak menangis nantinya, saya harap pak Jayden bisa menerima segala kekurangannya itu." Ayah mengusap ujung matanya yang berair.


Jayden mengangguk. "Tentu yah, aku berjanji akan selalu menjaga Sheena."


Mungkin setelah ini jayden harus bertanya pada kakeknya, tentang siapa orang tua Sheena, yang juga menjadi korban dalam kecelakaan lima belas tahun lalu itu, mungkin saja kakeknya mengetahui sesuatu. Atau memang dialah yang menyembunyikan semua ini.


Jayden semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Sheena, berjanji pada dirinya sendiri, cepat atau lambat semua rahasia yang selama ini di sembunyikan harus segera terungkap.


Dan memang dugaannya jika kecelakaan lima belas tahun lalu saat itu ada konspirasi di dalamnya, Jayden tak akan memberi ampun kepada siapa saja yang menjadi pelakunya, termasuk jika itu kakeknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2