Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Perhatian yang muncul perlahan


__ADS_3

Setelah membayar belanjaannya, Sheena kembali ke mobil, karna terlalu banyak dan berat, Sheena sampai di bantu oleh beberapa orang.


"Terimakasih ya," ucap Sheena sambil setengah membungkuk pada dua orang yang telah membantunya menaruh belanjaan di bagasi, juga pada sang sopir.


"Gak apa-apa mbak, apasih yang gak buat mbak cantik."


Mendengarnya Sheena hanya tersenyum sambil sedikit melongos, kedua pria itu lalu pergi setelah pamit.


"Harusnya tadi nona manggil saya saja, jadi di godain kan," ucap pak Harto.


Sheena menggeleng sambil tertawa. "Gak apa-apa pak, takut pak Harto capek juga."


"Tapi kan tuan Jayden sudah memberikan amanah pada saya untuk menjaga nona, saya juga tadi kaget tadi nona lari-larian ngejar pencopet, hampir serangan jantung saya."


Sheena tersenyum. "maaf ya kalau bikin khawatir, eh tapi, beneran tuan Jayden bilang gitu?"


Sheena sungguh tak percaya seorang pria yang dinginnya mungkin mengalahkan kutub selatan bisa mengkhawatirkan keselamatan bawahannya.


"Eh, yang mana non?"


"Itu, yang tuan Jayden berpesan ke pak Harto buat menjaga saya?"


"Oh itu non, bener kok, malah tuan berencana mau ngambil bodyguard untuk menjaga nona."


Sheena menggut-manggut, entah kenapa hatinya menghangat mendengar penuturan itu, benarkah tuan Jayden seperhatian itu?


"Oh ya saya lupa." pak Harto terpekik. "Saya harus segera mengantar nona ke perusahaan."


"Eh, ke perusahaan?"


Pak Harto mengangguk. "Ini titah dari tuan, ayo cepat non sebelum tuan Jayden marah karna kelamaan, beliau tidak suka menunggu."


Melihat pak sopir yang kelimpungan membuat Sheena juga sama, lalu ia buru-buru masuk ke dalam mobil penumpang, dan mobil pun melaju memecah hiruk pikuk jalan perkotaan yang padat.


...----------------...


Dan di sinilah Sheena sekarang, berdiri di depan megahnya bangunan pencakar langit, perusahaan tempat Jayden berada.


Pak Harto pamit undur diri tak bisa ikut masuk, Sheena memaklumi, dengan kaki jenjangnya ia melangkah masuk ke dalam dan menemui meja resepsionis.


"Maaf permisi .... "


Resepsionis yang sedang menerima telepon menoleh padanya. "Ya, ada yang bisa di bantu nona?"


"Biar aku aja," temannya yang di samping mencegat, wanita yang sedang menerima telepon itu mengangguk kembali fokus pada pekerjaannya.


Kini wanita satunya menatap Sheena dari atas sampai bawah dengan tatapan yang ..... entah, Sheena pun tak mengerti.


"Ada apa ya mbak?" ucapnya acuh tak acuh, entah kenapa dia tak suka melihat penampilan Sheena.


"Saya ingin bertemu dengan tuan Jayden Alexander," kata Sheena dengan ragu. sepertinya wanita ini tak menyukainya, entah apa sebabnya.

__ADS_1


"Apa sudah membuat janji sebelumnya?" Sheena hendak menjawab namun si wanitanya kembali melanjutkan ucapannya.


"Tuan Jayden adalah orang sibuk, beliau pemilik perusahaan ini, tak sembarang orang bisa menemuinya," ucapnya dengan mata mendelik tak suka.


"Itu saya .... "


"Lebih baik anda segera pergi sebelum saya memanggil security keamanan." ancamnya,Sheena bingung, hingga tiba-tiba seseorang mendekatinya.


"Eh, nona Nana?!" dia adalah Kevin, Sheena segera menoleh ke arahnya.


"Selamat siang tuan Kevin." wanita itu menyapa Kevin dengan lembut, sangat berbeda padanya tadi.


Daebak! wanita ini muka dua.


"Nona ingin menemui tuan Jayden kan?"


Bisa Sheena lihat dari ekor matanya wanita itu cemberut karna Kevin mengabaikan salam hormatnya. Dalam hati, Sheena terkikik puas.


Sheena mengangguk pelan. "Iya, aku di suruh datang kesini."


"Ayo saya tunjukkan." Kevin tersenyum, merangkul pundaknya, tentu Sheena terkejut, wanita resepsionis itu menatapnya tak suka.


Kevin membalikkan tubuh Sheena, sebelum melangkah dia menoleh ke meja resepsionis.


"Oh ya, untuk mu, Rosella, cobalah untuk bersikap beramah tamah, apalagi yang kau hadapi ini adalah wanitanya tuan Jayden."


Apa!


...----------------...


Kevin menyinggung senyum. "Gak apa-apa, nona, emang benar kan yang saya ucapkan?"


Sheena mencebik. "Benar apanya coba?"


Kevin malah tertawa. "Nah sudah sampai di ruangan, tuan Jayden, silahkan masuk nona."


Sheena mengangguk. "terimakasih ya Kevin."


"No problem, apapun untuk calon nyonya muda."


Sheena lagi-lagi merutuk saat Kevin mengatakan itu, namun pria itu keburu pergi membuatnya tak jadi melakukannya. Kini, dia malah terserang rasa canggung saat melihat pria maskulin yang kini sedang fokus menatap layar monitor di tempatnya.


Sheena dengan ragu melangkah memberi jarak beberapa meter untuknya dan tempat Jayden.


"Maaf tuan .... "


Mendengar suara Sheena pria itu menoleh, namun hanya menatap sebentar dan tetap bergeming.


What?! apa pria itu baru saja mengacuhkannya?


"Maaf tuan, ada perlu apa tuan menyuruh saya datang kesini?"

__ADS_1


Hening, pria itu tetap diam.


Benar-benar prasasti hidup. Rutuk Sheena.


"Tuan?"


"Duduklah di sana, tunggu beberapa menit, aku sedang mengecek email yang masuk."


"Oh baiklah." ternyata pria itu sedang fokus pada pekerjaannya.


Sheena menurut, dia duduk di sofa bed besar berwarna hijau matcha yang di lapisi beludru. kedua kakinya yang telanjang langsung merasa sejuk saat menginjak lantai pualam yang dingin, juga karna AC tentunya.


Dia menatap ke sekeliling, ruangan Jayden terkesan sederhana untuk ukuran seorang Presdir, namun yang menarik atensinya adalah kepala rusa yang di awetkan yang menempelkan di dinding, sepertinya rusa itu hasil buruan si empunya ruangan terbukti karna terdapat ukiran nama 'Jayden Alexander' di sana.


"Kau melihat apa?"


Jayden tiba-tiba sudah ada di hadapannya membuat Sheena sedikit tersentak.


"Tidak ada apa-apa, tuan." Sheena tersenyum canggung. "Hanya saja saya salpok sama kepala rusa di sana," ucapnya menunjuk apa yang di lihat. "Tuan suka berburu kah?"


"Hmm, seperti yang kau lihat."


"Waah, keren." Sheena tersenyum semakin lebar hingga matanya menyipit.


Jayden menatapnya, heran? apa yang spesialnya dari hanya memburu hingga di apresiasi seperti itu.


"Tunggu." matanya menatap hal ganjal, baju putih panjang yang di kenakan Sheena kotor di sebelah tangannya.


"Ada apa dengan mu?"


"Eh, saya gak apa-apa kok tuan."


"Ini?" Jayden menunjukkan lengan Sheena, dengan mata yang berkilat, entah marah atau khawatir, Jayden segera menggulung lengan panjang Sheena hingga ke siku, di situlah ia mendapati sebuah luka yang bergaris lecet.


"Dari mana kau mendapatkan luka ini?" tangannya dengan sedikit sentakan hingga membuat Sheena terkejut.


"Eh, saya .... " belum sempat Sheena menjawab Jayden segera berdiri. "Tunggu di sini."


Jayden lalu kembali lagi dengan sebuah kotak p3k di tangannya, ia langsung mengobrak-abrik kotak itu dan menemukan anti septik juga plester.


Jayden dengan sigap menaruh sedikit demi sedikit obat luka pada luka Sheena dan menutupnya dengan plester, semua kegiatannya itu tak lepas dari mata Sheena yang memandangnya.


"Tuan, kenapa anda melakukan ini?" Sheena menarik lengannya yang di pegang Jayden.


"Anda tidak perlu sampai melakukan ini."


Jayden tersadar, menghela nafasnya.Apa gadis ini tidak nyaman dengan perlakuannya?


"Maaf, aku hanya tak bisa melihat mu terluka seperti ini."


Jayden pun tak mengerti ada apa dengan dirinya.

__ADS_1


"Jadi kumohon, jangan pernah terluka lagi."


__ADS_2