
Jalanan kota sedang macet ketika mobil yang di kendarai Jayden melaju bersama dengan kendaraan lain yang berdesak-desakan.
Pria maskulin itu sesekali menengok ke arah wanita yang paling di cintainya yang kini sedang fokus menatap ke depan dengan matanya yang terlihat kosong.
"Ada apa?" tanya Jayden memecah keheningan yang ada, di samping banyaknya suara klakson kendaraan yang memekakkan telinga di luar, yang mungkin tak terdengar oleh gadis itu.
Sheena menggeleng, tapi Jayden tahu gadis itu sedang tidak baik-baik saja, ia sedang memikirkan sesuatu.
"Apa kau mengenal nyonya Kanaya yang ibu panti sebutkan tadi?" tanya Jayden, setelah kepergian mereka dari panti asuhan, Sheena memang sedang memikirkan hal itu.
"Aku tahu," kata Sheena mengangguk pelan, "Aku mengenalnya belum lama-lama ini, dia wanita tua yang aku selamatkan dari pencopetan, setelah itu aku memiliki komunikasi yang baik dengannya bahkan pernah mengunjungi butik nya sekali."
Sheena tertawa pelan yang mana ada kesumbangan di dalamnya. "Tidak ku sangka dunia sesempit itu.
Jayden menatapnya cukup lama, garis sangar pria itu melunak melihat wajah lesu wanitanya. Ia tahu Sheena pasti sangat ingin tahu tentang asal-usul nya, siapa keluarga aslinya, tentang orang tuanya, tapi ternyata perjalanan mereka menemukan jawaban ini masih panjang.
"Apa kau tahu di mana alamat nya? biar kita langsung mengunjungi nya."
Arah mata Sheena yang semula menatap jalanan padat di depan kini mengarah pada sang pria. Bukannya langsung menjawab, mata gadis itu malah berembun kemudian menjadi kaca-kaca yang siap meluncur.
"Maaf, aku terlalu menyusahkan mu." lirihnya, Jayden mengernyit, tangan kekarnya berpindah dari setir di depan lalu beralih merangkul tubuh mungil itu.
Sheena terisak lalu merasuk lebih ke dalam dekapan hangat pria itu, lalu lalang kendaraan yang sudah mulai mengendur, harmoni yang tercipta semakin menambah suasana.
"Aku selalu membebani mu, maafkan aku," lirih Sheena lagi, tersedu-sedu.
Jayden tak menjawab, ia memilih diam sejenak membiarkan wanitanya meluapkan semua emosi yang ia rasakan saat ini, ia tahu Sheena hanya perlu sebuah sandaran.
"Kita akan melalui semua ini bersama-sama, tak ada yang perlu di khawatir kan," Jayden berkomentar sedikit.
Pelukan mereka terlepas, di luar awan yang semula biru bersih kini terlihat menghitam pekat, pertanda hujan akan datang.
Mata keduanya bertemu untuk beberapa saat, Sheena menarik cairan yang keluar dari hidungnya yang membuat ia terkekeh sendiri, Jayden tersenyum tipis.
"Apa kamu akan terus bersama ku?" tanya Sheena, membuat Jayden menarik nafas sejenak, pertanyaan macam apa itu? batinnya.
"Apa kau meragukan cintaku?" tanya jayden balik membuat Sheena mengerjap beberapa kali, ia merasa bersalah telah mengajukan pertanyaan seperti itu.
__ADS_1
"Tidak, aku percaya," kata Sheena.
"Maka itulah jawaban ku," ucap Jayden.
Sheena tersenyum. "Meskipun nanti kenyataan yang kita cari tidak sesuai harapan, apa kamu masih mau menerima ku? kau tidak akan meninggalkan kan ku?" tanyanya beruntun, ia butuh kepastian bagaimana pun jayden dan dirinya berbeda, lelaki itu adalah seorang pangeran, tidak ia seorang raja, banyak wanita yang mengejarnya, derajat mereka tak sama, itu membuat Sheena takut.
Jayden menarik sudut bibir, ia tahu wanitanya sedang penuh dalam kebimbangan.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan gadis yang selama ini ku cari? aku akan selalu berada di samping mu." ia menyelipkan rambut Sheena ke belakang telinga membuat gadis itu bersemu.
Ia bersyukur memiliki jayden bersamanya, ia ingin selalu seperti ini, dengan cinta pertama nya juga terakhirnya.
"Kita akan menyelidiki nya bersama-sama, aku selalu berada di samping mu untuk mendukung mu." seulas senyum ia tampilkan hanya untuk Sheena seorang.
Sheena mengangguk, tersenyum. "Asal bersama mu semuanya akan baik-baik saja."
Tangan kokoh Jayden mengusap pucuk kepala gadis itu dengan sayang.
"Besok kita akan menyelidiki nya lagi, sekarang kita kembali ke mansion."
Sheena mengangguk cepat, perasaannya kini menjadi lega, kini Jayden kembali melajukan mobil, memecah jalanan besar dengan tetesan air semesta yang mulai turun.
Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat segar itu berdiri dengan gemetar meremat ponsel di tangannya penuh dengan raut ketakutan, bola matanya bergetar seperti akan lepas dari rongganya setelah ia membaca sebait pesan yang di kirimkan unknown number di layar.
Seorang wanita yang lebih muda darinya kemudian datang dengan rok span sebatas lutut berkacamata dan pakaian formal rapih.
"Nyonya Kanaya, clien dari canada sudah datang, mereka menunggu di gedung dominic," ujar wanita itu memberitahu, asistennya.
Secepat kilat wanita yang tak terlihat garis-garis halus di wajahnya itu merapikan diri, mengangguk dengan tersenyum kecil lebih memilih untuk menepikan dulu tentang pesan yang masuk ke dalam ponselnya beberapa saat lalu yang membuatnya seperti dalam ambang kematian.
"Batalkan pertemuan nya, saya tak ingin kemana-mana hari ini," kata nyonya Kanaya dengan mata nyalang mengisyaratkan ketakutan yang nyata.
"Tapi nyonya, Mr. Louis sudah menantikan kehadiran anda, lalu bagaimana dengan proyek besar ini?"
"Batalkan." tegasnya. "Aku tidak peduli jika dia membatalkannya, hari ini aku tak ingin di ganggu."
"Tapi nyonya ... " wajah wanita itu pias, ia tak tahu alasan apa yang akan di pakai nya nanti pada tuan Louis dan kru-nya. Mereka sudah menyiapkan proyek ini dari berbulan-bulan lalu, bagaimana nyonya Kanaya bisa melepas semua ini begitu saja?
__ADS_1
"Berikan saja tugas ini pada Hendrick," katanya, Hendrick adalah cucu nyonya Kanaya, calon penerus perusahaannya.
Wanita dengan high heels tinggi itu hanya bisa mengangguk pasrah lalu keluar dari ruangan.
Sampai di tempat meeting, kehadirannya telah di berondong oleh banyak pasang mata, tim dari pihak perusahaan mereka.
"Nyonya Kanaya tidak bisa hadir," ia berkata pelan, dari bagian divisi utama di tengah sudah melenguh panjang di sertai dengan wajah lelah mereka.
"Lalu bagaimana dengan meeting ini? Mr. Louis sudah akan menuju kemari."
"Nyonya menyerah kan semuanya pada tuan Hendrick."
"Tapi tuan sedang berada di Bulgaria mengurus ekspor di sana, bagaimana bisa?--" perkataan salah satu tim terpotong ketika mendengar suara bariton yang cukup di kenal di belakang mereka.
"Aku ada sini."
Semuanya kompak menengok, di ambang pintu terlihat seorang pria dengan setelan jas biru navy, berpostur tinggi tegap dengan dada bidang.
"Tuan Hendrick!" seru mereka bersama.
Yang di kejutkan kehadirannya malah tertawa ringan setelah tertegun sekilas. "Kenapa kalian sekaget itu."
"Bukannya anda masih ada di Bulgaria tuan?"
"Saya sudah ada berada di sini sejak kemarin, mungkin Liam, asisten ku tidak memberitahu kannya."
"Syukur lah anda berada di sini, anda penyelamat kami."
Pria berwajah teduh dengan mata cemerlang menyiratkan pengetahuan yang tinggi itu tersenyum simpul.
"Saya bertemu dengan Mia di bawah, dia memberi tahu kan jika pak Louis sudah akan menuju kesini."
"Apa nyonya Kanaya tidak bisa menghadiri pertemuan ini?"
Semuanya kompak mengangguk, dengan raut letih mereka.
"Baiklah, masih ada waktu lima belas menit, serahkan proposal nya, biar saya pelajari dahulu."
__ADS_1
Semuanya kompak tersenyum, riuh rendah sorak mewarnai ruangan meeting itu karena bersyukur atas kehadiran tuan muda mereka.
Sementara Hendrick tampak berfikir serius, kali ini apa lagi yang terjadi pada sang nenek hingga pertemuan penting seperti ini ia abaikan, Hendrick harus mencari tahu.