Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Cemburu tipis-tipis tuan Jayden 02


__ADS_3

"Maaf ya, jika ayah dan ibu terkesan kuno dan membuat tuan tertekan."


Jayden menatap Sheena. "Kenapa kau bicara seperti itu?"


Sheena mengecilkan suara. "Aku takut tuan risih, dengan pertanyaan yang di lontarkan orang tuaku, juga tentang keluarga kami, yang mungkin tidak sekasta dengan tuan." Entah kenapa Sheena menjadi insecure, anggap lah ia rakyat jelata yang berhasil menggaet putra bangsawan, sedari awal memang kehidupannya dengan kehidupan jayden sangat jauh berbeda.


"Hei, kenapa bicara begitu? mengapa merendahkan diri sendiri dan keluarga mu?" dengan lembut Jayden mengusap punggung tangan Sheena, lalu mengenggamnya erat.


"Ayah dan ibu mu menyenangkan, mereka berhasil mendidik mu menjadi wanita yang tanggung dan mandiri, harusnya kau bangga dengan itu."


"Tak ada perbedaan kasta dalam cinta nyonya Alexander, semuanya sama, ketika dua orang jatuh cinta berarti mereka sudah menerima segala kelebihan, kekurangan juga latar belakang orang yang mereka cintai, kau paham?"


Sheena yang semula menunduk, kini mendongak menatap iris mata Jayden, dia mengangguk tersenyum. "Paham, tuan."


Entah kenapa Sheena suka Jayden yang banyak bicara seperti ini, terkesan lebih hidup, tidak seperti mumi hidup saat pertama kali mereka bertemu.


"Good girl." Jayden menepuk pelan pucuk kepala sheena.


Mereka masih duduk di ruang tamu, sedangkan ibu sedang menyiapkan hidangan untuk makan siang yang spesial, sengaja untuk mereka berdua, sementara ayah pamit sebentar, ada urusan di belakang.


"Emm, tuan kalau begitu aku mau bantu ibu dulu ya,tuan gak apa-apa kan di sini dulu."


Tatapan mereka bertemu, Jayden mengangguk. "Tidak masalah."


Setelah kepergian Sheena, Jayden melirik ke sekitarnya, ada banyak foto yang terpajang di ruang tamu ini, beragam mulai dari foto keluarga besar, foto Sheena saat kelulusan SMA nya,jadi memperhatikan dengan sesekali senyum yang timbul di wajah.


Hingga tanpa sadar dia menuju ke depan kamar dengan pintu bercat merah muda, itu pasti kamar Sheena, pikirnya.


Tanpa ia sadari pintu terbuka dengan sendirinya, menengok ke kiri dan ke kanan, Jayden melangkahkan kaki masuk ke dalam, melihat kamar bernuansa biru muda dengan stempel gambar Doraemon besar di setiap dindingnya.


Jayden tersenyum puas. "Dasar bocah," gumamnya melihat ke sekeliling kamar Sheena yang di penuhi kartun kesukaan anak-anak itu.


Ia lalu melihat ke sederet foto berbingkai yang tertata rapi di atas meja, pun yang menempel di dinding, awalnya ia masih menatap kagum, namun saat atensinya jatuh pada sebuah foto seorang pria yang tertempel di antara foto lain di dinding, membuat matanya berkilat tajam dengan raut datar,khasnya.


Jayden mengambil foto yang di tempel selotip itu, Ia menahan gerakan kesal saat mata elangnya meneliti foto itu, menyipit dengan kilatan marah, urat-urat di tangannya tampak terpampang jelas.

__ADS_1


Sheena yang melewati kamarnya terkejut karna melihat Jayden ada di dalam, gadis itu buru-buru menghampiri dengan memekik terkejut.


"Tuan, apa yang kamu lakukan di sini?"


"Jayden!" pria itu bersuara dingin, "harus kah aku selalu memperingatkan mu untuk mengganti nama panggilan."


Sheena mengkerut dahi. "Tuan, kamu kenapa?"


Jayden mendengkus dengan memutar mata malas, kentara sekali ia sedang menahan gejolak tak enak di dalam hatinya, dan itu membuatnya kesal.


"Nothing," kata Jayden singkat lalu berlalu. Dengan kedua tangan di tenggelamkan di saku celana, dan wajah tertekuk dalam.


Dahi Sheena berkerut semakin dalam. "Ada apa sih dengan pria Itu?"


Lalu mata Sheena yang berpendar tertumbuk spontan yang terjatuh ke lantai, Sheena mengambilnya membalikkan foto itu lalu menutup mulut menahan jerit karena kaget, kenapa foto Andre bisa ada di sini?


Sheena menggigit bibir, matanya melirik Jayden yang sudah berlalu pergi, diam-diam bibirnya menahan senyum. "Dia cemburu?"


"Hihihi, gemes banget," katanya lagi, cekikikan sendiri.


Saat matahari semakin ingin tenggelam, ibu dan Sheena sudah selesai menyiapkan makan malam spesial. Di luar, senja tampak indah di pandang, Jayden duduk di samping pak Hamid sekedar mengobrol ringan sesekali berkelakar, Jayden merasa nyaman karena pak Hamid tak begitu menuntut dengan pertanyaan-pertanyaan aneh, beliau juga mengerti tentang privasi tak menyudutkan Jayden, juga humble, pria berumur dengan tatapan teduh itu sangat pandai membuat teman bicaranya merasa tenang dan nyaman dalam obrolan yang di buatnya.


Di sini Jayden berusaha untuk menjadi orang biasa-biasa saja, tak ada pengawalan yang selalu mengintili nya, ia ingin mencoba hidup sebagaimana orang biasa pada umumnya, dan itu cukup menyenangkan menurutnya.


Bosan,pak Hamid mengajak Jayden bermain catur, lelaki berwajah kebapakan itu tersenyum pada Jayden di depannya. "Ayo, kita lihat siapa yang paling unggul, jangan salah, di seluruh wilayah ini, aku adalah raja catur unggul, tak ada yang bisa mengalahkan ku dalam setiap permainan," kata pak Hamid membanggakan diri sembari menyusun bidak-bidak catur di atas papan. Jayden ikut membantu.


Jayden mengangkat kedua sudut bibirnya. "Baiklah, kita lihat saja nanti."


Kedua laki-laki itu kini tampak sangat serius saat ini, menggerakkan bidak catur di atas papan dengan raut wajah fokus, keduanya dengan kompak menekuk lutut sambil menopang dagu, kentara sangat serius dalam menyusun strategi. Waktu berlalu tanpa terasa. Pak Hamid tersenyum puas saat Jayden mulai terpojok.


"I-0." pak Hamid memimpin di sesi pertama, berhasil mengungguli Jayden saat ini.


Jayden menggertakkan gigi, merasa udara pengap, ia membuka jas hitamnya dan menaruhnya di sisi kursi, lalu menggelung kemeja putih nya hingga ke siku.


__ADS_1


"Nampaknya nak Jayden sudah mulai serius ya," tandas pak Hamid mencairkan suasana.


Jayden hanya tersenyum tipis, lalu keduanya kembali hanyut dalam permainan, kali ini Jayden memimpin. Tak! bunyi biduk yang beradu dengan papan memecah keheningan.


"1-1, kita seri sekarang," kata Jayden mengulas senyum puas.


Pak Hamid berdecak. "Tidak semudah itu anak muda."


Waktu kembali berlalu tanpa terasa, permainan catur mereka semakin intens sekarang.


"Wah, saya memang salah mengambil rival, strategi dan fokus nak Jayden memang luar biasa," ujar pak Hamid memuji, Jayden menipiskan bibir sekilas.


Hingga suara cempreng Sheena membuat fokus mereka buyar seketika.


"Ayah! tuan! dari tadi aku panggil kok gak nyaut-nyaut!" Sheena berdiri di antara mereka, berkacak pinggang dengan raut wajah galak macam mak tirinya Cinderella.


"Tanggung putriku, ayah lagi ngajak calon suami mu ini main catur dulu," kilah ayah masih belum puas dengan hasil yang seri.


"Gak-gak, mama udah nunggu di meja makan, ayo masuk."


"Dimas pulang!" seorang bocah lelaki berseru saat para orang dewasa masih bersitegang.


"Kakak, pulang!" bocah lelaki itu terkejut melihat kehadiran Sheena, ia langsung saja menghambur memeluk sang kakak. gadis itu tentu menyambut sang adik dengan antusias.


"Wah, Dimas udah besar sekarang," kata Sheena berkelakar.


Bocah lelaki itu mencebik lalu tatapannya mengarah pada Jayden di samping. "Eh, ada om tinggi juga."


"Dimas yang sopan, panggil beliau tuan Jayden. Masa masih muda gitu di bilang om." tandas ayah memperingati.


"Tidak masalah," kata Jayden tersenyum tipis.


"Ya udah, kalau kakak ipar gimana?" tanya Dimas polos.


"Atau oppa Korea? soalnya muka om tinggi ganteng kaya oppa Korea."

__ADS_1


__ADS_2