
Pukul sebelas malam Jayden kembali ke mansion, tentu dengan mobil yang berbeda dengan sang kakek. Kepala maid menyambutnya, mengambil alih tas dan juga tuxedo Jayden. Pria itu mengendurkan dasinya dan berjalan ke ruang tengah.
Di saat itulah mata elangnya menangkap sesosok tubuh yang meringkuk di atas sofa, Jayden mendekat, sedikit terhenyak karna ternyata Sheena lah yang kini tengah tidur di sofa.
"Kenapa dia bisa tidur di sini?" tanyanya pada kepala maid.
"Anu, tuan, nona Sheena katanya ingin menunggu anda pulang sampai ketiduran di sofa."
"Perlu saya bangunkan, tuan?" lanjutnya.
"Jangan." Intonasi Jayden menghentikan pergerakan kepala maid itu.
"Biar aku saja yang pindah kan."
Kepala maid mengangguk lalu membungkuk hormat dan melenggang pergi. Jayden mendekati Sheena yang kini terlelap tenang, cukup lama ia memandang dengan tatapan dalam.
Seolah kini seluruh pusat perhatiannya hanya ada gadis itu seorang.
Jayden berjongkok di samping tubuh yang tertidur pulas itu, menatap wajah tenang Sheena yang begitu damai, terdengar dengkuran halus dari sana.
"Ck, kenapa baju yang dia pakai pendek sekali," Jayden berdecak, melihat Sheena yang hanya memakai celana pendek dan kaos oblong biasa.
"Apakah dia tidak tahu jika udara malam itu tidak baik untuk tubuh?" Jayden terus bergumam sendiri, di tatapnya dengan intens wajah putih bersih itu, bulu mata lebat dengan hidung mungil, benar apa yang di katakan Kevin dulu.
"Tuan, bukankah nona Sheena sangat cantik, saya dapat info jika dia berdarah indo, Korea dan Pakistan, bukankah dia sangat sempurna."
Jayden mendengkus geli, tak menanggapi ucapan Kevin. "Jangan berlebihan, wanita seperti dia bahkan banyak bertebaran di club-club malam yang sering kau singgahi."
"Jangan samakan mereka tuan, tentu nona Sheena sangat berbeda."
__ADS_1
"Terserah, bagiku sama saja wanita seperti dia hanya suka dengan harta dan benda-benda berkilauan sama seperti wanita di luar sana. sejak awal aku hanya ingin bermain-main saja dengannya."
"Tuan, tuan, suatu saat anda akan menelan ludah sendiri karna mengatakan itu."
Ucapan terakhir Kevin seperti mengambang dalam ingatannya. Dicondongkannya tubuh ke arah Sheena.
"Gadis bodoh, kenapa sampai menunggu ku?" sudut bibirnya sedikit terangkat, tangan kekarnya tergerak hendak untuk mengusap wajah Sheena, namun akhirnya ia urungkan.
Jayden berdiri, lalu sedikit membungkuk untuk membawa tubuh Sheena dalam dekapan, menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke kamar.
Para maid di bawah menatap bayangan tuan mereka yang membopong tubuh Sheena ke lantai atas.
"Tak pernah aku melihat tuan Jayden sebegitu perhatiannya terhadap wanita." bisik salah satu dari mereka.
"Mungkin yang ini berbeda, Nona Sheena sangat baik, sejak kedatangannya, mansion ini jadi jauh lebih hidup. Mereka sebenarnya cocok jika di sandingkan sebagai pasangan."
Mereka terus berdebat sambil berbisik-bisik. Lebih tepatnya, bergosip.
"Hei, cinta itu tidak tahu kapan akan datangnya. Kita lihat saja nanti, siapa yang akhirnya akan bersanding dengan tuan Jayden."
...----------------...
Dengan gerakan perlahan Jayden merebahkan tubuh Sheena di king size miliknya, menahan kepala gadis itu untuk mengambil bantal sebagai tunjangannya, tak lupa ia menarik selimut, menutupi tubuh mungil itu sampai batas leher.
Memandangnya sebentar, entah dorongan dari mana Jayden agak mencondongkan tubuh, melabuhkan sebuah kecupan singkat di pelipis kiri Sheena.
Entah sejak kapan, perasaan ingin melindungi gadis yang bernama Afsheena Daisy ini timbul, Jayden tak mengerti, apa memang pertemuannya dan segala kejadian yang ia alami dengan gadis ini adalah sebuah takdir?
Tapi Jayden sendiri tak mempercayai adanya sebuah takdir. Hatinya terlalu keras seperti batu, mempercayai hal seperti itu bukanlah opsinya.
__ADS_1
Tapi apakah semua itu akan berubah ketika kedatangan gadis aneh ini yang perlahan merobohkan tembok yang ia bangun kokoh di dalam hidupnya.
Tidak ada yang tahu. Ia pun tak mengerti kenapa sampai sekarang ia masih mempertahankan Sheena, benar kata kakeknya, ini terlalu jauh jika dia hanya sekedar bermain-main.
Lalu apa alasannya? dia sendiri pun tak tahu.
Haaah! Jayden membuang nafas panjang, lalu pria itu melepas dasinya dan bersiap untuk membersihkan diri.
Lima belas menit terlewati, Jayden keluar dengan rambut basah yang ia keringkan dengan handuk kecil, tubuh kekarnya di balut dengan kaos putih polos dan bawahan celana t-shirt panjang.
Sekilas ia menoleh pada Sheena, yang seakan tak terganggu dalam tidurnya.
Mendekat, dengan tangannya Jayden menghalau anak rambut yang menutupi wajah cantik itu, membereskan selimut yang sedikit berantakan dan yang terakhir mematikan lampu di gantikan dengan Lampu tidur yang sedikit temaram.
Jayden lalu keluar setelah mengambil sebuah buku, berjalan ke ruang tengah di temani dengan sekaleng minuman bersoda yang ia bawa.
Jayden duduk di sofa dengan bertumpu kaki, hendak membuka buku yang ingin ia baca, namun netranya tak sengaja bersibobrok dengan benda berkilau di bawah sofa.
Jayden sedikit membungkuk mengambilnya. Setelah ia amati, ternyata itu sebuah kalung, bermata biru yang berkilau.
Siapa yang menjatuhkan kalung di sini?
Tapi tunggu .... kalung ini seperti tak asing. Dimana ia pernah melihatnya?
****
Hai, apakabar hari ini? semoga semuanya di beri kesehatan selalu ya🤗
Jangan lupa like,komen, beri gift, vote, tambahkan favorit dan bintang lima, agar author semakin semangat dan bisa terus mengembangkan, melanjutkan novel ini, terimakasih ✨
__ADS_1