
"Na, sekarang kamar kamu di pindahkan di sini."
Perkataan Kevin menyentak Sheena dari lamunan, tak sadar sekarang dia telah kembali ke mansion Jayden, tetap menjalankan perannya di sisa dua bulan terakhir.
Sebelumnya selama perjalanan mereka pergi meninggalkan negeri tirai bambu, Jepang, Jayden tak mengatakan apapun pada Sheena, pria itu terkesan menjauhinya. Cuek dan pasif layaknya seperti mereka tak saling kenal.
Sheena menunduk sedih, menetralkan deru nafas yang seakan tercekat.
"Na? kamu gak apa-apa?" Kevin menepuk pelan pundak Sheena, membuat gadis itu mendongak.
Sheena tersenyum samar, menarik nafas panjang. "Kevin, apa aku sudah sangat keterlaluan, sudah menolak tuan Jayden?"
Kevin menarik senyum simpul. "Aku tak bisa berkomentar soal itu, namun aku tahu kamu punya alasan yang cukup kuat untuk melakukannya, hatimu itu milikmu sendiri, ingin seseorang masuk atau tidak itu adalah kehendak mu, tak ada yang bisa memaksa."
"Tapi ... hampir sepuluh tahun hidup dengan tuan jayden, baru kali ini lah dia jujur dengan perasaannya sendiri, sebelumnya tuan selalu di kekang, di kurung di beri batasan dan tak bisa memilih sesuai kehendaknya sendiri."
"Layaknya putra mahkota, semua yang melekat di dirinya sudah di susun sedemikian rupa, hingga kamu datang Na, baru kali ini aku melihat tuan yang ekpresif dan bisa menggambarkan perasaannya sendiri, jadi tuan benar-benar tulus padamu Na."
Sheena terdiam, mendengarkan dengan kelopak mata terkulai ke bawah, ia memilin ujung bajunya.
"Kau tahu, bukan aku ingin memojokkan mu, namun di luar sana banyak wanita yang mengejar perhatian seorang Jayden Alexander bahkan yang lebih darimu, namun hanya kepadamu saja dia menjatuhkan hatinya."
"Kamu sudah menjerat cinta pria dingin seperti tuan Jayden Na, percaya lah jenis cinta seperti yang di miliki tuan Jayden sangatlah tulus, jadi aku sedikit menyayangkan tindakan mu menolaknya, namun kembali lagi, semua tergantung keputusan mu."
Mata Sheena mengarah pada Kevin. "Tapi ... nona Viona, bagaimana dengan nya?"
Kevin tertawa samar, membuat Sheena mengernyit. "Apa karna dia yang menjadi pertimbangan mu untuk menerima tuan Jayden?"
Sheena menggigit bibir bawah, mengangguk pelan. "Aku dengar mereka sudah di jodohkan sejak kecil, mereka cocok sama-sama berada di kalangan atas, di bandingkan aku ... nona Viona begitu sempurna."
Kali ini Kevin terkekeh. "Na, Na, kamu itu terlalu mementingkan perasaan orang lain, cobalah untuk mengerti perasaan mu sendiri."
Sheena terdiam, menunduk kembali, Kevin melihatnya hanya menghela nafas.
"Ya udah aku tinggal ya." Sheena mengangguk mendengar penuturan Kevin, lalu pria itu pergi.
...----------------...
__ADS_1
Di mansion utama tuan Yudistira, suara gebrakan meja menggema di sekitar ruangan kedap suara yang di penuhi barang antik bernilai tinggi, ruang kerja sang tuan besar.
"Sudah berani kau sekarang? nampaknya aku terlalu bermurah hati padamu selama ini?!" suara tuan Yudis menyentak menggema seiring dengan suara gebrakan yang semakin keras.
Jayden berdiri bergeming dengan jas hitam rapih, pria itu menatap ke arah lain tak ingin melihat wajah sang kakek yang kini sedang di penuhi amarah besar.
"Apa kau benar-benar menyukai nya hah? di bandingkan Viona atau Vania yang sudah jelas asal-usulnya dan setara kastanya, kau lebih memilih wanita jalanan itu iya? sudah merasa hebat kau sekarang hah?!"
"Biarkan aku memilih!" Jayden akhirnya melepaskan emosinya kali ini, ia berteriak keras menyeruak kan apa yang selama ini ia pendam.
Tuan Yudistira terdiam, kaget dengan berontaknya Jayden kali ini.
"Kakek aku tahu, selama ini kau telah membesarkan ku, membimbing ku, tapi ... biarkan aku memilih kali ini."
Tuan Yudis mendengkus. "Jadi sudah sejauh ini? sudah sejauh ini seorang Afsheena daisy merubah mu?"
"Dari pada itu." Jayden memotong ucapan tuan Yudis, brak! "Jelaskan apa ini?"
Di sana tergeletak beberapa dokumen yang membuat tuan Yudis menghentikan gerakannya, suasana menghening, di antar detak jantung juga detak jarum jam seirama seiring deru nafas yang memburu.
"Selama ini, kau sudah menghalangi pencarian ku terhadap Kayla, kau meretas semua informasi yang detektif ku suruh untuk mencari tahu keberadaan Kayla berada, kau pikir aku diam aku tidak tahu?" Jayden mendengkus sakartik. "Kau salah besar, selama ini apa yang kau sembunyikan dariku?"
"Jayden, selama ini memangnya apa yang kau cari? semua masa lalu, itu semua sudah berlalu, ayah dan ibumu juga sudah tenang di alam sana,apa lagi yang kau cari?"
"Kebenaran," Jayden menarik sebelah alisnya. "Juga gadis kecil yang selama ini ingin kutemukan."
Selama ini Jayden sudah muak bukan dia tak tahu jika selama ini kakeknya itu selalu menghalanginya untuk mencari sebab kematian orang tuanya yang ganjil juga informasi tentang Kayla, namun dia sengaja ingin melihat sejauh mana sang kakek bertindak menyembunyikan semuanya.
"Panti asuhan 'Terima kasih bunda' semua rahasia yang kau sembunyikan ada di situ bukan?"
Mata tuan Yudis terbelalak, tangannya mengepal menahan gemuruh di dada.
"Tempat terakhir kau menitipkan Kayla setelah kau siksa dan kau hapus ingatannya, semua ada di panti asuhan itu," Jayden terkekeh pelan. "Kau pikir aku tidak tahu selama ini?"
Jayden lalu mendekat ke telinga sang kakek, setengah berbisik. "Kau lupa siapa aku sebenarnya? aku bersumpah akan mencari keberadaan panti asuhan itu mau sejauh manapun kau menyembunyikannya, bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun."
Jayden berbalik namun suara menggelegar menghentikannya.
__ADS_1
"Jayden! kau sudah sangat kurang ajar!"
"Akkhhh, dadaku ..." tuan Yudis meringis memegang dada kirinya hampir terjatuh jika saja Jayden tak menahannya.
"Kakek!" Jayden seketika panik.
"Akkkhhh!" tuan Yudis mengerang kesakitan. Jayden berteriak memanggil asisten sang kakek yang untung saja langsung siap tanggap terhadap situasi ini.
"Bawa kakek ke rumah sakit!"
...----------------...
"Tuan, ada apa? apa ada sesuatu?!" seru Sheena setelah di beri tahu Kevin tentang keadaan Jayden saat ini.
Jayden menggeleng pelan. "situasinya sedang tak baik, penyakit jantung kakek kumat, untung bisa cepat di tangani."
Sheena menatap cemas. "Tapi tuan tidak apa-apa kan?"
Jayden nampak sedang mengatur nafas, ia menggeleng, tersadar sesuatu ia menatap Sheena. "Kenapa kau ada di sini?" sentaknya dengan bentakan.
Sheena terdiam karna kaget. "Aku ... " ia nampak tak bisa menjawab.
"Saya yang meminta nona Sheena kesini tuan," seru Kevin tepat waktu, pria itu datang kembali setelah memakirkan mobil.
Jayden menghela nafas panjang hendak memarahi Kevin namun seruan lembut seseorang menghentikannya.
"Jayden, bagaimana keadaan kakek?" wanita dengan rambut panjang bergelombang dan pakaian glamour itu menghampiri Jayden.
"Viona? kau kesini?" seru Jayden yang sedikit terkejut dengan kehadiran wanita itu.
"Iyah, asisten kakek memberitahu kan Daddy tentang kondisinya, jadi aku buru-buru kesini," ujar wanita itu memegang tangan jayden dengan lembut.
Sheena yang melihatnya seketika menunduk, melihat mereka yang saling bertatapan entah kenapa ada yang nyeri di dalam sana. Kevin juga memperhatikannya.
"Astaga lihatlah kamu sampai keringatan begini ... " dengan sapu tangannya Viona dengan telaten mengusap kening Jayden, bisa Sheena lihat Jayden yang menatap Viona begitu lekat.
Ia tak bisa hatinya terlalu sakit. "Tuan ... " Sheena memanggil Jayden membuat kedua orang berbeda jenis kelamin itu menoleh.
__ADS_1
"S-sepertinya sudah ada nona Viona di sini, kalau begitu aku ijin pulang saja ya."
Jayden bahkan memalingkan wajahnya. "Pergilah, kau memang tidak di perlukan di sini."