
Seorang pria maju di antara kerumunan, dengan jubah hitam yang menutup kepalanya, pria itu mendekati Sheena. pria itu juga yang tadi menahan tubuh Dimas agar tidak terjatuh.
Sheena seperti mengenal perawakan pria bertubuh tinggi itu, juga suaranya, jelas sekali pria itu adalah pria yang sama, yang telah menyelamatkannya.
Jayden membuka tudung kepalanya, membuat semua orang terperangah, menatap takjub ke arahnya.
Namun tatapan Jayden hanya mengarah pada Sheena. "Kita bertemu lagi nona pengantin tidak waras," ucap Jayden hampir terdengar seperti bisikan.
Jayden lalu mengambil sebelah tangan Sheena Membuat mata Sheena mengikuti pergerakan pria itu.
"Tidak ada yang boleh menghinanya di sini," ucap Jayden, menatap semua orang yang ada di sana.
Andre yang melihat tangan Sheena yang di genggam erat oleh pria itu merasa cemburu, lalu mendekati mereka.
"Hei, kau siapa?" Andre mencegat, mengambil alih tangan Sheena. "kenapa bisa datang kesini? ini adalah pesta ekslusif hanya tamu undangan saja yang bisa masuk, jangan-jangan kau adalah penyusup." Tuding Andre padanya.
"Heuh!" Jayden mendengkus geli dengan tersenyum remeh. ia mengetikkan ibu jari dan jari manisnya, di saat itulah segerombolan orang datang, berjas hitam rapih langsung menghadap Jayden. Ada dua orang yang datang membawa sebuah kursi singgasana lalu kemudian Jayden duduk di kursi itu.
Mengibaskan jubahnya, Jayden duduk dengan keangkuhan. "Panggil pak Nuri kesini!" titah Jayden, lalu salah satu anak buahnya mengangguk patuh.
Tuan Nuri, adalah ayah dari Andre, kenapa pria asing ini bisa tau dengan ayahnya? Andre merasa bingung, begitupun semua orang yang ada di sini, hanya bisa diam membeku.
Merasa pria ini jahat, Andre lalu berjalan mendekati Sheena, menatap was-was, menarik tubuh Sheena, menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Jangan dekat-dekat dengannya Sheen, dia pria misterius yang berbahaya!" menatap nyalang pada Jayden, meski begitu Jayden tidak terpengaruh sama sekali.
Namun yang membuatnya geram adalah Andre yang menggenggam tangan Sheena, entah kenapa darah Jayden seperti mendidih seketika. Jayden mencengkeram pegangan kursi dengan perasaan kesal.
"Ada apa ini? kenapa ramai-ramai?" tuan Nuri datang melihat kerusuhan.
Lalu saat matanya bersibobrok langsung dengan Jayden, pria paruh baya itu refleks menunduk. "T-tuan Jayden, kenapa anda bisa ada di sini?"
Jayden menopang dagu, pria itu mendengus. "Kau datang juga akhirnya."
"Ayah apa maksudnya ini? apa ayah mengenal pria itu?" tanya Andre dengan marahnya.
"Diamlah!" pak Nuri mendesis, memicing menatap putranya. "Beliau adalah tuan Jayden, penguasa yang mempunyai tempat ini."
Semua orang terperanjat begitupun dengan Andre yang tampak tak terima. "Tidak mungkin ini Ayah, kita orang kaya bagaimana mungkin ayah menyewa tempat pada orang tak jelas ini?"
Jayden lagi-lagi mendengkus. "Congkak sekali bicara anda, apa anda tidak tahu saya bahkan bisa membeli harganya diri anda."
"Jika saya ingin." Jayden melipat tangan, aura kepimpinan juga intimidasinya seakan mencekik orang-orang sekitar, para gadis berteriak manja melihat pria paling tampan yang pernah mereka temui. Andre menatap geram dengan tangan terkepal.
Namun Jayden tidak perduli itu, matanya bahkan tak pernah memutus pandangan pada gadis yang kini terus menunduk.
Sheena menatap was-was semua orang, di saat para wanita lain memuja-muja Jayden tidak dengan gadis itu, yang langsung menghampiri Dimas dan menggandengya untuk pergi.
Jayden terkesiap melihat Sheena yang sudah melipir pergi, pria itu lalu berdiri dari duduknya.
"Kevin, kau urus yang di sini." titahnya pada sang asisten.
__ADS_1
Kevin mengangguk. "Baik tuan."
"Pastikan mereka semua mendapat pelajaran!" suara Jayden begitu tajam terdengar.
"Terutama pada kedua orang itu!" Jayden menunjuk Randi dan ibunya dengan tatapan sinis yang mematikan, membuat mereka berdua bergidik takut.
Tanpa mendengarkan ucapan Kevin yang terpotong, Jayden sudah memilih pergi memecah kerumunan, mengejar sang gadis yang menjadi incarannya.
***
Sheena berjalan lebih bersama Dimas yang di tuntunannya. kejadian hari ini cukup sampai di sini saja, Sheena tidak akan lagi termakan omongan Randi juga gengnya dan membuat harga dirinya terinjak seperti tadi.
"Kak, kita mau kemana?" Dimas menatap khawatir kakaknya.
"Kita pulang Dimas. kerumah!" tanpa sadar saat kakinya terus melangkah, air matanya turun begitu saja. Mengingat dia bukan anak kandung dari orang tuanya, juga cemoohan warga di sini.
"Hiks, apa yang harus kulakukan?" Sheena menjadi lemah, berjongkok, tergugu dalam tangisnya.
Dimas terkejut, lalu bocah itu ikut berjongkok, memegang kedua tangan kakaknya. "Kak, kakak nangis?"
Tak ada jawaban, hanya isakan Sheena yang terdengar tertahan, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Dimas memeluk sang kakak, menepuk-nepuk punggung kakaknya. "Manusia itu jahat ya kak."
"Kakak jangan nangis, nanti Dimas juga ikut nangis." Dimas sedih melihat kakaknya yang selalu ceria menjadi seperti ini.
Tekadnya menjadi semakin kuat, jika dia sudah besar nanti dia akan selalu melindungi kakaknya, dari lontaran kata-kata jahat para manusia tak bertanggung jawab itu.
"Dimas, kak Nana udah gak apa-apa." Sheena membuka wajahnya.
Sheena tertawa pelan. "kalau jadi Ultraman harus ngelindungin semua orang dong, bukan kakak doang."
"Orang-orang nomor yang ke sekian, kak Nana yang nomor satu."
Sheena tersenyum, menjawil hidung bocah itu. "Bisa aja."
"Kakak jangan sedih lagi ya."
"Gak kok, kakak udah gak sedih."
"Janji abis ini gak boleh sedih lagi?" Dimas menjulurkan kelingkingnya.
Sheena tersenyum. "Janji." lalu menautkan kelingking mereka berdua.
Tanpa di sadari ada seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka, Jayden sejak tadi memperhatikan interaksi kakak dan adik itu, dengan bersidekap dada, dan raut wajah yang tak terbaca. Mungkin antara terharu atau merasa hubungan adik kakak itu begitu manis.
"Ekhem!" Jayden berdeham keras, Sheena dan Dimas refleks menoleh.
Sheena berdiri, mengenggam erat tangan Dimas, merasa kaget dengan kehadiran pria itu.
"Tuan ... kenapa bisa ada di sini?"
__ADS_1
Wajah Jayden tampak terkejut, lalu dia mengalihkan pandangan. "Hanya kebetulan lewat saja."
"Tapi bukankah ini tidak adil? kau bisa hidup dengan tenang dua bulan belakangan ini tanpa mengingat kesepakatan yang akan kita buat."
Dimas mendongak menatap Jayden. "Waah, pria ini tinggi sekali." memandang Jayden dengan takjub.
"Hussst! Dimas, jangan bicara macam-macam."
Jayden terkekeh geli. "Dia hanya memujiku, Kenapa kau waspada sekali?"
"Anu, itu, takut menyinggung anda tuan." Sheena menelan saliva susah payah.
Sheena lalu menekuk lutut di depan Adiknya. "Dimas, kakak mau ngobrol sama tuan ini sebentar, Dimas bisa nyusul kak Rasti duluan, dia ada di parkiran sekarang."
Dimas menatap polos kedua orang dewasa ini. "Oke, tapi kakak, kalau nanti tuan raksasa ini macam-macam ke kakak, bilang aku yah, biar aku habisin dia." mengacungkan tangan tinggi-tinggi, seketika cosplay jadi Ultraman.
Jayden menutup mulut dengan tangan, menahan tawanya, sementara Sheena tersenyum. "Siap, kakak bakal Ingat, kamu pergi dulu ya, kakak bakal nyusul nanti." mengusap kepala Dimas sekilas, lalu bocah itu pergi.
***
"Ah, sial semua rencana ku hancur! sekarang pesta pertunangan ku saja sudah hancur!" sentak Raina dengan wajah penuh amarah, melihat pesta pertunangannya yang kacau balau.
"Semuanya karena pria itu, siapa sih dia? datang-datang jadi sok pahlawan kesiangan!" Rania begitu geram, rencananya ingin mempermalukan Sheena gagal total, malah dia yang di permalukan.
Lalu Andre datang dengan wajah mendung, Raina langsung menghampiri tunangannya itu.
"Sayang gimana ini? masa pestanya gak jadi di adain sih?"
"Diam kamu!" sentak Andre dengan kasar. "Udah masalah runyam, kamu malah bikin rusuh."
"Tapi bagaimana dengan pesta pertunangan kita?"
"Gak ada pesta pertunangan! semuanya gagal, kamu gak liat tadi pengawal pria misterius itu ngusir kita kaya pengemis? gedung itu bukan punya ayah tapi di sewakan."
Raina memberengut sebal. "Lagian kenapa sih ayahmu pake segala nyewa gedung, kirain punya sendiri."
"Kamu pikir pesta pertunangan wah dan spektakuler ini gak ngeluarin biaya banyak? mikir pake otak, masih untung aku masih mau ngemis-ngemis ke orang tuaku cuma demi keegoisan kamu."
"Ya itukan memang kewajiban kamu sebagai calon suami." Suara Raina melemah, wanita itu sudah akan menangis.
"Sudahlah pusing, kamu bisanya cuma nangis, nangis!" bentak Andre lalu pergi.
"Sial, kalau kaya gini gue bisa gagal jadi menantu orang kaya!" sebal Raina menghentakkan kaki saat melihat Andre pergi dengan kemarahan.
"Semua ini gara-gara Sheena, awas aja lo!"
***
Bonus visual Jayden Alexander
__ADS_1
Afsheena Daisy