Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Pengampunan


__ADS_3

Sheena bingung, ia mengigit bibir dengan wajah cemas, di liriknya ke sekitar orang-orang ternyata hanya penasaran sebentar, setelah melihat mereka memilih kembali sibuk pada urusan masing-masing.


Sementara bodyguard yang bertugas menjaganya tetap berdiri setia dengan tegak tanpa mau mencampuri urusan itu.


Bola mata Sheena bergerak tak tentu, bibirnya terasa keluh, ia menelan saliva dengan susah payah.


"Kalian berdirilah dulu, tak pantas jika sampai berlutut seperti ini," ujar Sheena akhirnya.


Tapi kedua orang berbeda gender itu menggeleng. "Tidak, Sheena tidak! mohon ampuni kami dahulu, bebaskan kami dari penderitaan yang tak berkesudahan seperti ini!" ucap mereka serempak, seakan-akan mereka sedang di ancaman besar.


Raina dengan baju compang-camping nya maju mendekatinya tak di pedulikannya lagi rasa malu, ancaman dari orang-orang berbaju hitam dengan topeng itu lebih menakutkan dari pada apapun sekarang. Dia harus bisa mendapatkan maaf Sheena, tak peduli tulus atau tidak.


"Na, aku yang paling bersalah padamu, tolong Na, tolong maafkan aku!" wanita itu menangis lagi, teringat siksaan yang di berikan bertubi-tubi kepada nya dari manusia-manusia menyeramkan yang memakai pakaian serba hitam saat itu.


Sheena di buat semakin kalut, otaknya tidak bisa mencerna, ia blank seketika.


Tak ada tanggapan dari Sheena, membuat Raina bertindak nekat, ia bersujud, bahkan sampai mencium telapak kaki gadis itu.


Sheena tersentak sekaligus terhenyak. "A-apa y-yang kau lakukan Raina!" ia buru-buru menjauhkan kakinya, namun Raina terus menggapainya.


Melihat itu, kali ini Andre pun melakukan yang sama, rasanya urat malu pria itupun sudah lenyap entah kemana. Tempo lalu datang segerombolan pria dengan pakaian hitam dan topeng menyeramkan menyerbu rumah mereka, entah apa penyebabnya orang-orang itu mengancam, menyiksa mereka, bilang harus meminta maaf pada wanita yang mereka sakiti dengan perkataannya jika tidak ingin di siksa terus-menerus.


Mereka sudah hancur, teringat Sheena yang mereka sakiti dengan perkataan menyakitkan, mereka buru-buru kesini tentu dengan instruksi dari orang aneh yang meneror mereka lewat SMS dan telepon.


Mereka seperti hilang akal, tak ada lagi rumah di tambah ancaman menyeramkan itu atau nyawa mereka akan melayang, lalu pada akhirnya Raina dan Andre terpaksa mengikuti perintah untuk meminta maaf dan pengampunan pada Sheena.


"Na, tolong maafkan kami!" seakan mempunyai jiwa yang sama mereka kembali berkata berbarengan.

__ADS_1


Nafas Sheena seakan tercekat melihat pemandangan ini, sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka?


"B-baik, baiklah. Aku memaafkan kalian, aku mengampuni kalian," ucap Sheena akhirnya.


Mendengar itu keduanya lantas berdiri, Andre memakai tongkatnya, Sheena meringis melihatnya.


Keduanya lalu mengucapkan beribu-ribu terima kasih, mereka yang selalu sombong dan angkuh pada mendadak seperti orang yang tak berdaya di depannya saat ini.


Raina melirik ke sekitar, tak sengaja matanya menangkap sosok seorang pria dengan memakai topi, lalu saat ia melihatnya pria itu membuka sedikit topinya memandangnya dengan lekat.


Itu pasti orang suruhan mereka, batin Raina dengan ketakutannya.


Semua notifikasi SMS masuk ke gawainya, Raina cepat-cepat membukanya.


[Kerja bagus.]


"Terimakasih Sheena, terima kasih, kau adalah penyelamat kami." keduanya menangis lagi, tak peduli jika kini mereka menjadi tontonan orang-orang.


"Kami berjanji tidak akan lagi mengusik hidup mu, kami akan pergi sejauh-jauhnya."


...----------------...


Lima belas menit sudah berlalu setelah kepergian Andre dan Raina. Sheena duduk terpekur di mejanya, karena masalah ini lima dessert box di atas meja entah kenapa jadi tak membuatnya tergugah, rasanya hambar. Ia penasaran apa yang sebenarnya terjadi.


"Sedang melamun?" sahut seseorang, Sheena menoleh, di dapatinnya tubuh gagah dengan wajah tampan itu duduk di sampingnya.


"Tuan? kenapa ada di sini?" Sheena terperanjat, membetulkan duduknya.

__ADS_1


"Menyusul kmu, kata Kevin kau sedang berada di cafe yang di sarankan nya."


Sheena tersenyum. "Aku membeli manisan. kue-kue di sini sangat cantik." matanya menyipit selaras dengan senyumnya yang manis.


Jayden mengulas senyum tipis, mengusap anak rambut sang kekasih yang berantakan dan menyelipkannya di belakang telinga.


Sontak perlakuan manis Jayden itu membuat rona merah timbul di pipinya.


Cup! Jayden mengecup sekilas pipi merah itu, Sheena melotot. "Tuan, ini tempat ramai!"


"Kenapa memangnya?" cup! sekali lagi ia mengecup pipi Sheena sebelahnya.


"Toh aku pemilik cafe ini."


Sheena membelalak. "benarkah?"


Jayden mengangguk. "Jadi kau tidak perlu merasa sungkan."


Setelahnya Sheena mencebik. "ish tuan dingin sombong."


Jayden tertawa mendengarnya, mungkin akan menjadi hal yang langka untuk semua karyawan yang melihatnya.


"Oh my God! oh my God! lihatlah, tuan CEO kita tertawa!" bisik-bisik mulai terdengar, Jayden tak memperdulikannya, ia fokus menatap wajah sang kekasih saat ini.


"Kita pergi?" Jayden mengenggam erat tangan mungil Sheena.


"Kemana?" Sheena bertanya.

__ADS_1


"Kita fitting baju pengantin," kata jayden.


__ADS_2