
Di ruangan gelap yang hanya di terangi cahaya lampu tempel, suara desiran angin membuat tirai di beberapa jendela melambai, di kursi kebesarannya, Jayden duduk tercenung dengan menekuk sikut di atas meja, sepuluh jarinya bertaut menopang dagu.
Matanya yang setajam elang menatap lurus ke depan dengan pikiran berkecamuk, ia kembali mengingat tentang obrolan tak terduga bersama Vania tadi siang.
"Jayden, aku ingin ... kamu membatalkan perjodohan mu dengan Viona."
Jayden sedikit terkesiap, ia kini menatap Vania dengan serius dan juga tajam. "Apa maksud mu?" nadanya sedikit di tekankan, pertanda wanita itu tak punya hak untuk mengaturnya.
"A-aku tahu aku begitu lancang, tapi Jayden ... "Suara Vania terhenti, wanita itu begitu pandai memainkan ekspresi, padahal tadi dia terlihat tenang, namun kini sudah ada kaca-kaca di matanya, wanita itu menangis.
"Aku mencintaimu, Jayden." ungkapnya dengan secara tiba-tiba.
"Aku tak bisa hidup tanpa mu. Aku menyesal seandainya aku tahu kamulah pria yang di maksud Daddy untuk di jodohkan dengan ku, aku pasti akan menerima perjodohan itu lebih dulu."
Ya, mungkin semua orang sudah tahu fakta itu. Sejak awal tuan David de chullen dan kakeknya sudah membuat rencana akan menjodohkan dirinya dengan salah satu dari dua putri tuan David, umur Vania lima tahun lebih tua daripada Viona, Vania seangkatan dengannya saat masa kuliah dulu, sebelum akhirnya Jayden di pindahkan sang kakek ke Harvard university dan Vania pindah ke Paris.
Sejak saat itu Jayden tak pernah lagi bertemu dengan Vania atau kontakan dengannya, sang kakek bilang Vania tak ingin di jodohkan dengannya, namun Jayden tak perduli, ia pikir rencana perjodohan bodoh ini akan hilang ketika Vania menolak keras usul itu.
Namun tuan David dan kakek tak kehilangan akal, mereka yang penuh dengan ambisi akhirnya menumbalkan Viona untuk menggantikan Vania dalam perjodohan konyol, saat itu Jayden tak cukup kuat untuk melawan ditaktor sang kakek dan dia hanya menurut.
Kesepakatan pun di buat di atas sebuah lembaran putih dan di bumbui tanda tangan. Pertunangan resmi akan di laksanakan saat Jayden sudah cukup umur untuk menjalankan perusahaan sang kakek. Dan itu beberapa bulan lagi, itu artinya pertunangan resminya dengan Viona pun akan segera di gelar.
Dan tiba-tiba saja, wanita ini, yang menghilang lebih dari lima tahun lalu kembali lagi tanpa rasa beban sedikit pun memintanya untuk membatalkan perjodohan. Apa-apaan?
Jayden memang berniat untuk membatalkan perjodohan ini, namun bukan berarti seorang wanita yang tak ada hubungan apa-apa dengannya bisa seenaknya mengatur.
Jayden membuang nafas ke udara, kepalanya menengadah menatap langit-langit, hari ini lumayan lelah karna dia harus bertemu dengan beberapa investor dan klien yang menyita waktu, ia menatap jam di pergelangan tangan kirinya, lalu berdiri melakukan sedikit peregangan otot, mengambil jubah hitam dan menenteng tasnya, Jayden memilih untuk kembali ke mansion.
Berendam air panas sepertinya akan menjadi ide yang bagus.
...****************...
Di kamar Sheena menatap beberapa barang yang ia keluarkan dari dalam kotak hitam ukiran kayu itu, selain foto usang itu, semua barang yang ia temukan seakan tak berguna, hanya beberapa mainan, sebuah gelang tangan berbahan biji ex yang di keringkan.
__ADS_1
Sheena menghela nafas lesu, ia lalu membereskan semua barang-barang itu kembali di atas kasur dan menaruhnya kembali ke dalam kotak.
Frustasi, Sheena mencoba merebahkan diri ke kasur setelahnya, ia menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan gundah, Sheena teringat kembali perbincangannya dengan nyonya Kananya beberapa jam lalu.
"Panti asuhan (Terima kasih bunda) ? aku tak pernah mendengar nama panti asuhan itu," ujar nyonya Kananya saat ia mengamati foto yang di berikan Sheena.
"Benarkah?" bahu Sheena merosot seketika. Merasa tak ada harapan lagi.
"Kamu bilang foto ini di berikan oleh ayahmu, kenapa kamu tidak bertanya pada ayahmu saja di mana tempatnya?"
Sebelumnya Sheena memang sudah bercerita tentang masalahnya, Sheena tak yakin tapi baru kali ini ia bisa bebas bercerita pada orang asing selain pada Rasti. Dan itu melegakan.
Sheena tersenyum getir. "Aku tak bisa, aku terlalu sungkan untuk bertanya." matanya menatap kosong ke bawah.
"Kenapa?" nyonya Kanaya bertanya lembut, menyentuh punggung tangan gadis itu.
Sheena menunduk, berusaha mengatur deru nafas yang kini mulai tercekat. "Keputusan ku untuk mencari kedua orang tua asli ku sempat di tentang oleh ayah. Aku masih ingat bagaimana raut wajah ayah yang begitu kecewa saat menatap ku sebelum kami mengucapkan perpisahan."
"Aku percaya ayahmu pasti sangat menyayangi mu, terlepas dari apapun, tak perduli kalian memiliki darah yang sama atau tidak. Tapi dia sangat menyayangi mu, Sheena."
Sheena menerawang, mengingat kembali perkataan terakhir nyonya Kanaya, Membuat ia berfikir ulang, apakah dia menyerah saja dan kembali pada orang tuanya? Tapi rasa penasarannya tak bisa di abaikan, bertahun-tahun Sheena hidup di dalam kebohongan tentang jati dirinya yang sebenarnya.
Suara klakson mobil membuat Sheena berdiri dari kasurnya, dengan cepat ia berjalan ke arah jendela yang langsung menghadap ke halaman utama mansion, dia melihat mobil Fortuner hitam Jayden yang memasuki pekarangan, Sheena segera saja berlari keluar pintu dengan energi yang seperti di isi penuh.
"Tuan!"
Di depan pintu utama Jayden terkesiap saat tubuhnya hampir bertubrukan dengan tubuh Sheena yang muncul di hadapannya. Mata Jayden seketika memicing tajam.
"Ada apa?!" Jayden berkata dingin. Sedangkan gadis di depannya malah tersenyum lebar membuat Jayden mengerut dahi.
"Tuan, selamat malam!" suara melengking Sheena membuat Jayden menjauh seketika. Menyelamatkan telinganya.
"Bisakah kau tidak berteriak begitu? ini sudah malam!"
__ADS_1
Sheena nyengir kuda. "Maaf tuan." entah kenapa Jayden merasa aneh? gadis ini lebih aktraktif dari pada biasanya dan itu membuat Jayden heran.
Sheena tanpa ba-bi-bu lagi mengambil alih jubah dan tas Jayden ke tangannya. " Tuan sudah makan? atau mau istirahat dulu? atau mau saya siapkan air hangat?"
Bukannya mengindahkan ucapan Sheena, Jayden melangkahkan kaki mendekat, Membuat tubuh Sheena menebang terserang gugup..
"Kau kenapa?" Jayden berbicara tepat di depan wajahnya, menyebabkan pupil mata Sheena melebar seketika.
Sheena menggeleng. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin melakukan tugas ku dengan baik."
Jayden menegakkan bahu, bersidekap dada. "Sudah seminggu kau bekerja di sini, baru menyadari tugas mu."
"Issh tuan nyebelin deh, aku gak rajin salah, gak rajin salah."
Jayden mendengkus, menyentil gadis itu. Kebiasaan deh! Sheena mengurucutkan bibir seketika, membuat Jayden semakin gemas.
"Bicaralah, apa yang ingin kau katakan?"
"Eh?" Sheena terhenyak, apa tuan dingin ini bisa membaca pikirannya?
"Kok tuan bisa tau aku mau ngomong sesuatu? tuan cenayang ya?"
(Cenayang : semacam peramal gitu)
Jayden mendengkus. "Melihat gerak-gerik mu yang seperti ini kentara sekali kau ingin meminta sesuatu padaku. Hal itu di namakan bahasa tubuh, kau akan mengerti jika kau tahu."
Baiklah, Sheena harus banyak belajar, pria ini terlalu pintar dan misterius.
Sheena melengkungkan bibir kembali. "Baiklah tuan, apa aku bisa meminta sesuatu padamu?"
"Apa?"
"Aku ingin bekerja di Perusahaan mu."
__ADS_1