
Sesampainya di rumah sakit tempat sang kakek di rawat, setelah memberi konfirmasi pada suster, jayden menyusuri ke sekitar lorong dengan perasaan harap-harap cemas.
Dengan beberapa pengawal yang mengikuti di belakang juga Kevin di sampingnya, Jayden sampai di ruang VIP tempat sang kakek di rawat.
Jayden berhenti menengok sekilas. "Kalian tunggu lah di sini!"
Kevin dan para pengawal berjas rapi itu mengangguk, menurut. Berpencar, mengamankan ke sekitar lorong.
Setelah menemukan pintu kamar sang kakek, Jayden terdiam sejenak, mengatur deru nafas yang tersengal-sengal. Meskipun hubungan mereka tidak terlalu baik bukan berarti Jayden tak peduli pada sang kakek, bahkan sangat peduli, mungkin yang orang-orang lihat tidak seperti itu, namun sangatlah memperdulikan sang kakek, ia menyayanginya sebagaimana keluarga, meski selalu terlibat perang dingin, Jayden tak pernah memberontak kecuali tentang urusan perjodohan yang akhir-akhir ini semakin meretakkan hubungan mereka.
Di samping itu Jayden adalah cucu yang perhatian, hanya saja cara perhatian Jayden sedikit berbeda, baginya sang kakek bukan hanya keluarga tapi pahlawannya, ia bisa menurut perintah sang kakek jika memang itu baik. Sedingin dan sekeras apapun hubungan mereka sekarang, Jayden tak akan bisa membenci sang kakek, karna tidak bisa di pungkiri, berkat sang kakek lah dia sebesar sekarang.
Kecuali jika memang kakeknya memiliki kesalahan yang sangat fatal atau menyembunyikan rahasia besar terkait tentang orang tuanya, Jayden tidak yakin masih bisa untuk menghormatinya.
Jayden menarik nafas dalam, menetralkan raut wajahnya, lalu, ceklek! pintu kamar terbuka.
Semua orang yang ada di sana, otomatis menoleh padanya, kebanyakan mereka adalah anggota inti mafia juga kaki tangan sang kakek yang berdiri di sekitar brankar kakeknya dengan raut wajah nanar, kentara kekhawatiran, ada juga yang beraut biasa saja.
Jayden perlahan melangkahkan kaki, semua orang menunduk padanya, "Tuan muda," seruan itu bersahut-sahutan, mereka semua memberi salam pada Jayden.
Sementara Jayden melihat sang kakek yang nampak tak berdaya di atas brankar nya, Pak Ravin menoleh begitu menyadari kehadiran Jayden.
__ADS_1
"Tuan muda, anda akhirnya datang," tuan Ravin menunduk hormat.
"Bagaimana keadaan kakek?"
Jayden menoleh menatap pak Ravin, suara-suara yang di timbulkan dari mesin yang terpasang pada tubuh sang kakek membuatnya sedikit tak nyaman, itu mengingatkannya tentang lima belas tahun lalu, saat dia selalu di paksa untuk minum obat oleh beberapa suster dan dokter, setelah melihat mayat ayah dan bundanya yang melintas dari ruang jenazah, hal itu memberikan rasa trauma tersendiri untuk Jayden. Dia benar-benar tak menyukai tempat ini.
Perlahan pak Ravin menunduk sedih, matanya terkulai lemah. "Sangat buruk tuan muda, penyakit jantung koroner yang tuan besar derita semakin parah, tekanan darah tuan besar juga sangat tinggi, tidak ada yang baik, dokter sudah menyarankan untuk di pindahkan saja ke rumah sakit terkenal di luar negri, tapi tuan besar dengan tegas menolak."
"Tuan besar tidak ingin meninggalkan markas yang ada di sini, juga Ananta group yang sedang ada proyek besar di sini, dan yang paling penting tuan besar ... "
"Tuan besar kenapa?" tanya Jayden penasaran dengan kelanjutan ucapannya.
"Tuan besar ingin anda segera menikah tuan. Tuan besar ingin melihat anda mempunyai keluarga lengkap, dia merasa bersalah karena anda tumbuh tanpa kasih sayang orang tua."
"Oleh karena itu tadi tuan besar berpesan, segeralah tuan muda menikah, memiliki keluarga yang harmonis, juga memberikan pewaris untuk generasi berikutnya."
Jayden tak mempedulikan pernyataan maaf pak Ravin, ia mendekat merasa ada yang janggal, ia memeriksa denyut nadi sang kakek juga detak jantungnya, hembusan nafas yang keluar, layaknya seorang dokter yang sedang memeriksa pasiennya.Semua orang terkesiap, apa yang coba di lakukan tuan muda mereka ini?
"Kakek, berhentilah berpura-pura, aku tahu kau baik-baik saja."
Semua orang terbelalak. Tuan Ravin mendekat. "Tuan muda apa yang anda lakukan? tuan besar benar-benar dalam keadaan tidak baik-baik saja," serunya panik.
Jayden menoleh pada pak Ravin, menyantelkan kedua jempolnya pada saku celana dengan wajah mengeras. "Kau pikir aku anak kecil bisa di bohongi seperti ini?"
"Kakek, jangan mempermainkan kesehatan mu hanya demi ambisimu semata," tekan Jayden membuat semua orang yang ada di sana merinding.
__ADS_1
Hening, tak ada yang berani bersuara, bahkan pak Ravin, orang kepercayaan tuan Yudistira, hanya diam menunduk.
Mereka seperti melakukan hal sia-sia dan konyol, bagaimana bisa seorang Jayden Alexander bisa di bohongi seperti ini?
Perlahan kelopak mata berkeriput itu terbuka, tuan Yudistira siuman, lebih tepatnya memilih bangun.
"Jayden, aku hanya ingin melihat kau bahagia, apa itu salah?"
"Bukan kau bukan ingin melihat ku bahagia, tapi kau hanya ingin meraih ambisi besar mu itu." katanya sarkas.
"Jayden Alexander!" suara tuan Yudis membentak. "Apa seburuk itu aku di matamu hah?"
Tepat saat itu terdengar pintu diketuk, tok!tok!
Perlahan seraut wajah cantik Viona menyembul dari balik pintu.
"Bolehkah aku masuk?" Viona berdiri di ambang pintu, dengan gaun mewah dan barang branded yang melekat pada tubuhnya.
"Viona, masuklah," kata tuan Yudis dengan suara pelan.
Sebenarnya Viona sudah ada di sini sadari tadi, menunggu di depan pintu yang tertutup, dia tahu keadaan sedang tidak baik di dalam, jadi dia menunggu situasi reda.
"Maaf jika menganggu kakek, tapi bisakah aku bicara dengan Jayden?"
Viona pun memang sudah tahu jika keadaan kakek yang sedang sekarat hanya kepura-puraan saja. Ia tak menyangka sebegitu besarnya tuan Yudis ingin menjodohkan cucunya dengan keluarga mereka.
__ADS_1
"Silahkan Viona, sekalian nasehati lah berandal itu," kata sang kakek lugas.
Jayden memilih mengabaikan, lalu mengikuti Viona keluar.