Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Membicarakan kesepakatan yang tertunda


__ADS_3

Hampir satu jam waktu mereka habiskan hanya berjalan-jalan di kesekitar gedung. Sheena yang memang dasarnya pecicilan dan banyak tingkah sangat canggung dengan situasi seperti ini.


Apalagi Jayden yang cuek bebek, pria itu anyep, dingin bahkan melebihi kutub Utara. Bagaimana bisa ada pria sependiam ini?


"Tuan, sebenarnya kita ngapain sih?" Akhirnya setelah lama diam, Sheena membuka suara juga, tak tahan dengan keheningan yang melanda.


"Ya menurut mu?" Jayden bersikap acuh, kedua tangannya ia masukkan ke dalam kantong celana.


"Isssh sebel, ya udah saya pulang aja!" Sheena menghentakkan kaki dengan kesal.


"Tunggu!" Jayden menarik tangannya.


"Jangan ambekan, kamu bukan anak kecil."


"Ya abis,tuan mau bawa saya kemana?" Sheena memberengut.


"Memangnya kamu ngarep mau di bawa kemana?"


"Ke KUA juga saya mah ayo-ayo aja, mau banget malah." Seru gadis itu.


Jayden mendengkus. "jangan halu!"


"Issh!" Sheena mencebik, melipat tangan. Jayden terkekeh melihatnya, lalu pria itu melempar jasnya hingga mengenai wajah Sheena yang hampir terjengkang.


"Pakai, udara malam ini dingin."


Bukannya senang Sheena malah mencak-mencak. "Kalau perhatian, romantis dikit kek, elah!"


"Dasar tuan beruang kutub, dinginnya bahkan ngalahin udara malam ini!"


Jayden hanya diam, geleng-geleng kepala membiarkan Sheena dengan kebacotannya. Pria itu lalu mengambil benda pipih dalam saku, mengetikkan sesuatu lalu memasukkannya kembali.


"Tunggu sebentar lagi, sopirku akan segera menuju ke sini."


"Kita mau kemana?" tanya Sheena.


"Kerumah ku," ucap Jayden santai.


"Eeeh, ngapain!" Sheena menjadi panik, merapatkan jas hitam Jayden ke tubuhnya.


"Membicarakan kesepakatan yang hampir di buat."


Sheena nampak berfikir. kenapa sih dia bisa berakhir dengan hutang budi ke pria ini? apa Sheena akan menurutinya begitu saja? tapi bagaimana pun dia pria asing.


"Tuan, bisakah hutang budi itu kita anggap lunas saja, hehehe, saya tahu tuan sangat-sangat berjasa karna telah menyelamatkan saya, tapi ... saya juga punya keluarga tuan, saya gak mungkin meninggalkan keluarga saya begitu aja, demi kesepakatan ini." memohon dengan aksen imut,nan kiyowo dan swetty.


Namun Jayden tetaplah pria dingin yang tak berempati.


"Baiklah, kalau begitu beri aku 30 juta, sebagai ganti rugi yang ku bilang dulu."


Waah! ini menjebak namanya.


"Saya gak punya duit sebanyak itu, tuan." cicit Sheena.


Jayden berpaling, menatapnya, sangat tajam hingga membuat Sheena membeku. "Pilihannya hanya dua, menyetujui kesepakatan itu atau ganti rugi."

__ADS_1


Sheena tak membantah lagi, gadis itu hanya menggeleng pelan. "G-gak, saya ikut tuan."


Jayden bersidekap, tersenyum miring. "Good girl."


Mobil Fortuner hitam mendarat di depan mereka, Kevin keluar dari dalam mobil dan membungkuk hormat. "Mobil sudah siap tuan."


"Masuk!" titah Jayden menggerakkan kepalanya isyarat pada Sheena.


Sheena tak langsung melangkah, dia menatap Jayden juga Kevin secara bergantian. "Gak apa-apa nih saya masuk?"


"Memangnya kenapa?" tanya Jayden,sinis.


"Takutnya nanti saya di ciluk, eh-- maksudnya culik, atau saya bakal di kirim ke pasar gelap, ke tempat perdagangan manusia, kan gak ada yang tahu rencana jahat seseorang?"


"Kau menuduh ku?" Jayden menatap garang.


Sheena mendadak ciut. "Hehehe gak tuan, mana berani saya."


"Lagipula nona, jika kami berniat buruk padamu, mana mungkin kami mengantar mu dengan selamat pada hari itu," ujar Kevin menyela.


"Hehehe bener juga yah, maafkan lah emang suka parno orangnya." lalu Sheena menangkap tatapan Jayden yang horor.


"Iya nih, tuan saya masuk,nih masuk." gadis itu menurut masuk ke kursi penumpang. Jayden menggeleng frustasi, lalu memutar langkah untuk masuk di kursi penumpang lainnya.


Di parkiran, Rasti dan Dimas menunggu kedatangan Sheena dengan cemas, wajah mereka sudah memucat karena udara malam ini yang sedikit lebih dingin dari biasanya.


"Benar kakak mu cuma ngobrol sebentar doang dek?" tanya Rasti memastikan.


"Bener kok, kata kak Nana dia cuma sebentar ngobrol sama lelaki itu." Dimas mengusap-ngusap telapak tangannya, menghalau dingin.


"Kira-kira kaya gimana sih perawakannya cowoknya dek? ciri-cirinya gitu?"


"Ya gak seheboh gitu juga dek,Eh tapi beneran mukanya oppa Korea?"


"Iyah kak, ganteng pokoknya." Dimas yang terlalu lugu sampai mengacungkan dua jempolnya.


"Widih hebat juga temen gue, lepas dari buaya Afrika, sekali dapet lagi yang spek oppa Korea. ck!ck!" menggeleng karna merasa takjub.


"Eh tapi ini udah hampir sejam dek, kok kakakmu belum balik juga sih? kita jadi obat nyamuk di sini."


"Gak tau juga kak, eh tapi, jangan-jangan om yang ngajak kak Nana ngobrol itu penjahat lagi?" Dimas yang baru tersadar membelakakan matanya.


"Eh iya, bener juga." Rasti ikut terkejut. "Astaga dragon ball, kita udah lalai dek, kakakmu pasti udah di culik."


Dimas ikut cemas. "Cepet kak, telepon nomor kak Sheena." menggoyang-goyangkan tubuh Rasti dengan panik.


Rasti mengangguk dalam kekhawatiran. "Kamu di sini dulu ya, kakak coba telepon kakakmu."


Rasti lalu sedikit melipir, menekan tombol di ponselnya dengan tangan bergetar. "Duh, angkat dong Sheen." Tak lama telepon berdering.


Sementara Sheena di dalam mobil sedikit tak nyaman, karna getaran yang timbul, mencari-cari hingga sampai ke lubang hidungnya Kevin. gak deng boong!


Mencari asal suara getaran itu, Sheena akhirnya menemukan ponselnya yang ada di saku baju.


"Astaga! aku lupa ngabarin." pekiknya membuat Jayden ikuti terkejut.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Eeeh, ini saya lupa ngabarin Rasti sama adik saya, bisa turunin saya dulu gak? saya mau ngangkat telepon?" tersenyum alakadarnya.


"Kamu bisa mengangkat telpon di sini, kenapa harus keluar?" Jayden berkata dingin.


"Ya ampun pak, eh tuan, ini teh urgent tuan urgent, masalah rahasia kekeluargaan negara Hastinapura!" ucap Sheena nyeleneh, menyerempet kemana-mana.


Mendapat tatapan sinis dari Jayden. "Ijinin saya keluar dulu ya pak, boleh ya? sebentar aja, janji gak akan kabur." singa betina itu berubah menjadi anak kucing dalam sekejap.


Siapa coba yang bakal menolak jika yang memohon selucu ini? haissh.


"Baiklah hanya sebentar, salah satu pengawal ku akan mengikuti mu dari jauh, agar kau tidak kabur."


"Hehehe makasih tuan, baik deh, jadi makin ganteng." Sheena bergurau sedikit.


"Cepat, atau saya berubah pikiran." suara Jayden jadi begitu tajam dan dingin membuat Sheena bergidik seketika.


"Iya deh iya, gak bisa di ajak bercanda dikit ih, dasar patung idup!" setelah mengatakannya Sheena buru-buru keluar,takut di amuk lagi.


"Haaah!" Jayden menghela nafas panjang, memijit pangkal hidungnya yang lancip menjulang bak perosotan anak TK. Ya, kata Kevin setidaknya.


****


'Sheena! lo dari mana aja, anak monyet! gue di sini sama adik lo nungguin ampe jadi santapan nyamuk!'


Suara di seberang sana begitu keras menggelegar, Sheena seketika menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.


"Yang bener aja deh Ras, suara kamu bahkan ngalahin toa rengsek tau gak! lagian aku bisa denger gak budek, biasa aja!" protes Sheena.


Terdengar helaan nafas panjang di sana.


'Lagian kamu sekate-kate malah ilang kencan sama cowok spek oppa Korea, kita malah di tinggalin di sini.'


"Iya, maafin aku. kamu sama Dimas pulang duluan aja Ras, aku ada urusan sebentar."


'Lah gimana ceritanya? ini udah malam loh, kamu mau kemana?'


"Aku ada urusan bentar Ras." suara Sheena jadi melemah, sejujurnya dia pun tak ingin pergi, tapi dia harus melunasi hutang budi ini agar pria dingin itu tak menganggunya lagi.


"Tolong bilangin Dimas ya, biar dia gak khawatir, aku bakal pulang secepatnya kok."


Sementara Rasti di sana, menatap sendu sekaligus cemas, "Tapi kalau nanti orang tua kamu nanyain gimana?"


Sheena menyeka pipinya yang tiba-tiba basah. "Gak apa-apa, kamu gak usah khawatir, nanti aku bakal ijin ke ibu dan ayah." suara Sheena tercekat.


'Sheen, kamu nangis?' suara di seberang telepon bertanya khawatir.


"Gak kok, udah Ras, tolong anterin Dimas sampai rumah, soal ibu sama ayah kamu gak usah cemas, aku bakal ijin ke mereka."


'Iya, aku gak bisa ikut campur juga mungkin masalah kamu urgent banget, tapi tolong jaga diri ya sheen.'


"Iyah pasti ... daah."


Tut! sambungan telepon terputus.

__ADS_1


Bersamaan dengan sesak di dada Sheena yang semakin terasa.


"Mungkin ini adalah kesempatan ku untuk mencari orang tua asliku."


__ADS_2