
"Kenapa kau bersikap semena-mena hah?!" Rasti menodongkan pria itu dengan tatapan tajam, meskipun sebenarnya dadanya berdebar-debar kencang karena ancaman Kevin barusan.
Mereka kini sangat dekat, tangan kekar pria itu masih melingkar di pinggang nya yang ramping. Wangi maskulin yang menguar dari tubuh pria itu juga bisa tercium jelas oleh Rasti dari jarak sedekat ini. Dan itu memabukkan.
Sial! tidak-tidak, wajahnya tiba-tiba memanas. Dengan cepat Rasti memberontak dan menarik diri dari pelukan lelaki itu.
"Lepaskan aku!" Kevin yang tak fokus, lantas kehilangan keseimbangan dirinya, akibat dari berontaknya Rasti, membuat tubuh mereka malah limbung alhasil jatuh ke bawah bersama-sama.
Keduanya mengaduh berbarengan, Rasti sontak menutup mata takut-takut kepalanya yang menyentuh lantai, namun bisa ia rasakan telapak tangan seseorang yang menahan kepalanya agar tidak langsung menyentuh lantai yang keras, kontan saja ia membuka mata.
Lalu sepasang netra hitam berkilauan itu sudah berada di depan matanya, keduanya sama-sama saling menatap selama beberapa saat dalam keheningan.
Ada gelenyar aneh yang mendadak timbul, lagi, Rasti bisa merasakan dadanya yang berdesir hebat.
Entah angin apa, Kevin tiba-tiba saja tersenyum, dan itu terlihat memuakkan untuk Rasti.
"Kenapa memandangi ku terus?aku tahu, aku memang tampan."
Rasti melongos begitu saja mendengar tingkat kepercayaan diri pria itu, meskipun kenyataannya memang demikian, lelaki ini tampan, tapi mana maj Rasti mengakuinya. ia sontak bangun yang membuat Kevin terperanjat seketika.
"Geer, banget sih bahkan wajah mu aja kalah ganteng dari upilnya Shahrukh Khan," cibir Rasti, jengkel.
"Siapa tuh Shahrukh Khan?" Mendengar pernyataan itu, Rasti sontak saja tertawa.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba tawanya reda ketika ingat apa yang akan dia lakukan. Melihat Rasti yang hendak beranjak membuat Kevin dengan secepat kilat menahan tangannya.
"Mau kemana?"
"Apasih, lepasin.Aku mau lihat Sheena!" mata Rasti memicing tajam.
"Gak usah, di sini saja," bantah Kevin.
"Hei, temanku lagi bersedih di dalam sana, Kau tidak lihat tadi perlakuan kasar tuan jayden padanya?!"
"Tuan Jayden tidak mungkin kasar pada wanitanya. Kau sebaiknya diam kalau tak tahu apa-apa." Nada Kevin kali ini sedikit serius.
Mereka saling memandang dengan tatapan tajam, sampai akhirnya Rasti yang mengalah dan mendesah pelan. "Baiklah, tapi jika terjadi apa-apa pada sahabatku, kamu yang ku smacdwon!"
...----------------...
Kata-kata itu seakan terngiang di telinga Sheena membuat mata gadis itu kembali berkabut. Entah apa yang salah, kenapa sikap Jayden jadi seperti ini padanya.
"Kenapa kamu membentak ku?" lirihnya di sela isakan yang semakin keras, suara tangis Sheena seperti anak kecil, hal yang tidak pernah Jayden lihat sebelumnya, dan itu kontan saja membuatnya gemas.
Tapi sebisa mungkin ia harus sembunyikan itu, ia harus tegas kali ini.
"Hanya karena omongan orang-orang yang bahkan tak tahu tentang hidup mu, kau jadi seperti ini?" ujar Jayden dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Kemana Sheena-ku si gadis pemberani dan kuat, apa kah sekarang dia sudah menghilang, di gantikan dengan gadis cengeng di depan ku ini?"
Ucapan Jayden sontak membuat Sheena bingung.
"Harusnya bukan seperti ini caramu menghadapi mereka, bukan dengan menunjuk kan sisi lemah mu. Kau adalah nyonya Alexander, yang suatu saat nanti bisa saja menghadapi hal yang lebih besar dari pada ini."
"A-apa aku memang cengeng? tapi komentar jahat orang-orang itu, hiks, aku tidak bisa menahan perasaan ku." Sheena kembali down, bahkan komentar netizen yang menyuruhnya mati kini teringat pagi padanya.
Jayden mendesah pelan, ia lalu merentangkan kedua tangannya, "Kemarilah." instruksinya.
Dengan cepat Sheena bangun, berjalan dari tengah ranjang ke sisi Jayden, rambutnya yang cepak asal kini terlihat semrawutan dengan wajahnya yang sembab.
Sheena langsung menghambur memeluk erat tubuh jayden, seperti anak koala, ia kaitkan kedua kakinya di belakang pinggang jayden, lalu ia dekap erat leher sang kekasih, merasuk dalam kehangatan yang ia rindukan.
Ia benamkan wajah di batang leher Jayden, mengendus-endus aroma tubuh sang kekasih.
Jayden berbalik lalu duduk di bibir ranjang, Sheena yang seperti ini sungguh sangat manja, dan itu membuatnya terkejut sekaligus senang, karena wanitanya akhirnya bisa menunjukkan perasaan yang sebenarnya Padanya.
"Orang-orang itu jahat, aku membencinya." gerutu Sheena di balik lehernya dan itu kontan membuat senyum kecil timbul di wajah tampan jayden.
Lalu bermenit-menit kemudian terlewati, ia biarkan Sheena yang terus mengoceh dan menggerutu, meluapkan emosinya, apa saja di sebutkan Sheena yang membuatnya kesal, dan Jayden mendengarkan dengan seksama tanpa berkomentar apa-apa, lalu di saat situasi hening yang mendadak, ia bisa mendengar dengkuran halus dari Sheena, menandakan gadis itu ternyata sudah tertidur.
Jayden lalu berdiri dengan hati-hati menahan pinggang Sheena agar gadis itu tidak terbangun, ia menuju sisi ranjang lalu perlahan di baringkannya tubuh mungil itu di atas kasur.
__ADS_1
Ia membetulkan selimut yang sempat berantakan, di tutupinya ke tubuh Sheena hingga ke batas kepala, kemudian ia mengecup cukup lama kening sang wanita, lalu ke ujung hidung dan kedua mata yang terpejam, terakhir di bibir, sekilas.
"Akan ku balas berkali-kali lipat yang membuat mu seperti ini," bisiknya.