Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Trauma Jayden


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Sheena sudah berjibaku dengan tugasnya, jika biasanya dia tidak bisa untuk bangun pagi, mulai sekarang dia bahkan sudah bisa mendisplay waktunya dengan baik.


"Tuan, selamat pagi!" Sheena menyapa dengan ceria pada Jayden yang lewat, seperti biasa, pria itu selalu terlihat sangat rapi, menawan dan berkelas.


Jayden tak menanggapi, melewatinya begitu saja, Sheena melongos, namun dia tetap mengejar lelaki itu hingga ke luar teras.


"Tuan tunggu!" Sheena menggamit ujung lengan pria itu, seperti anak bebek yang mencari induknya.


"Apalagi?" Jayden memindai penampilan Sheena, gadis entah kenapa terlihat lucu dengan bandana biru dan celemek warna senada, sepertinya warna itu cocok untuknya.


Jayden diam-diam menarik sudut bibir, seminggu lalu dia memang menyuruh Gia untuk memberikan peralatan kebersihan juga perlengkapan seperti bandana dan celemek itu, Jayden sendiri yang memilih warnanya, namun dia meminta agar Gia merahasiakan jika dia memberikan semua itu untuk Sheena. Hanya lewat perantaranya saja.


"Tuan, katanya aku bisa kerja di perusahaan mu?" aku benar-benar bisa bekerja kan?"


"Selamat pagi,tuan." seseorang datang Membuat Sheena dan Jayden, suasana menjadi awkward untuk Kevin, dia tersenyum ragu-ragu pada keduanya.


"Kenapa? kayanya serius banget?" tanya Kevin.


Jayden menepis tangan Sheena, namun gadis itu tetap pada kegigihannya. "Tuan, saya boleh kan kerja di kantor anda?"


"Aku bilang akan memikirkan kembali bukan berarti menyutujuinya."


Sheena mendelik. "Gak bisa gitu kasih saya kesempatan?"


"Oh, nona ingin bekerja di perusahaan?" seru Kevin memecah kericuhan yang di buat Sheena, gadis itu refleks menoleh.


"Iya!" Sheena berseru semangat, Jayden memutar mata malas sambil bersidekap dada.


"Ada kok lowongan, ya kan tuan? di bagian secret--" perkataan Kevin terpotong ketika mendapat pelototan tajam dari Jayden, seketika nyalinya melempem seperti kue apem.


"Di bagian apa Kevin? kok di potong sih?"


Kevin menunduk takut-takut. "Gak jadi nona, mendadak saya amnesia," ucapnya.


"Jangan sampai gaji di bekukan lagi." gumam Kevin dalam hati.


"Oh ya kenapa juga nona ingin bekerja yang lain? padahal sudah enak bekerja sebagai asisten tuan, tugasnya kadang cuma rebahan doang lagi, terus udah dapet kartu kredit no limit."


"Maka nikmat mana lagi yang engkau dustakan nona," ucapnya puitis.


"Ish, aku tak pernah berfikir seperti itu, aku ingin mendapat banyak pengalaman juga teman lewat bekerja, lagipula aku juga bosan jika hanya di sini saja."

__ADS_1


Kevin manggut-manggut bergumam. "Saya sih gak bisa memutuskan sih nona, tuan Jayden pemegang kendali utamanya."


Sheena mengangguk. "makanya itu, susah sekali membujuk tuan dingin ini."


Jayden hanya bergeming, tak minat. Sheena sudah memutuskan. "Baiklah, jika aku tidak di ijinkan kerja di kantor mu, ijinkan aku melamar kerja di tempat lain."


"Tunggu!" Jayden menghentikan langkahnya. Ia tak sengaja menatap ke langit, ia akhirnya mencetuskan sebuah pertanyaan pada Sheena.


"Baiklah, jika kau bisa menjawab pertanyaan ini aku akan mengijinkan mu untuk ikut ke perusahaan ku."


"Apa itu tuan?" Sheena antusias.


"Kenapa langit bisa terlihat bewarna biru?"


"Eh, apa?" bukan hanya Sheena, Kevin pun ikut terbengong.


"Waah, jarang-jarang tuan Jayden bisa berbicara banyak seperti ini, langkah! nona Sheena benar-benar telah mengubahnya." Gumam Kevin menatap Sheena dan Jayden bergantian.


"Lah, bukankah langit warnanya memang biru?" seru Sheena, namun Kevin pun tak bisa menjawab.


"Bodoh," ujar Jayden dengan entengnya, pria itu mengusap wajah, kenapa juga dia jadi memberikan pertanyaan untuk gadis ini?


Ada yang salah dengan dirinya.


"Itu jawabannya," ujar Jayden lalu dia sedikit tersentak saat melihat wajah Sheena dan Kevin yang sangat dekat dengannya. Jayden refleks menjauh.


Baik Sheena maupun Kevin sama-sama tercengang, mulut mereka terbuka lebar dengan tatapan yang bahkan tak berkedip.


Prok! prok! Sheena bertepuk tangan. "Tuaan! Anda keren sekali!" serunya dengan heboh, Kevin dan Jayden refleks menutup telinga bersama.


"Tuan genius!" puji Sheena tiada henti. Hal seperti itu sama sekali tak masuk ke otaknya, percayalah.


Jayden menggeleng, tersenyum kecut. "Bukan aku yang genius, tapi kau saja yang terlalu bodoh."


"Kau tidak cocok untuk masuk ke perusahaan ku."


Jayden lalu melenggang pergi hendak masuk ke dalam mobil, Sheena menunduk. "Sepertinya aku memang harus banyak-banyak belajar."


Kevin menepuk-nepuk punggung Sheena, jujur, baru kali ini dia melihat sifat Jayden yang seperti bahkan kata-kata pedas seperti tadi, baru kali ini Kevin mendengarnya dari mulut pria itu.


Tuannya telah banyak berubah, dia sedikit lebih ekspresif tidak kaku seperti dulu. Dan itu berkat gadis yang tanpa sengaja atau mungkin telah sengaja di pertemukan oleh takdir.

__ADS_1


Kaca mobil Jayden yang tertutup perlahan turun, pria itu menoleh. "Jika kau ingin ikut sebaiknya kau cepat bersiap-siap."


"Nona!" Kevin berseru senang begitupun dengan Sheena yang reaksinya begitu gembira.


"Baik!"


...----------------...


Di dalam mobil Fortuner silver itu Sheena tak henti-hentinya menatap ke arah jendela, ia teramat senang akhirnya dia punya kegiatan lain selain menjadi asisten Jayden. Sheena ingin mempunyai banyak teman.


Sejak SD, SMP, SMA maupun kuliah, percaya lah Sheena tak punya lebih dari dua teman saja, yaitu Rasti dan Raina, sebelum akhirnya Raina berkhianat padanya, lalu pria Sheena hanya bisa dekat dengan Andre saja.


Sejak kecil Sheena selalu membatasi ruang lingkupnya, itu tak terlepas dari traumanya dalam pertemanan. Dulu dia sempat mempunyai banyak teman, orang-orang di sekitarnya sangat memujinya, mengatakan dia gadis yang cantik dan ramah.


Para lelaki banyak mengejar-ngejar nya, Sheena menjadi primadona, sampai itulah yang menjadi penyebabnya, perlahan Sheena di jauhi teman-teman yang dulu menyanjungnya berbalik membencinya hanya karna dia yang selalu mendapatkan perhatian lebih dari para cowok, hanya Rasti, Raina dan Andre yang saat itu bertahan di sampingnya.


Sampai pada saat itulah Sheena memiliki trauma kecil dalam menjalin pertemanan baru, dia takut hal yang serupa yang pernah terjadi lagi padanya terjadi lagi. Meskipun Sheena gadis yang ceria dan ekspresif bukan berarti dia tak punya kesedihannya juga.


Macet. Hal yang paling Jayden benci, di saat ia harus menunggu sampai membosankan di dalam mobil saat macet melanda.


Jayden melirik pergelangan tangannya, masih ada dua puluh menit, harusnya dia naik helikopter saja tadi.


Sheena menatap kendaraan yang berdesakan, juga suara klakson yang memekakkan,asap polusi di mana-mana.


Sampai suara benturan besar terdengar, sampai Kevin, Sheena, Jayden dan sopir di samping Kevin pun terkejut.


Tepat di depan mereka terjadi sebuah kecelakaan. Beruntun! darah mengalir di mana-mana, tiga mobil ringsek dengan asap yang mengepul.


Tapi bukan itu yang membuat Sheena terkesiap, reaksi tiba-tiba Jayden lah yang membuat Sheena takut.


Pria itu histeris, seluruh tubuhnya bergetar hebat, Sheena mencoba mendekati namun pria itu menepis tangannya hingga ia tersungkur.


"Tuan? tuan kenapa?" wajah tampan Jayden sangat pucat serupa mayat bola mata pria itu melebar, sungguh ini bukan tuan Jayden bringas yang selalu Sheena lihat.


Kevin melirik ke kaca mobil pria membelakakan mata.


"Kevin, apa ya terjadi pada tuan Jayden?"


Kevin tak mengindahkan pertanyaan Sheena, dia menelpon seseorang lewat sambungan earphone.


"Cepat, kirim helikopter kesini, juga beberapa bodyguard!"

__ADS_1


"Kevin, apa yang terjadi?" Sheena kalut, suasana menjadi mencengkam.


"Tuan Jayden trauma pada kecelakaan nona, dia tidak boleh melihat insiden kecelakaan di depan matanya!"


__ADS_2