
"Tuan!!" Sheena berteriak dari atas sana. Jayden menyungging senyum tipis menanti jawaban gadis berlesung pipi itu, pun dengan gerombolan orang di bawah sana.
Namun apa yang di lihat Jayden membuat sorot matanya meredup, Sheena menggeleng pelan seraya menyipitkan mata yang berembun, gadis itu menggigit bibir bawahnya.
Tak perlu di jelaskan pun Jayden mengerti, semua orang yang kini tengah tersenyum juga kru yang Kevin pimpin untuk menyiapkan ini semua terdiam, senyum itu perlahan luntur di wajah mereka.
Apakah Jayden marah? tidak, pria itu bahkan sempat melambai pada Sheena, massa yang berkumpul perlahan bubar, pejalan kaki melanjutkan langkah mereka masing-masing, pun anak buah Jayden yang meninggalkan area, merasakan tak enak juga, Kevin hendak mendekat, namun melihat Sheena pergi hendak turun, membuat Kevin juga meninggalkan area, memberi ruang untuk kedua insani itu.
Perlahan Sheena mendekat, dengan air mata menganak sungai, menghampiri Jayden yang kini berbalik menatapnya.
"Kenapa kau turun? di sini dingin," ucap Jayden masih terdengar normal,pria itu pandai dalam mengatur ekspresi nya.
Drone-drone yang melayang pergi meninggalkan tempat itu atas instruksi Kevin yang memegang remot kendali, tinggal satu drone yang menari-nari di antara mereka membawa cincin yang telah Jayden siapkan sebelumnya, yang akhirnya di tolak oleh gadis itu.
"Tuan, maafkan aku." Sheena menangis, langsung menghambur memeluk Jayden, kakinya yang pendek berjinjit tinggi hendak menyamai tinggi badan Jayden.
Jayden bergeming, bisa ia rasakan deru nafas Sheena yang tersendat pun Isak kencang tangis itu.
Jayden ingat, Sheena pernah di khianati di hari pernikahan nya sendiri ia di tinggalkan oleh pria yang akan menjadi suaminya, karna lebih memilih wanita lain yang telah merebut pria itu darinya.
Mungkin Sheena saat ini trauma dengan yang namanya hubungan, dan tidak peka dari awal, harusnya tidak secepat ini ia menyatakan perasaannya, wajar gadis itu menolaknya, masih ada luka yang menganga lebar dalam hatinya.
"Jangan menangis, aku tak bisa melihat mu menangis," kata Jayden akhirnya bersuara.
"Maafkan aku tuan, aku b-belum bisa menerimanya," kata Sheena dengan suara tercekat, kegagalan hubungan nya bersama Andre dulu, membuat ia tak bisa menerima orang baru secepat itu, ia belum bisa, hatinya terlalu sakit jika mengingat pengkhianatan Andre dulu.
Jayden mendorong pelan tubuh Sheena, menatap wajahnya dengan lekat, deru nafas mereka menguar di udara yang di dingin ini, membuatnya seperti gumpalan kabut kecil.
Hidung dan pipi Sheena yang putih memerah, Jayden mengusapnya pelan, mendekatkan wajah mereka, memberi kecupan di bawah mata Sheena.
"Apakah aku terkesan memaksa mu? maaf," kata Jayden lirih.
__ADS_1
Sheena menggeleng kuat-kuat, "Tidak, sama sekali tidak tuan, a-aku, aku yang trauma dengan hubungan, hatiku masih belum bisa terbuka, m-maaf kan aku."
Jayden tersenyum miring. "Bodoh, kenapa harus meminta maaf? aku mengerti, kita masih memiliki waktu banyak, aku akan menunggu mu."
Sheena mendongak menatapnya. "kenapa tuan? sekian banyak wanita yang mengejar mu, memuja-muja mu, kenapa aku yang biasa ini yang kau pilih?aku tidak cantik, tidak juga pintar, aku pendek, aku bodoh, tidak kaya, tidak seperti nona Viona ataupun wanita yang mengaku sebagai calon istri mu kemarin, kenapa kamu harus menunggu ku?"
Jayden mendengus kecil. "Haruskah ku jawab alasannya?"
Sheena mengangguk, mengusap air matanya.
"Nazenara watashi wa anata o aishiteirukara ( karena aku mencintaimu)"
Sheena terdiam, bibirnya mengerucut. "Kenapa pakai bahasa Jepang? aku gak ngerti."
Jayden diam lalu tertawa samar, menarik kembali tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Sheena tersenyum, pria itu mungkin tak menjawab, namun Sheena tahu itu jawaban yang ingin dia dengar.
"Tuan aku ... mencintai mu." lirihnya samar, berharap Jayden tak mendengar.
...----------------...
Cincin perak bertahtakan berlian permata itu Jayden berikan padanya, meski ia menolak namun Jayden memintanya untuk menyimpan cincin indah itu.
"Simpanlah, jika suatu hari nanti kau bisa membuka hatimu untuk ku, maka akan ku pasangkan di jari mu nanti."
Kata terakhir Jayden yang ingat, apakah ia merasa bersalah telah menolak lamaran Jayden? tentu, Sheena amat sangat bersalah, tidak seharusnya pria sebaik tuan Jayden. Meskipun terkadang perkataan nya pedas dan ia dingin, namun Sheena tahu, Jayden sangatlah baik.
Namun ada satu hal juga kenapa ia tak bisa menerimanya, Viona, wanita yang sudah di jodohkan dengan Jayden, bagaimana bisa ia menyakiti wanita itu, wanita berwajah teduh itu pasti sangat mencintai Jayden.
"Benar, tuan pasti hanya iseng melamarku saja yakan? bagaimana bisa dia menyukai ku? tidak mungkin, nona Viona bahkan jauh lebih baik dari pada aku." Sheena terkekeh pelan dengan mata yang kembali berembun.
"Tuan pasti berfikir jika aku wanita yang gampang kan, hingga bisa dengan mudah di taklukan, dia bukan benar-benar menyukai mu Sheena, sadarlah!" sentaknya bermonolog, memukul-mukul pipi sendiri.
__ADS_1
"Dunia mu bahkan sangat jauh berbeda dari dunianya, dia pangeran, sedangkan kau hanya seorang pelayan? hahaha benar, pilihan tepat kamu tidak menerima lamarannya," monolog nya kembali.
Drrrt! Drrrt! ponselnya bergetar, Sheena mengambilnya seraya mengusap air mata di pipi.
Unknown number? siapa? ragu, Sheena mengangkat teleponnya.
"Halo? siapa ini?" katanya memulai percakapan.
"Afsheena daisy, apakah benar itu namamu?" suara di seberang sana terdengar lugas dan berat.
"Ya, ini siapa?" alis Sheena mengkerut, mulai panik.
"Aku, Yudistira Alexander, apa benar Jayden telah melamar mu?"
Sheena melebarkan mata, Yudistira Alexander? kakeknya Jayden.
"Y-ya tuan," kata Sheena dengan bibir bergetar.
"Ku peringatkan jika kau menerim--"
"Anda tenang saja tuan, saya menolaknya." elak Sheena cepat memotong perkataan tuan Yudis.
Hening, tak ada suara dari seberang telepon, dada Sheena berdebar menanti reaksi yang terjadi.
Terdengar suara deheman. "Bagus, kau akhirnya sadar diri, siapa kau dan siapa cucuku."
Sheena menunduk, setitik air matanya jatuh. "Anda benar, saya dan tuan Jayden sangatlah berbeda, tak mungkin bisa bersama."
"Benar, cucuku adalah seorang raja yang harus bersanding dengan seorang ratu, bukan pelayan rendahan seperti mu," suara di seberang telepon kembali terdengar, seakan menyadarkan Sheena tentang semua, menyayat hati.
"Dengar kan baik-baik Jayden hanya sekedar bermain-main dengan mu saja, dia hanya penasaran, tak ada yang namanya cinta jika memang itu yang kau harapkan, jadi jangan pernah berharap bisa bersanding dengannya," tukas tuan Yudis, benar-benar menyentak Sheena.
__ADS_1
"Anda tenang saja tuan, saya akan selalu sadar diri, tak akan benar-benar menganggap tuan Jayden mencintai saya, saya pun telah menanamnya di dalam hati, jika tuan jayden hanya iseng melamar, tak benar-benar berniat untuk menjadi kan saya sebagai istrinya."
"Bagus, ternyata kau gadis yang cukup pintar, jika perlu pergilah sejauh-jauhnya dari hidup cucuku, karna kau hanya akan menjadi penghalang," sentak tuan Yudis, lalu mematikan telepon.