Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Tak ingin merasakan debaran-debaran itu sendiri


__ADS_3

Sheena menoleh saat tatapan dalam seseorang mengarah padanya, itu insting, Sheena menatap ke samping, benar saja, seorang pria berperawakan tinggi tengah menatapnya kini.


Sheena menatap bingung, ia tolehkan pandangan ke kanan dan ke kiri, tidak ada siapapun selain dirinya, menggidikkan bahu Sheena bersikap bodoamat, ia hendak berbalik pergi namun sebuah tangan kekar mencekal lengannya, memaksa ia berbalik.


Ia melihat, ternyata pria itu, yang mencekal tangannya.


"Maaf, kenapa kau menarik tangan ku?" Sheena menghempaskan tangan pria itu. "Tidak sopan!"


Pria berwajah timur tengah itu tiba-tiba tertawa. "maaf, aku tidak bermaksud membuat mu risih."


Sheena terkejut. "Kau bisa bahasa Indonesia?"


Pria itu mengangguk. "Tentu saja."


Seperkian detik Sheena tersadar, ia tidak boleh berbicara pada orang asing seperti ini, Sheena lalu menunduk sekilas. "Maaf, aku harus pergi."


"Tunggu!" pria itu kembali mencekal lengannya..


"Apasih! Jangan membuat ku marah ya?!" Sheena kali ini menatap tajam padanya.


"Maaf,maaf." pria itu mengangkat tangannya, peace.


"Aku hanya ingin memberitahu mu, itu ..." pria itu melakukan gerakan tangan menunjuk sudut bibirnya sendiri.


"Apa?" Sheena tak mengerti, mengerutkan alis.


"Ada pasta kacang merah di sudut bibirmu," terangnya.


Sheena membelalak, ia lalu mengambil kaca di tas selempangnya, lalu mengarahkan cermin kecil itu ke wajahnya.


"Astaga, benar." gadis itu memekik, ia mengusap menggunakan ujung jarinya, namun malah semakin belepotan, tak ada tisu di sini.


"Haissh, malu sekali," gumam Sheena, di tempat umum pula.


Sang pria mengerti kesulitannya, ia lalu ke meja resepsionis, "Sumimasen, tisshu o itadakimasu ka?" (permisi, bisakah anda memberi saya tisu?) tanyanya.


Sang resepsionis mengangguk memberinya sekotak kecil tisu, pria Itu kembali lagi, Sheena sempat menatapnya.


"Ini, bersihkan dengan ini," katanya memberikan Sheena tisu itu.


Sheena mengambilnya, mengelap sisa pasta kacang merah yang entah sejak kapan nangkring manis di ujung bibirnya. Yang pasti itu sangat memalukan.

__ADS_1


"Terimakasih, kalau begitu aku permisi," ujarnya, Sheena tak ingin berlama-lama mengobrol dengan pria asing, apalagi ini bukan tempatnya.


Namun saat hendak berbalik sesuatu menerjangnya, membuatnya berjalan mundur hingga menabrak pria itu.


Brak! kardus-kardus besar berjatuhan, namun untungnya tak ada yang mengenai tubuh Sheena, karna seorang pria menjadi kan tubuhnya tameng untuk melindungi Sheena.


Mata bulat Sheena melebar, terkejut, ia buru-buru bangkit, menahan tangan pria yang sudah membantunya itu untuk berdiri.


Sementara para pekerja yang lalai menunduk berkali-kali pada mereka, meminta maaf.


Pria itu mengangguk menahan sakit tubuhnya, tidak apa-apa katanya, lalu dia berpesan agar lain kali untuk hati-hati, para pekerja itu mengangguk mengerti, menumpuk kembali kotak kardus besar itu.


Setelah kepergian mereka, Sheena melihat wajah meringis pria itu. "Kau tidak apa-apa?"


Pria asing itu mengangguk. "Tidak apa-apa." namun wajahnya mengkeruh menunjukkan sebaliknya, tiga kotak kardus besar tadi sangatlah berat, cukup membuat persendian tangannya terasa remuk.


Saat hendak menggapai pria Itu untuk melihat wajahnya, sebuah tangan menghentikannya.


Grep! Sheena menoleh ke samping, ia meringis saat di rasakannya tangan yang di cengkram kuat oleh seseorang.


"T-tuan?" seru Sheena tak menduga ada Jayden di sini.


"Apa yang kau lakukan di sini?" pria itu beraut datar namun ada kilatan tajam di matanya.


Mata elang Jayden semakin melebar saat tahu siapa pria di depannya ini, Begitupun dengan pria di depannya yang langsung menyeringai setelah melihat wajah Jayden.


"Wah, wah, ternyata kau, Jayden Alexander," katanya dengan seringai devil yang terbit.


Jayden diam,menatap lama dengan tatapan tajam bak pedang yang siap menghunus jantung musuhnya, kengerian terjadi, begitu mencengkam membuat Sheena bergidik.


Lalu tanpa aba-aba lagi, Jayden kembali menggamit tangan Sheena, menarik gadis itu dan membawanya pergi. Sejenak pria asing berwajah timur tengah itu terdiam lalu ia tersenyum sarkastis.


"Ini mulai menarik ... " gumamnya dengan seringai iblis nya.


...----------------...


"Tuan, tunggu, lepaskan aku!" Sheena terus berontak ingin di lepaskan, ia seperti di seret-seret oleh langkah pria itu yang lebar. ia semakin meringis ketika di rasakannya cengkraman Jayden semakin kuat.


"Tuan!" Sheena menyentak kasar membuat Jayden akhirnya berhenti.


Mata bulat Sheena memicing menatap nyalang pada Jayden. "Bisa gak sih gak narik-narik?"

__ADS_1


Jayden masih bersikap tenang, berbalik menatap ke arahnya, Sheena benar-benar tak mengerti kenapa sikap pria tiba-tiba menjadi kasar? dan sekarang dia marah tanpa sebab.


"Aku meminta mu untuk tunggu sebentar, kenapa kau malah keluyuran?" Jayden membenamkan tangan ke saku celananya.


"Aku gak keluyuran tuan, aku menunggu mu, kau lihat kan tadi?"


Jayden membuang nafas kasar, melihat tatapan kecewa dari gadis itu membuatnya seperti ingin gila, dia tidak bisa seperti ini.


"Kenapa sih tuan jadi kasar begini? aku ... takut," cicit Sheena, berusaha mengungkap perasaan yang kini dia rasakan.


"Kau takut?"


Sheena mengangguk. "Aku gak biasa dengan sikap tuan yang seperti ini." jujur saja dia benar-benar takut, ia terbiasa dengan sikap Jayden yang dingin dan cuek dengan sekitarnya, lalu saat melihat pria itu marah atau di kuasai amarah seperti tadi, Sheena benar-benar gemetar.


"Baiklah, maaf," kata pria itu singkat, tak ingin melakukan kesalahan lagi kali ini hanya karna kesal melihat Sheena yang bersama pria asing.


Perasaan tak enak itu ... Jayden tak ingin merasakannya lagi.


Sheena tertunduk, mengangguk, ia juga tak ada hak untuk marah pada pria ini. ia lalu sedikit tersentak saat Jayden dengan lembut menggamit tangannya.


Jayden meneliti pergelangan tangan Sheena yang memerah karna ulahnya, pria itu mengusap lembut titik lukanya di sana. "Maaf," ucapnya kali ini benar-benar tulus.


"Apakah sakit?" tanyanya. Sheena menggeleng.


"Aku gak apa-apa, tuan." lalu Sheena mendongak menampilkan senyumnya.


Selama ini sebenernya dia tinggal dengan seorang pria yang seperti apa? Sheena benar-benar tak tahu, pria di depannya ini terlalu misterius untuk dirinya yang kepoan.


"Kau sudah makan?" tanya Jayden setelah beberapa saat mereka hanya saling diam.


Sheena menggeleng, sejak pagi perutnya hanya di isi oleh kue Taiyaki yang di belinya tadi.


Jayden bergeming lalu menarik tangan Sheena lembut, tak ada senyum di sana namun rasa hangat dari tangan besar pria itu bisa di rasakan Sheena saat ini.


"Tuan, kita mau kemana?" tanya Sheena karna bingung pria itu terus menggandengya.


"Kau lapar kan? kita akan pergi makan."


Sheena mematung sejenak, menunduk dengan pipi yang memanas, lalu akhirnya mengikuti langkah Pria itu.


"Tuan Jayden, kalau begini terus aku bisa salah paham dengan semua kebaikan mu." suara hati Sheena lirih.

__ADS_1


Sheena tak ingin merasakan debaran-debaran ini sendiri.


__ADS_2