Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Tugas


__ADS_3

"Tuan, tunggu ... aku ingin bicara!" Sheena menghentikan langkahnya membuat jayden yang menarik tangannya pun ikut berhenti. Sekarang mereka telah jauh dari kerumunan.


"Tuan, apa kamu marah?" tanya Sheena pelan, ia menunduk dengan mata mendongak menatap Jayden, pria itu tetap bergeming meskipun ia telah menunjukkan raut lemahnya.


Bukannya menjawab,tangan Jayden malah terulur merapikan jas hitamnya di punggung Sheena, hingga menutupi pundak gadis itu.


"Di sini dingin, sebaiknya kita segera pulang," tuturnya.


"Tuan, apa kau marah?" tanya Sheena sekali lagi, terdengar lirih, takut-takut jika pria itu beneran marah.


"Tidak." Jayden menjawab singkat, pria itu menghela nafas pelan, menghadap Sheena lalu menatapnya dalam.


"Tapi bisakah kau berjanji padaku satu hal ... "


"Apa itu?" tanya Sheena cepat, ada raut kelegaan di wajahnya karna pria itu tak tersulut emosi, melihat tatapan Jayden barusan yang sungguh menyeramkan baginya.


"Berjanji lah padaku, jangan pernah menemui mereka lagi, apalagi pria itu."


Sheena mengerti apa yang di katakan Jayden, gadis itu mengangguk cepat.


"Aku berjanji, Lagipula yang barusan, aku tak sengaja berpapasan dengan mereka, jadi semuanya terjadi begitu saja."


"Berjanjilah, meskipun kau memang tak sengaja berpapasan, jangan pernah berbicara dengan mereka lagi, walaupun mereka yang berbicara duluan padamu, jangan pernah mengindahkan."


Sheena menurut, dia mengangguk patuh. "Aku janji."


Jayden mengelus pelan pucuk kepala Sheena. "Good girl."


Lalu tangannya beralih ke samping, mengusap lembut pipi Sheena yang sedikit chubby. "Aku hanya tak ingin kejadian seperti ini tak terjadi lagi, apalagi di saat aku tak ada. Tak bisa ku bayangkan kau yang menghadapi ini semua sendiri." terdengar gerakan tertahan dengan gemelutuk keras di rahang kokoh itu.


"Aku pasti akan memberi pelajaran mereka yang setimpal."


Sheena tersenyum, sebegitu besar rasa ingin melindungi Jayden padanya, membuat ia tak henti-hentinya bersyukur di pertemukan kek dengan cinta pertamanya ini.

__ADS_1


Perlahan Sheena mendekat, mula-mula ia memegang pinggang Jayden lalu tangannya melingkar erat di sana, mendongak menatap jayden lalu tersenyum hingga matanya ikut menyipit, kemudian ia menelusup ke dalam dada bidang Jayden yang hangat, mengelus-elus kepalanya di sana seperti anak kecil.


Jayden mendengkus geli, membiarkan Sheena dengan aktivitasnya, terasa sangat nyaman dan menyenangkan saat gadis ini bersikap manja Padanya.


Sheena terkikik geli saat kepalanya menyandar di dada Jayden, biar ia dengar jelas detak kencang jantung pria itu di telinganya.


Dengan kedua tangannya yang besar Jayden menangkup wajah mungil Sheena hingga kini mereka bertatapan, dagu Sheena bersandar pada dadanya.


"Kenapa kau bersikap manja seperti ini? ingin meluluhkan ku, hm?"


Sheena tersenyum sambil menggeleng lucu. Gemas, Jayden memiringkan kepalanya dengan sedikit menunduk, melabuhkan kecupan di bibir mungil itu.


Sheena menyambutnya, yang semula kecupan kini berubah menjadi ciuman yang menggelora dan menuntut, Jayden semakin menekan tengkuk Sheena, memperdalam ciuman mereka, menikmati rasa manis itu hingga mengalir ke aliran darahnya.


Pa*gutan mereka terlepas ketika Sheena memukul dada Jayden pelan karena kehabisan pasokan oksigen, Jayden tersenyum tipis melihat Sheena yang mengambil nafas banyak-banyak.


Sheena menatap matanya. "Tuan, apa kamu yakin belum pernah berpacaran sebelumnya?"


"Tapi ... kenapa, tuan sangat ahli berciuman?" katanya dengan pipi menghangatkan dan bersemu merah.


Jayden menarik sudut bibirnya sekilas. "Itu karena, saat pertama kali melihat mu, aku sudah tahu apa yang harus ku lakukan."


Sheena mengigit bibir, nampak sangat salah tingkah, sikap pria ini, kenapa semakin hari semakin manis ini? merepotkan perasaannya saja.


"Tuan, nona, apa kalian baik--"


Jayden dan Sheena refleks menoleh ke sumber suara, mata Sheena terbelalak dengan terpekik kencang. "Astaga!" sontak saja dengan secepat kilat ia menarik diri dari Jayden, menjauh dengan sempurna.


Sementara Kevin langsung merasa tak enak, ia berdeham singkat. "Ekhem! maaf menganggu waktu romantisnya."


Sheena yang semula memunggungi kembali menghadap, ia memaksakan senyumnya. "Ehehehe, tidak apa, Kevin."


"Oh ya ini ... " Kevin mengalihkan tubuhnya membuat seorang anak kecil di tutupi tubuhnya terlihat.

__ADS_1


Bocah itu melambai padanya. "Hai, kak." nampak wajah Dimas yang sedang menahan tawa.


"Astaga, sejak kapan mereka ada di sini?" batinnya bertanya.


"Tenang nona, kami gak liat apa-apa kok." celetuk Kevin seakan mengetahui isi hatinya.


Sheena mengangguk cepat-cepat. "Ahahaha, ya. Kalau begitu ayo kita kembali."


Sheena berjalan mendahului bahkan tak berani menatap jayden lagi, ia lebih memilih menarik tangan Dimas untuk menemaninya.


Dimas lebih mendekat ke arah Sheena dengan berbisik. "Kakak, kamu sudah dewasa ya."


Sheena mengigit bibir seraya memejam.Ingin rasanya dia bersembunyi di Palung Mariana, saking malunya.


"Kenapa kau datang di saat yang tidak tepat." desis Jayden menatap horor pada Kevin.


Kevin langsung menunduk. "Maaf tuan."


Jayden menarik nafas sambil memasukkan kedua tangan di sakunya celana. "Lupakan saja," katanya.


"Kita kembali ke markas, ada tugas untuk mu."


"Baik tuan!"


*


*


*


Hai, apakabar hari ini? semoga semuanya di beri kesehatan selalu ya🤗


Jangan lupa like,komen, beri gift, vote, dan bintang lima, terimakasih ✨

__ADS_1


__ADS_2