Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Kebenaran yang di sembunyikan


__ADS_3

Afsheena Daisy, gadis manis itu duduk terpekur di teras rumahnya. Sakit hati telah mengambil kewarasan Sheena hingga dia hanya duduk diam saja dengan mata sembab.


"Udah Sheen, lelaki kaya gitu gak usah kamu tangisin," ucap Rasti memeluk bahu sheena, rumah mereka hanya berjarak beberapa rumah saja, makanya Rasti bisa mudah datang kesini.


"Sapa yang nangisin dia coba?!" Sheena menjadi murka.


"Alah udah keliatan itu dari kamu? Si Andre kutu kupret itu mau menikah kan sama si Raina, Raina itu?"


Sheena mengangguk. Tega sekali mereka bahagia di atas penderitaan Sheena.


"Tapi bukan itu masalah utamanya, kondisi ayah sekarang lagi gak baik-baik aja," ucap Sheena nelangsa.


"Oh ya, bagaimana kondisi ayahmu?" benar, Rasti hampir melupakan itu. rasa-rasanya dia tidak akan kuat jika berada di posisi Sheena saat ini, temannya ini memang benar-benar wanita yang tegar.


"Ayah masih terbaring sakit Ras, untung tabungan saat ini masih lebih dari cukup untuk pengobatan ayah, tapi bukan itu yang aku khawatirin."


"Terus apa yang kamu khawatirin?"


"Aku takut ayah pergi Ras."


"Hussst kalau ngomong." Rasti menyenggol lengan Sheena.


"Aku serius, setiap di ajak ngobrol, ayah selalu bilang, yang kata-katanya tuh mengarah buat pergi, kaya ... Jaga ibu kamu ya Sheen, jaga diri baik-baik kalau ayah gak ada, begitu, gimana aku gak takut coba."


Rasti memandang prihatin. "Ya udah kamu terus berdoa aja buat kesembuhan ayah kamu." mengusap pundak sang sahabat.


Sheena mengangguk. "Itumah udah pasti Ras."


"Terus sekarang adik kamu di mana?" tanya Rasti.


"Dimas, udah berangkat sekolah lah, kamu gimana sih ini kan Senin pagi!"


"Ya udah atuh, kamu gak usah marah-marah juga, nanti cepat tua loh."


Sheena menoleh dengan menatap garang, Rasti hanya cengengesan tak jelas. "Mending kita nonton oppa Lee min ho yuk Sheen, dia ada drama terbaru loh."


"Kamu di saat kaya gini, malah ngajakin aku nobar drakor, mending kamu pergi aja deh Ras."


"Hehehe, maaf bercanda,Sheen."


"Kamu kan di undang nih, terus dateng gak di acara pernikahan si kutu kupret itu nanti?"


"Gak tau, gak ada gandengan juga." jawab Sheena malas.


"Emang kamu udah move on gitu dari dia?"

__ADS_1


"Dari siapa? si Andre?" Rasti mengangguk.


"Ya udah lah, udah dari dulu-dulu, muka kaya cangcimen gitu, buat apa di galauin."


"Hahaha kamu bener, lagian si Andre emang gak ganteng-ganteng amat ya, tapi gayanya ituloh sok banget, pengen ku jitak kepala peyangnya."


"Hahaha bener, bisa-bisanya aku pernah suka sama dia dulu, untung gak jadi kawin sama tuh laki."


"HAHAHAHA." Keduanya tertawa dengan terbahak-bahak, Sheena sampai memukul-mukul pundak Rasti saking bergetar punggungnya karna tawa.


"Adu duh duh," Rasti mengaduh kesakitan. "Sakit Sheen, elah pukulan mu keras banget."


"Perasaan aku mukul pelan-pelan deh."


"Pelan matamu, sakitnya sampe ke tulang gini, mending kamu kurang-kurang in tuh porsi makan kamu yang gede." dengus Rasti.


"Apa sih kok malah mengarah ke porsi makan aku? gak jelas kamu Ras!"


"Bener lah, kamu tuh titisannya si Samson,yang makan banyak juga tenaganya kaya banteng, jadi jaga-jaga tuh porsi makan mu."


"Tapi enak juga ya jadi kamu, porsi makan gede tapi gak gemuk-gemuk, gak kaya aku, ngehirup aroma masakan aja bisa berat timbangan."


Sheena geleng-geleng kepala. "Kurus atau gemuk itu udah ada yang ngatur Ras. Tuhan udah menciptakan kita dengan sempurna, kamu gak boleh insecure."


"Bener, tapi kadang aku suka iri liat kamu, kamu cantik muka blesteran korea-pakistan, body perfect, tapi bisa-bisanya yah si kutu kupret itu berpaling dari kamu, Bahkan sama wanita yang kaya Raina, bahkan cakepan kamu dari pada dia."


Rasti mengangguk-ngangguk takzim. "Bener banget kamu Sheen, mungkin emang si Raina nya yang kegatelan, kucing di kasih ikan ya mana mau nolak."


"Udah lah Ras, aku gak mau ngomongin mereka berdua, udah eneg aku."


Rasti mengangguk. "Iyah gak lagi, tapi namanya gibah aku gak bisa nolak hehehe."


"Dasar kamu!" menimpuk kepala Rasti dengan sendal.


Rasti mengaduh.


"SHEENA KAMU EMANG TITISAN SAMSON!"


***


"Mama papah hiks,hiks!" gadis kecil itu menangis memecah keheningan malam di hutan.


Dengan luka lebam juga banyak goresan di tubuhnya ia meratapi tubuh kedua orang tuanya yang telah di evakuasi tim SAR setelah kecelakaan mobil yang merenggut nyawa mereka.


"Ada gadis kecil, Sepertinya dia selamat dari kecelakaan ini, mau di bawah kemana?" salah satu tim SAR memandang gadis kecil dengan gaun berwarna ungu yang kotor karna noda darah itu.

__ADS_1


"Bawa saja ke rumah sakit, Tuhan telah melindunginya, kita rawat luka-lukanya."


Gadis kecil itu akhirnya di bawah ke dalam mobil yang berbeda dengan orang tuanya.


"TUNGGU! MAMA, PAPAH!


"Mamah, papah!" Sheena terbangun dengan sekujur tubuh yang di penuhi peluh, nafas gadis itu tersengal-sengal, dengan tubuh bergetar.


"Haaaah! mimpi itu lagi." ia mengusap kepalanya yang terasa pening. mimpi itu terasa sangat nyata, bahkan air matanya juga nyata.


Sheena tak mengerti, sejak kecil dia akan terbangun dengan nafas tercekat setelah memimpikan hal itu. Dan mimpi itu terpotong-potong dan terus berulang. seperti kaset lama yang terus di putar di kepalanya.


"Sebenarnya kejadian apa itu? kenapa selalu datang di mimpiku?" Sheena meremas rambutnya, menekuk lutut dan menumpu kepalanya di atas, hawa dingin langsung menyeruak, malam semakin terasa.


Sheena duduk terpekur di atas ranjangnya, sampai akhirnya dia bangkit, dan berjalan ke kamar mandi memutuskan untuk mencuci wajahnya.


"Bagaimana ini bu, Nana sudah saatnya tahu, bapak takut gak ada waktu buat ngejelasin ke anak itu."


Sheena merapatkan telinga saat ia tak sengaja mendengar suara sang ayah, dia habis mengambil air di kulkas terpaksa berhenti di depan pintu kamar orang tuanya.


"Tapi ibu gak siap buat kehilangan Nana pak, gimana kalau Nana benci kita saat tahu kebenarannya?"


"Ibu tenang saja, yang penting kita sudah memberitahu kebenarannya, Nana gak mungkin hidup dalam kebohongan terus."


Ibu menghela nafas panjang, mata tuanya berkaca-kaca, tak sanggup untuk melanjutkan perkataannya.


"Ibu ngikut bapak saja kalau begitu."


Brakk! Sheena tiba-tiba membuka pintu. "Kebenaran apa yang Sheena gak tahu?"


"Sheena!" ibu dan ayah kaget, mata kedua orang tua tersayang Sheena itu membelalak. "Kamu kenapa belum tidur nak?"


"Ibu, Ayah, jelasin kebenaran apa yang sedang kalian bicarakan?"


Ayah menatap ibu, mereka berdua saling pandang, ayah lalu menggeleng lemah. "Kemarilah, akan ayah ceritakan."


Ibu menggeleng kuat-kuat, "Jangan pak."


"Tidak Bu, sudah saatnya Sheena tahu."


"Kemarilah!" kata bapak.


Sheena menurut dengan kaki gemetar gadis itu duduk di tepi ranjang.


"Sheena,ada yang ingin ayah beritahukan padamu."

__ADS_1


"Apa yah?" sekuat tenaga Sheena menahan sesak yang menggerogoti dada, pembicaraan ini pastilah sangat penting dan mungkin akan menyakiti dirinya.


"Sheena, sebenarnya kamu itu bukan anak kami."


__ADS_2