Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Come and go


__ADS_3

Di mansion the king, di mana tempat Yudistira Alexander bernaung di gegerkan dengan penemuan sebuah paket yang membuat para maid di sana berteriak histeris.


"I-itu sebuah kepala, itu kepala seseorang!" teriak salah satu maid yang menerima paket itu dari orang yang tidak di kenal di depan.


"Padahal keamanan di sini sangat ketat, bagaimana bisa orang asing bisa masuk?!" seru salah satu nya yang terkenal paling dewasa.


"Sudah jangan panik, tutup saja paket itu. Kita laporkan kejadian ini pada tuan Kin." serunya lagi. Kin adalah salah satu jajaran orang kepercayaan Yudistira, dia yang di beri mandat untuk menjaga mansion ini selama sang tuan rumah tidak ada.


Malamnya, para maid berduyun-duyun datang kepada Kin, bercerita padanya apa yang mereka temukan, hal itu sontak membuat Kim kaget,ia lalu menuju tempat di mana kotak itu di simpan, Alangkah terkejutnya ia ketika tahu kepala siapa yang tersimpan di sana.


"T-tuan Gavin!" bola matanya bergetar, nafasnya seraya tercekat, ia buru-buru menutup kotak itu, dan membawanya ke markas besar.


Kejadian ini lalu sampai ke telinga tuan Yudistira sendiri, ia melihat langsung kepala Orang yang menjadi tangan kanannya selama bertahun-tahun, namun tak ada reaksi berlebihan, ia hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Apa dia mulai meniru diriku? menjadi seorang psychopat?" gumamnya.


"Buang kotak itu, aku tak ingin melihatnya lagi." titahnya, para anak buahnya lalu mengangguk.


Ini sangat di sayangkan, padahal Gavin adalah salah satu orang terkuat yang ia punya, salahnya sendiri karena memancing amarah Jayden, ia tak bisa ikut campur lagi.


"Tuan, di laporkan 20 orang anggota kita telah di habisi oleh tuan muda Jayden, jasad mereka bahkan tak di kembalikan namun di jadikannya santapan untuk para hewan predator peliharaan nya," lapor sang ajudan kepada Yudistira.


Dengan tongkatnya, Yudistira berdiri, faktor usia menyebabkan ia hanya bisa berjalan tertatih, ini sungguh menyebalkan!


"Aku sudah tak mau ambil pusing. Biarkan dia berbuat semaunya," ujarnya, seakan lelah dengan keadaan sekarang, 50% sahamnya telah terenggut, karena bertarung di meja judi, kesepakatan nya bersama David pun tak jadi di rencanakan karena Jayden yang menolak putrinya, semuanya yang sudah Yudistira susun seakan hancur dalam sekejap.


Kini ia sedang berada di fase lelah, usianya telah memasuki masa senja, ia sudah terlalu muak dengan pertumpahan darah, perebutan kekuasaan, dunia bawah tanah, juga urusan bisnis lainnya, sungguh perasaan ini berbanding terbalik dengan sifatnya yang selalu berjiwa muda dan menggelora. Apa ini saatnya ia pensiun?


Tapi kepada siapa dia menjatuhkan kekuasaannya? hanya Jayden yang ia punya sebagai pewaris tunggalnya? namun anak itu lebih memilih berdiri di atas kakinya sendiri.

__ADS_1


Yudistira tak menikah, baginya wanita sama saja, hanya teman main di atas tidur. Ia sudah kenyang dengan asam garam kehidupan, di mulai dari ia tak punya apa-apa hingga menjadi seorang bos mafia yang di segani. Yudistira merasa beban di punggungnya berangsur-angsur luruh dan ia ingin istirahat.


"Bagaimana? apa sudah ada kabar tentang Kanaya?" baru-baru Ini ia mengajak Kanaya untuk bertemu, membicarakan perihal Jayden dan Sheena juga kejadian lima belas tahun lalu.


Namun wanita itu tak menanggapi, terakhir kali ia menelpon untuk mengajaknya bertemu secara privat di hotel grand, namun Kanaya tak pernah menunjukkan batang hidungnya.


"Kami sedang mencari keberadaan lokasinya kini tuan, bahkan anak buah kita sudah mencari di seluruh penjuru gedung Pradipta crop, namun


nyonya Kanaya seakan di telan bumi, di mana keberadaannya tak ada yang tahu."


"Breng*sek!" makinya. "Cari dia cepat, kalau perlu culik langsung dari tempat tinggalnya. Aku harus bicara empat mata dengannya segera!"


"Kanaya, kau tidak bisa lari lagi!" gumamnya dengan penuh kegeraman.


"Jika aku mati, maka kau juga harus mati!"


...----------------...


"Ini adalah alamat pemakaman tempat di mana orang tuamu di istirahatkan."


Nyonya Lavenya memberikan secarik kertas yang berisi alamat di sana, pertemuan kedua mereka setelah lebih dari seminggu pertemuan pertama kali berlalu.


"Ah, aku belum siapa bertemu mereka ... maksud ku, bertemu pusara mereka, aku rasanya ingin menangis." Sheena mengibas-ngibaskan matanya yang terasa memanas.


Rasti memeluknya dari samping, memberinya kekuatan. Kebetulan Jayden memang tak menemaninya kali ini karena ada urusan, dan Sheena tak ingin terlalu membebankannya.


Rasti sudah mengetahui seluruh ceritanya, ia sungguh syok dengan semua ini, apalagi Sheena yang harus menghadapi semuanya, Rasti sungguh salut dengan sahabatnya.


"Kamu gak apa-apa Na?"

__ADS_1


Sheena mengangguk seraya menghapus air matanya. "setidaknya aku lega sudah mengetahui semua faktanya."


"Kamu kuat, kamu gadis yang kuat," kata Rasti.


...----------------...


Keesokannya, Jayden dan Sheena pergi ke pemakaman yang sudah di beritahukan, mereka memakai pakaian serba hitam, di tangannya Sheena memeluk sebuah buket bunga mawar berwarna putih, melembangkan perasaannya saat ini.


"Mah, aku tak pernah tahu bagaimana bentuk rupa mu, satu foto pun dirimu aku tak memiliki nya, tapi aku yakin kau adalah wanita tercantik dan tertulus hingga bisa meluluhkan hati papah hingga membuatnya mati-matian memperjuangkan cinta kalian berdua."


"Pah, aku selalu bertanya bagaimana bisa ada seorang pria yang begitu memperjuangkan cinta nya meski seluruh dunia menentangnya, kau rela menjadi perisai untuk mamah saat seluruh keluarganya mencerca dirinya karena mencintai seorang pria yang di anggap tak selevel dengan mereka."


"Mah,pah meskipun aku tak pernah tahu bagaimana rasanya di besarkan oleh kalian, aku senang akhirnya aku tahu siapa orang tua kandung ku yang sebenarnya, aku bahagia bisa di lahirkan dari rahim mamah, juga sempat berada di gendongan kasih sayang papah."


Sheena mengusap-usap makam kedua orang tuanya yang berdampingan. "Kelak, jika kita tidak bisa di pertemukan di dunia, kita bisa bertemu di atas sana."


"Pah, mah, aku menyayangi kalian." Sheena lalu meletakkan buket bunga mawar putih itu di masing-masing pusara orang tuanya.


Jayden membuka, ia menatap Sheena sesuai mereka berdoa. Lalu tangan kekarnya memeluk tangan Sheena yang lebih kecil darinya.


"Tuan Cakrajaya, nyonya Adelia, terimakasih karena telah menghadirkan seorang wanita cantik dan tanggung seperti wanita di samping ku ini, dia teramat sempurna, dan aku mencintainya."


"Mah,pah aku mencintai putri kalian, ijinkan aku untuk menggantikan kalian, menjaganya, melindunginya dan memberikan penuh cinta padanya."


"Mungkin aku bukan pria yang baik untuknya, tapi akan ku pastikan setelah ini hanya kebahagiaan yang akan menghampiri nya." berucap dengan sungguh-sungguh.


"Mah,pah, tolong restui kami."


Hening sesaat, semilir angin lembut lalu hadir seakan membelai, seperti pertanda yang di datangkan akan jawaban dari perkataan jayden.

__ADS_1


Orang bilang people come and go, tapi bagaimana pun hidup akan terus berjalan, kini lembaran lama telah tertutup sekarang lembaran baru telah terbuka.


__ADS_2