Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Bisa salah paham


__ADS_3

"AAAA TUAN JAYDEN!"


Suara keciprat air terdengar keras, pinggir kolam basah seketika bersamaan dengan tubuh Sheena yang jatuh ke dalam kolam renang.


Namun saat di dalam air Jayden menahan bobot tubuhnya, tangan kekar pria itu menarik pinggang Sheena menuntunnya hingga ke permukaan.


Kepala Sheena menyembul dari dalam air, begitupun dengan Jayden, pria itu membawa Sheena ke dalam gendongannya, kini Sheena Seperti anak kecil yang bokongnya di tahan oleh kedua tangan Jayden.


Saking terkejutnya Sheena sampai tak bereaksi apa-apa, sesaat kemudian tawa pria itu terdengar, Sheena semakin terkejut. Matanya melebar sempurna.


"T-tuan tertawa?" tanyanya dengan cengo, wajah mereka kini sangat dekat, karena saking gugupnya Sheena sampai cegukan beberapa kali. Hal itu membuat sudut bibir Jayden terangkat membentuk senyuman,namun tak berapa lama sebelum akhirnya laki-laki itu kembali beraut datar. Tak ingin Sheena melihat senyumnya.


"Aku tak pernah melihat tuan tertawa sebelumnya, apakah tuan bisa mengulangnya lagi?"


"Apa?" raut wajahnya seketika menjadi horor.


"Ish, itu loh tertawa lagi seperti tadi."


"Aku tertawa jika aku ingin, tidak di suruh."


Sheena mencebik, sesaat dia sadar akan keadaannya yang basah kuyup, matanya memicing menatap Jayden.


Plak! kesal, Sheena menggeplak lengan berotot milik Jayden yang polos, tangan kekar berurat milik Jayden kini beralih menahan pinggulnya. Lelaki itu bahkan tak bereaksi apa-apa saat Sheena memukul lengannya.


"Lepaskan tuan, aku mau naik ke atas." Sheena berontak, mengayun-ayunkan kakinya di dalam air.


"Diamlah!" perlahan Jayden menggerakkan kakinya di bawah air sambil membopong Sheena, gadis itu memekik.


"Tuaan!" Sheena kembali memekik kini tepat di telinga Jayden membuat lelaki itu menjauhkan kepalanya.


"Diamlah, suaramu bisa memecahkan gendang telinga ku," seru Jayden.


"Tapi turunkan dulu tuan, aku mau ke luar." Jayden tak bergeming dia tetap berjalan membawa tubuh Sheena hingga ke pembatas kolam, tangan kokohnya lalu menahan pinggang Sheena dan menundukkan gadis itu di bibir kolam.


Sheena kembali cegukan, deg!deg! degup jantungnya berdetak tak terkendali tak kalah pandangan matanya bertemu dengan mata elang Jayden saat ini.


Jayden lebih dulu memutuskan kontak mata, tangannya beralih merapikan rambut Sheena yang basah ke belakang telinga, hal itu membuat darahnya berdesir hingga merangkak naik ke wajahnya menciptakan semburat merah yang sangat kentara.


"Maaf, aku sengaja menarik tangan mu."


Laki-laki ini meminta maaf? Sheena speechless, hal yang tak pernah ia dengar sebelumnya dari mulut seorang Jayden Alexander.


Baiklah, ini hal yang langka.


"Tuan jail sekali, aku hampir mati kehilangan nafas." Sheena mengerucutkan bibir, cemberut.

__ADS_1


"Jangan berlebihan, aku menahan tubuh mu tadi."


"Ishhh!" Sheena mencebik, matanya menyalak menatap pria yang ada di hadapannya ini, sang pria malah menunjukkan raut wajah yang sebaliknya, Jayden terlihat menyeringai jail.


"Kembalilah, basuh tubuh mu." titah Jayden ia hendak kembali berenang.


Sheena berdiri, "Aku memang mau kembali, dasar tuan dingin tirani!"


Bukannya marah, Jayden malah mendengkus geli menatap kepergian gadis itu. Jayden lalu menyugar rambutnya yang basah, otot-otot tubuhnya terlihat sangat sek si saat terlihat, apalagi roti sobek yang tadi sempat di lirik oleh Sheena, terlihat sangat menawan.


Pria itu lalu menaiki tangga kolam hingga kembali ke atas, dan mengambil handuk kecil yang tersampir di meja paviliun.


Di saat itulah ponselnya berdering, Jayden mengambilnya dia melihat sebuah nama di sana.


"Vania?"


Tut! tanpa berfikir panjang Jayden mematikan sambungan, menaruh ponselnya kembali, tak perduli saat telepon kembali berdering.


...----------------...


"Ish, dasar tuan tirani menyebalkan, lihatlah dia membuat semua tubuh ku basah kuyup!"


Sheena kini berada di dalam kamar mandi, meski sedang mengguyur tubuh, mulutnya tak berhenti berkomat-kamit, yang intinya ia sedang meluapkan kekesalannya.


Aha, dia punya ide cemerlang, dengan makan maka kekesalannya bisa meluap. Di ambilnya tiga cup pop mie, lalu berjalan Sheena berjalan ke luar dengan mengendap-ngendap.


Beruntungnya kamar Sheena ini dekat dengan pantry jadi dia hanya perlu beberapa langsung untuk sampai dan menyeduh pop mie miliknya.


Dia menyalakan tombol hijau di dispenser, seminggu lebih tinggal disini, tak membuat Sheena jaim- jaim, toh dia juga bekerja kan. Oh ya, bahkan dia sudah hafal dengan tata letak mansion, berkat Gia juga dia merasa mempunyai teman.


"Sedang apa kau?"


Astaga! Sheena hampir saja terjengkang ke belakang jika saja dia tidak berpegangan dengan ujung meja.


"Tuan, hehehe, anda di sini?" Sheena menatap penampilan pria itu dia memakai piyama tidur dengan rambut yang masih basah mungkin belum sempat di keringkan, berjalan ke arah kulkas dan mengambil dua kaleng bir di sana.


"Seharusnya aku bertanya, sedang apa kau di sini?" Jayden menatap tiga cup pop mie instan di dekat gadis itu.


Jayden menggeleng. "Jangan terlalu banyak makan micin, kau yang bodoh bisa tambah bodoh."


"Kejamnya." Sheena bergumam kesal, sedangkan pria itu berjalan santai melewatinya, namun Jayden berhenti sejenak.


Pria itu berbalik. "Berikan tangan mu."


"Eh?"

__ADS_1


"Jangan sampai aku mengulang kata untuk kedua kalinya."


"B-baik!" Sheena mengulurkan tangan saat itulah Jayden menaruh sesuatu di telapak tangannya, Sheena memekik senang.


"Kalung ku!" Sheena sampai melompat-lompat saking senangnya, ia memeluk kalung itu erat-erat.


Jayden mendengkus geli melihat reaksi yang menurutnya berlebihan dari gadis itu.


"Tuan, dimana anda menemukannya?" serunya senang.


Jayden tak menjawab, dia malah memilih berbalik, Sheena mendengus dengan reaksi pria itu.


Ia lalu duduk di kursi dekat meja pantry, berusaha mengalungkan kembali kalung itu di lehernya namun ia sedikit kesusahan menyatukan pengaitnya.


Di saat itulah tiba-tiba tangan kekar seseorang memegang tangannya, Sheena menoleh mendapati Jayden ada di sampingnya.


"T-tuan tidak pergi?"


Jayden tak menjawab, dia mengambil alih kalung itu, tangannya terampil memindahkan rambut panjang Sheena yang tergerai ke samping untuk memudahkannya mengaitkan si kalung.


Sheena menahan nafas tanpa sadar, tubuhnya meremang respon alami saat tangan Jayden menyentuh kulit lehernya, itu sedikit melenakan.


Sheena menunduk dengan pipi bersemu, Jayden telah memasangkan kembali kalungnya.


Jayden menarik kursi yang di tempati Sheena, hingga gadis itu terkesiap, Jayden menariknya lebih mendekat.


"T-tuan?" lirihnya tak berani menatap Jayden.


Jayden menyentuh dagu Sheena, guna mengangkat wajah gadis itu.


"Kenapa kau selalu memanggil tuan dan tuan, tidak kah kau tahu itu menyiksa ku."


"Eh?" Sheena tak mengerti, Jayden tanpa sadar memajukan wajah saat itulah mereka mendengar suara benda terjatuh.


"Eh, sepertinya saya datang di waktu yang tidak tepat."


Mereka berdua refleks menoleh, Sheena seketika menjauh saat melihat Gia di sana.


"G-gia, ini tidak seperti yang kamu lihat!"


"Tidak apa-apa lanjutkan saja." gadis itu tersenyum malu-malu lalu berbalik pergi.


"Aaaa, dia salah paham!" Sheena berteriak frustasi.


Sementara Jayden dengan sikap tenangnya hanya menggidikkan bahu lalu kembali ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2