Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Nyonya Kanaya pradipta


__ADS_3

Setelah insiden memalukan itu, Sheena segera melipir pergi dengan troli belanjaannya, dan di sinilah dia. mengantri di ujung belakang barisan orang-orang yang akan membayar belanjaan mereka.


"Huffft! keselnya belanja di supermarket tuh ya gini, mending belanja di pasar tradisional aja tadi." Sheena menyandarkan sikut di pegangan troli.menopang dagunya, bosan menunggu.


"Lagian kenapa sih kebutuhan tuan CEO ini banyak banget, padahal dia hanya tinggal sendiri di rumah besarnya itu, ck,ck, pemborosan!" menatap barang di troli belanjaan yang seperti gunung.


"COPET! COPET!"


Seketika perhatian Sheena teralihkan dengan jeritan melengking seseorang yang berada sepuluh meter di depannya. Lalu netra Sheena otomatis menatap pria yang berlari tunggang-langgang ke arah keluar sambil membawa tas hasil jambretan nya.


Insting Sheena langsung berbunyi, tanpa pikir panjang lagi gadis itu langsung berlari ke luar mengejar copet itu.


Semua orang yang sedang panik terkesiap seketika karna terkejut sebab ia berlari begitu kencang, sangat cepat hingga menimbulkan angin yang tiba-tiba saja datang.


"Wuih, siapa gadis itu? larinya cepat sekali?" mereka terbengong-bengong karna kagum.


"Kalian lagi kenapa malah bengong? cepat panggil security keamanan!"


...----------------...


"Hei, tunggu, berhenti di sana, pencuri!"


Sheena berlari begitu cepat, menelusup di antara lalu lalang orang-orang, untunglah dia memakai sendal selop biasa bukan high heels yang membuatnya akan kesusahan untuk berlari.


"Hei, tunggu berhenti di sana, ku bilang berhenti!"


Sheena ini memang doyan makan, meski begitu memang badannya tak pernah gemuk cenderung selalu kurus, namun meskipun begitu kekuatan kakinya tidak boleh di anggap remeh.


"Sial, kenapa wanita itu ngikutin terus sih!" umpat si pencopet yang mulai merasakan kakinya keram.


"Kenapa lagi larinya kenceng banget! emangnya Ronaldowati?!"


Sang pencopet meskipun sudah terdesak, tetap mengayunkan kakinya karna Sheena kini sudah sampai sepuluh langkah darinya.


Sedikit, lagi, hampir sampai. Dan ..... Ciatt! Sheena langsung mengacungkan sebelah kakinya, mendorong keras punggung pencopet itu dalam sekali hentakan, hingga pencopet itu seketika roboh di aspal jalan.


Semua orang yang melihatnya menatap takjub, tak henti-hentinya berdecak kagum karna kehebatan tendangan Sheena.


"Dapat! mau lari kemana lagi kamu!" Sheena langsung menerjang copet itu, menarik kerah bajunya dan menyambar tas yang di curi si pencopet.


"Ampun mbak, gak lagi,lagi deh saya coba nyopet, ambil dah ambil!"

__ADS_1


Lah?


"Hei tunggu, kau harus tetap di adili ya!"


Si pencopet hanya pasrah dan mengurung niatnya untuk kabur, hingga akhirnya petugas keamanan datang dengan tergopoh-gopoh.


"Mana pencopetnya, mana?"


"Telat pak, tapi gak apa-apa nih, tolong di adili ya!" Sheena menyerahkan pencopet itu kepada tugas keamanan yang menatapnya terheran-heran.


"Nona menangkapnya sendiri?"


Sheena hanya mengangguk, matanya sedikit menyipit karena silau matahari.


"Keren, wonder woman euy," puji si security keamanan sambil berdecak kagum.


Sheena tersenyum. "Biasa aja pak."


Pak security tersenyum,lalu menatap tajam pada si pencopet yang tak berdaya. "Dan kamu, ck ck masih muda bukannya nyari nafkah yang bener malah nyopet, ayo ikut saya ke kantor polisi!"


Si pencopet hanya pasrah. "Saya juga lagi nyari kerjaan halal pak, emang lagi apes aja karna nyari kerjaan di zaman sekarang makin susah."


"Yeuy, malah curhat dia."


"Ada apa lagi mbak?"


Sheena merogoh kantong celananya, ia menemukan sesuatu di sana, lalu memberikannya pada si pencopet.


"Ini." Sheena menaruhnya di telapak tangan pria itu. Sebuah permen.


Sang pencopet tak mengerti, entah apa maksudnya?


" Di zaman sekarang memang nyari kerjaan itu susah, tapi bukan berarti kreativitas kamu itu berhenti dan malah nyari jalan yang buat kamu terpuruk sendiri."


"Ayo semangat!" Sheena tersenyum membuat pria itu juga ikut tersenyum. Seperti mendapatkan harapan baru.


"Makasih ya mbak, selain cantik juga perhatian."


"Bener-bener titisan bidadari."


"Yeuy, malah modus." pak security menoyor kepala pria itu, Sheena tersenyum lalu melambaikan tangan kepada mereka.

__ADS_1


"Eh iya, tadi ini tas siapa ya?"


"Saya." seorang wanita mendekat ke arah sana.


"Oh, punya anda, nyonya?" tanya Sheena terkejut karena kedatangannya tiba-tiba.


Wanita paruh baya dengan sanggul rapi itu tersenyum. "Iya, kamu bisa cek kartu identitas di tasnya kalau tidak percaya.


Sheena cepat-cepat menggeleng. "Gak perlu nyonya, saya yakin ini punya anda." Sheena menyerahkan tas itu sambil membungkuk hormat.


"Sopan sekali anak ini." gumam si nyonya.


"Terimakasih ya, terimakasih banyak sudah menyelamatkan tas saya. saya bukan menghawatirkan uangnya tapi ada barang penting dan berharga di sini."


Sheena mengangguk. "Sama-sama nyonya." seperkian detik diam, wanita paruh baya itu hanya menatapnya saja, Sheena menjadi canggung.


"Eum kalau begitu saya pamit, mau bayar belanjaan."


"Tunggu, siapa nama mu?"


"Afsheena nyonya, Afsheena daisy," jawab Sheena meskipun tak mengerti kenapa tiba-tiba wanita tua ini menanyakan namanya.


"Afsheena daisy .... Afsheena nama Dewi Yunani, Daisy nama bunga yang paling cantik."


Sheena tersenyum. "Ayah saya yang kebetulan memberikan nama nyonya."


"Ini, untuk mu." tiba-tiba wanita paruh baya itu memberikannya sebuah kartu.


"Ini kartu nama saya, datang lah jika kamu ada sesuatu, saya punya hutang budi sama kamu."


"Eh gak usah nyonya, saya ikhlas kok ngebantuin." Sheena dengan sungkan menolak.


"Tidak apa-apa, aku bukan memberikan uang kan? jadi terima saja."


Itu benar jika nyonya ini memberikan uang dia akan lebih menolak. "Baiklah, terimakasih."


Sheena melirik sekilas nama yang tertera di kartu itu. (Kanaya pradipta) wah, nenek ini pasti orang ningrat yang memiliki darah biru, terlihat dari cara bicara dan wajah anggunnya.


Sheena sekali mengucapkan terima kasih, sang nyonya tersenyum.


"Ada pontensi besar yang saya lihat dari kamu, butik saya ada di sekitar sini, kamu bisa mampir jika mau."

__ADS_1


Meski tak mengerti Sheena tersenyum. "Baiklah, terimakasih."


__ADS_2