Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Benang merah takdir


__ADS_3

Pernah mendengar legenda benang merah takdir?


Unmei no Akai ito, atau di sebut juga 'benang merah takdir' adalah kepercayaan orang Asia timur, terkhusus nya Jepang, yang sebenarnya berasal dari mitologi Tiongkok.


Di katakan, sepasang kekasih yang di takdir kan bersama, akan di ikatkan oleh benang tak kasat mata berwarna merah, di masing-masing jari kelingking mereka, benang itu sangat panjang, bisa melonggar ataupun kusut namun tidak bisa di putuskan.


Sepasang kekasih yang sudah di ikat benang merah, akan selalu terhubung sejauh apapun jarak, ruang, atau mungkin waktu, mereka pasti akan bertemu. Mereka akan selalu berjodoh.


Sheena ingat dengan syal merah yang di berikan Jayden padanya, yang ia simpan sangat rapi, hari di mana syal merah itu di berikan padanya harusnya ia bisa sadar jika itu adalah bukti bagaimana jalinan jodoh mereka terjalin.


Di kamarnya, Sheena akhirnya siuman, mimpi-mimpi yang berkelebat di bayangannya membuat kepalanya masih terasa berdenyut sakit, namun tak sehebat tadi.


Ia mengerjap-ngerjap, berusaha menetralkan cahaya yang masuk di kornea matanya, bergerak perlahan, tubuhnya terasa kaku.


"Nona, akhirnya anda sadar juga." seru Gia di sampingnya dengan nada khawatir.


"G-gia, aku di mana?" perlahan Sheena bangkit, Gia membantunya merebahkan punggung di sandaran ranjang.


"Anda ada di kamar nona, tadi anda pingsan di kamar tuan jayden, kebetulan pak Hans melihat langsung membopong anda kesini."


"Apa anda sudah baik-baik saja nona?" tanya Gia.


Sheena menatapnya, mengangguk pelan. "Sudah lebih baik."


Gia akhirnya bisa bernafas lega. Sheena memperhatikan ke sekelilingnya, benar, ia tersadar, menepuk pelan punggung tangan Gia.


"Gia, di mana tuan? aku ingin bicara dengannya secepatnya," seru Sheena cepat.

__ADS_1


Gia tampak terkejut lalu menggeleng. "Tuan belum kembali ke sini lagi nona."


Sheena tampak kecewa, raut wajahnya terkulai lemas. Ia harus bertanya langsung pada Jayden, apakah benar dia adalah Daniel? bocah lelaki yang selalu menghantui mimpinya, tentang semua rahasia yang selama ini belum terungkap.


"Nona, ada apa? apa ada sesuatu yang ingin anda sampai kan?" tanya Gia.


Sheena menatapnya, menggeleng pelan. "Tidak, aku akan menunggu tuan saja sampai kembali."


Gia akhirnya mengangguk pasrah, "Baiklah, ini ada susu anda minumlah."


Sheena tersenyum tulus. "Terimakasih Gia."


Gia ikut tersenyum. "Kalau begitu saya ijin ke belakang dulu."


...----------------...


Segala pikiran buruk menghantuinya, apa dia tidak bisa memperbaiki hubungannya dengan Jayden? apa tak ada kesempatan? apa benang merah itu akan terputus? Sheena gelisah.


Di rematnya dengan kuat syal merah di genggaman, air matanya perlahan menetes, kenapa perasaan ini sungguh menyiksanya?


Ia sadar jika sudah mencintai Jayden saat pertama kali ia melihat wajah pria dingin itu di bar, dalam keadaan mabuk bahkan Jayden tak pernah mengambil keuntungan darinya, Jayden begitu menghormati keputusannya, perhatiannya berbeda, meski terlihat cuek namun pria itu punya cara sendiri dalam memperlakukannya seperti tuan putri.


Semua kenangan bersama jayden seakan berkumpul menjadi satu, memutar-mutar di kepalanya, Sekarang bahkan Jayden terlihat sangat jauh, ada jarak yang membentang sangat luas di antara mereka, bagaimana cara Sheena mengikis jarak yang tercipta itu?


Sheena kembali menatap ke luar, hujan perlahan mengguyur bumi, hawa dingin menyeruak menembus tulang, ia merapatkan kedua lengan, memeluk diri dari angin dingin yang masuk.


Di antara semua itu Gia masuk dengan senyumnya. "Nona, tuan Jayden sudah kembali, anda bisa menemuinya."

__ADS_1


Sheena yang menunduk seketika mengangkat wajah, senyum yang sama terpatri di wajahnya, ia lalu berdiri buru-buru berjalan ingin menemui Jayden, mengabaikan teriakan Gia yang memintanya untuk membawa payung.


"Nona, di luar hujan lebat!"


Sheena mengabaikan itu semua, satu persatu menuruni tangga, berlari melewati ruang tamu, membuka pintu utama, ia berhenti sejenak di teras luar itu, matanya langsung tertuju pada Jayden yang keluar dari mobil dengan payung nya.


Sheena mengatur nafas juga degup jantung yang semakin bertalu-talu, dengan sekali ayunan kaki Sheena berjalan menembus guyuran hujan yang langsung membuat tubuhnya basah.


Jayden terpekik tertahan mengabaikan payung hingga terjatuh demi untuk menghampiri Sheena yang dengan lancangnya membuatnya khawatir.


"Apa yang kau lakukan?!" keduanya kini sama-sama basah kuyup, rambut Sheena yang panjang membuatnya terlihat sangat cantik saat terguyur hujan. Namun meski begitu Jayden tetap saja marah, bagaimana kalau dia sakit?


Mereka kini berdiri berhadapan, tubuh jayden yang tinggi menjulang membuat Sheena mendongak untuk melihat jelas wajahnya, rahangnya yang tegas itu mengeras kentara sekali raut kekhawatiran di sana.


Sheena menarik nafas sekali lagi, mata mereka bertemu, dengan bibir bergetar Sheena berucap.


"T-tuan, aku mencintaimu." tegas Sheena dengan lantang. Jayden sedikit terhenyak, melebarkan mata.


"Pergilah, aku tak ingin melihat mu." kata terlontar itu sukses membuat Sheena terdiam, menahan rasa sesak.


Pria itu lalu melewatinya begitu saja, Sheena mengeratkan tangan berbalik.


"Tuan, apa kau membenciku?"


Jayden menghentikan langkahnya, tangannya ikut terkepal erat.


"Tidak," Sheena meralat ucapannya. "Daniel, apa kau membenciku?"

__ADS_1


__ADS_2