
mobil Ferrari berwarna hitam mengkilap itu perlahan mendarat mulus di depan sebuah bangunan kokoh yang nampak sudah lapuk termakan usia. Jayden turun dengan gagahnya, membetulkan kancing jasnya, lalu memutari mobil, membuka pintu untuk sang kekasih.
Jayden lalu mengambil secarik kertas yang ia dapatkan dari calon ayah mertua nya sebelum itu.
"Panti asuhan ibu Pertiwi, sepertinya alamatnya benar." gumamnya, Sheena yang baru turun mendekat, penampilan nya tampak memukau tapi masih terlihat santun dengan warna gaun nya yang senada dengan jas yang di pakai Jayden.
Tangan Sheena terasa dingin ketika Jayden menggapainya. "Kenapa? kau gugup?"
Sheena mengangguk mendengar pertanyaan itu. "Iyah."
"Tidak apa-apa, aku bersama mu," kata jayden menenangkannya, membuat Sheena mengulas senyum tipis.
Mereka lalu memasuki pekarangan panti asuhan setelah Jayden membuka pagar besi yang sudah lumayan berkarat di sekitarnya, palang tinggi dengan tulisan nama panti dan juga alamat masih berdiri tegak di sekitar bangunan bertingkat dua itu, saat mereka memasuki halaman, anak-anak kecil yang berlarian langsung menyambut pandangan mata mereka.
Tangan Jayden tak lepas mengenggam tangan mungil Sheena, mereka memasuki halaman panti asuhan bersama, anak-anak yang di asuh di sini menyadari keberadaan mereka, satu anak yang sedang bermain bola tanpa sadar membentur kaki Jayden hingga membuatnya mengaduh.
Bocah lelaki itu lantas mendongak menatap keduanya saling bergantian, "Om dan tante, siapa ya?"
Jayden sedikit membungkuk untuk menyamai tinggi bocah itu tanpa melepas gandengannya dengan Sheena.
"Bisakah kami bertemu dengan pengurus panti ini?"
Bocah lelaki itu lantas berseru. "Oh tamunya bunda ya?"
"Apa om dan tante akan mengadopsi salah satu di antara kami?" tanyanya dengan girang, belum sempat Jayden menjawab suara seseorang sudah lebih dulu menyela.
"Reza, kenapa kamu ada di situ? kesini nak." suaranya sontak membuat mereka menoleh.
__ADS_1
Bocah lelaki itu berlari girang. "Bunda, bunda, ada yang ingin bertemu dengan bunda, katanya mereka ingin mengadopsi salah satu di antara kami!" serunya dengan mata berbinar, wajah nampak cemong sana sini akibat terlalu banyak bermain dengan tanah.
"Ssstt, jangan bicara sembarangan. ambil bolanya, kamu main saja, biar bunda yang menyambut tamunya."
Bocah lelaki itu nampak senang lalu kembali bermain, sementara wanita ia panggil bunda lalu mendekat ke arah Jayden dan Sheena.
"Aku minta maaf atas keteledoran ini, Reza memang anaknya seperti itu, sudah lama panti asuhan kecil ini tidak kehadiran tamu, selamat datang." wanita berwajah lembut itu lantas tersenyum, menyambut hangat kehadiran keduanya.
Sheena di samping jayden tak bisa menyembunyikan perasaannya lagi, euforia langsung menyerangnya sekaligus gugup, hari ini ia akan tahu identitas aslinya, siapa orang tuanya, ia merasa senang sekaligus takut, belum siap jika harus mendengar fakta baru tentang dirinya.
Melihat kedua orang di depannya hanya diam saja membuat wanita itu tersenyum canggung sambil mengedarkan pandangan. "Emm baiklah, sepertinya kita perlu tempat untuk mengobrol lebih leluasa."
"Silahkan ikuti saya." Jayden dan Sheena melangkah bersama mengikuti wanita itu.
...----------------...
"Maaf jika aku hanya bisa menghidangkan ini," ucap wanita itu tersenyum sungkan.
"Tidak apa-apa," kata Sheena cepat, tersenyum ramah. Sementara jayden masih dalam mode diam, mengamati ke sekitarnya, info sedikit tentang penguasa yang satu ini, Jayden adalah seorang pengamat yang handal, tubuhnya memang bisa diam, tapi mata dan fokusnya bisa bergerak ke segala arah, dia adalah seorang cerdik dengan IQ tinggi di atas orang-orang pintar pada umumnya.
"Maaf jika ini lancang, ada keperluan apa kalian datang ke panti asuhan kami yang kecil ini?"
Sheena menoleh menatap Jayden, lelaki itu mengangguk dengan tangannya saling bertaut di atas paha, kali ini ia akan membiarkan ruang untuk Sheena, ia ingin melihat bagaimana wanitanya bisa mengatasi masalah ini.
"Jika berkenan, ijinkan saya memperkenalkan diri, saya Ratih ibu panti sekaligus pengurus panti asuhan ini."
Sheena sedikit mencondongkan tubuh, membetulkan posisi duduknya, jika selama ini ia hanya bisa diam dan selalu Jayden yang membereskan masalahnya, kali ini ia akan berpegang pada dirinya, Jayden telah menaruh kepercayaan besar padanya dan itu membuatnya percaya diri.
__ADS_1
"Anu, ibu Ratih, sebelumnya maaf jika menganggu waktu mu."
Dengan cepat Bu Ratih menggeleng. "Sama sekali tidak."
Sheena mengulum senyum. "Apa ibu ... mengingat wajah ku."
Pertanyaan yang tiba-tiba itu membuat ibu Ratih seketika terperanjat, ia berusaha tersenyum untuk mencairkan suasana. "Maaf apa maksud nyonya? kita bahkan baru pertama kali bertemu, pertanyaan nyonya lucu sekali." Ibu Ratih mencoba tertawa, menganggap itu adalah lelucon.
"Lima belas tahun lalu, ada seorang gadis kecil dengan pakaian compang-camping, di temukan di halaman panti dengan banyak luka dan menarik juga bocor kepala," suara Sheena tercekat saat mengatakan itu, mengingat kembali saat ayahnya bercerita bagaimana awalnya ia bisa ada di panti asuhan ini dulu.
"Sang ibu panti lantas mengambilnya saat pertama kali melihatnya, hatinya yang serupa menangis saat melihat kondisi gadis kecil itu, di samping gadis kecil itu di temukan nya sebuah kotak kayu hitam, lalu di ambilnya bersama dan di bawanya gadis kecil itu ke rumah sakit."
Sheena berhenti sejenak, di lihatnya ibu Ratih yang mengerut dahi dan wajah menegang.
"Bersyukur nya gadis kecil itu masih bisa di selamatkan, tak tahu siapa nama gadis kecil itu ia lantas menemukan sebuah kalung berlian yang tersemat nama 'Kayla' di belakangnya.
Sejak saat itu, Kayla kecil di rawatnya seperti anak sendiri bersama anak-anak lain di panti ini hingga akhirnya ia menemukan keluarga baru yang bisa memberikan kebahagiaan untuk gadis kecil itu."
Mulut ibu Ratih sedikit terbuka menunjukkan keterkejutan yang kentara ia lantas menutupinya dengan tangan. Jelas ia mengingatnya sekarang, seperti Dejavu, itu adalah cerita yang pernah ia ceritakan sebelumnya pada client nya yang mengadopsi salah seorang anak dari sini lima belas tahun silam. Pak Hamid dan ibu Nafisah, ia ingat sekarang.
"K-kayla, apa kamu ini nak?" ibu Ratih tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya, kristal bening itu mengalir deras begitu saja mengingat gadis kecil yang ia temukan lima belas tahun silam.
Sheena mengangguk dengan air mata yang sama derasnya. "Kau masih mengingat ku?"
"Tentu saja, kemarilah." Bu Ratih membawa Sheena ke dalam pelukan, mereka menangis bersama, seperti sebuah reuni mereka di pertemukan kembali setelah tahun-tahun berlalu.
"Kau sudah besar nak." sebelum di adopsi, Sheena tinggal di sini selama hampir satu tahun itulah sebabnya ibu Ratih tidak akan mungkin melupakannya.
__ADS_1