Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Perjodohan terpaksa


__ADS_3

Di sebuah ruang VVIP resort bintang lima, di deret panjang meja mewah tampak dua orang tua yang sedang berbincang sambil sesekali bersenda gurau, wanita setengah baya di samping sang suami juga sesekali ikut menimpali perkataan yang di lontarkan tuan Yudistira Alexander.


Tuan David dan istrinya Karina sangat senang, akhirnya sekian purnama undangan makan malam ini bisa di hadiri oleh Jayden Alexander, yang saat ini duduk di samping sang kakek.


Sementara di deret ke tiga kursi mereka, terdapat gadis cantik sekitar umur dua puluhan, dengan wajah oval dan bulu mata lentiknya, jelas sekali gadis itu memiliki darah blesteran di dalam dirinya, karna tuan David sendiri adalah penduduk asli warga Jerman yang menetap di sini, sementara Nyonya Karina adalah wanita keturunan Indonesia- Chinese, jelas lah keturunan mereka, terlihat sangat cantik bak princess dalam negeri dongeng.


Viona de Cullen, adalah nama gadis yang hari ini terlihat sangat menawan dengan balutan gaun mewah dengan aksen berlian asli yang mengitari sekitar sisi gaun.


Viona adalah anak bungsu dari David de Cullen, pemilik perusahaan De Cullen company yang bekerja sama baik dengan Ananta group, milik tuan Yudistira.


Tentu semua orang juga tahu, jika Jayden Alexander dan Viona de Cullen sudah di jodohkan oleh kedua keluarga mereka, sejak mereka masih kecil.


Perjodohan ini tentulah semata-mata bukan karna kepentingan pribadi saja, namun ada niat terselip di dalamnya, rencana untuk menyatukan dua kekuatan di antara dua perusahaan besar dengan dalih perjodohan keluarga.Itu hal yang umum bagi mereka yang hidup di kalangan atas, keluarga kolongmerat terhormat yang memiliki darah biru.


"Mungkin sesekali kita akan melakukan pertemuan keluarga seperti ini, sangat menyenangkan melihat kedua anak kita tumbuh begitu cepat," kata tuan David di antara sela acara makan malam mereka.


"Hahaha, kau benar, sekarang Jayden pun tengah fokus dalam kariernya di perusahaan yang baru ia rintis, sangat senang melihat dia begitu mandiri di usia muda." imbuh tuan Yudis.


"Waah, benarkah? pantas saja Jayden selalu sibuk ya, mama senang hari ini kamu bisa menyempatkan waktu untuk bertemu kita, juga Viona," ujar wanita anggun yang walaupun terlihat garis-garis halus di sekitar wajahnya namun tak mengurangi kecantikannya yang paripurna.


"Hahaha kau tenang saja Karina, meskipun Jayden tak pernah memiliki banyak waktu luang, tapi dia selalu mengingat Viona setiap harinya." Jawab kakek menimpali saat Jayden tak kunjung membuka suara.


"Biasa, anak muda," bisik tuan Yudis, berseloroh. Tuan David dan istrinya tertawa sambil menikmati hidangan mewah yang tersaji.


Jayden berdecak dalam hati, beginilah, dia harus menjalani kepura-puraan jika dia sangat mencintai gadis yang duduk di seberang mejanya ini.


"Benarkan Jayden? .... Jayden?" tuan Yudis menyenggol kaki Jayden di bawah meja, sampai akhirnya pria itu tersadar. Sejak tadi ia hanya melamun.


"Aaah, iya." Jayden berkata sekenanya, sungguh ia paling benci dengan acara seperti ini. untunglah ini hanya makan malam biasa bukan jamuan formal hingga dia tidak perlu menjaga image.


Mata elang Jayden tak sengaja menatap Viona yang hanya diam menunduk.


Jayden tak begitu mengenal gadis berhidung bengir itu, hanya sesekali ia bertemu saat acara seperti ini atau acara perusahaan kakeknya.


Bukannya Jayden menutup mata, dia sangat tahu Viona pun terpaksa menerima perjodohan ini, pada dasarnya mereka tak saling mencintai dan selalu terjebak canggung, namun karna keegoisan orang tua lah, mereka menjadi korban.


Tuan David, dan Nyonya Karina menyadari tatapan Jayden untuk putri mereka, nyonya Karina menyenggol lengan sang suami, begitupun kakek Yudis yang melirik kontak mata di antara dua sejoli itu.


"Ekhem! bagaimana jika kita memberi waktu untuk anak-anak muda ini mengobrol? mereka sudah lama tak bertemu, mungkin saja sedang menahan rindu."

__ADS_1


Tuan Yudis tertawa. "Kau benar, komunikasi sangat penting dalam sebuah hubungan."


...----------------...


Sepasang anak manusia itu hanya berdiri di sekitar taman gedung yang menampilkan langit yang sangat cantik malam ini, sejak tadi yang mereka lakukan hanya berjalan-jalan di sekitar gedung, di temani semilir angin sejuk.


Canggung tampak begitu mendominasi di antara mereka.


Pada dasarnya mereka memiliki sifat yang sama, Jayden yang dingin dan terkesan cuek dan Viona yang pemalu dan memiliki sifat dingin yang sama.


Mereka berdua sama-sama tak bisa menciptakan obrolan, terlalu sulit!


Viona sesekali melirik Jayden, dadanya berdebar-debar saat ini, wangi maskulin pria itu bisa ia cium dari jarak sedekat ini.


"Anu .... " Viona memberanikan diri untuk membuka obrolan. "Bagaimana ... kabar mu?"


Jayden yang menaruh tangan ke belakang, mulai menatapnya, di saat itulah mata mereka bertemu, menyadarinya Viona memalingkan wajah dengan pipi memerah.


"Kabar ku baik, bagaimana dengan mu?"


"Aaah,itu k-kabarku juga baik."


"Mengobrol seperti biasa saja."


Viona memilin ujung gaunnya, gadis berlesung pipi itu tersenyum. "B-baiklah."


Mereka pertama kali bertemu saat viona di usia sembilan tahun dan Jayden lima belas tahun, pertemuan pertama mereka tak berjalan lancar karna Jayden yang begitu dingin dan Viona yang sangat pemalu saat itu.


Namun bagi Viona, Jayden adalah sosok pria dewasa yang pengertian, Jayden tak pernah memaksakannya seperti para pemuda yang pernah papah kenalkan sebelumnya.


Bagi Viona, Jayden adalah sosok pria idaman, meski hubungan mereka begitu dingin dan tak ada kejelasan, tetap Viona mengaguminya.


"Awas!" Jayden memekik, di tariknya Viona hingga masuk dekapannya saat ada dua orang petugas yang melewati mereka sambil membawa alat berat, kedua petugas itu hampir saja menabrak Viona jika saja Jayden tidak menariknya.


"Maaf tuan, kami tidak melihat."


Jayden mengangguk. "Lain kali hati-hati."


Jayden lalu menatap Viona yang sama sekali tak berkedip. "Kau tidak apa-apa?"

__ADS_1


Sementara gadis itu merasakan darahnya berdesir hebat dengan degup jantung yang semakin menggila. perasaan hangat ini, beginikah rasanya di peluk seseorang?


Viona menatap Jayden, semburat kemerahan tercipta di pipinya ketika pandangan mereka bertemu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Jayden sekali lagi.


Viona tersadar langsung menegakkan tubuhnya. "T-tidak apa-apa, t-terima kasih."


Jayden mengangguk, mereka melanjutkan beberapa langkah hingga ke depan, sebelum akhirnya Jayden menghentikan langkahnya.


Membuat Viona ikut menghentikan langkah.


Jayden menatap jam rolex di pergelangan tangannya. "Sepertinya sudah larut, kita harus kembali."


Viona menatap ke sekitar, benar. Malam semakin gelap dan dingin, tanpa sadar gadis berpostur semampai itu memeluk kedua pundaknya yang meremang, karna udara dingin yang menelusup hingga ke kulitnya.


Jayden menyadari itu, tanpa basa-basi melepas jas tuxedo nya dan memakaikannya pada pundak Viona.


Viona terhenyak, menatap Jayden dengan pipi memanas.


"Terimakasih," lirihnya.


Jayden hanya menatap sekilas lalu mengangguk, hendak melangkah kembali namun Viona mencekal tangannya.


"Tunggu Jayden!"


Viona harus memastikan hubungan mereka.


"Ada apa?"


"Bagaimana dengan perjodohan kita?"


Jayden diam sejenak. "Aku akan membatalkannya."


Deg! Viona menahan nafasnya.


"Aku tahu kau dan aku sama-sama terpaksa dan kita sama-sama menderita dengan perjodohan ini, jadi secepatnya aku akan membatalkannya."


"Kau tidak usah cemas."

__ADS_1


Bukan, bukan seperti itu yang Viona inginkan.


__ADS_2