Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
The power of Sheena


__ADS_3

Sheena berjalan-jalan di sekitar stan penjualan yang ada di mall besar ini.Sesekali ia akan melongok, menatap satu persatu baju yang berderet rapi di stan nya masing-masing, juga terkadang melihat beberapa ikon permainan yang ada di sini.


Sementara di depannya, Jayden berjalan santai, meskipun bukan ke acara formal pria itu tetap memakai jas hitam, sepatu kulit mengkilap dengan jam tangan rolex keluaran terbaru, entah Sheena menebak, harga outfit nya hanya sekedar untuk mengunjungi mall saja bisa untuk membeli sebuah rumah besar bertingkat dua, ck, ck! orang kaya.


Tak lupa di belakang mereka, ada beberapa orang suruhan Jayden yang menyamar sebagai pengunjung yang sebenarnya adalah bodyguardnya, Kevin sudah memerintahkan mereka untuk memantau dari jauh, meskipun hanya ke mall tapi ancaman tak terduga tetap bisa saja datang mengingat Jayden yang mempunyai banyak musuh.


Sheena hampir terlena menatap deretan tas branded yang terpampang di etalase hingga tak menyadari dia sudah tertinggal jauh dari Jayden dan Kevin, menyadarinya Sheena buru-buru berjalan cepat, menyusul.


"Kevin!" Sheena menyenggol lengan Kevin hingga pria jangkung berkaca mata itu menoleh dari tab yang di bawanya.


"Ya Na?" Kevin menatap Sheena.


"Sebenarnya kita mau kemana sih? dari tadi jalan-jalan terus, gak ada arah tujuan."


Kevin tersenyum."Sabar Nana, sebentar lagi sampai kok."


Dan benar saja, selang beberapa saat mereka sampai di depan tokoh pakaian branded dengan palang besar bertuliskan 'Prada' Sheena memandang takjub dia bukannya tak tahu merek terkenal itu, Sheena melongo beberapa saat.


Jayden menoleh menatap Sheena lalu ia masuk duluan, Kevin tersenyum ke arahnya. "Ayo masuk, Na."


...----------------...


"Selamat datang tuan, ada yang bisa kami bantu?" seorang pramuniaga wanita dengan sanggul rapi yang terlihat anggun menyapa dengan ramah.


Jayden duduk di salah satu sofa untuk pengunjung. "Berikan apapun yang dia inginkan," ucapnya menatap Sheena.


Beberapa pramuniaga lain berbisik-bisik di sekitar mereka, sementara Sheena melongo sesaat dengan pupil matanya yang melebar. Ia mengangguk ragu saat si wanita pramuniaga menunjukkannya beberapa setel pakaian, Sheena hanya mengangguk-angguk saja.


"Tuan bukankah kita kesini untuk membeli beberapa pakaian hangat untuk nya saja?" bisik Kevin di telinga Jayden.


Jayden menoleh, menatap datar. "Beli itu saat dia sudah memilih pakaian yang dia suka."


Kevin akhirnya hanya mengangguk, tak cukup mengerti dengan tindakan tak terduga tuannya, namun apapun itu tuannya kini sudah sebegitu perhatiannya dengan gadis ini.


"Hei, hei, lihatlah bukankah itu pria yang kemarin wajahnya muncul di majalah? dia kolongmerat besar," bisik-bisik pramuniaga lain masih jelas terdengar, Jayden hanya menoleh sesaat namun tak menanggapi.


"Astaga, dia baru saja melihat ke arah ku."


"Tidak, jelas-jelas dia melihat ke arah ku." bisik-bisik itu mulai menjadi riuh rendah yang membuat telinga Jayden pengap. Mereka mendebatkan hal yang tidak penting sama sekali, ck! bikin kupingnya sakit saja.


Sheena kembali lagi bersama dua penjaga tokoh yang membawa beberapa setel pakaian.


"Anu, tuan aku gak ngerti, tapi ini semua pilihan mereka untuk ku," ucap Sheena pelan.


"Kau tidak memilih?" selidik Jayden.

__ADS_1


Sheena menatap ke sekitarnya, dia seperti di telanjangi oleh tatapan orang-orang yang mengarah padanya, Sheena hanya mengangguk kecil.


"Ada kok tuan, beberapa setel aku yang pilih sendiri."


Jayden mengangguk, dia menatap jam di pergelangan tangannya, sial, dia tidak punya banyak waktu malam ini ada pertemuan besar antara pemimpin mafia lain.


"Baiklah, bungkus kan yang itu, juga berikan beberapa baju hangat untuk musim dingin yang pas di badannya," titah Jayden menatap Sheena.


"Baik tuan," pramuniaga itu mengangguk paham.


Sheena tak mengerti, sebenarnya untuk apa semua gaun dan baju ini, juga setelan baju hangat untuk musim dingin? memangnya dia mau kemana sampai di belikan baju seperti itu?


...----------------...


Mereka kini berjalan pulang, Sheena memajukan beberapa langkahnya yang kecil agar bisa menyusul langkah Jayden yang lebar.


Gadis itu membawa tas belanjaannya sendiri. ia lantas mendekati Jayden yang terlihat tergesa-gesa dalam setiap langkahnya.


"Tuan Terimakasih ya, sudah membelikan ku baju-baju ini," ucap Sheena tulus, Jayden hanya menoleh padanya sekilas lalu kembali menatap ke depan.


Sheena mencebik karna pria itu tak menanggapi ucapannya, namun dia tetap mengejar langkah lebar Jayden. "Tapi tuan saya gak ngerti, untuk apa semua gaun dan baju ini? apalagi mantel besar yang tuan kasih, untuk apa?"


Benar untuk apa juga? sebenarnya Jayden tak ada niat khusus, namun yang dia dengar wanita akan sangat senang jika di ajak berbelanja, Jadi Jayden melakukan apa yang menurutnya benar. Dia hanya ingin melihat Sheena senang. Jadi dia fikir akan terus mengajak Sheena berbelanja ke mall jika itu bisa membuatnya gembira, namun reaksi yang dia harapkan tak di tunjukkan Sheena saat ini.


Kevin menatap sambil menggeleng perdebatan mereka berdua, lebih tepatnya hanya Sheena yang bersuara sementara tuannya tak menanggapi sama sekali.


Lelah perkataannya tak di tanggapi sama sekali, Sheena berhenti untuk mengikuti langkah Jayden, dia mendelik ingin rasanya menjitak si tuan kulkas itu.


"Gemas, ingin ku sentil deh ginjalnya," gerutu Sheena, ia mengambil nafas dalam-dalam, lalu matanya tak sengaja tertuju pada stan yang mereka lewati. Stan makanan!


Sheena akhirnya mengikuti instingnya menjalajahi setiap stan makanan yang berjejer di kiri kanannya, lalu ia berhenti di sebuah tokoh aneka kue dan dessert mungil yang terpanjang cantik di etalase kaca.


"Waah, kue nya cantik-cantik sekali," pujinya dengan mata berbinar.


Sementara Jayden yang terus berjalan akhirnya menyadari Sheena tak lagi mengikuti langkahnya, lelaki itu seketika berhenti.


"Di mana gadis itu?" Jayden celingukan sendiri lalu menoleh.


"Kenapa tuan?" Kevin menyadari kebingungan Jayden.


"Kemana Sheena?"


Kevin pun terkejut. "Oh ya, nona Sheena kok gak ada ya?" sama seperti Jayden dia pun celingukan.


"Ck, merepotkan!" Jayden berdecak kesal lalu mulai mencari keberadaan gadis itu.

__ADS_1


"Dia begitu pendek, bagaimana mencarinya di antara lalu orang ramai." gumamnya.


Sampai akhirnya Jayden pun menemukan Sheena yang ternyata sedang anteng di tokoh kue tak jauh mereka, Jayden menghembuskan nafas lega, ia pun menyusul Sheena di susul Kevin.


"Astaga nona kami mencari anda dari tadi, tenyata di sini?"


"Eh, Kevin? maaf, abisnya kue-kue cantik ini menghipnotis ku." Sheena nyengir seperti tak memiliki dosa setelah membuat dua pria itu khawatir.


Tak! kebiasaan, Jayden menyentil kening gadis itu, Sheena mengaduh, sementara Kevin cekikikan sendiri, bahkan di tempat umum seperti ini Jayden tak bisa mengontrol image nya jika bersangkutan tentang Sheena. The power of Sheena, benar-benar nyata!


"Bisakah kau tidak membuat orang kerepotan karna tingkah mu."


Sheena menunduk. "Maaf tuan."


Jayden mendesah pelan. "ayo kembali."


"Eh tapi tunggu tuan." Sheena menahan tangannya.


"Kue-kue ini enak, apa tak mau mencobanya dulu?" pintanya, Sheena menarik Jayden dengan semangat.


Seorang penjaga tokoh tersenyum pada mereka.


"Apa aku boleh jajal yang itu?"


Sang wanita dengan celemek itu tersenyum. "Tentu saja." ini adalah bagian tempat kalian bisa mencicipi dengan gratis sebelum membeli.


"Beli saja yang kau ingin, jangan membuang-buang waktu," kata Jayden jengah dengan Sheena yang hyper aktif.


"Tapi aku ingin tuan menjajalnya, enak loh."


"Benar tuan, ini adalah resep kue kami yang terbaru, di jamin anda akan nagih untuk memakannya," timpal si penjaga tokoh, wanita dengan wajah keibuan.


Sheena tersenyum, "benarkah?" lalu mengambil sepotong kue yang menurutnya sangat enak.


"Ayo tuan, Aaaaa!"


Ck, dia bukan anak kecil! Jayden menggeleng.


Sheena hendak menyuapi Jayden tapi suara Kevin menghentikannya. "Nona, tuan Jayden tidak suka makanan manis."


"Benarkah?" Sheena tersenyum canggung. Sheena menghentikan gerakannya.


"Iya, tuan sangat tidak suka makanan manis," tutur Kevin tak ingin Jayden marah lagi pada Sheena.


Namun melihat wajah meringis juga tak enak gadis itu membuat Jayden tak suka.

__ADS_1


"Berikan!" seru Jayden menarik tangan Sheena, lalu memasukkan potongan besar kue coklat itu.


Kevin melongo, padahal tuannya ini paling benci dengan makanan manis, tapi ... apa ini?


__ADS_2