
Tuk!tuk! ujung sepatu Sheena mengetuk-ngetuk lantai marmer bening mengkilap, ia sedikit mengayun-ayunkan kakinya, menatap ke sekeliling ruangan kerja jayden yang lebih di dominasi oleh kaca transparan yang menjadi dindingnya.
Bosan, karena sudah tiga puluh menit berlalu ia menunggu Jayden yang sedang mengadakan meeting di ruangan lain, ingin beranjak kembali ke mansion, tapi pria itu sudah berjanji akan mengajaknya ke suatu tempat hari ini.
Sheena beranjak dari sofa yang ia duduki, berjalan ke tepi dinding kaca besar di depannya, mata indahnya menatap takjub pemandangan di bawah, kendaraan di jalanan bergerak seperti semut dengan ramainya orang-orang yang ada di sana, bola mata yang di hiasi bulu-bulu lentik itu berpendar ceria.
"Na, kamu masih ada di sini?"
Gadis itu menoleh seketika, mendapati seorang pria yang membawa sejumlah proposal di tangannya.
"Oh, Kevin, aku memang masih menunggu tuan, kenapa kau ada di sini? tidak mengikuti meeting?"
"Ah ya, barusan aku lupa membawa proposal yang akan di persentasikan hari ini, jadi ya ... aku kembali untuk mengambilnya."
Sheena manggut-manggut mendengar ucapan Kevin, teringat tempo lalu saat ia bersikeras ingin bekerja di perusahaan ini,tak menyangka sekarang keinginan itu tiba-tiba lenyap seketika. Ia lebih suka makan dan rebahan ternyata, haissh! jangan di tiru!
Alis tebal Kevin menyatu dengan senyum mengembang menampilkan sederet giginya yang rapi. "Kenapa Na, kok senyum-senyum gitu?
Sheena buru-buru menggeleng. "Tidak. tidak apa-apa."
"Sebentar Na." Kevin ijin kerena mendapatkan telepon, Sheena mengangguk untuk memberi ruang.
Matanya kembali berpendar menatap ke sekeliling ruangan Jayden, tanpa terasa kakinya melangkah ke meja kekuasaan Jayden, ia tiba-tiba saja mengulum senyum saat ia melihat figura fotonya ada di barisan paling depan meja pria Itu, astaga, kenapa tadi dia tidak menyadarinya ya?
Entah sejak kapan jayden memiliki foto Sheena yang berpose tersenyum lebar itu, haissh. tepat di samping fotonya ia melihat foto seorang wanita berwajah keibuan dengan sorot mata teduh, dahi Sheena mengkerut, siapa wanita itu?
"Na, kamu ternyata ada di sini?" seru seseorang, Sheena menoleh.
Ia mendekat. "Kevin, siapa wanita di foto ini, apa kau tahu?"
Wajah Kevin tampak terkejut, tidak tahu jika figura foto itu masih terpajang di sini. Padahal sebelumnya ia yakin masih melihat foto itu di bagian rak belakang.
"Beliau nyonya Refanya, ibu dari tuan Jayden," tutur Kevin.
Sheena menutup mulut, dengan mata membelalak. "Ibu tuan Jayden?"
__ADS_1
Kevin mengangguk, ia mulai menyadari sesuatu lalu ia mulai membandingkan foto di figura itu dengan wajah Sheena.
"Kalian terlihat mirip," celetuk Kevin. Sheena menatap heran, ia lalu menatap figura foto nyonya Refanya, dan membandingkan dengan figura fotonya di samping.
"Benar, wajah almarhum nyonya Refanya terlihat sangat mirip dengan mu Na," kata Kevin lagi.
Ia pernah membaca dari portal informasi di internet, jika pria cenderung mencintai wanita yang memiliki ciri fisik dan sifat seperti ibunya, apakah itu sebabnya Jayden sangat bucin dengan Sheena.
Waah! satu lagi fakta yang membuat Kevin kembali tercengang.
Mengabaikan apa yang di katakan Kevin, mata Sheena lebih sibuk menelisik ke sekitar meja Jayden. "Apa tidak ada foto tuan jayden bersama kakeknya di sini?"
Mata Kevin menyipit tampak berfikir. "Dulu ada, tapi ¹ tuan sudah merubah tata letak mejanya baru-baru ini, jadi mungkin sudah tidak ada."
Mendengar perkataan Kevin membuat Sheena menunduk sedih. "Kevin, sepertinya aku wanita yang jahat."
"Kenapa kamu ngomong kaya gitu?" tanya Kevin.
"Kau tahu, secara tidak langsung aku yang membuat hubungan tuan dengan kakeknya menjadi retak seperti sekarang, karena aku kakek memutuskan hubungan keluarga dengan tuan."
"Semuanya sudah terjadi Na, tak ada yang bisa di ubah, yang penting sekarang kamu harus selalu ada di samping tuan, menjadi penyemangatnya, karena kamulah sekarang cahaya hidupnya."
Mendengarnya senyum Sheena kembali terbit, gadis itu mengangguk seraya menyisipkan anak rambut ke belakang telinganya.
Kevin tersenyum, lalu ia teringat. "Oh ya Na, jika kamu bosan menunggu tuan di sini, kamu bisa keluar untuk jalan-jalan jika mau."
"Kemana?" tanya Sheena.
Kali ini senyum Kevin berbeda, seperti mengandung banyak arti. "Di lantai satu ada sebuah cafe yang menyediakan banyak dessert box kesukaan mu." Mendengar kata makanan, Kevin menebak gadis itu pasti akan langsung girang.
"Waah benarkah? aku ingin kesana!"
Kevin tersenyum puas, benar perkiraannya.
"Oh ya satu lagi, tuan jayden sudah menyiapkan hadiah spesial untuk mu di sana,Na."
__ADS_1
Dahi Sheena kali ini mengernyit. "Hadiah apa?" perasaan dia tidak sedang ulang tahun.
"Kau bisa melihat nya langsung."
...----------------...
Dengan ditemani dua bodyguard di sisi kiri dan kanannya, Sheena berjalan santai ke arah cafe yang di tujukan Kevin, Sheena berdecak kagum dengan pengetahuan Kevin dan wawasan pria itu ia mengetahui sekali tempat strategis dan yang bisa ia kunjungi.
Mengingat perkataan Kevin tentang hadiah yang akan di berikan Jayden padanya membuat Sheena semakin tak sabar ingin melihatnya.
Ia sendiri sebenarnya sedikit tak nyaman dengan pengawalan ketat seperti ini, namun mau bagaimana lagi, kata Kevin, tuan dinginnya ingin ia selalu terjaga dan tak ingin terjadi sesuatu terjadi padanya, jadilah dua pria berbadan besar dengan kacamata hitam ini selalu mengintili langkahnya.
Ia akhirnya sampai di cafe yang di bicarakan Kevin, benar kata pria itu, cafe ini terlihat sangat aesthetic dan Instagramable.
Dengan nuansa alam yang lumayan kental dan tempat strategis tak heran banyak pengunjung di cafe ini bukan hanya dari kalangan karyawan saja.
Sheena duduk setelah mencari tempat yang nyaman, dua bodyguard nya berdiri tak jauh dengan tangan terkepal di belakang, tak sedikit orang-orang yang memperhatikannya, dan itu membuatnya sedikit canggung.
Baru hendak memesan, tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan suara dobrakan yang begitu kencang, bukan hanya dirinya namun pengunjung yang berada di sini juga ikut terkejut.
Dan mendadak saja dua orang yang selama ini berusaha Sheena hindari, tiba-tiba sudah bersimpuh di bawah kakinya.
Sheena sungguh kaget dengan kehadiran Raina dan Andre yang di penuhi luka lebam memohon ampunan di bawah kakinya. Mereka menjadi pusat perhatian seketika.
"Sheena, tolong maafkan kami! Ampuni kami!" keduanya berteriak kencang dengan kedua telapak tangan menyatu memohon.
Kondisi keduanya mengenaskan dan memprihatinkan, apalagi saat melihat ternyata kaki kiri pria yang dulu pernah membuat hari-hari nya berbunga itu terlihat di perban hingga ke paha.
Sheena kontan saja menutup mulut, tertegun. Andre cacat!
"Sheena tolong ampuni kami, Jangan biarkan Iblis itu menganggu kami lagi!" keduanya menangis histeris, Sheena bingung.
Iblis itu? siapa?
__ADS_1