Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Tinggal bersama sang mafia


__ADS_3

"Ini kamarmu, kau akan tinggal di sini selama tiga bulan."


"Waaah! ini beneran kamar saya?" Sheena menatap takjub. "ck,ck! hotel bintang lima juga kalah inimah."


Kamar seluas 4×4 m ini memiliki aksen mewah yang sangat kental, ada satu king size juga lemari besar menjulang, lukisan yang menggantung di sudut kamar, meja belajar lengkap dengan kursi, AC, dan oh ada kamar mandi pribadi rupanya. Sheena sangat puas melihat kelengkapan kamar ini.


Ini adalah ruangan paling belakang mansion, atau tepatnya mansion belakang, dengan dua lantai dan empat kamar, juga tiga kamar mandi, di sinilah adalah tempat para maid tinggal.


Meskipun di letakkan di sini, Sheena sama sekali tak masalah, karna walaupun di sebut sebagai tempat tinggalnya para pelayan, namun semua interior juga barang-barangnya lebih mirip hotel bintang lima yang bergengsi.


"Hmm, jangan beraksi berlebihan, tak ada yang spesial di sini." Jayden melipat tangan di depan dada.


Sheena memicing menatap tuan di sampingnya ini. "ck, gak bisa liat kebahagiaan orang aja, terserah dong,mau saya kayang juga itu kemauan saya."


Jayden geleng-geleng kepala. "belum bekerja saja sudah durhaka sama majikan."


"Iyah, Iya deh maaf, perasaan saya yang salah mulu, di mana-mana kan cowok yang selalu salah."


Ajaib! di mana tadi gadis yang menangis tersedu-sedu saat berpisah dengan orang tuanya ini? bahkan dia sudah kembali menjadi gadis yang menyebalkan dan cerewet.


"Kevin!" Jayden memanggil asistennya.


"Ya, tuan." Kevin menghampiri dengan secepat kilat.


"Jelaskan kepadanya, peraturan apa saja yang terkait dalam mansion."


"Aje gile, ada peraturannya segala nih tuan? udah kaya drakor romantis-romantis aja yang sering saya tonton."


Jayden mendelik. "Otak mu memang harus di bereskan."


"Ihh bener tuan, biasanya kaya gini jalan ceritanya, si ceweknya ini terlilit hutang sama si cowok, jadi sebagai balasannya si cewek ini bakal kerja sama si cowoknya, tinggal bareng, bercocok tanam bareng."


Jayden menarik alisnya. "bercocok tanam bareng?" perkataan Sheena terakhir terdengar cukup ambigu.


Sheena tergagap, malu dengan ucapannya sendiri.


"M-maksud saya ... " belum sempat Sheena melanjutkan ucapannya suara Kevin sudah menyembur duluan.


"Aaaa, bercocok tanam maksudnya--- hmmmp!" sebelum menyelesaikan perkataannya, mulut Kevin sudah lebih dulu di sumpal oleh tangan Sheena.

__ADS_1


"Hehe, maksud saya bercocok tanam itu nanem pohon bareng tuan, tuan jangan salah sangka loh."


"Tch, siapa juga yang salah sangka?"


Sheena melepaskan bekapannya pada Kevin. Kevin mengambil nafas dalam, wajah pria itu sangat memerah karna kehabisan pasokan oksigen.


"Gilak, nih cewek emang bener-bener titisan Samson!" batin Kevin merasa ngeri.


"Ya abisnya." Sheena cemberut, lalu ia tersenyum kembali melanjutkan ceritanya.


"Nah jadi tuan, setelah itu karna suatu kecelakaan mereka terpaksa untuk menikah kontrak, awalnya mereka saling membenci tapi lama-lama cinta tumbuh di antara mereka berdua."


"Si cowok akhirnya mengakui perasaannya meski kadang gengsinya setinggi langit, pada akhirnya mereka hidup bahagia!"


"Tamat." Sheena mengakhiri ceritanya, gadis itu memejamkan mata membayangkan apa yang dia ceritakan tadi benar-benar terjadi dalam hidupnya.


Terverifikasi gadis halu tingkat kuadrat!


Jayden mengambil nafas kasar. "Sepertinya kau memang benar-benar butuh rumah sakit jiwa."


"Ck, gak bisa di ajak bercanda nih, gak asik. benar kan Kevin?"


Kevin mengangguk. "Benar, nona."


"Kevin, pastikan kau jelaskan peraturannya dengan detail pada gadis itu."


***


"Peraturan pertama. Nona Sheena, anda harus bangun lebih dulu dari tuan Jayden, untuk mengurusi keperluan juga perlengkapannya, tuan biasa bangun pagi tepat jam 6, itu berarti anda harus bangun sebelum itu, yaitu jam 4 atau jam 5."


"Whaat! yang benar saja? gak bisa di korting gitu ya? aku gak bisa bangun pagi."


"Gak bisa dong nona, gak apa-apa nanti saya belikan jam weker supaya nona bisa bangun pagi."


"Ck! lalu apa selanjutnya?"


"Yang kedua, karna tugas anda sebagai asisten di sini, itu berarti tugas anda sama saja dengan tugas para maid, menyapu, mengepel, dan membersihkan debu di seluruh mansion ini."


"Yang benar saja." raut wajah Sheena memelas seketika. "Bangunan sebesar ini? aku harus membersihkannya gitu?"

__ADS_1


"Yap, tapi anda tidak usah khawatir, hanya dua hari dalam seminggu saja, sisanya pekerjaan anda adalah mengurus tuan Jayden."


Yakinlah,ini hanya akal-akalan Jayden saja, pria itu ingin mengerjai gadis malang ini.


Di balik tembok, tepat kedua orang itu berdiri, Jayden tersenyum karena melihat wajah Sheena yang begitu menderita.


"Yang ketiga. anda harus bisa menjaga privasi, tidak boleh menanyakan hal lain di luar pekerjaan."


"Tapi aku orangnya kepoan, gimana dong?"


"Ya anda harus tahan."


"Oh ya, ngomong-ngomong tuan Jayden itu kerja apa sih? kok bisa kaya banget."


"Beliau seorang CEO, semacam pimpinan perusahaan."


"Waah pantes sih gak salah lagi."


"Eittssh! nona, barusan anda melanggar kode etik. kan sudah di bilang jangan menanyakan hal di luar pekerjaan."


Sheena mencebik. "Namanya juga penasaran, kalo di biarin aja itu namanya bisulan."


"Lah kok gak nyambung nona?"


"Sudahlah otak anda memang otak kosong tidak bisa mencerna lelucon ku, seperti otak tuan mu itu."


"Ekhem!" Sheena mendadak merasakan dingin di belakangnya.


Sheena berbalik mendapati Jayden berada di belakangnya. "Ehehehe,tuan kok bisa ada di sini?"


"Siapa yang kau bilang otak kosong?"


"Ehehehe tidak ada tuan."


Sheena lalu melipir. "KABUR!" gadis itu lalu berlari secepat kilat.


Jayden menatapnya sambil geleng-geleng kepala, ia memijit pangkal hidung karna kepusingan nya melihat tingkah gadis itu, sedangkan Kevin malah tersenyum seperti orang bodoh.


"Nona Sheena lucu ya, tuan."

__ADS_1


Jayden meliriknya tak minat.


"Haaah! lama-lama aku bisa gila." batin Jayden.


__ADS_2