
"Oh ya jay, soal meet client di jepang? gimana lo bisa?"
Dava, kini sedang berada di mansion nya. Entah sejak kapan pria itu ada di sini, setahu Jayden dia masih ada urusan di Singapura, tentu bukan tentang bisnis tapi tentang wanita yang meminta pertanggungjawabannya karna telah membuat wanita itu hamil.
Sudah di katakan, Kevin dan Dava itu satu paket, Cassanova kelas kakap, tapi kali ini Dava tengah kena sialnya, lelaki itu tak sengaja sudah menghamili seorang wanita baik-baik yang bukan dari kalangan kupu-kupu malam, dan tentu saja kini Dava sedang di kejar pertanggungjawabannya.
Biarlah, mungkin ini karma untuknya.
"Apa gak bisa di wakilin lo aja? gue ada pertemuan juga besok."
Tentang Dava, Jayden jadi ingat tentang pertemuan pertama mereka. Pada dasarnya, dirinya dan Dava memiliki masa lalu yang sama, Namun mungkin Jayden memiliki nasib yang lebih beruntung.
Dava, waktu itu adalah bocah lelaki sepuluh tahun yang lugu, dia di bawa ke mansion kakeknya dulu, di kenalkan pada Jayden pertama kali saat dia akan memasuki kejuaraan matematika di Swiss.Umurnya dan Dava hanya selisih satu tahun.
"Tuan muda, perkenalkan dia adalah Dava, mulai hari ini dia adalah partner anda."
Ia masih ingat bagaimana paman James, asisten kakek saat itu, dalam memperkenalkannya dengan Dava. Dari situlah ia tahu bahwa Dava adalah jaminan, orang tua Dava memiliki hutang yang sangat besar pada kakek, pada dasarnya begitulah cara mafia bekerja, karna tak kuat dengan bunga semakin hari semakin besar, orang tua Dava akhirnya menggadaikan lelaki itu sebagai jaminan.
Dan sama seperti dirinya, Nama Dava bukanlah nama aslinya, semua identitasnya di ganti dan dia hidup dalam kebohongan palsu.
Di mulai dari situ Jayden yang sangat tertutup dan apatis mulai memiliki teman, Dava yang pada dasarnya sangat humble dan berjiwa petualang,dan seringnya mereka bersama membuat Jayden bisa sedikit membuka diri, oleh karena itulah hanya kepada Dava dia bisa berbicara santai tanpa penekanan, karna bukan hanya bawahannya Dava juga adalah temannya.
"Gak bisa dong Jay, pemimpin utama kita harus hadir nanti, karna client kali ini benar-benar sangat menguntungkan nantinya."
Jayden mengembuskan napas pelan. "Atur saja keberangkatannya."
Dava tersenyum lebar. "Oke." lalu ia mengambil tablet yang ada di atas nakas dan menghubungi Victoria, sang sekretaris.
Dava menyandarkan punggung ke sofa, sementara Jayden sibuk dengan dunianya sendiri, dengan sesekali menyesap advokat yang selalu tersedia khusus untuknya.
"Oh ya ngomong-ngomong Jay ... "Dava ingat sesuatu.
"Apa lo nambah jumlah maid di mansion ini?"
"Tidak." Jayden menumpu paha. "20 orang maid udah lebih cukup untuk gue yang tinggal sendiri, gue gak terlalu percaya orang asing."
Dava menggut-manggut, mengamini. "Tapi tadi pas perjalanan kesini gue ketemu cewek, songong banget, aneh juga."
"Tapi cantik sih," imbuhnya. "Cantik banget malah tapi ngeselin." tambahnya lagi.
__ADS_1
Jayden memutar bola mata, malas. "Kalo emang cantik kenapa gak lo gaet?" celetuknya.
"Ck,ck kalau urusan di atas ranjang bisa aja, tapi kalau buat cinta ... gak deh."
Jayden mendengkus. "Cassanova gila."
Dava tertawa. "Sialan lo."
"Tapi bener lo gak tau? terus gadis itu siapa? apa jangan-jangan dedemit?"
Jayden tampak diam berfikir, Apa mungkin gadis yang di temui Dava itu adalah Sheena?
Jayden ingat, kenapa gadis itu belum kembali juga padanya?
...----------------...
Pukul 7 malam Sheena kembali, dengan tangan kosong, tak ada apapun yang bisa dia temukan. Penyelidikan pertamanya tak membuahkan hasil apapun.
Sheena berdecak sebal mengingat kejadian tadi siang, Rasti ternyata mengirim alamat yang salah, panti asuhan yang Rasti tahu itu bukan panti asuhan 'Terima kasih bunda' tapi 'Kasih bunda' doang, tidak ada 'Terima' nya. Akibat dari Rasti yang muter-muter memberi alamat itu Sheena hampir sepuluh kali menaiki taksi dan tiga kali menaiki bus, cuma muter-muter gak jelas.
Gimana pas sampai alamat ternyata panti asuhannya sudah lama di gusur dan di gantikan dengan mall besar.
'Hehehe, maaf Sheen, aku gak tau, agak amnesia keknya, lupa kalau panti asuhan itu udah di gusur lama'
'Gak apa-apa Ras, masih ada hari esok, pasti akan ada petunjuk baru, aku gak akan nyerah'
Ucap Sheena pada Rasti di sebrang telepon saat itu.
'Kamu gigih banget ya, aku salut, aku bakal doa dari sini semoga ada petunjuk baru'
Sheena tersenyum mengingat perkataan Rasti saat itu. Benar, kegigihan inilah yang membuat ia bertahan sampai saat ini, dia tidak boleh menyerah di tengah jalan.
Sheena sedikit menengadah, menatap pagar kokoh yang menjulang tinggi di depannya ini.
"Pada akhirnya aku bakal kembali kesini lagi."
Sheena menghela nafas, memaksakan diri untuk tersenyum. "Yosh! kamu harus semangat Sheena! Semangat!"
Sheena berjalan dengan sedikit mengendap-ngendap, untuk sampai ke kamarnya, ia harus melewati ruang tamu sebesar lapangan arena ini, ia berusaha keras untuk tidak menimbulkan suara, ruangan ini sudah gelap, itu berarti para maid sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Dan tuan itu? Sheena menggeleng, untuk apa juga memikirkannya.
__ADS_1
Ctak! tiba-tiba saja lampu menyala, Sheena yang terkejut mengedarkan pandangan, dan saat itulah matanya bertemu dengan mata Jayden yang menatapnya tajam. Sheena tersentak kaget.
"T-tuan?" pria dengan jubah tidur berwarna hitam itu menghampiri dirinya, tangannya melipat ke depan, dengan menaikan dagu ke atas, jangan lupakan tatapannya yang sedingin es.
Jayden menatap jam digital di pergelangan tangan. "Jam delapan lewat."
"Sepertinya aku terlalu bermurah hati padamu, sampai kau semena-mena seperti ini."
Jayden semakin memajukan langkah membuat Sheena mundur otomatis, semakin dekat, semakin dekat, hingga kini tubuh Sheena mentok di depan tembok.
"Tuan, tapi inikan masih belum jam 10."
Brak! Jayden meluruskan tangan hingga menyentuh tembok, tangannya terulur untuk mengukung Sheena di bawa kuasanya.
Sheena memejam karna suara gebrakan itu membuatnya kaget.
"Berani membantah ku?"
Sheena menggeleng cepat, pupil matanya melebar menatap Jayden, karna tinggi tubuh mereka yang jomplang membuat Sheena dengan muda meloloskan diri.
Kini Sheena berhadapan tak jauh dari pria itu.
"Tuan kenapa sih? dikit, dikit emosi, dikit dikit emosian, sensi, galak, gak ada gitu manis-manisnya?"
"Kau itu ya tuan Jayden yang terhormat aku tuh kadang gak ngerti, padahal kita jarang ada interaksi, kamu selalu sibuk, tapi kenapa setiap dekat dengan ku, kamu itu sensian, gak bisa gitu lembut-lembut ke aku, gak perlu pake nada tinggi."
"Aku tuh capek, di rumah aku tuh gak pernah di perlakukan kaya gini. Oke aku tahu kita ini cuma sebatas atasan dan juga bawahan, tapi aku juga manusia, aku wanita loh, gak bisa gitu lembut dikit?"
Nafas Sheena tersengal-sengal, dadanya naik turun setelah meluapkan emosi yang selama ini ia pendam, dia tak pernah tahu ia bisa berbicara panjang x lebar, tanpa jeda seperti tadi. Daebak!
"Sudah? sudah bicaranya?"
"Eh?" Sheena melebarkan mata. "Tuan ngedengerin gak sih issh!"
Jayden tiba-tiba mendekat kembali, Sheena menatap waspada.
"Tuan mau ngapain?"
"Sepertinya aku harus memberikan sedikit hukuman padamu." Jayden kembali merentangkan tangannya hingga menyentuh tembok.
__ADS_1
Cup!
Sebelum Sheena protes lagi, Jayden sudah lebih dulu membungkuk kan tubuh, memiringkan kepala dan melabuhkan sebuah kecupan, tepat di bibir.