Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Menghadap calon mertua


__ADS_3

"Tuan, apa kamu yakin?"


Sheena menatap Jayden dengan raut wajah melas, antara ragu dan gugup ia memilin ujung gaun yang jayden hadiahkan padanya, mencoba menetralkan detak jantung.


"Kenapa? mereka adalah orang tuamu, tidak ada salahnya bertanya," kata Jayden dengan sebelah tangannya memegang setir mobil.


Tepat di depan mereka adalah rumah orang tua Sheena, demi mendapatkan jawaban dari pertanyaan tentang panti asuhan itu, Jayden membawa Sheena kesini, semuanya harus segera terungkap.


"Tapi ... aku terlalu sungkan pada ayah, aku sudah berjanji untuk mencari tahu orang tua asliku seorang diri tanpa bantuan dari mereka, aku ... "


Tep! Jayden memegang erat tangan mungil Sheena. "Jangan terlalu di pikirkan, anggaplah kita berkunjung, untuk menjelaskan hubungan kita," kata Jayden, mengusap cincin perak bertahtakan berlian yang tersemat di jari manis Sheena.


Sheena menunduk malu, ia memandang Jayden mengangguk pelan. Jayden keluar lebih dulu, memutar arah, merapikan jas lalu membuka pintu mobil Sheena, tangannya terjulur ke arah Sheena dengan senyum tipis terukir.


Sheena mendongak, mengembangkan senyum hangatnya, menerima uluran tangan Jayden. "Ayok."


Mereka berjalan beriringan dengan tangan saling mengenggam erat, Sheena mencoba menetralkan degup jantungnya lalu melangkah ke rumah bertingkat dua dengan halaman luas itu.


...----------------...


Saat mereka datang, ibu yang pertama kali menyadari, ia melihat Sheena lalu berlari memekik terkejut. "Nana, kamu kapan datang kesini nak?"


Sheena langsung menghambur memeluk sang ibu. "Mama, aku kangen!" ucapnya dengan nada girang namun mata uang berembun.


"Mama juga kangen." perempuan berusia paruh baya itu tersenyum sambil memejamkan mendekap erat putri kesayangannya.


Mereka melerai pelukan, mata ibu Sheena sudah berkaca-kaca, ia mengusap lembut wajah putrinya. "Gak kerasa udah dua bulan kamu gak ada di tengah-tengah kita, ayah juga adikmu Dimas, sangat merindukanmu."


Sheena mengangguk cepat. "Aku juga, aku rindu kalian semua."


Tanpa sadar ibu melirik ke arah Jayden yang setia berdiri di samping Sheena. "Oh, ini bukannya atasan mu Na?" tanya ibu berbisik pada Sheena.


Sheena tersenyum canggung, melirik ke arah Jayden, lalu tersenyum. "I-ya mah."


"Tidak!" seseorang menyela, Sheena menatap Jayden dengan dramatis.


"Tuan, apa yang kau lakukan?" batinnya menjerit.

__ADS_1


"Aku bukan atasannya, aku ... calon suami Afsheena."


Buum! seperti bom yang meledak dengan cepat membuat sang ibu juga Sheena membeku seketika, terkejut.


"Ap maksud anda?"dahi bu Nafisah mengekerut dalam.


"Mah?" Sheena mencoba mendekati sang ibunda.


"Ayo kita bicarakan di dalam, biar ayahmu yang bicara," kata sang ibu dengan datar.


Sheena menunduk lesu, lalu menatap gemas ke arah Jayden. "Tuan!" desisnya cemberut.


"Tidak apa-apa, biar sekali saja orang tuamu tahu," kata Jayden dengan santainya.


"Lebih cepat lebih baik. Ayo." menggamit tangan Sheena, lalu bergandengan menuju rumah. Seperti anak ayam, Sheena hanya bisa menurut mengikuti Jayden, tak tahu apa yang akan terjadi di dalam nanti.


Mudah-mudahan baik.


...----------------...


Di ruang tamu minimalis dengan meja bundar dan dua sofa besar juga satu sofa standar itu, ayah duduk dengan melipat kedua tangannya di depan dada, matanya nyalang menatap kedua insani yang kini duduk berdampingan di hadapannya, ibu selaku penengah juga pendengar duduk di samping ayah.


Jayden dan Sheena mengangguk bersamaan. "Maaf jika terkesan kami menutupi, tapi kami juga menjalani hubungan baru-baru ini dan saya sudah berniat untuk menikahi Sheena secepatnya," ucap Jayden dengan mantap, pria gagah membusungkan dada,tanda keseriusan nya yang paling mendalam.


"Ayah ... " Sheena memanggil pelan, "ayah marah?"


"Hmmm" dengan masih bersidekap dada ayah menyipitkan mata, lalu tanpa di duga seulas senyum terbit di wajahnya.


"Kata siapa ayah marah?"


"Eh?!" Jayden dan Sheena sama-sama melempar pandang, lalu Sheena tersenyum lebar.


"Ayah justru sangat gembira, akhirnya putri ayah laku juga." senyum jahil ayah kentara di wajahnya.


Sheena mencebik. "Ish, ayah."


Ayah lantas tertawa, kontan melebarkan kedua tangannya, mengharap sebuah pelukan. "Kemari, ayah rindu putri kecil ayah ini."

__ADS_1


Mata bulat Sheena lantas berkaca-kaca, ia mengusap air mata yang lancang jatuh begitu saja, secepat kilat menghambur ke dekapan ayah yang hangat.


"Nana juga rindu, rindu banget sama ayah," lirihnya menenggelamkan wajah di pundak tegap pahlawan hebatnya itu.


"Ayah juga rindu sama Nana. Putri ayah udah dewasa ya." menepuk-nepuk punggung Sheena dengan lembut.


Melerai pelukan, Sheena lantas beralih pada sang mamah yang menatap dengan mata berkaca-kaca juga, lantas memeluk tubuh wanita yang telah memberikan kasih sayang yang tak terbatas padanya itu.


"Mama, Nana rindu," lirihnya, lagi.


"Mama juga rindu sayang."


Suasana menjadi mengharu biru, Jayden meski tanpa ekspresi namun tatapannya tak pernah bohong, ada rasa bahagia juga saat melihat wanitanya juga bahagia saat ini.


Mungkin, pembicaraan tentang panti asuhan itu akan dia tunda dulu, keluarga kecil itu butuh waktu untuk melepas rindu lebih lama.


Kini giliran mata ayah beralih menatap Jayden, pria itu seketika menenggakkan tubuhnya. Takut-takut ia akan di interogasi, Jayden harus menjawab dengan baik, harus menjadi kriteria menantu idaman untuk orang tua kekasihnya.


"Lantas, pak Jayden, saya sudah pernah melihat artikel tentang anda di forum internet sebelumnya, anda cukup terkenal meskipun bukan dari kalangan selebriti ya," tutur ayah berkelakar.


"Tapi saya tahu anda orang yang baik juga dermawan, terbukti dengan banyaknya jejak kebaikan anda di artikel yang pernah saya baca."


Jayden manggut-manggut, tersenyum tipis. "Terimakasih ... ayah mertua."


Suasana tiba-tiba menjadi canggung, ayah tanpa sengaja menarik sebelah alisnya tersebab ucapan Jayden yang terakhir. Begitupun Sheena dan ibu yang saling pandang setelah menatap dua pria di hadapan mereka ini.


"Bolehkah aku memanggil anda ... ayah mertua?" pungkas Jayden setelah lama hening.


Ayah berdehem singkat. " boleh saja."


Satu kata itu sukses membuat Sheena dan ibu menatap Jayden, tertegun sekaligus senang.


"Asalkan kau sudah mengikat putriku dalam sebuah pernikahan." lanjut ayah menambah perkataan nya membuat senyum Sheena dan ibu luntur, lantas ibu mencebik pada ayah.


"Kamu ini yah, biarin, toh pak Jayden juga bakal jadi mantu kita secepatnya, nanti."


"Benarkan nak Jay?" tanya ibu menatap Jayden.

__ADS_1


Jayden tersenyum samar, mengangguk. Perutnya serasa di aduk-aduk, kegugupan membuat kerongkongan nya kering dan mual. Mungkin lebih baik jika dia mengalahkan musuh di atas Medan perang atau menghadiri meeting selama berjam-jam daripada menghadapi pertanyaan yang seperti ini.


Bukan apa, Jayden bisa saja menikahi Sheena hari ini juga dengan pesta besar, perhelatan akbar bahkan dia atas kapal pesiar mewah, tapi tetap saja pertemuan seorang pria dengan calon mertuanya, itu tetap mengerikan, Jayden harap dia tidak melakukan sesuatu yang membuat nilai plus calon menantu idaman kedua orang tua Sheena menjadi turun.


__ADS_2