Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Back to home


__ADS_3

Sheena menatap ke sekitar, rumah bertingkat dua itu tampak sepi, suasana di sekitarnya pun terlihat lenggah.


Seharian penuh kabur tanpa pengejaran, bagaimana kabar keluarganya? Apakah mereka mengkhawatirkan dirinya?


Ia mengambil nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, di genggamannya Tote bag di tangan dengan erat, berusaha merapikan gemuruh di dada yang semakin menjadi.


Saat hendak melangkahkan kaki, keluar seorang bocah lelaki yang langsung terbelalak saat mata mereka bertemu.


"Kak ... Kak Sheena!" Bocah lelaki itu langsung berlari dan menghambur memeluknya. Sheena tak kuasa menahan kaca-kaca di matanya, di dekapnya adik kesayangannya ini.


"Kakak dari mana aja? Ayah, ibu, keluarga besar nyariin, mereka khawatir banget, terutama ibu."


"Kakak sebenarnya dari mana?" Mata elang bocah tampan itu berembun, mengisyaratkan kerinduan yang terdalam untuk sang kakak kesayangan.


"Dimas, ada apa kenapa teriak?!" Seseorang keluar dari rumah itu, wanita paruh baya dengan wajah keibuan itu langsung menghampiri tak kalah melihat putrinya telah kembali.


"Sheena ..." Bu Nafisah langsung memeluk anak sulungnya itu, seketika haru menyelimuti.


"Dari mana aja kamu nak ... Ibu dan ayah nyariin sampai gak tau lagi harus gimana?" Bu Nafisah mengusap rambut indah Sheena melayangkan kecupan di kening juga pipi. Sejak dulu Sheena memang selalu di manja, meskipun mempunyai adik yang jauh lebih muda darinya tak membuat kasih sayang orang tuanya berkurang padanya, apalagi Sheena adalah putri semata wayang yang sangat di jaga.


"Maafin Nana, Bu maaf." Sheena menangis, mengusap tangan yang sudah mulai keriput itu, wajah ibunya tetap cantik meski umurnya tak lagi muda.


"Ayo, kita ke dalam, ayah mu sudah sangat merindukanmu, dia yang paling merindukan mu Sheena, bahkan tak tidur sejak semalam karna terus mengkhawatirkan mu."


Sheena tertegun, sebegitu besar cinta sang ayah untuknya, lagi-lagi hal itu membuat hati Sheena tercabik, dia menyesali perbuatannya yang kabur dari keadaan dan membuat kedua orang tuanya khawatir.


Sheena lalu mengangguk, Dimas mengenggam tangan kanannya sementara sang ibu menggenggam sebelahnya, mereka menuntun Sheena untuk masuk ke dalam.


Di dalam terlihat seorang pria dengan gurat-gurat halus di sekitar matanya, wajah teduh dengan mata yang terus menatap ke depan, kini pria itu tengah duduk di sofa, terus menanti putri kecilnya akan kembali.


Sheena tak kuasa menahan tangis, di hampirinya cinta pertamanya itu, Sheena lalu bersimpuh membuat lelaki setengah baya itu terkejut.


"Ayah ... " Sheena menangis dengan bahu bergetar, menenggelamkan wajahnya di pangkuan sang Ayah.


"Maafkan Nana." Mengenggam kedua tangan kasar, bukti kerja keras lelaki itu selama ini untuk keluarganya.


"Sheena ... Nana nya ayah ... Nana akhirnya kamu kembali." Pak Hamid langsung membungkuk menangkup wajah sang putri, meski tak ada air mata namun tatapan mata tua itu sudah mengisyaratkan semuanya, betapa dia sangat merindukan dan mengkhawatirkan sang putri.


"Iya ayah ini Nana, maafkan Nana sudah buat ayah cemas." Memeluk tubuh ringkih itu dalam dekapan.


"Ayah nyariin kamu sampai kelimpungan Nak, kenapa kamu pergi? Bikin ayah khawatir?" Mengusap surai panjang sang putri.

__ADS_1


"Maafkan Nana. Nana sakit hati Yah, Nana perlu waktu sendiri saat itu, sampai melupakan bahwa ada kalian juga yang mencemaskan Nana."


Pak Hamid melepaskan pelukan mereka, memindai penampilan sang putri kesayangan. "Apa kamu baik-baik saja? Di mana kamu saat itu Na? Gak ada kan yang jahatin kamu?"


"Gak Yah, Nana baik-baik aja." menggeleng dengan isak tangisnya. "Doa kalian udah melindungi Nana."


"Nana menumpang di rumah teman saat itu, untuk menenangkan diri sebentar." Bohong Sheena karena tak ingin kedua orang tuanya semakin khawatir.


"Syukurlah." Ayah kembali memeluk Nana, mengusap kepala putri kecilnya ini, sebesar apapun Sheena sedewasa apapun dia akan selalu menjadi putri kecil untuk Ayah. "Putri ku, putri ku sayang, maafkan ayah."


Lalu ibu dan Dimas juga menghampiri, mereka berpelukan bersama, keluarga harmonis telah berkumpul kembali.


***


Setelah keadaan cukup kondusif, setelah Isak haru yang terjadi Sheena, ibu dan ayah. berbincang di kamar Sheena.


"Maafkan Ayah Na, ini semua gara-gara yang terlalu terburu-buru ingin menikah kan kalian." Ayah menunduk dengan menggeleng kuat.


"Tidak, ini bukan salah Ayah, Nana aja saat itu di butakan cinta, hingga tidak tahu ternyata selama ini mas Andre terpaksa untuk menerima perjodohan ini."


Ayah Andre dan ayah Sheena adalah dua kawan baik sama-sama berprofesi sebagai juragan, Membuat hubungan di antara kedua belah pihak berjalan begitu baik, Sheena dan Andre pun tinggal dalam ruang lingkup yang sama, di kuliah Andre adalah kakak tingkat Sheena, bersama Raina mereka bertiga sering berangkat dan mengerjakan tugas bersama, sedangkan Rasti adalah teman sepermainannya di lingkungan rumah ini. Sheena sering curhat tentang perasaannya kepada Andre dengan Rasti juga Raina.


Saat itu dia tidak bisa membedakan perhatian antara sesama teman,atau dua orang yang saling menyimpan rasa. hingga ia akhirnya tahu tentang perselingkuhan Andre dengan sahabat baiknya Reina.


Selama ia menjalin kasih dengan Andre menjalani perjodohan dari kedua orang tua mereka, Sheena selalu di liputi kebahagiaan tanpa tahu ternyata perhatian, tatapan,juga hati pria itu bukanlah di tunjukkan untuknya tapi untuk Raina. Hanya untuk Raina.


Mengingatnya kembali membuat rasa sakit itu kembali datang. Rasa sakit yang membuat dadanya bergemuruh dengan nafas yang semakin tercekat.


"Sheena." ibu menepuk punggung tangannya hingga membuat Sheena tersadar.


"Yah?" Sheena gelagapan lalu akhirnya gadis itu tersenyum. "Maaf Bu, Sheena melamun hehe."


Tapi pandangan ayah dan ibu menatap iba padanya. "Maafkan kami ya sayang, maafkan atas kekeliruan kami selama ini."


Sheena menggeleng. "Gak Yah, Bu, Sheena yang harusnya minta maaf."


"Enggak, bukan kamu Na." ayah menggeram dengan tangannya yang terkepal erat. "Tapi Andre si breng*sek itu!"


"Harusnya jika dia tidak bisa menjalani perjodohan ini, dia bisa menolak dari awal, bukannya membuat kedua keluarga malu karna ulahnya!"


"Ayah." ibu menenangkan ayah. "Sudah." lalu menggeleng, menatap Sheena yang menunduk.

__ADS_1


Raut wajah ayah seketika berubah. "Maafkan Ayah, sayang."


Sheena menggeleng, matanya menatap nanar. "Pasti Ayah yang sangat di rugikan di sini, padahal semuanya sudah seratus persen siap saat itu, biaya gedung, sewa WO, catering, semuanya, terlebih harga diri di depan para tamu undangan, ayah telah mengorbankan segalanya."


Ayah menggeleng. "Ayah tidak perduli dengan itu semua, yang terpenting adalah kebahagiaan putri ayah, kebahagiaan mu."


Sheena mengangguk dengan linangan air mata yang kembali merengsek ingin keluar. Betapa beruntungnya ia mempunyai kedua orang tua lengkap yang sangat menyayanginya. Juga adik yang selalu menganggunya namun di balik itu tersimpan kasih sayang yang besar untuknya.


Ibu mengenggam tangan Sheena mengusap jejak-jejak air mata di pipi Sheena yang telah banjir.


"Ibu dan ayah hanya berharap satu, semoga kelak akan ada pria yang sangat mencintai dan menghargai mu, menjunjung tinggi martabat ku dan akan selalu membahagiakan mu."


Sheena mengangguk. Namun setelah trauma dan rasa sakit yang Andre torehkan padanya, adakah pria yang seperti itu untuknya."


***


Ada, ya tentu saja ada.


Di lain tempat, Jayden menatap nyalang dengan aura mengintimidasi yang keluar dari tempatnya berpijak, pria itu menodongkan pistol yang mengacung tepat di kepala seorang pria yang kini sudah sangat ketakutan.


Bahkan air mengalir di antara sela pahanya menciptakan genangan di bawah kaki yang berdiri gemetar. Pria itu ngompol!


"Katakan, siapa yang menyuruhmu datang kemari? siapa tuanmu?"


Pria itu menggeleng kuat, meskipun nyawanya sudah di ujung tanduk, dia tetap setia menutup mulut tak bersuara sedikit pun.


"Baiklah, kau memilih membisu ternyata." Jayden tersenyum sinis dengan kilatan api amarah di matanya.


Dorr! seketika ruangan gelap itu menggema dengan suara tembakan diiringi dengan tumbangnya tubuh kaku di lantai.


Genangan cairan kental berwarna merah langsung merembes hingga mengenai sepatu yang di kenakan Jayden, namun pria itu tak perduli.


"Sudah berani mengirimkan mata-mata di wilayah kekuasaan seorang Jayden, itu sama saja dengan mencari ma ti!"


***


Bonus visual


Afsheena


__ADS_1


Jayden Alexander



__ADS_2