
Sheena dan Jayden saling menatap selama beberapa detik, sebelum akhirnya Jayden yang memutuskan pandangan lebih dulu. pria itu menarik tangannya dari pipi Sheena, lalu beranjak mengusap tengkuknya, Sheena masih melongo dengan mengerjap-ngerjap. Otaknya blank.
"Ekhem, maksud ku, aku senang kamu memilih pilihan yang tepat." kilahnya.
"Ah, ya." Sheena memanggut- manggut seraya tertawa ringan. Entah kenapa di beberapa kesempatan ucapan yang dilontarkan Jayden terdengar aneh namun penuh makna, ia tak mengerti, sifat Jayden selalu berubah-ubah. seperti bunglon.
"Oh ya, jika kakek datang lagi kesini, segeralah hubungi aku," kata Jayden, Sheena mengangguk mengerti.
"Wajahmu, apa sudah di obati?" tanyanya.
Sheena terdiam sejenak sampai akhirnya mengangguk. "Oh, sudah kok tuan, udah aku salepin."
Jayden memandang pipi Sheena yang memar dengan tangan terkepal erat, dia bersumpah tidak akan mengampuni pada siapa saja yang sudah menyakiti miliknya. Dia akan memberi dua kali lipat kesakitan pada orang-orang yang telah menyakiti Sheena.
Jayden menyentuh kembali luka memar Sheena, hanya sekilas lalu pria itu berdiri dari duduknya.
"Kembalilah ke kamar mu, beristirahat."
Sheena agak mendongak, menatapnya lalu gadis itu mengangguk. "Eumm, tuan juga. Selamat malam."
...----------------...
Pagi ini Sheena di buat kesal tak kalah suara jam alarm weker berdering keras seakan-akan hendak membuat gendang telinganya pecah. Sheena yang sedang terlelap sambil merajut mimpi pergi ke Eropa bersama babang ji chang Wook pun terpaksa harus bangun dengan kedua telinga ia bekap menggunakan bantal.
"Arrggh! napa sih bukannya ini hari libur? harusnya aku bisa bangun lebih siang!"
Saat ia mencoba membuka mata terlihat bayangan seseorang yang tinggi tegap, Sheena pun mengucek-ngucek matanya demi menjernihkan penglihatan.
"Babang ji chang, kok kamu ada di sini?" Sheena tersenyum girang, berarti dia tidak sedang bermimpi kan?
Aktor Korea kesukaan Sheena yang nomor kesekian itu benar-benar berdiri di depannya, wajahnya tampan, paripurna seperti rembulan yang bersinar terang di gelapnya malam. Ah, dunia ...
Tapi sebentar, ia mengucek-ngucek mata lagi, Tuk! tiba-tiba saja dahinya yang seluas lapangan sepak bola di dorong keras oleh telunjuk seseorang.
"Berhalu lagi?"
Bayangan babang ji chang Wook sekejap hilang dalam pandangan,di gantikan dengan wajah tak kalah tampan namun menyeramkan yang kini memandangnya dengan horor.
"T-tuan Jayden! Argghh, kenapa tuan ada di kamar ku?" Sheena sontak menutup tubuhnya dengan selimut, entah padahal dia memakai pakaian tertutup. Refleks saja.
__ADS_1
"Kau lihat sudah jam berapa ini?" tidak mempedulikan teriakan Sheena, telunjuk Jayden mengarah pada jam dinding yang ada di sana.
"Jam sembilan pagi, tapi bukankah hari ini tuan libur? aku bisa sedikit bermalas-malasan kan?"
Jayden berdecak menarik selimut Sheena, "Tidak ada yang nama bermalas-malasan, sekarang bangun."
"E-eh, eh tuan, tunggu jangan di tarik-tarik." kini Jayden dan Sheena malah seperti sedang bermain tarik tambang, saling tarik-menarik selimut yang Sheena kenakan.
Sampai pada akhirnya Jayden tak bermain-main lagi langsung menyentak selimut itu membuat tubuh Sheena ikut tertarik, mendekat ke arahnya.
"Sekarang bangun, atau aku akan memberikan hukuman yang lebih dari sebelumnya." suara pria itu terdengar setengah berbisik dan begitu maskulin.
Sheena buru-buru saja berdiri. "Siap pak, sekarang saya udah bangun, hehehe."
Mengingat tentang ciuman tak terduga mereka tempo lalu yang bahkan masih sangat segar di ingatan Sheena bagaimana rasanya, membuat ia bergidik seketika.
Kenapa juga dia tidak marah soal itu? harusnya dia menuntut Jayden karna telah lancang menciumnya secara tiba-tiba. Huffft!
"Cepat ikuti aku." Jayden berjalan lebih dulu dengan raut yang sama saja. Datar.
Sheena mengekori dari belakang, apa pria ini tidak bisa mengijinkan dia untuk sekedar membasuh wajahnya dulu gitu? Menyebalkan!
Jayden berbalik menghadapnya, Sheena sedikit tersentak karna wajah mereka tiba-tiba mendekat, Jayden melipat tangan di depan dada, wajahnya yang Paripurna itu sekarang terlihat garang.
"Mulai hari ini kau akan memasak untuk ku."
"Eh?" Sheena cengo dengan mulut menganga. "Aku?" menunjuk diri sendiri. "Memasak untuk tuan."
Jayden mengangguk, Sheena gelagapan. "K-kan sudah ada koki yang bertugas tuan, kenapa harus aku?"
"Pak James, koki di mansion ini telah kembali ke negara asalnya, istrinya melahirkan jadi dia mengajukan cuti panjang."
"Kenapa aku tidak tahu ya?" gumamnya, biasanya kabar seperti ini Gia akan bercerita padanya mengingat mereka yang semakin akrab seperti sahabat.
Namun Gia berdiri di ujung sana, melirik mata terhadapnya lalu gadis itu menggeleng cepat-cepat, Sheena mengerti, berarti Gia juga baru tahu tentang kabar ini.
Sheena menggigit bibir bawah, tersenyum canggung. "Tapi tuan, kan ada banyak maid di sini, kenapa harus aku?" Jayden menatapnya tajam, Sheena mengerjap. "Masalahnya aku takut nanti makanan yang ku buat tidak sesuai dengan selera tuan."
"Kalau begitu cobalah untuk memasak." Jayden semakin bersidekap dada, baiklah kali ini wajah Sheena sudah seperti vampir, pucat pasi.
__ADS_1
"Tapi tuan-- "
"Gia, makanan apa yang sederhana untuk sarapan?" tak mempedulikan protes Sheena, Jayden bertanya pada salah satu pelayan kepercayaannya itu.
"Untuk sarapan ... biasanya nasi goreng tuan."
Jayden kembali menatap Sheena. "Baiklah kalau begitu buat kan aku nasi goreng."
"Kau suka makanan kan? tunjukan padaku kemampuan memasak mu."
Sheena tercengang, habis sudah!
...----------------...
Ruangan pantry menjadi berantakan, setengah jam Sheena berkutat di dapur di tuntun Gia Sheena mencoba untuk memasak nasi goreng sesuai keinginan tuan dingin itu.
"Nona, padahal nasi goreng masakan sederhana, kenapa nona susah sekali membuatnya?" Gia hampir putus asa, pasalnya untuk memotong bawang saja Sheena tak bisa, Gia hampir melolong frustasi.
"Maaf Gia, selama dua puluh dua tahun hidup ku aku hampir tak pernah menyentuh dapur, apalagi membuat sesuatu."
"Di rumah, aku selalu di urusi pembantu, sejak kecil, bahkan ketika pembantu di rumah ku berhenti, ibuku tak pernah mengijinkan ku menyentuh dapur."
Huffft! Gia menghela nafas panjang, mendengar penuturan Sheena ia memaklumi akhirnya, ternyata wanita yang di bawa tuannya ini adalah wanita manja yang sangat di jaga oleh orang tuanya.
Irinya, andai dia memiliki kehidupan seperti itu. Gia menggeleng saat pemikirannya semakin melanglang jauh.
"Gia ... " Sheena melambaikan tangannya membuat Gia tersadar dari lamunan.
"Ah, ya nona."
"Sekarang aku harus bagaimana?"
Gia tersenyum lembut. "Nona memasak saja seperti apa yang saya ajari tadi, maaf nona, tuan tidak mengijinkan saya untuk membantu nona lebih dari ini."
Sheena mengangguk, tertunduk lesu, Baiklah, buat saja apa yang dia bisa, soal reaksi pria itu nanti urusan belakangan.
"Hmpp, kamu pasti bisa Sheena, go!go!"
Di sofa tak jauh dari pantry Jayden memperhatikan Sheena dengan tatapan sulit terbaca, begitu dalam dan penuh ke hati-hatian, ia memapah paha dengan menumpu sikut pada lengan kursi, menatap Sheena dengan seringai kecil yang timbul diam-diam.
__ADS_1