Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Kecemburuan tipis-tipis tuan mafia


__ADS_3

Petir menggelegar di luar sana, bersamaan dengan wajah Sheena yang kian mendung. Tak berfikir masalah ini akan bertambah runyam, dan dia harus mendatangani meski tak ingin.


Sejenak Sheena menetralkan detak jantung, memikirkan sebuah ide di dalam otaknya. Mungkin inilah kesempatan untuknya, dengan kekuasaan yang Jayden miliki.


"Tapi tuan bisakah saya mengajukan satu permintaan. Hanya satu," kata Sheena pelan, mengusap telapak tangannya yang terasa dingin.


Jayden menatap kedua bola mata jernih itu, dengan raut datar seperti biasa. "Apa?"


"Bisakah tuan berpura-pura sebagai atasan saya di depan orang tua saya nanti?"


"Mengapa begitu?"


"Di perjanjiannya tertulis,jika saya menjadi pelayan anda, saya akan di tempat kan di mansion belakang, yang otomatis saya harus berpisah dengan kedua orang tua saya."


Susah payah Sheena menahan sesak di dada, suara Sheena seperti tercekat di tenggorokan.


"Lagipula saya memang harus berpisah dengan kedua orang tua saya, untuk ... Mencari keluarga asli saya."


Jayden tertegun, begitupun dengan Kevin, seakan seperti merasakan kesedihan yang Sheena rasakan. Kabut mengental di udara, air mata seperti memaksa untuk merengsek keluar.


"Mungkin dengan adanya tuan sebagai alasan, kedua orang tua saya setidaknya tidak bersedih terlalu lama, juga bisa melepas putri semata wayang mereka dengan lapang dada."


"Kau ... Bukan anak kandung kedua orang tuamu?"


Sheena mendongak, mengangguk dengan lemah, sorot matanya meredup. tiba-tiba suasana menjadi haru.


Jayden sungguh tak menyangka, dari info yang dia dapat, Sheena adalah anak periang yang sangat di sayangi kedua orang tuanya. Setidaknya detektif yang dia perintahkan untuk mencari tahu tentang Sheena, adalah detektif pengalaman yang tak akan mungkin meleset dalam pekerjaannya.


Jayden berdeham, mengusir rasa canggung yang tiba-tiba menyeruak.


"Aku mengerti kesedihan mu, karna kau telah terikat kontrak dengan ku, maka aku akan membantumu."


Sheena tersenyum. "Terimakasih, setidaknya itulah yang saya butuhkan. Untuk kontrak anda tidak perlu khawatir, saya sudah mendatangani."


"Untuk kedepannya saya akan bekerja keras." Mungkin setelah rencananya untuk keluar dari rumah berhasil, rencana selanjutnya adalah mencari tahu tentang orang tua aslinya.


"Kalau begitu saya permisi." Sheena mendorong kursi hingga menimbulkan suara berderit, lalu gadis itu berdiri.


"Tunggu, kau mau kemana?"


Sheena berbalik. "Ya saya mau pulang."


"Di luar hujan deras non, anda tidak dengar suara petir yang menyambar itu?" Sahut Kevin menunjuk ke langit-langit.

__ADS_1


"Oh, kau benar." Mendadak Sheena menjadi malu. Kesedihannya tertarik kembali karna kebodohannya. ia menyeka sudut mata yang berair.


"Nona lebih baik menginap semalam di sini." usul Kevin.


Sheena mengigit bibir. "kayanya gak usah deh, gak enak."


"Gak enak kenapa non?" tanya Kevin.


"Yah gak enak aja." masa para pria ini gak peka sih? mana ada seorang gadis yang menginap di rumah seorang pria. sendiri lagi.


"Dia benar, kau lebih baik bermalam di sini." sahut Jayden, lalu pria itu berdiri.


"Kau tidak usah khawatir malam ini Kevin dan aku tidak akan ada di rumah, hanya pelayan wanita saja. kami bisa menjamin keselamatan mu," ucap Jayden seakan mengerti yang Sheena rasakan.


"Ya nona, perkataan tuan tepat sekali." mencondongkan tubuh lebih dekat ke arah Sheena. "lagi pun, nona belum mencoba masakan yang akan di siapkan koki terbaik di sini kan? saya jamin gak akan rugi nona." bisik Kevin.


Sheena tertawa. "Baiklah kalau kau memaksa." lalu kedua orang itu tertawa.


Jayden memutar bola mata malas, entah apa yang kedua orang itu bicarakan, padahal tidak ada yang lucu. Humor mereka sama-sama receh.


Brakk! karna kesal Jayden menekan sebuah buku dengan keras ke meja. Sheena dan Kevin terperanjat kaget otomatis menghentikan tawa mereka.


"Ada banyak kamar di sini, pilihlah yang kau mau," ujar Jayden lalu berlalu pergi dengan rahang mengeras.


"Lebih baik kau jangan tertawa keras seperti tadi, itu sungguh tidak sopan," ucapnya pada Sheena. lalu berbalik pergi.


Sheena dan Kevin menatap heran. "Tuan Jayden kenapa sih? dari tadi sensi terus perasaan."


Kevin terkikik. "Sudah menjadi sifat tuan seperti itu nona. kalau begitu saya permisi ikut menyusul tuan, nanti akan ada maid yang datang untuk menuntun nona."


"Oh sepertinya kalian terburu-buru, apakah ada pekerjaan penting?"


"Hehehe, bisa di bilang begitu nona." Kevin mengusap tengkuknya, jika dia bilang pekerjaannya adalah menghabisi nyawa seseorang, mungkin gadis ini akan langsung pingsan di tempat.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi ya, selamat malam nona."


***


Tak sampai setengah menit menunggu seorang pelayan wanita datang, mendekati Sheena.


"Nona, tuan bos muda bilang anda adalah tamu di sini, ayo saya temani anda menuju kamar anda."


"Eh, Iyah, siap." Sheena yang sedikit berhalusinasi bisa menikah dengan soong Joong Ki, duda tampan dari Korea itu, akhirnya tersadar dan mengikuti pelayan muda ini.

__ADS_1


"Jarang sekali mansion ini kedatangan tamu, saya jadi senang karna kedatangan nona," ucap maid wanita itu, mengajak Sheena mengobrol sambil tersenyum.


"Memang sebelumnya tidak pernah ada tamu di sini ya?" tanya Sheena iseng.


Maid wanita bername tag 'Gia' itu menggeleng. "Belum pernah nona, mansion ini bisa di bilang tertutup dari dunia luar, tuan sangat selektif terhadap orang asing soalnya."


Tak mendengarkan dengan jelas, fokus Sheena malah terus tertuju pada name tag di dada kiri maid itu. "Namamu Gia?"


Maid itu tampak terkejut. "pasti karna name tag ini," ucapnya sambil tersenyum.


Keren! lihatlah bahkan seorang pelayan di sini punya name tag mereka sendiri, seperti orang kantoran saja. Sheena di buat takjub.


"Keren, bisa ada name tag nya gitu ya."


Gia tersenyum. " seperti yang saya bilang itu karena tuan Jayden sangat selektif terhadap orang asing, makanya yang menjadi pelayan nya saja pun harus benar-benar di pilih dengan berbagai tes yang ketat, tuan tidak mudah menaruh kepercayaan terhadap seseorang, maka dari itu kami semua di beri name tag khusus agar tuan tahu yang mana orangnya dan yang mana musuhnya."


"Wih, kereen aku tak pernah mendengar hal yang seperti itu." Gia terkikik karna kepolosan Sheena.


'Ini benar-benar seperti dalam drama Korea yang selalu ku tonton bersama Rasti. apakah sekarang aku sedang memerankan peran utama?' Sheena menjadi berkhayal.


Pangeran tampan dengan kuda putih yang berkelana mencari sang putri. berbekal sepatu kaca di tangannya, pangeran mencari gadis sederhana yang telah memikat hatinya.


"Oh, ternyata kaulah tuan putri itu." Pangeran tampan, park seo joon berlutut di depannya, Sheena terperanjat senang.


”OMG! OPPA!" Sheena berteriak penuh euforia.


"Ya, chagi. ini aku, oppa mu, Sarange." lalu wajah mereka semakin dekat, semakin dekat.


Puk! puk! seseorang memukul pundaknya membuat kehaluan Sheena buyar seketika.


"Astaga, padahal sedikit lagi temuan bibir." Sheena memberengut mendesah pelan.


"Nona anda kenapa? dari tadi anda memejamkan mata terus sambil tersenyum-senyum sendiri."


Sheena menggeleng cepat. "Ehehehe gak kenapa-napa kok, gak kenapa-napa." Astaga! pasti ekspresinya seperti orang gila tadi.


Gia menggeleng, tersenyum. "Silahkan nona, duduk di sini, koki akan menghidangkan makanan terlezat untuk mu."


Waaah! baiklah, makanan lezat, aku datang!


***


Bonus visual Kevin

__ADS_1



__ADS_2