
Mansion utama Jayden Alexander.
Setelah selesai makan di restoran tadi, Kevin dan Sheena kembali ke mansion. Sesuai amanat sang tuan, Kevin akan menjadi bodyguard untuk wanita spesial tuannya ini.
"Kalau begitu aku langsung pergi ya Na, ada beberapa pekerjaan yang harus ku selesai kan." Di sini sudah di lengkapi banyak anak buah dan sistem keamanan yang tinggi jadi Kevin tak usah khawatir meninggalkan Sheena walaupun sendirian.
Sheena mengangguk. "Terimakasih ya untuk traktirannya."
Kevin tertawa pelan. "Tak masalah, kalau begitu aku pergi, byy." Kevin sedikit melambai, Sheena semakin merekah kan senyum ikut melambai pula.
Sheena lalu berbalik, menatap bangunan luas dengan kolam renang besar di depan matanya ini, mau seberapa kali pun ia melihat ia tak berhenti untuk berdecak kagum betapa megah dan mewahnya mansion Jayden ini.
Sepersekon detik ia menunduk sedih, mengingat kembali tentang sikap Jayden akhir-akhir ini, menggeleng kuat-kuat Sheena tak ingin merasakan sakit itu lagi, secepatnya ia harus bicara pada Jayden, tentang apa yang pria itu rasakan,juga tentang perasaannya.
Sheena akhirnya masuk ke dalam, mengitari sekitar ruangan utama yang luas melihat para maid hilir mudik menunaikan pekerjaan mereka, sesekali mereka akan menyapa Sheena, tersenyum. Ia pun melakukan hal yang sama.
Sampai ia melewati tangga besar, yang menghubungkan dua lantai sekaligus sampai ke lantai atas, tempat kamar Jayden berada. Ia menatap sekilas, entah dorongan dari mana ia akhirnya menaiki tangga itu.
Selama bekerja sebagai asisten, seingat Sheena ia tak pernah masuk ke dalam kamar Jayden, ia kepo, sebagian interior mansion ini telah di ubah, tata letak lukisan-lukisan kuno juga di ubah, kamarnya pun telah di pindahkan di lantai dua, satu tingkat lebih maju sampai ke lantai atas.
__ADS_1
Dinginnya ubin lantai seketika memanjakan kaki Sheena yang telanjang, kini ia sudah sampai di depan pintu kamar Jayden, entah bisikkan dari mana ia bisa senekat ini. Ia melirik ke sekitarnya, aman, tak ada orang.
Perlahan Sheena mengambil kenop pintu berlapis emas itu, mendorongnya dengan sangat pelan. Ajaibnya tidak terkunci, menatap ke sekitar Sheena masuk mengendap-ngendap.
Bisa ia rasakan hawa sejuk saat pertama kali menginjakkan kaki di kamar sang tuan, seperti pemiliknya kamar ini bernuansa kelam, gelap dan juga mewah, begitu luas ada AC yang terpasang di setiap sudut ruangan, ranjang besar dengan tirai menjulang, rak-rak buku yang berderet, pintu kamar mandi, tata ruangan yang terlihat rapi dan bahkan juga ada meja billiard di sudut paling pojok.
Sheena masuk perlahan, menatap ke sekitar, Matanya melebar saat melihat sebuah lukisan yang terpajang di dinding samping ranjang.
Itu ... dirinya. Demi melihat lebih jelas Sheena memajukan diri, seperti patung Sheena tak bisa bergerak sama sekali, kakinya seakan tak bisa menyentuh lantai, dadanya berdentum dengan keras.
Di sana di dalam lukisan itu adalah seorang anak kecil berambut panjang dengan jepitan merah menghiasi kening kirinya, yang membuatnya syok sampai tak bisa berkata-kata adalah fakta bahwa foto anak kecil dalam lukisan adalah dirinya.
Jepitan merah itu? Sheena ingat, ia buru-buru berlari ke luar, tak peduli dengan beberapa maid yang kaget saat ia lewati, Sheena berlari melewati tangga lalu menuju ke kamarnya.
Menurunkan koper dari atas lemari, mengobrak-abrik semua isinya, mengambil peti kecil ukiran kayu yang ayahnya berikan untuknya sebagai petunjuk, lalu mengambil sesuatu di dalam sana.
Itu adalah foto dirinya saat kecil, di ruangan serba putih, mendengar informasi dari ayahnya foto itu tersimpan rapi di dalam kantung bajunya saat pertama kali pengurus panti menemukannya tak sadarkan diri do depan panti asuhan di tengah hujan lebat saat itu, lalu Sheena di bawah masuk, di rawat, sampai akhirnya ia tinggal selama beberapa saat di panti asuhan itu.
Sheena mengambil foto itu, lalu berlari kembali seperti di kejar sesuatu, tabir dari semua rahasia itu perlahan tersingkap, tentang takdir yang membawanya pada Jayden Alexander, apakah sedari awal mereka sudah terhubung?
Perlahan Sheena memasuki kamar Jayden kembali, mensejajarkan fotonya dengan lukisan di depannya ini, mirip, seratus persen adalah mirip, Sheena tercengang dengan air mata yang tiba-tiba menyeruak tanpa permisi.
__ADS_1
Kenapa ia terlambat menyadari semua ini? ternyata bocah lelaki yang selama ini menghantui mimpinya, yang ingin cari keberadaannya, selama ini selalu berdiri di sampingnya.
Ingatannya tentang di rumah sakit lima belas tahun lalu perlahan bangkit, seperti kepingan puzzle yang tersusun rapi.
Tentang janji seorang bocah lelaki pada gadis kecil di rumah sakit.
"Nanti kalau udah gede aku bakal nikah sama kamu."
"Benelan kakak selius?"
"Tentu saja, kata ayah seorang pria akan selalu berpegang teguh dalam perkataannya."
"Baiklah, kalau begitu aku bakal nunggu kakak."
Semua percakapan itu seakan menggema di otaknya, suara tawa dua anak kecil juga tangis yang begitu menyayat menggema, membuat kepalanya terasa sangat sakit.
Sheena memegang kepalanya yang terasa berdenyut, pandangannya buram, semua benda yang dia lihat seakan berputar-putar, tak tahan akhirnya ia ambruk tak sadarkan diri.
***
Hai, apakabar hari ini? semoga semuanya di beri kesehatan selalu ya🤗
Jangan lupa like,komen, beri gift, vote, dan bintang lima, terimakasih ✨
__ADS_1