Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin

Menjerat Cinta Sang Mafia Dingin
Bertemu wanita tidak terduga


__ADS_3

"Tuan ... anda baik-baik saja?" tanya Kevin, bukan berlebihan tapi memang yang Kevin tahu tuannya sangat sangat tak suka makanan manis, bahkan jika saja ada rasa manis dalam makanan yang tak sengaja di telannya, Jayden akan langsung memuntahkan, tapi lihatlah sekarang Jayden sedang mengunyah kue coklat itu karna tak ingin melihat Sheena sedih. Bravo!


"Ini tidak buruk." komentar Jayden singkat, dia menunjukkan raut seperti biasa. Datar.


Lalu dia tersenyum kecil pada sang penjaga etalase yang sedari tadi menatapnya. "Ini enak."


"Benarkah?!" Sheena tersenyum girang, gadis itu berjingkrak, perempuan yang menjaga etalase ikut tersenyum juga, merasa gemas melihat interaksi keduanya.


"Baiklah, bungkus kan yang ini ya, oh ya juga yang ini," selain kue coklat tadi Sheena juga memilih beberapa dessert box yang terlihat menggiurkan.


Melihat Sheena yang begitu bersemangat, entah kenapa Jayden tak bisa menyembunyikan senyumnya, pria itu mendengus geli, ia membuang wajah tak ingin orang melihat senyumnya yang sekilas itu.


Kevin juga ikut tersenyum lega, bagaimana melihat ajaibnya dampak yang Sheena berikan pada tuannya, semakin menyakinkan Kevin jika kehidupan Jayden yang flat akan bisa secerah ini berkat seorang gadis bernama Afsheena daisy.


Ternyata pertemuan mereka sedari awal bukan lah sebuah kebetulan belaka, tapi takdir.


Jayden menatap Sheena dalam, ah, benar dia jadi mengerti sekarang, gadis ini bukanlah seperti gadis kebanyakan. Membuat Sheena senang ternyata sederhana itu, bukan dengan mengajaknya ke mall mewah, tapi ke tokoh penuh makanan, bukan dengan memberikan gaun mewah dan barang branded yang akan membuat gadis ini tersenyum lebar tapi makanan manis juga kue cantik yang akan membuatnya senang. Sesederhana itu.


"Tuan?" Sheena melambaikan tangannya, Jayden tersadar seketika.


"Ah ya?" astaga, dia sampai tidak sadar sedang melamun panjang.


"Kita pulang?"


Jayden mengangguk, dia tertawa samar merasa ada yang aneh dengan dirinya.


"Tuan kenapa?" melihat Jayden yang tersenyum seperti tadi membuat Sheena speachless, tak pernah Sheena melihat Jayden yang seperti ini.


"Tidak apa-apa, ayo kita kembali."


Sheena mengangguk, lalu ia menoleh pada Kevin. "Ayo Kevin."


Kevin mengangguk, "Ck,ck, mereka sudah seperti suami-istri saja."


"Kevin,Kevin, takdir mu memang seperti obat nyamuk."


...----------------...


Saat sedang di parkiran mall, mereka bertemu seseorang yang tidak terduga, Sheena dan Kevin berhenti, begitupun Jayden yang berjalan melambat ketika di depannya berdiri seorang wanita yang menghalangi jalannya.


"Jayden? kamu ... kenapa ada di sini?" wanita dengan tinggi semampai dan gaun ketat yang belahannya terbuka itu terkejut menatap ketiganya.


Begitupun Sheena yang terlihat bingung, wanita berkelas ini nampaknya melihat mereka dengan tatapan penuh luka, Sheena memperhatikan tatapan keduanya Jayden dan wanita itu.


"Kevin, siapa wanita ini?" bisiknya pada Kevin di samping.


"Nona Viona dia .... calon tunangan tuan Jayden." bisik Kevin pelan.


Sheena terkesiap, lalu menatap kembali dua insan yang sedang bersitatap itu, Sheena menggigit bibir, entah kenapa dia merasa ... sakit, entah?

__ADS_1


"Jayden, siapa wanita itu?" Viona menunjuk Sheena dengan tatapan nanar pada Jayden. melihat pria itu yang bersama wanita lain, Viona merasa hancur, meskipun belum ada ikatan di antara mereka, Viona tak ingin Jayden memiliki wanita selain dirinya.


Jayden tak menjawab, dia bergeming, membenamkan tangan di saku celana. "Siapapun dia, bukan urusan mu."


"Kenapa Jayden? aku ini calon tunangan mu." Viona menggeleng bagai tersayat pisau, ia merasa sangat terluka.


Jayden bahkan begitu dingin padanya, tapi melihat wanita itu juga berbagai tas belanjaan branded di tangannya, membuat Viona yakin hubungan mereka pasti sangatlah dekat. Dan Viona cemburu.


Merasa situasi semakin runyam, Sheena maju. "Maaf nona, sepertinya anda salah paham, saya ini cuma asistennya tuan Jayden, nona jangan berfikir macam-macam," yakinnya, Sheena merasa tak enak juga merasa bersalah, dia tidak tahu sebelumnya jika Jayden sudah mempunyai calon tunangan.


Jayden menarik tangannya hingga kini Sheena menoleh padanya. "Kenapa kau harus menjelaskan pembelaan seperti itu."


"Cepat masuk!" Jayden sedikit mendorong tubuhnya hingga masuk ke dalam mobil, sekejap Sheena menoleh pada Viona, dia benar-benar merasa tak enak.


Sementara Viona kini maju menahan tangan Jayden yang hendak masuk ke dalam mobil juga.


"Jayden, kamu tidak boleh seperti ini, kamu mengkhianati ku?"


Jayden mendengkus. "Mengkhianati? memangnya apa hubungan di antara kita?"


Viona jadi terlihat sangat berbeda saat ini, penampilan gadis itu bahkan jauh terbuka dari yang selalu dia lihat jika mereka bertemu, dan sikapnya ... sikap mengekangnya, Jayden tak menyangka Viona bisa berubah sedrastis ini.


Viona mengerjap menghalau air di pelupuk mata. "Tetap saja, aku calon tunangan mu."


"Hanya 'calon' catat!" sentak Jayden ia menepis tangan wanita itu.


"Tapi ternyata aku salah." setelah mengatakan itu Jayden masuk tanpa mempedulikan ekspresi sedih wanita itu.


...----------------...


Di mobil Sheena duduk di samping Jayden dengan canggung, hal ini sungguh tidak terduga untuknya. Sheena memilin ujung bajunya, dia merasa bersalah karena telah menjadi penyebab ke salah pahaman ini.


"Tuan maafkan aku, aku ... tidak tahu jika anda sudah mempunyai tunangan."


"Hanya 'calon' di bukan tunangan ku," kilah cepat Jayden.


"Tapi tetap saja kalian mempunyai hubungan,aku ... maafkan aku!" pekik Sheena tiba-tiba.


"Lain kali aku tidak akan membuat kesalahpahaman ini lagi!" dia menunduk karna rasa bersalahnya.


Tak! Jayden menyentil dahinya, kebiasaan! membuat wajah Sheena hampir terjengkang ke belakang.


"Bodoh, apa yang kau pikirkan?"


"Ini bukan salah mu. aku dan wanita itu tak memiliki hubungan apapun, tak perlu merasa bersalah seperti itu, mengerti?"


Kevin di samping kemudi sesekali melirik mereka di kaca spion. "Haaah! seperti akan semakin rumit setelah ini." gumamnya.


Tentu saja, kisah mereka berdua masih panjang!

__ADS_1


...----------------...


"Persiapkan dirimu!" Sheena terkejut pagi ini, karna tiba-tiba sudah ada banyak pelayan yang mengelilinginya, bukankah ini masih sangat pagi? ada apa?


Bahkan Sheena lihat, Jayden yang masih lengkap dengan jubah tidurnya, sama sekali tak bergerak menatapnya. Juga Kevin yang sudah stand by ada di sini.


"Kita akan ke Jepang nona," lirih Kevin dengan suara rendah di belakang Jayden.


"Eh, ke JEPANG!!" Sheena memekik terkejut otaknya blank seketika.


"Biasa saja non. anda kan asisten tuan Jayden, dan tuan akan pergi ke Jepang untuk bertemu klien pentingnya, dan sebagai asisten otomatis anda harus ikut." papar Kevin menjelaskan.


"Tapi kenapa mendadak sekali!" keluh Sheena.


"Tak ada waktu untuk protes, cepat siapkan dirimu," ucap Jayden lalu pria itu berbalik begitu saja.


Tinggal lah Sheena dengan para maid ini, "ayo nona, kami bantu berkemas, dua jam lagi kalian akan segera pergi."


Sheena mengangguk pasrah mengikuti para maid itu.


Matahari semakin merangkak naik membawa terik lalu menghangat ketika senja datang, mereka sudah bersiap-siap, begitupun Sheena, meskipun ini mendadak untuknya, di bantu para maid kini dia sudah siap dan rapi.


Karena ini perjalanan yang akan lumayan panjang, para maid tadi sengaja untuk sedikit mendandani Sheena agar terlihat segar.


Jayden yang kini sudah rapi pun menatap Sheena, cukup tertegun karna penampilan gadis itu.



Padahal pakaian dan dandanan yang di pakainya tak bisa di bilang mewah, namun itu sudah cukup menarik atensi Jayden hingga dia mematung saat ini. Terpesona.


"Nona Sheena cantik ya tuan." bisik seseorang di belakangnya.


Jayden menoleh kaget, merapikan kembali raut wajahnya. "Biasa saja." pria itu berlalu.


Kevin menggeleng. "Ck,ck! gengsi di tinggiin!"


Kevin lalu menghampiri Sheena. "Nana, kamu cantik sekali," pujinya tulus.


"Benarkah?" pipi Sheena terasa memanas, dia melirik Jayden yang hanya bergeming, mengutak-atik ponselnya, tampak sibuk menghubungi seseorang.


"Apa Nana berdandan?" tanya Kevin.


Sheena mengangguk canggung. " sedikit, Gia yang mendadani."


Kevin manggut-manggut. "Pantas ada yang beda gitu, biasanya Nana selalu terlihat cantik tanpa riasan sekali pun, tapi kali ini benar-benar seperti dewi," Kevin semakin memanasi, di liriknya sang tuan yang sudah mulai panas, terbukti dari bagaimana tatapan matanya juga tangannya yang semakin erat memegang ponsel.


"Cukup basa-basi nya! ayo pergi!" titah Jayden bernada ketus. pria itu berjalan duluan dengan langkah lebar.


Kevin terkikik, "Tuan, tuan, sekarang anda sudah tidak pandai mengatur ekspresi."

__ADS_1


__ADS_2